Berdagang Kepada Allah
Oleh Amirul Arifin, SE.
(Kepala SMK
Tarbiyatunnasyiin Paculgowang Jombang)
Ini adalah kisah seorang petani sayuran di Pujon Kabupaten Malang Jawa Timur, mengurus lahan pertaniannya yang ditanami sayuran seperti kangkung cabut, sawi hijau, sawi putih dan kol selama berbulan-bulan, menggarap lahan, menyemai bibit, dan memupuk serta merawatnya hingga panen. Telah diperhitungkan waktu panen saat ramadhan menjelang lebaran, karena biasanya pengalaman tahun-tahun sebelumnya sayuran dihargai lebih tinggi.
Kemudian Allah berkehendak, terjadilah pandemi, mewabah di mana mana,
semua terdampak. Sektor ekonomi pasar sangat terasa, terlebih
komoditas sayur mayur. Hati petani resah, setiap hari mencari informasi
tentang perkembangan kondisi, dan ternyata berhembus kabar bahwa
pemerintah melakukan pencegahan penyebaran dengan melaksanakan pembatasan
sosial berskala besar atau PSBB. Petani ini adalah salah satu suplier sayuran
ke pasar induk di Jakarta, namun dengan PSBB tak ada lagi aktivitas jual beli kesana. Hatinya semakin gundah, terbayang panen kali ini tak bisa dijual sesuai harapan.
Tengkulak berkeliaran, menawarkan "solusi", membeli semua hasil
panen namun dengan harga murah.
"Kami cuma mau bantu aja, sebenarnya belum tahu juga ini nanti akan
dijual kemana, orang tidak boleh kemana-mana, ya itu sih terserah kalo mau jual
silakan, kalo tidak mau juga tidak apa apa. Saya kasihan aja, sayuran ga dipanen
kan sayang..," bujuk tengkulak menekan harga.
Petani bimbang, harga beli tengkulak tidak masuk akal. Seandainya setara dengan modal pun sudah rugi tenaga dan waktu, apalagi ini
di
bawah modal, ruginya banyak. Teman-teman petani ini banyak juga yang akhirnya menjual ke tengkulak.
"Tuh si Karto juga jualnya ke saya, daripada udah dipetik dibawa ke
Malang atau Pare, di jalan nanti disuruh puter balik, rugi ongkos, rugi tenaga
mau dikemanain ntar sayurannya?" ujar tengkulak.
Petani memilih bersabar.
"Nanti saya diskusi dulu sama orang rumah," petani berdiplomasi.
"Ya,
terserah! Tapi,
jangan lama-lama ya, nanti keburu
kehabisan duit saya sama yang lain." tengkulak pakai jurus pamungkas.
Petani tanya-tanya ke tetangga yang sama petani, juga melihat televisi yang semakin memberikan kengerian dalam lubuk hati.
"Ditunggu sampai seminggu sebelum lebaran aja, Pak.
Siapa tahu ada perubahan peraturan," nasihat istrinya.
Tiba sepekan sebelum hari raya, keadaan tak kunjung membaik, harga sayur jungkir balik. Betapa sedihnya petani. Selepas shalat subuh, ia pergi ke kebun. Sepanjang jalan ia terus bershalawat. Tiba di kebun, ia lepaskan pandangan
ke hamparan sayur yang subur, segar dan menghijau.
Butiran air
mata menetes membasahi pipinya, disentuhnya daun daun
sawi itu lembut seraya, berdoa kepada Allah SWT.
"Ya Allaah, Engkau menjadi saksi hamba sudah maksimal ikhtiar, mohon berikan hamba ampunan dan rahmat-Mu. Jika sekira dosa-dosa hamba menjadi penghalang datangnya rezeki-Mu, ampunilah hamba-Mu ini ya Allaah.. Berikanlah kami rahmat-Mu, petunjuk, agar kami tak salah langkah.. ya Allaah.. Beri hamba kekuatan dan ketenangan menghadapi takdir ini. Hamba percaya tak ada yang sia-sia atas segala ciptaan-Mu." Doa petani pagi itu di antara pohon-pohon sayur.
Dilihatnya berita dari handphone, kabar tentang betapa banyak orang yang
tak punya, meski hanya untuk sekedar makan. Mereka tak mampu beli lauk atau sayur,
padahal biasanya mungkin merekalah konsumen petani selama ini.
Dan siapakah yang mampu menggerakkan hati seseorang, tangan dan langkah petani yang kemudian memiliki keyakinan untuk menjual
semua sayuran itu hari ini. Iya, beliau menjual semua
sayurnya bukan kepada manusia, melainkan kepada pemilik rezeki Sang Pencipta manusia. Ditutupnya portal berita setika itu juga, dan
dengan mantap ia berkata "Wahai Allaah aku akan jual semua sayuran ini
kepada-Mu, jika semua pasar tak mampu membeli dengan harga yang pantas, maka
aku yakin hanya Engkaulah yang sanggup membayar dengan harga terbaik, akan aku
panen semua sayuran ini dan aku akan anterkan pada mahluk-Mu yang
membutuhkannya, aku mohon ya Allaah terimalah amal kami..." seru petani
sambil berderai air mata.
Matahari belum terlalu tinggi ini ramadhan hari ke 26 besok hari ke 27, di
waktu dhuha diantarnya segerobak penuh sayur ke pesantren di sekitar tempat tinggal petani.
"Ambillah, semua sayuran ini sudah dibayar, saya hanya diminta
mengantarkannya ke sini," jawab petani ketika ditanya berapa harga semua sayur tersebut.
Selanjutnya diantar ke rumah sakit, ke puskesmas, ke masjid, ke kampung
pemulung, ke tetangga-tetangga yang mampu, apalagi yang kurang mampu, ke rumah
para assatidz, sampai ke balai desa. Hingga menjelang Maghrib baru selesai
prosesi kurir sayuran dikerjakan.
Selepas shalat Maghrib dan berbuka, badan petani terasa amat kelelahan,
kakinya pegel-pegel, sakit semua. Namun entah bagaimana hatinya bahagia, tak ada sedih,
tak ada khawatir,
tak ada penyesalan atas "kekonyolan" yang ia
kerjakan bersama keluarganya seharian ini.
Sore itu entah ada berapa ratus perut yang terisi dengan menu sayuran yang
sehat, dan setiap pemilik perut tersebut berdoa dan bersyukur kepada Allaah. Doa mereka hampir sama, "Semoga Allah membalas kebaikan siapapun yang memberi sayuran ini dengan
kebaikan dan keberkahan yang berlimpah".
Barangkali itulah asbab ketenangan jiwa yang dirasakan petani. Tak ada
serupiah pun yang ia bawa meski seluruh "dagangannya" habis terjual
hari ini. Hingga keesokan harinya tiba-tiba seseorang
menghubunginya via WA, dari nomor yang tak ia kenal.
"Pak Dollah, saya Imron. Kita belum pernah
jumpa tapi saya mendengar tentang Bapak dari Pak Kades tadi siang, katanya Bapak panen sayur lalu
dibagikan gratis ke warga, kalo boleh saya ingin menitipkan infaq. Kebetulan ini bulan Ramdhan, mungkin tak banyak, namun semoga
bermanfaat untuk membeli benih dan pupuk agar Bapak bisa tetap bertani setelah ini. Bisa saya minta no. rekening Bapak?"
Kawan, jika ditaksir tengkulak seluruh kebun dihargai 1,5 juta. Padahal modalnya
3.5 juta rupiah.
Panen yang diharapkan Pak Tani mendapat
5 juta rupiah. Namun karena dijual kepada Allah maka harganya diberi harga
terbaik, dibayar dua kali lipat yaitu menjadi Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta
rupiah). Dan, masih ada harapan balasan pahala surga. Insyaallaah.
Ibarat petani, sebenarnya kita semua juga bisa memiliki peluang yang sama. Sungguh jual beli yang
tak akan pernah menemukan kata rugi adalah berjual beli dengan Rabb kita, Allaah SWT.
Jombang, 28 Mei 2020
