(Blogger & Data Scientist)
Tulisan ini dirancang sebagai instrumen pembelajaran
bagi para pemuda atau kaum milenial yang memiliki passion untuk mengabdikan
sebagian energinya menata masa depan Indonesia. Ah sepertinya kejauhan,
tepatnya menata masa depan dirinya sendiri. Jika tetap harus menatap Indonesia,
maka sepertinya di berbagai tingkatan infrastrukur kelembagaan yang menopang
tegaknya negara kita ini sedang mengalami krisis kepemimpinan dari kalangan
milenial. Dalam satu dekade terakhir, banyak pemuda dan kalangan milenial yang
menjadi sorotan karena kegagapan dan kegagalannya dalam mengemban amanah
jabatan publik baik di lingkungan parlemen maupun lingkungan instansi
pemerintahan, termasuk partai politik. Ada yang disiapkan menjadi putra mahkota
partai politik untuk menjadi pemimpin negeri ini, tetapi pada akhirnya terjebak
dalam labirin gelap korupsi politik. Ada yang punya track record gemilang di
dunia bisnis start-up tetapi akhirnya tak berdaya atau lunglai beradaptasi di
lingkungan birokrasi. Apa yang sebenarnya menjadi pangkal kegagapan itu?
Sekali lagi, tulisan ini sebatas media pembelajaran
dan ruang guru bagi para pembelajar atau para pengembara ilmu guna menemukan
sebilah tongkat estafet kepemimpinan bagi negeri tercinta, kelak di suatu masa
depan. Atau bisa juga, sebatas menjadi catatan kecil bagi sang pejalan kaki
yang mencari kepingan puzzle nusantara yang masih terpendam dalam relung
kesejarahan Indonesia, kini dan yang lalu.
Kenapa Leader Logic? Tulisan ini mengadaptasi dari
buku CEO Logic yang ditulis oleh C. Ray Johnson. CEO Logic adalah mindset
berfikir dan kerangka laku seorang pemimpin pada domain perusahaan atau korporasi.
Terminologi CEO Logic kemudian saya perluas menjadi Leader Logic untuk bisa
melompat pada dimensi kepemimpinan pada semua aspek dan semua tingkat
kelembagaan apapun, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, camat,
lurah/kepala desa, Ketua RW, Ketua RT, atau bahkan hingga Kepala Keluarga.
Ketika dikatakan bahwa sumber daya manusia adalah aset
sebuah organisasi, maka begitulah adanya. Tetapi hal itu bisa disaring lagi,
bahwa yang menjadi aset terpenting dalam sebuah organisasi adalah pikiran
orang-orangnya. Kapasitas untuk mengelola sebuah organisasi, pandangan ke depan
meramalkan kebutuhan-kebutuhan publik/masyarakat di masa depan, kapabilitas
untuk mengembangkan strategi efektif, wawasan untuk mencari dan menemukan orang
yang tepat untuk pekerjaan yang tepat – kesemuanya didasarkan pada satu
landasan berpikir seorang pemimpin.
Pemimpin haruslah punya pikiran kuat. Karena ia akan
memegang dan menyelami visi organisasi secara mendalam dan meluas, bahkan visi
menjadi ruh yang menyatu dengan jiwa seorang pemimpin. Ia mampu mengembangkan
dan memvalidasi visi organisasinya, masa depannya, mentransmisi nilai etik ke
lingkungan organisasinya, dan mentransformasi strategi ke semua perangkat
organisasi di bawahnya. Ia selalu membangun team work yang kuat untuk
menjalankan strateginya, lihai memotivasi tim, dihormati oleh bawahannya, dan
selalu menghadirkan keteladanan bagi siapapun. Inilah yang disebut Leader
Logic.
Dua Pondasi
Leader Logic dimulai dan diakhiri dengan dua pondasi.
Pertama, Leader Logic dimulai dengan pemikiran yang jelas dan didasarkan pada
penerapan prinsip-prinsip organisasi yang disiplin, yakni bagaimana
mengembangkan sebuah filosofi organisasi yang valid, dan bagaimana menerapkan
filosofi itu secara strategis. Mengembangkan filosofi organisasi yang kuat
memang bukan segala-galanya dan bukan jaminan kesuksesan dalam menghadapi semua
tantangan, tetapi filosofi dapat memberikan dasar pijakan bagi keterampilan,
bakat, naluri, pengalaman, dan bahkan keberuntungan untuk memainkan peran
seluruh sumber daya dalam bergerak secara strategis menuju arah visi
organisasi.
Kedua, Leader Logic diakhiri dengan isu abadi mengenai
karakter rendah hati, integritas dan kearifan. Elemen dasar sifat kemanusiaan
ini memberikan energi murni, arah dan keberanian untuk melakukan gebrakan,
perubahan dan dobrakan atas kemandegan tatanan yang cenderung melumpuhkan mesin
organisasi. Pondasi kedua ini menjadi titik temu antara kecerdasan intelegensi
atau logika matematis dengan sisi spiritual atau intuisi yang membebaskan.
Rendah hati akan menjaga konsistensi pemimpin dalam
menjalankan amanah kekuasaan tetap berada pada garis tujuan hakikinya.
Integritas menjadi panduan moral dalam menjalani rute perjalanan menuju misi
dan visi organisasi – menerapkan penyatuan dan penyelarasan visi, pemikiran,
sikap dan perilaku. Kearifan adalah puncak kepemimpinan yang membawa
kemanfaatan dan keberkahan di seluruh pelosok negeri.
Abraham Lincoln pernah berucap, “Hampir semua orang
mampu menanggung kesengsaraan, tetapi jika anda ingin menguji karakter
seseorang berikan kekuasaan kepadanya”. Tameng utama beban kekuasaan adalah
karakter rendah hati, integritas dan kearifan.
Di sini, mungkin, kegagapan dan kegagalan (sebagian)
pemuda dan kaum milenial dalam menjalankan kepemimpinan khususnya di ranah
publik, dan masih perlu diperbaiki dan dilatih secara terus-menerus.
Karena sejatinya musuh dari kekuasaan adalah arogansi.
Pemimpin yang arogan biasanya gagal untuk menyadari kesalahannya, dan bisa
dipastikan gagal untuk meminta maaf. Arogansi kepemimpinan mentasbihkan bahwa
ia sebetulnya belum kompeten, lalu berusaha mengelak atas
ke-belum-kompeten-annya dengan jubah arogansi, anti-kritik, menelanjangi
kepongahannya sendiri, memperburuk ke dalam jurang yang merendahkan diri
sendiri, serba membolehkan diri sendiri, yang ujungnya adalah jatuh ke dalam
tindakan yang tidak bermoral dan bisa saja terjerat dalam tindakan korupsi.
Arogansi menjadi sebab pertama keterjatuhan seorang Fir’aun, arogansi menjadi sebab pertama keterjatuhan seorang
Hitler, dan arogansi pulalah yang menjadi sebab pertama keterjatuhan Iblis
laknatullah.
Seorang pemimpin yang rendah hati, berintegritas dan
arif - akan menggunakan jabatan dan amanah kekuasaannya secara hemat dan dengan
bijaksana. Ia mengakui dan memahami dengan sepenuh hati, bahwa kekuasaan yang
melekat dalam jubah atau seragamnya setara dengan kearifan dan sifat rendah
hati. Karena jabatan itu hanya sementara, maka ia berusaha menjadikan momen itu
menjadi sumber kemanfaatan dan keberkahan bagi masyarakat, keluarga dan
keberkahan bagi dirinya sendiri. Seringkali, ia juga harus memaklumi bahwa
jabatan itu kutukan baginya, dan ia akan sangat berhati-hati dalam menjalankan
amanah tersebut supaya tidak menciderai dirinya sendiri, dan tidak melukai
siapapun atau apapun.
Referensi:
[1] CEO Logic, C. Ray Johnson, 1998. Bhuana Ilmu Populer.
[2] Managing with the Gurus, Carol Kennedy, 1996. Elex Media Komputindo.
