KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 15 Juni 2020

Berdamai dengan Rasa Takut

Oleh Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)


Leluhur kita meninggalkan sesanti: Nek wani aja wedi-wedi, nek wedi aja wani-wani (Jika berani, jangan takut-takut; jika takut, jangan berani-berani). Dalam perspektif budaya Jawa pesan ini bernada tawaran bermakna penegasan. Menawarkan satu pilihan: Berani sekali atau Takut sama sekali.

Sikap dan tindakan berani ada yang sewajarnya, ambigu, ada yang tak terjelaskan. Berani sewajarnya, terukur sebab dan tujuannya, kalkulatif. Berani ambigu bercampur takut, setengah berani setengah takut. Ungkapan Entah kenapa aku seberani ini, menunjukkan berani tak terjelaskan, absurd. Hal serupa berlaku pada takut: sewajarnya, ambigu, tak terjelaskan.

Ketakutan ada kalanya harus dilawan agar tidak membelenggu keberanian. Membaca doa tertentu dan dzikirullah lazim dilakukan untuk melawan rasa takut. Doa dan dzikrullah berdimensi psikologis menguatkan motivasi berani dan berdimesi Ilahiyah mengawal keyakinan agar tidak salah kaprah. Menghabiskan waktu dan energi untuk bekerja hingga lupa ibadah karena takut tak terpenuhinya kebutuhan materi menunjukkan lemahnya keyakinan atas jaminan kecukupan rizki dari Allah.

Cara lain, menggunakan perangkat yang relevan – takut gelap menggunakan senter, takut bodoh dengan belajar tekun – atau dengan pendampingan pihak berkompeten – takut begal minta pendampingan polisi, takut kalah di pengadilan menggunkan jasa lawyer.

Jika perlawanan terhadap rasa takut tidak berhasil, disarakan berdamai dengan rasa takut. Perlawanan mendahulukan ambisi,  berdamai mengedepankan strategi. Keduanya bertujuan membebaskan diri dari rasa takut, bukan memusnahkan rasa takut.

Berdamai dengan rasa takut diawali dengan mengenali ‘apa’ takut itu.  Menurut Ki Ageng Suryomentaram, takut adalah ‘rasa’ yang menghubungkan si takut dengan yang ditakuti: Saya – takut – api. Takut juga diartikan penolakan si takut terhadap yang ditakuti: Saya takut api maka saya menjauh atau memadamkan (Ki Ageng: 1983, 10). Dari pengenalan ini muncul pemahaman, ‘saya’ dan ‘takut’ adalah dua hal berbeda, bisa menyatu, bisa terpisah. Faktanya, kadang saya ‘takut’ kadang saya ‘berani’.

Setelah teridentifikasi perbedaan antara ‘saya’ dan ‘takut’ lalu ambil jarak antar keduanya. Pada tahap ini harus dapat memilah antara rasa diri dan rasa takut dengan menyadari bahwa rasa takut, akan atau sedang merasuki rasa diri. Ketika suara hati berkata “Kenapa ya rasa takut ini tak kunjung hilang...” menunjukkan adanya jarak antara rasa diri dengan rasa takut.

Langkah berikutnya memposisikan rasa diri menjadi CCTV atau drone yang memantau pergerakan rasa takut. Rasa takut dan rasa berani bergerak bergantian. Sekwaktu rasa takut menguat, rasa berani melemah dan sebaliknya. Pergerakan antar keduanya terasa seperti ini: berani, takut; berani sebentar, takut kembali. Pada titik ini rasa diri tidak perlu melawan rasa takut, cukup memantau dan mengamati dari waktu ke waktu.

Terakhir, rasa diri berusaha mengendalikan gerak rasa takut agar jangan membesar, menguat, atau melebar melalui dialog. Rasa diri bertanya dan bernegoisasi dengan rasa takut: ‘ngapain’ kamu; maumu apa; kapan menjauh; pergi sekarang saja ya, misalnya. Dialog semacam ini dikenal dengan self talk (https://pijarpsikologi.org). Keberhasilan langkah ini ditandai mengecil atau melemahnya tekanan rasa takut terhadap rasa diri, hingga terbebasnya rasa diri dari rasa takut.

Bebas dari rasa takut artinya rasa diri  yang telah mampu mengendalikan rasa takut; rasa diri yang terpisah dari rasa takut. Selanjutnya rasa takut digantikan rasa berani yang menyatu dengan rasa diri, sementara itu rasa takut bersembunyi dan menunggu giliran bersatu dengan rasa diri jika kesempatan memungkinkan. Ungkapan “Awalnya saya sangat takut bicara di depan forum. Setelah berlangsung beberapa menit, rasa takutku berangsur hilang” menunjukkan rasa diri yang telah berhasil mengendalikan atau terbebaskan dari rasa takut.

Membayangkan ketakutan bukanlah ketakutan itu sendiri. Berdamai dengan rasa takut hanya bisa dilakukan ketika rasa takut datang melanda, bukan sewaktu membayangkan datangnya ketakutan. Kesulitan menerapkan langkah-langkah tersebut tentu ada, akan tetapi sulit bukan berarti tidak bisa.

Persoalan lain, takut lebih dekat dan lebih dominan aspek rasa (afektif) dibanding rasio (kognitif). Karena itu sering terjadi, sesuatu yang menurut rasio tidak perlu ditakutkan namun rasa takut tak kunjung pergi berganti berani.

Terbebas dari rasa takut adalah cita-cita, harapan, keinginan, bahkan kebutuhan banyak orang. Namun semua itu tidak akan pernah terwujud jika gagal ‘melawan’ atau tidak mampu ‘berdamai’ dengan rasa takut. Wallau a’lam.


Referensi:

https://pijarpsikologi.org.

Ki Ageng Suryomentaram. 1983. Rasa Takut, Ilmu Jiwa, Dan Pebangunan Jiwa Warga Negara. Jakarta: Inti Idayu Press.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman