KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Kamis, 18 Juni 2020

Leader Logic: Ikhtiar Menata Karakter


Mahmudi, ST.

(Blogger & Data Scientist)

 

Tulisan ini dirancang sebagai instrumen pembelajaran bagi para pemuda atau kaum milenial yang memiliki passion untuk mengabdikan sebagian energinya menata masa depan Indonesia. Ah sepertinya kejauhan, tepatnya menata masa depan dirinya sendiri. Jika tetap harus menatap Indonesia, maka sepertinya di berbagai tingkatan infrastrukur kelembagaan yang menopang tegaknya negara kita ini sedang mengalami krisis kepemimpinan dari kalangan milenial. Dalam satu dekade terakhir, banyak pemuda dan kalangan milenial yang menjadi sorotan karena kegagapan dan kegagalannya dalam mengemban amanah jabatan publik baik di lingkungan parlemen maupun lingkungan instansi pemerintahan, termasuk partai politik. Ada yang disiapkan menjadi putra mahkota partai politik untuk menjadi pemimpin negeri ini, tetapi pada akhirnya terjebak dalam labirin gelap korupsi politik. Ada yang punya track record gemilang di dunia bisnis start-up tetapi akhirnya tak berdaya atau lunglai beradaptasi di lingkungan birokrasi. Apa yang sebenarnya menjadi pangkal kegagapan itu?

Sekali lagi, tulisan ini sebatas media pembelajaran dan ruang guru bagi para pembelajar atau para pengembara ilmu guna menemukan sebilah tongkat estafet kepemimpinan bagi negeri tercinta, kelak di suatu masa depan. Atau bisa juga, sebatas menjadi catatan kecil bagi sang pejalan kaki yang mencari kepingan puzzle nusantara yang masih terpendam dalam relung kesejarahan Indonesia, kini dan yang lalu.

Kenapa Leader Logic? Tulisan ini mengadaptasi dari buku CEO Logic yang ditulis oleh C. Ray Johnson. CEO Logic adalah mindset berfikir dan kerangka laku seorang pemimpin pada domain perusahaan atau korporasi. Terminologi CEO Logic kemudian saya perluas menjadi Leader Logic untuk bisa melompat pada dimensi kepemimpinan pada semua aspek dan semua tingkat kelembagaan apapun, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, camat, lurah/kepala desa, Ketua RW, Ketua RT, atau bahkan hingga Kepala Keluarga.

Ketika dikatakan bahwa sumber daya manusia adalah aset sebuah organisasi, maka begitulah adanya. Tetapi hal itu bisa disaring lagi, bahwa yang menjadi aset terpenting dalam sebuah organisasi adalah pikiran orang-orangnya. Kapasitas untuk mengelola sebuah organisasi, pandangan ke depan meramalkan kebutuhan-kebutuhan publik/masyarakat di masa depan, kapabilitas untuk mengembangkan strategi efektif, wawasan untuk mencari dan menemukan orang yang tepat untuk pekerjaan yang tepat – kesemuanya didasarkan pada satu landasan berpikir seorang pemimpin.

Pemimpin haruslah punya pikiran kuat. Karena ia akan memegang dan menyelami visi organisasi secara mendalam dan meluas, bahkan visi menjadi ruh yang menyatu dengan jiwa seorang pemimpin. Ia mampu mengembangkan dan memvalidasi visi organisasinya, masa depannya, mentransmisi nilai etik ke lingkungan organisasinya, dan mentransformasi strategi ke semua perangkat organisasi di bawahnya. Ia selalu membangun team work yang kuat untuk menjalankan strateginya, lihai memotivasi tim, dihormati oleh bawahannya, dan selalu menghadirkan keteladanan bagi siapapun. Inilah yang disebut Leader Logic.

Dua Pondasi

Leader Logic dimulai dan diakhiri dengan dua pondasi. Pertama, Leader Logic dimulai dengan pemikiran yang jelas dan didasarkan pada penerapan prinsip-prinsip organisasi yang disiplin, yakni bagaimana mengembangkan sebuah filosofi organisasi yang valid, dan bagaimana menerapkan filosofi itu secara strategis. Mengembangkan filosofi organisasi yang kuat memang bukan segala-galanya dan bukan jaminan kesuksesan dalam menghadapi semua tantangan, tetapi filosofi dapat memberikan dasar pijakan bagi keterampilan, bakat, naluri, pengalaman, dan bahkan keberuntungan untuk memainkan peran seluruh sumber daya dalam bergerak secara strategis menuju arah visi organisasi.

Kedua, Leader Logic diakhiri dengan isu abadi mengenai karakter rendah hati, integritas dan kearifan. Elemen dasar sifat kemanusiaan ini memberikan energi murni, arah dan keberanian untuk melakukan gebrakan, perubahan dan dobrakan atas kemandegan tatanan yang cenderung melumpuhkan mesin organisasi. Pondasi kedua ini menjadi titik temu antara kecerdasan intelegensi atau logika matematis dengan sisi spiritual atau intuisi yang membebaskan.

Rendah hati akan menjaga konsistensi pemimpin dalam menjalankan amanah kekuasaan tetap berada pada garis tujuan hakikinya. Integritas menjadi panduan moral dalam menjalani rute perjalanan menuju misi dan visi organisasi – menerapkan penyatuan dan penyelarasan visi, pemikiran, sikap dan perilaku. Kearifan adalah puncak kepemimpinan yang membawa kemanfaatan dan keberkahan di seluruh pelosok negeri.

Abraham Lincoln pernah berucap, “Hampir semua orang mampu menanggung kesengsaraan, tetapi jika anda ingin menguji karakter seseorang berikan kekuasaan kepadanya”. Tameng utama beban kekuasaan adalah karakter rendah hati, integritas dan kearifan.

Di sini, mungkin, kegagapan dan kegagalan (sebagian) pemuda dan kaum milenial dalam menjalankan kepemimpinan khususnya di ranah publik, dan masih perlu diperbaiki dan dilatih secara terus-menerus.

Karena sejatinya musuh dari kekuasaan adalah arogansi. Pemimpin yang arogan biasanya gagal untuk menyadari kesalahannya, dan bisa dipastikan gagal untuk meminta maaf. Arogansi kepemimpinan mentasbihkan bahwa ia sebetulnya belum kompeten, lalu berusaha mengelak atas ke-belum-kompeten-annya dengan jubah arogansi, anti-kritik, menelanjangi kepongahannya sendiri, memperburuk ke dalam jurang yang merendahkan diri sendiri, serba membolehkan diri sendiri, yang ujungnya adalah jatuh ke dalam tindakan yang tidak bermoral dan bisa saja terjerat dalam tindakan korupsi. Arogansi menjadi sebab pertama keterjatuhan seorang Fir’aun, arogansi  menjadi sebab pertama keterjatuhan seorang Hitler, dan arogansi pulalah yang menjadi sebab pertama keterjatuhan Iblis laknatullah.

Seorang pemimpin yang rendah hati, berintegritas dan arif - akan menggunakan jabatan dan amanah kekuasaannya secara hemat dan dengan bijaksana. Ia mengakui dan memahami dengan sepenuh hati, bahwa kekuasaan yang melekat dalam jubah atau seragamnya setara dengan kearifan dan sifat rendah hati. Karena jabatan itu hanya sementara, maka ia berusaha menjadikan momen itu menjadi sumber kemanfaatan dan keberkahan bagi masyarakat, keluarga dan keberkahan bagi dirinya sendiri. Seringkali, ia juga harus memaklumi bahwa jabatan itu kutukan baginya, dan ia akan sangat berhati-hati dalam menjalankan amanah tersebut supaya tidak menciderai dirinya sendiri, dan tidak melukai siapapun atau apapun.

 

Referensi:

[1] CEO Logic, C. Ray Johnson, 1998. Bhuana Ilmu Populer.

[2] Managing with the Gurus, Carol Kennedy, 1996. Elex Media Komputindo.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman