Oleh Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Kemunculan virus Corona Desember 2019 yang menyebar
demikian cepat ke seantero dunia di awal 2020 menimbulkan kepanikan global.
Mengutip https://manado.tribunnews.com, per 30 Maret 2020 Covid 19 telah
menyebar ke 202 dari 241 negara di dunia. Update per 12 Mei 2020 corona telah
menyebar di 212 negara, ekwivalen dengan 88% negara di dunia telah terpapar
Corona.
Virus ini demikian menakutkan dunia, tak terkecuali
mereka yang tinggal di negara-negara maju yang nota bene memiliki infrastruktur
teknomicrobiologi super canggih. Ketakutan secara global diasumsikan punahnya
populasi dunia yang saat ini berkisar 7,5 milyar. Secara personal, takut terjadinya
kematian akibat serangan virus berkarakter lebih ‘ganas’ dari pendahulunya.
Tagline Bersatu Melawan Corona ditayang dan dikumandang sepanjang
waktu dalam berbagai media. Dalam perspektif sosiologis, tagline berikut
gerakan masif masyarakat melawan virus yang mewabah hingga ke level pandemi ini,
sudah semestinya. Pemerintah pusat dan daerah bersama masyarakat memiliki
tanggung jawab bersama, bahu membahu mencegah penyebaran, melawan serangan
Corona yang mengancam keselamatan jiwa dan perekonomian negara.
Suatu ketika terdengan dialog imajiner
berikut:
+ Dalam
perspektif substansif yang dilawan sebenarnya Coronanya apa dampaknya sih?!
- Ya
Coronanya, wong dia yang menyebabkan sakit dan bisa berujung pada kematian.
+ Kalau
Corona tidak mengakibatkan sakit dan kematian, apa tetap dilawan?
- Ya
‘nggak lah...
+ Dus,
Coronanya apa dampaknya?
- Corona yang
mengakibatkan sakit dan kematian, Corona yang tidak menyebabkan sakit dan
kematian ya tidak perlu dilawan!
+ Virus Ebola juga mematikan, bakteri E. Coli
demikian juga. Jika Ebola dan E. Coli menyebar seperti Corona yang dilawan virus/bakterinya
apa akibatnya?!
- Seperti Corona juga. Kalau ada Ebola atau E.
Coli yang tidak mengakibatkan sakit atau kematian ya tidak dilawan?!
+
Dus, masalah utama terletak pada sebab apa akibat? Sebenarnya yang harus dilawan
tu penyebab apa akibatnya?!
Kesimpulan dialog tersebut tergrafiskan berikut:
Perjuangan melawan kematian dan keinginan untuk hidup selama menjadi
insting dasar manusia (Agus Musthofa: Serial Ke-17, 2008). Setiap orang pasti
pernah sakit dan ketika sakit berusaha untuk sehat. Dus usaha ini menyasar 2
hal sekaligus: berjuang melawan sakit agar tidak segera sampai ke ujung maut,
dan berjuang melawan sakit agar sehat. Ketika berhasil sehat maunya
dipertahankan selama mungkin.
Manusia berusaha melawan sakit dan kematian dilakukan secara natural maupun
struktural dengan mengerahkan segala daya dan dana untuk meraih sehat dan mempertahankan
hidup. Itulah kenapa cerita mantan Presiden Suharto ketika kondisinya kritis
disiapkan 25 dokter profesional kelas wahid. Ada juga yang mengejar kesembuhan dan
melawan kematian sampai ke RS luar negeri dengan biaya ratusan juta hingga
milyaran rupiah.
Banyak orang tahu pasti kematian pasti terjadi, tidak sedikit yang berusaha
lari menjauhkan diri, sekurang-kurangnya menunda kematian untuk memperlama hidup.
Banyak alasan atas ketidaksiapan dijemput maut: I Want to be Vorever Young,
belum puas menikmati kehidupan, masih banyak dosa, istri dan anak-anak masih
butuh asuhan dan pembiayaan, hingga alasan belum sempurnanya melaksanakan
kelima rukun Islam Pada alasan masih banyak dosa yang mengemuka ketika sedang
sakit memang menjadi motivasi melakukan pertobatan, meningkatkan amal saleh dan
memperbanyak syukur sebagaimana untaian do’a: Mohon diberikan keselamatan,
kesehatan, dan umur panjang fi tha’atillah..... Beruntunglah mereka yang
alasannya diterima dan do’anya dikabulkan. Umur yang tersisa digunakan untuk
mencari dan mengumpulkan bekal kematian dengan melaksanakan ibadah mahdlah dan ghairu
mahdlah.
Meskipun peristiwa kematian demikian menakutkan ada orang-orang yang tidak
takut menghadapinya. Ketidaktakutan ini bukan berarti melawan, apalagi menantang,
melainkan kesiapan menunggu datangnya mati, bahkan menyongsongnya. Profesor
Komaruddin Hidayat bertutur “Selamat Datang Kematian”. Beliau menulis ‘Bagi
mereka yang hati, pikiran, dan perilakunya memperoleh bimbingan Tuhan, kematian
sama sekali tidak menakutkan karena dengan berakhirnya kehidupan duniawi
berarti seseorang setapak menjadi lebih dekat pada Tuhan yang selalu dicintai
dan dirindukan (Komaruddin: I, 2005). Kematian merupakan pintu masuk bertemu
Sang Kekasih dan menemurasakan kebahagiaan hakiki.
Indikator kesiapan menghadapi kematian ditunjukkan dengan laku mencari dan
mengumpulkan bekal kematian. Pencarian dapat dilakukan dengan mengaji dan
mengkaji Kitab Suci, mengikuti majelis ta’lim, atau mendengarkan nasihat para
Kyai untuk mengkondisikan keimanan yang teguh tentang pertanggungjawaban atas
apa saja yang telah diperbuat. Bekal yang diperoleh harus diplementasikan dalam
kehidupan secara kuantitatif dan kualitatif, agar mewujud menjadi kesalehan
sosial dan ritual (Gus Mus: II, 2016) sehingga perjalanan menuju kematian on
track pada sirath al-Mustaqim.
Sebagian orang ada yang terjebak pada kuantitas bekal yang terkumpul tanpa
memperhatikan aspek kualitasnya. Merasa bekalnya telah terkumpul banyak,
setelah diverivikasi tidak sedikit yang dianulir, bahkan rekapitulasi akhir ternyata
minus. Abah KH. Ahmad Musthofa Bisri menyebutnya sebagai kebangkrutan ahli
ibadah. Kebangkrutan yang tidak mungkin direkondisi mengingat verifikasi dan
rekapitulasi akhir tersebut berlangsung di Yaumil Mahsyar.
Selain mengumpulkan bekalnya, kematian juga perlu dilatih dan disongsong. Kematian dibahasakan meninggal dunia, latihannya dilakukan dengan mengambil jarak dengan urusan duniawi atau dengan mengkondisikan ketidakmelekatan terhadap materi. Agus Musthofa menyebutnya ‘berlatih mati sebelum mati’ (Agus Musthoha: Serial Ke-37, tt). Berlatih mati sebelum mati artinya meninggalkan dunia ketika masih hidup di dunia. Wallahu A’lam.
Pekalongan (15052020).
Referensi:
- Agus Musthofa, Melawan Kematian Serial Ke-17 Diskusi Tasawuf Modern, Surabaya: PADMA Press, 2008.
- Agus Musthofa, Lorong Sakaratul Maut Serial ke-31 Diskusi Tasawuf Modern, tk: PADMA Press, tt.
- Gus Mus, Saleh Ritual Saleh Sosial, Yogyakarta: DIVA Press, II – 2016.
- Komaruddin Hidayat, Psikologi Kematian, Jakarta: Hikmah, VII – 2006.

