Iftitah
Dr. Mohammed Abdus
Salam (Mizan, 1996), Direktur International Centre for Theoretical Physics,
Trieste, mengemukakan bahwa tidak diragukan lagi dari seluruh planet ini sains
menempati posisi yang paling lemah di dunia Islam. Tidak terlalu berlebihan
jika dikatakan bahwa kelemahan ini berbahaya karena kelangsungan hidup suatu
masyarakat pada abad ini secara langsung tergantung pada penguasaannya atas sains
dan teknologi. Kondisi ini disebabkan karena dua fakor utama yang
bertanggungjawab atas musnahnya lembaga ilmu pengetahuan yang penah jaya dalam
Islam.yaitu ortodoksi agama dan semangat intoleransi. Sains hanya hidup
bilamana terdapat praktisi yang memadai berupa suatu komunitas yang dapat
bekerja dengan tenang, didukung oleh infrastruktur eksperimental dan pustaka
yang lengkap dan memiliki kemampuan untuk saling memberikan kritik secara
terbuka. Kondisi ini tidak terpenuhi dalam masyarakat Islam.
George Sarton sebagaimana dinukil oleh Mehdi Golshani (Mizan, 2003) mengakui bahwa selama periode antara 750 M dan 1100 M, orang-orang Islam adalah pemimpin-pemimpin dunia intelektual yang tak dapat disanggah, juga antara 1100 M dan 1350 M pusat-pusat belajar di dunia muslim secara global amat penting dan menarik banyak orang dari berbagai penjuru dunia. Setelah 1350 M orang-orang Eropa mulai maju sementara dunia muslim tidak saja menjadi jumud, tetapi juga telah gagal menyerap kemajuan yang dibuat di luar peradaban mereka.
Kegemilangan Sains
Islam
Ilmu pengetahuan dan teknologi Umat Islam berkembang
sedemikian pesat dan mengalami masa
kegemilangan pada Abad VIII ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh ternama yang
membidangi berbagai disiplin ilmu, antara lain: Pada Abad VIII muncul ilmuwan Ibnu
Hayyan, yang dikenal dengan nama Geber di eropa adalah filosof dan ahli
logika. Ia juga ahli bidang fisika dan kedokteran, serta kimia. Karya utamanya
di bidang kimia. Ia mahir dalam kristalisasi, sublimasi, distilasi, kalsinasi,
dan sebagainya. Al-Khawarizmi. Dikenal algorism di Eropa. Bukunya
“Al-Jabar wal muqobalah” sangat terkenal di lingkungan Eropa dan diambil
judulnya untuk nama suatu cabang Matematika. Ia termasuk ahli geografi dan ia
berhasil membuat tabel astronomis yang kini disebut “algorithm” sebagai urutan
langkah yang diambil dalam proses menghitung. Al-Kindi, yang dilatinkan
menjadi Alkindus. Ia adalah filosof, juga ahli geografi. Ia juga bekerja dalam
bidang kedokteran dan matematika. Ia juga pandai fisika yang membahas tentang
optika geometris, gelombang bunyi, serta musik.
Pada Abad IX, muncul Ar-Razi, yang dikenal
dengan nama Rhazes, sangat terkenal sebagai ahlikedokteran klinis. Ia juga ahli
di bidang kimia. Karyanya merupakan buku manual laboratorium kimia yang pertama
dikenal orang. Al-Farabi. Seorang filosof ahli matematika dan
pengobatan. Al-Battani, dikenal Albategnius pakar astronomi. Ia yang
berhasil menghitung dengan cermat panjang tahun 365 hari 5 jam 46 menit 24
detik.
Pada Abad X, muncul Az-Zahrowi atau Abul
Qosim yang terkenal sebagai Albucasis adalah ahli bedah yang kesohor.
Bukunya At-Tasif, yang terdiri dari 30 jilid merupakan ensiklopedia medis. Al-Bairuni,
ilmuwan yang telah menemukan berat jenis. Ia ahli geografi, sejarah serta
matematika, ia yang mengatakan bahwa bumi berputar pada porosnya. Ibnu Sina.
Mendapat gelar bapak kedokteran, karya ilmiahnya “Qonun” telah menjadi buku
teks di perguruan tinggi Eropa.
Pada Abad XI merupakan abad keemasan, muncul Al-Khayyam. Ahli astronomi dan kedokteran. Ia juga memiliki karya besar dalam bidang matematika. Ia yang menemukan koefisien-koefisien binomial jauh sebelum pascal memperkenalkan segitiganya. Al-Kindi. Orang yang berpengatahuan banyak tentang flora dan fauna, serta ahli dalam tetumbuhan berkhasiat.
Pudarnya
Kegemilangan Sains Dunia Islam
Setelah zaman puncak ini pengembangan sains Umat Islam
mulai menurun hingga akhirnya terhenti pada abad XV. Selama empat abad
peradaban di genggaman Umat Islam. Mereka adalah pakar kimia, matematika,
logika, kedokteran, fisika, geografi, dan astronomi, dan lain-lain. Orang-orang
Eropa banyak datang ke Universitas-universitas Islam diantaranya di Cordoba dan
di Toledo (di Spanyol) untuk belajar dan kemudian menyalin buku-buku karya Ilmuwan
Muslim. Sehubungan dengan ini Prof. Fuat Sezgin dari Universitas
Frankfurt, yang menulils buku Geschichte des arabischen schriffturms (20
jilid) menemukan bahwa tidak sedikit karya Ilmuwan Muslim yang dibajak dengan
jalan menyalinnya dalam bahasa latin dan kemudian dibubuhi nama penyalin itu
sendiri sebagai ganti nama penulis aslinya.
Penyebab lain pudarnya
kegemilangan sains dunia Islam adalah karena madrasah-madrasah teologi
mengesampingkan seluruh ilmu kealaman dari kurikulum mereka kecuali astronomi
dan matematika. Sikap ini mengakibatkan kemunduran Islam dalam penguasaan
sains, antara lain : Pertama, Orang-orang Islam menghentikan
kegiatan-kegiatan menyingkap hukum-hukum alam yang tersembunyi dan menemukan
cara-cara mengeksploitasi kekayaan dan sumber-sumbernya sebagaimana dilakukan
oleh orang-orang Eropa. Kedua, Orang Islam yang menuntut ilmu-ilmu
empiris kebanyakan terasing dari ilmu-ilmu agama. Ketiga, Penghapusan
studi ilmu-ilmu kealaman dari kurikulum madrasah-madrasah agama dan kurangnya
hubungan dengan sumber-sumber ilmu modern menyebabkan munculnya dua kelompok
aliran intelektual, sebagian kaum muslim di bawah kemajuan iptek Barat
dan tanpa pengetahuan akan keterbatasan ilmu-ilmu empiris dan mencoba
menginterpretasikan Al-Quran dan hadis sesuai dengan pengetahuan empiris
mereka. Dan sebagian lain sarjana agama menganggap teori-teori ilmiah bertentangan dengan doktrin-doktrin Islam dan
menunjukkan serangannya terhadap sains.
Mengapa perjalanan
sains di dunia Islam seolah-olah mendadak berhenti? Menjawab pertanyaan ini
tidaklah sesederhana melontarkannya. Secara umum, faktor-faktor penyebab
kematian sains di dunia Islam dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu internal
dan eksternal. Menurut Profesor Sabra (Harvard) dan David King (Frankfurt) (Syamsuddin
Arif, 2008) mengemukakan bahwa kemunduran itu dikarenakan pada masa berikutnya,
kegiatan saintifik lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan praktis agama.
Mehdi Golshani (Mizan,
2003) memberikan beberapa alternative upaya untuk membangkitkan kembali
kegemilangan sains dan teknologi dunia Islam, antara lain : (1) Sebagaimana
para ilmuwan abad keemasan Islam, umat Islam harus mempelajari seluruh ilmu
yang berguna dari orang lain. (2)
Membangun kembali bentuk gabungan yang ada di antara ilmu-ilmu agama dan
ilmu-ilmu kealaman, karena titik akhir antara agama dan ilmu-ilmu kealaman
tidak ada konflik. (3)Negara-negara muslim perlu mengambil langkah-langkah
untuk melatih para spesialis di dalam segala bidang keilmuan dan industri yang
penting. (4)Penyelidikan ilmiah harus dipikirkan sebagai sebuah pencarian
penting dan mendasar, dan bukanlah pencarian yang sekedarnya.(5) Harus ada
kerja sama antarnegara muslim dalam masalah riset tenologi dan keilmuan.
Tradisi berfikir ilmiah, realistis sekaligus idealis, namun tidak ‘jauh’ dari wahyu tentu saja perlu untuk menjadi modal dasar bagi perkembangan intelektualitas ummat selanjutnya. Gambaran tokoh-tokoh di atas yang dalam kurun dua dasawarsa telah menyumbangkan sebuah ‘kegemilangan sains dan teknologi Islam’ semoga mampu menjadi inspirator dan motivator bagi generasi muslim sekarang. Mungkinkah upaya ini masih banyak dibaca oleh generasi selanjutnya dan bisa menjadi dasar untuk bangkitnya ilmuan Islam selanjutnya? Semoga!!!
