Oleh Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Leluhur kita meninggalkan sesanti: Nek wani aja
wedi-wedi, nek wedi aja wani-wani (Jika berani, jangan takut-takut; jika takut,
jangan berani-berani). Dalam perspektif budaya Jawa pesan ini bernada tawaran
bermakna penegasan. Menawarkan satu pilihan: Berani sekali atau Takut sama
sekali.
Sikap dan tindakan berani ada yang sewajarnya,
ambigu, ada yang tak terjelaskan. Berani sewajarnya, terukur sebab dan
tujuannya, kalkulatif. Berani ambigu bercampur takut, setengah berani setengah
takut. Ungkapan Entah
kenapa aku seberani ini, menunjukkan berani tak terjelaskan, absurd. Hal serupa berlaku pada
takut: sewajarnya, ambigu, tak terjelaskan.
Ketakutan ada kalanya harus dilawan agar tidak
membelenggu keberanian. Membaca doa tertentu dan dzikirullah lazim dilakukan untuk
melawan rasa takut. Doa dan dzikrullah berdimensi psikologis menguatkan
motivasi berani dan berdimesi Ilahiyah mengawal keyakinan agar tidak salah
kaprah. Menghabiskan waktu dan energi untuk bekerja hingga lupa ibadah karena
takut tak terpenuhinya kebutuhan materi menunjukkan lemahnya keyakinan atas
jaminan kecukupan rizki dari Allah.
Cara lain, menggunakan perangkat yang relevan –
takut gelap menggunakan senter, takut bodoh dengan belajar tekun – atau dengan pendampingan
pihak berkompeten – takut begal minta pendampingan polisi, takut kalah di pengadilan menggunkan jasa lawyer.
Jika perlawanan terhadap rasa takut tidak berhasil,
disarakan berdamai dengan rasa takut. Perlawanan mendahulukan ambisi, berdamai mengedepankan strategi. Keduanya
bertujuan membebaskan diri dari rasa takut, bukan memusnahkan rasa takut.
Berdamai dengan rasa takut diawali dengan mengenali
‘apa’ takut itu. Menurut Ki Ageng
Suryomentaram, takut adalah ‘rasa’ yang menghubungkan si takut dengan yang
ditakuti: Saya – takut – api. Takut juga diartikan penolakan si takut terhadap
yang ditakuti: Saya takut api maka saya menjauh atau memadamkan (Ki Ageng:
1983, 10). Dari pengenalan ini muncul pemahaman, ‘saya’ dan ‘takut’ adalah dua
hal berbeda, bisa menyatu, bisa terpisah. Faktanya, kadang saya ‘takut’ kadang
saya ‘berani’.
Setelah teridentifikasi perbedaan antara ‘saya’ dan
‘takut’ lalu ambil jarak antar keduanya. Pada tahap ini harus dapat memilah antara
rasa
diri dan rasa takut dengan menyadari bahwa rasa takut, akan atau sedang merasuki rasa diri. Ketika suara hati berkata “Kenapa ya rasa takut
ini tak kunjung hilang...” menunjukkan adanya jarak antara rasa diri dengan rasa
takut.
Langkah berikutnya memposisikan rasa diri menjadi CCTV atau drone yang memantau pergerakan rasa takut. Rasa
takut dan rasa berani bergerak bergantian. Sekwaktu rasa takut menguat, rasa
berani melemah
dan sebaliknya. Pergerakan antar keduanya terasa seperti ini: berani, takut;
berani sebentar, takut kembali. Pada titik ini rasa diri tidak perlu melawan rasa takut, cukup memantau dan mengamati dari waktu ke waktu.
Terakhir, rasa diri berusaha mengendalikan gerak rasa takut agar jangan membesar, menguat, atau melebar
melalui dialog. Rasa
diri bertanya dan
bernegoisasi dengan rasa
takut: ‘ngapain’
kamu; maumu apa; kapan menjauh; pergi sekarang saja ya, misalnya. Dialog
semacam ini dikenal dengan self
talk (https://pijarpsikologi.org). Keberhasilan langkah ini ditandai mengecil atau
melemahnya tekanan rasa
takut terhadap rasa diri, hingga terbebasnya rasa diri dari rasa
takut.
Bebas dari rasa takut artinya rasa diri yang telah
mampu mengendalikan rasa
takut; rasa diri yang
terpisah dari rasa
takut. Selanjutnya
rasa
takut digantikan rasa berani yang
menyatu
dengan rasa
diri, sementara
itu rasa
takut bersembunyi
dan menunggu giliran bersatu dengan rasa diri jika kesempatan memungkinkan. Ungkapan “Awalnya
saya sangat takut bicara di depan forum. Setelah berlangsung beberapa menit,
rasa takutku berangsur hilang” menunjukkan rasa diri yang telah berhasil mengendalikan atau terbebaskan dari
rasa
takut.
Membayangkan ketakutan bukanlah ketakutan itu
sendiri. Berdamai dengan rasa takut hanya bisa dilakukan ketika rasa takut datang
melanda, bukan sewaktu membayangkan datangnya ketakutan. Kesulitan menerapkan
langkah-langkah tersebut tentu ada, akan tetapi sulit bukan berarti tidak bisa.
Persoalan lain, takut lebih dekat dan lebih dominan
aspek rasa (afektif) dibanding rasio (kognitif). Karena itu sering terjadi, sesuatu
yang menurut rasio tidak perlu ditakutkan namun rasa takut tak kunjung pergi
berganti berani.
Terbebas dari rasa takut adalah cita-cita, harapan,
keinginan, bahkan kebutuhan banyak orang. Namun semua itu tidak akan pernah
terwujud jika gagal ‘melawan’ atau tidak mampu ‘berdamai’ dengan rasa takut. Wallau a’lam.
Referensi:
https://pijarpsikologi.org.
Ki Ageng Suryomentaram. 1983. Rasa Takut, Ilmu Jiwa, Dan Pebangunan Jiwa Warga Negara. Jakarta: Inti Idayu Press.
