Yusuf Hasyim Addakhil
(Ketua PCNU Pati, Jawa Tengah)
Sudah hampir satu semester virus covid-19 memporakporandakan seluruh segi
kehidupan di seluruh dunia. Virus kecil yang mematikan dan sistem transmisi
yang sangat cepat dibandingkan dengan virus yang sejenis sebelumnya. Berdasarkan
rilis data WHO (World Health Organization) melalui situs https://www.who.int dan laporan Gugus Tugas
percepatan penanganan Covid-19 sampai saat ini (18/05/2020) bahwa virus
covid-19 telah menyebar ke 216 negara, dengan terkonfirmasi data pasien
sebanyak 4.628.903, dan yang meninggal dunia sebanyak 312.009 orang. Di
Indonesia sendiri yang positif mencapai 18.496 dan meninggal dunia sebanyak
1.221 orang.
Melihat sebaran dampak virus covid-19 di atas, maka virus ini tidak bisa
dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja. Tetapi peristiwa ini harus kita baca
sebagai sesuatu yang luar biasa atas kehendak dan kekuasaan Allah Swt. Fenomena
semesta yang terjadi saat ini bukan hanya sunatullah semata, tetapi
menjadi pelajaran berharga bagi ummat manusia. Mungkin dengan cara inilah Allah
telah mengingatkan ‘kecongakan’ manusia yang merasa memiliki dan menguasai
seluruh alam semesta.
Makhluk kecil yang tak kasat mata ini telah mengubah cara hidup manusia,
mengubah berbagai teori dan hukum manusia, juga mengubah tata cara beragama
manusia. Bagi orang-orang yang mau berfikir, membaca fenomena alam, membaca
kekuasaan tuhan dan menyadarinya, maka munculnya wabah virus corona ini
memunculkan banyak hhikmah dan pelajaran yang sangat langka dan berharga.
Alqur’an sendiri telah menyampaikan banyak hal tentang fenomena alam dan
sosial kepada manusia melalui ayat-ayat-Nya. Hampir keseluruhan ayat Alqur’an
mengandung ilmu dan pengetahuan bagi manusia yang mau membacanya. Mengapa Allah
menurunkan wahyu pertamanya kepada Nabi Muhammad Saw dengan kata “Iqra”?
Rahasia dibalik makna kata Iqra’ telah banyak dikaji dalam berbagai
konteks disiplin keilmuan, keimanan, maupun pendidikan. Mengapa Allah
swt menurunkan ayat iqra' (baca) dan qalam (pena/tulisan) dalam satu
paket dan kemudian ayat-ayat tersebut diletakkan di paling awal dari wahyu yang
pertama kali turun kepada Nabi Muhammad Saw.?
Kata Iqra’ dalam Al Qur’an memiliki kandungan yang luar biasa,
karena ia menjadi kata pertama dari wahyu pertama Surat Al ‘Alaq yang
diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Begitu
pentingnya kata Iqra’, sehingga Allah swt mengulang sampai dua kali dalam
rangkaian surat Al ‘Alaq.
Dalam Tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab
menunjukkan secara jelas bahwa ayat-ayat Surah Al-`Alaq, terutama lima ayat
awalnya, mengandung kata iqra' dan qalam. Hal ini
menunjukkan bahwa Surah Al-`Alaq tidak hanya berkaitan dengan perintah membaca,
ada kemungkinan besar kegiatan membaca itu perlu dikaitkan dengan kegiatan
menulis. Bahkan, kegiatan menulis itu menjadi sangat penting diperhatikan
karena setelah turun kelima ayat dari Surah Al-`Alaq, turunlah kemudian ayat “Nuun demi qalam dan apa yang mereka tulis..” (QS Al-Qalam [68]: 1).
Secara etimologis Iqra' diambil dari akar kata qara'a
yang berarti 'menghimpun', sehingga tidak selalu harus diartikan 'membaca
sebuah teks yang tertulis dengan aksara tertentu'. Selain bermakna
'menghimpun', kata qara'a juga memiliki sekumpulan makna seperti
menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu dan
membaca, baik teks tertulis maupun tidak. Allah swt. berfirman : ("Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah").
Dalam kamus Al Munawir kata Iqra
dengan berbagai macam bentukannya memiliki makna yang beraneka ragam, antara
lain dari akar kata qara'a – qiraatan
– qur'anan memiliki makna waqtara'a, tathaqa bil maktuubi fiihi (membaca), atau bermakna thala'a (menelaah, mempelajari), jika dihubungkan
dengan kata asysyaia bermakna jama'ahu (mengumpulkan).
Sedangkan dari bentukan aqra'a bermakna ja'alahu yaqra'u
(membacakan, mengajar, menyuruh membaca).
Kata qara’a di dalam
Alqur’an terulang sampai 3 kali, yaitu
pada surat Al Isra’ ayat 14 : ("Bacalah
kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu Ini sebagai penghisab
terhadapmu"). Kemudian dalam
surat Al ‘Alaq ayat 1 dan ayat 3 : (Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,)
Dalam tafsir Al Maraghi, kata Iqra' di dalam ayat pertama surat Al 'Alaq bermakna
Shir Qari'an (jadilah pembaca), walaupun sebelumnya bukanlah pembaca,
bukan pula penulis, dan telah dating titah Ilahi agar dia menjadi seorang
pembaca walaupun bukan penulis; akan dinuzulkan kepadanya (Muhammad saw) sebuah
kitab yang akan dibacanya, walaupun tidak ditulisnya sendiri.
Terlepas dari perdebatan para mufasir terhadap maksud Allah menurunkan ayat "Iqra'" sebagai wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw, perlu kiranya dilakukan kajian secara khusus konteks histories melalui berbagai pendekatan tafsir Al Qur'an, terutama ayat-ayat yang memiliki Kerangka non-Qur'anic melalui kisah-kisah dramatis.
Rahasia
di balik perintah “Iqra”
Mari kita baca apa yang disampaikan oleh Quraish Shihab tentang makna kata qalam: Kata qalam di
sini dapat berarti hasil dari penggunaan alat tersebut', yakni tulisan. Ini
karena bahasa sering kali menggunakan kata yang berarti 'alat' atau
penyebab untuk menunjuk ˜akibat' atau ˜hasil' dari penyebab atau
penggunaan alat tersebut. Misalnya, jika seseorang berkata, ˜saya khawatir
hujan', maka yang dimaksud dengan kata 'hujan' adalah basah atau sakit, dan
hujan adalah penyebab semata.
Apa yang harus dibaca? Dalam satu riwayat, Nabi saw setelah
mengalami kepayahan karena dirangkul dan diperintah membaca oleh malaikat
Jibril a.s. beliau lantas bertanya: Ma aqra' ya jibril? namun pertanyaan
tersebut tidak dijawab oleh malaikat Jibril a.s., karena Allah menghendaki agar
beliau dan umatnya membaca apa saja, selama membaca tersebut dilandasi bismirabbika
(atas nama Allah), dalam arti bermanfaat untuk kemaslahatan sosial.
Pengaitan ini
merupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekedar melakukan
bacaan dengan ikhlas, tetapi juga antara lain mampu memilih bahan-bahan bacaan
yang tidak menghantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan 'nama Allah'
itu.
Jika begitu kata Iqra' berarti bacalah, telitilah,
dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda
zaman, sejarah, diri sendiri baik yang tertulis maupun tidak. Alhasil, objek
perintah iqra' mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau.
Sungguh, perintah membaca merupakan sesuatu yang paling berharga
yang pernah dan dapat diberikan kepada umat manusia. 'Membaca' dalam aneka
maknanya adalah syarat pertama dalam pengembangan ilmu dan tekhnologi, serta
syarat utama membangun peradaban.
Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justru dimulai dari
satu kitab (bacaan). Peradaban Yunani dimulai dengan Iliad karya Homer pada
abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir dengan hadirnya Kitab Perjanjian Baru.
Peradaban Eropa dimulai dengan karya Newton (1641-1727) dan berakhir dengan
filsafat Hegel (1770-1831) . Peradaban Islam lahir dengan kehadiran al-Qur'an.
Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini, bukan
sekedar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak diperoleh kecuali
mengulang-mengulangi bacaan, atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai
batas maksimal kemampuan. Tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa
mengulang-ulangi bacaan dengan bismirabbika (atas nama Allah) akan menghasilkan
pengetahuan dan wawasan baru walaupun yang dibaca hal itu juga. Mengulang-ulang
membaca al-Qur'an tentunya akan menimbulkan penafsiran baru, pengembangan
gagasan, dan menambah kesucian jiwa serta kesejahteraan batin. Berulang-ulang
'membaca ' alam raya, membuka tabir rahasianyadan memperluas wawasan serta
menambah kesejahteraan lahir.
Objek iqra' yang sedemikian luas itu, memang seolah-olah dapat
menyempit apabila hanya dilihat dari rangkainnya perintah membaca dengan qalam.
Namun harus diingat bahwa sekian pakar tafsir kontemporer memahami kata qalam
sebagai segala macam alat tulis-menulis sampai kepada mesin-mesin tulis dan
cetak yang canggih dan juga harus diingat bahwa qalam bukan satu-satunya alat
atau cara untuk membaca atau memperoleh pengetahuan.
Dengan
kontekstualisasi makna iqra’ di atas, kita dapat memahami bahwa pengetahuan dan
peradaban yang dirancang oleh Alqur'an adalah pengetahuan terpadu yang
melibatkan akal dan kalbu dalam perolehannya (out put). Betapa al-Qur'an sejak dini telah
memadukan usaha dan pertolongan Allah, akal dan budi, pikir dan zikir, iman dan
ilmu. Akal tanpa kalbu menjadikan manusia seperti setan. Iman tanpa ilmu sama
dengan pelita di tangan bayi, sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan pelita di
tangan pencuri. Dan al-Qur'an sebagai sebuah kitab terpadu, tentunya menghadapi
dan memperlakukan peserta didiknya dengan memperhatikan keseluruhan unsur
manusiawi, jiwa, akal, dan jasmaninya.
Wallohu a’lamu bishowab.
