KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Jumat, 29 Mei 2020

Mana Yang Didahulukan antara Puasa Syawal atau Qodlo Puasa Ramadhan?


Kyai Amirul Arifin, SE.

(Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyiin Paculgowang Jombang)

 

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Ingin bertanya, mana yang harus didahulukan antara puasa Syawal yang berjumlah 6 hari atau qodlo puasa bagi yang pernah tidak berpuasa Ramadhan? Lalu apakah dibolehkan menggabungkan niat puasa sunnah dengan puasa qodlo? Terimakasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Puasa Syawal yang berjumlah 6 hari itu hukumnya adalah sunah, sedangkan qodlo puasa atas puasa Ramadlan yang ditinggalkan hukumnya adalah wajib. Dalam persoalan mana yang harus didahulukan antara menjalani puasa sunah Syawal dan menjalani qodlo puasa, para ulama fiqh tidak memberikan ketentuan secara pasti, apakah harus qodlo terlebih dahulu atau berpuasa sunnah yang didahulukan.

Namun demikian jika seseorang mempunyai utang puasa Romadlon kemudian dia melakukan puasa sunah Syawal sebelum menjalankan puasa qodlo menurut Al Mahammili mengikuti pendapat Gurunya yaitu Al Jurjani, orang ini mendapat pahala atas puasa sunah Syawal akan tetapi makruh hukum menjalankannya. (lihat Syamsudin Ar Ramli, Nihayatul Muhtaj, Beirut, Darul Kutub Al Ilmiyah, cetakan ketiga, 2003 M/1424 H, juz III halaman 208).

Saran kami, bagi yang mempunyai utang puasa Ramadlon, sebaiknya menjalankan puasa qodlo terlebih dahulu baru menjalankan puasa sunah Syawal.

Lalu bagaimana hukumnya menggabungkan niat puasa sunah dengan puasa qodlo?

Dalam persoalan ini terjadi perbedaan pendapat di antara ulama fiqh. Menggabungkan niat puasa 6 hari bulan Syawal dengan qodlo Ramadlan menurut Imam Romli diperbolehkan, dan keduanya mendapatkan pahala. Sedangkan menurut Abu Makromah, hal ini tidak sah dan tidak mendapatkan pahala.

قال شيخنا كشيخه والذي يتجه أن القصد وجود صوم فيها فهي كالتحية فإن نوى التطوع أيضا حصلا وإلا سقط عنه الطلب (وقوله كالتحية) أي فإنها تحصل بفرض أو نفل غيرها لأن القصد شغل البقعة بالطاعة وقد وجدت (قوله فإن نوى التطوع أيضا) أي كما أنه نوى الفرض (وقوله حصلا) أي التطوع والفرض أي ثوابهما (قوله وإلا) أي وإن لم ينو التطوع بل نوى الفرض فقط (وقوله سقط عنه الطلب) أي بالتطوع لاندراجه في الفرض

(Berkata guru kami seperti guru beliau. Pendapat yang memiliki wajah penyengajaan dalam niat (dalam masalah ini) adalah adanya puasa di dalamnya maka sama seperti shalat tahiyyat masjid bila diniati kesunahan kedua-duanya juga mendapatkan pahala bila tidak diniati maka gugur tuntutannya.

(Keterangan seperti shalat tahiyyat masjid) artinya shalat tahiyyat bisa berhasil ia dapatkan saat ia menjalani kewajiaban shalat fardhu atau sunah lainnya karena tujuan niat (dalam shalat tahiyyat masjid) adalah terdapatnya aktivitas ibadah di masjid dan ini sudah terjadi.

(Keterangan diniati kesunahan) sama halnya saat ia niati ibadah fardhu.

(Keterangan kedua-duanya juga mendapatkan) artinya mendapatkan pahala puasa sunah dan puasa fardhu.

(Keterangan bila tidak ia niati) artinya ia tidak niat puasa sunah tapi hanya niat puasa fardhu saja.

(Keterangan maka gugur tuntutannya) artinya tuntutan puasa sunnahnya karena telah tercakup dalam puasa fardhu. [I’aanat al-Thoolibiin II/271]. 

(مسألة: ك): ظاهر حديث: «وأتبعه ستاً من شوّال» وغيره من الأحاديث عدم حصول الست إذا نواها مع قضاء رمضان، لكن صرح ابن حجر بحصول أصل الثواب لإكماله إذا نواها كغيرها من عرفة وعاشوراء، بل رجح (م ر) حصول أصل ثواب سائر التطوعات مع الفرض وإن لم ينوها، ما لم يصرفه عنها صارف، كأن قضى رمضان في شوّال، وقصد قضاء الست من ذي القعدة، ويسنّ صوم الست وإن أفطر رمضان اهـ. قلت: واعتمد أبو مخرمة تبعاً للسمهودي عدم حصول واحد منهما إذا نواهما معاً، كما لو نوى الظهر وسنتها، بل رجح أبو مخرمة عدم صحة صوم الست لمن عليه قضاء رمضان مطلقاً.

(Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim).

(Bila melihat zhahirnya hadits seolah memberi pengertian tidak terjadinya kesunahan 6 hari bulan syawal saat ia niati bersamaan dengan qadha ramadhan namun Ibn Hajar menjelaskan mendapatkan kesunahan dan pahalanya bila ia niati sama seperti puasa-puasa sunah lainnya seperti puasa hari Arafah dan Asyura. Bahkan Imam Romli mengunggulkan pendapat terjadinya pahala ibadah-ibadah sunah lainnya yang dilakukan bersamaan ibadah fardhu meskipun tidak ia niati selama tidak terbelokkan arah ibadahnya seperti ia niat puasa qadha ramadhan di bulan syawal dan ia niati sekalian puasa qadha 6 hari di bulan dzulhijjah (maka tidak ia dapati kesunahan puasa syawalnya).

(Disunahkan menjalankan puasa 6 hari di bulan Syawal meskipun ia memiliki tanggungan qadha karena ia menjalani berbuka puasa di bulan ramadhannya. Abu Makhromah dengan mengikuti pendapat al-Mashudi berkeyakinan tidak dapatnya pahala keduanya bila ia niati keduanya bersamaan seperti saat ia niat shalat dhuhur dan shalat sunah dhuhur bahkan Abu Makhromah menyatakan tidak sahnya puasa 6 hari bulan syawal bagi yang memiliki tanggungan Qadha puasa ramadhan secara mutlak. [Bughyat al-Mustarsyidiin/113-114].

Wallahu A’lam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman