KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Jumat, 04 Maret 2022

Tradisi Megengan dan Ruwahan di Pati


Oleh Agus Suprianto, SH., SHI., MSI.

(Alumni MA Tarbiyatul Banin dan Alumni Ponpes Al-Hikmah) 

 

Salah satu kampung di Kabupaten Pati yaitu Desa Pekalongan Kecamatan Winong Kabupaten Pati, ada kebiasaan menjelang bulan suci Ramadhan yaitu megengan. Megengan dilaksanakan masyarakat umumnya dengan cara masing-masing keluarga membuat sego besek atau sego berkat. Caranya yaitu besek (yang terbuat dari ayaman bambu) atau ceting (yang terbuat dari plastik), kemudian diisi nasi dan diatas nasi diberi lauk ayam atau ikan bandeng, lalu ditambah bumbu-bumbu, seperti mie kuning, mie putih, tomis kacang panjang, tomis kentang dan dikasih gorengan peyek, tempe goreng dan tahu goreng.

Malam harinya lalu mengundang tetangga sekitar untuk melakukan bacaan tahlil kirim doa kepada para leluhur seperti kepada orang tua, simbah, buyut, dan lainnya yang telah meninggal dunia. Termasuk kirim shalawat dan do’a kepada Rasulullah SAW, Keluarganya, para sahabat, dan para ulama serta khususnya untuk pendiri Desa Pekalongan yaitu Ki Ageng Rante Kencono Wulung, keluarga dan keturunannya.

Tradisi megengan secara pribadi oleh masing-masing keluarga, lazim dilaksanakan sebelum tahun 2000-an. Sehingga satu malam, bisa tahlilan berkali-kali dari rumah ke rumah dan hasilnya sego besek atau sego berkat menumpuk banyak di rumah. Kemudian sejak tahun 2000-an, acara megengan dipusatkan di Masjid Jami’ Darussalam atau Musholla / Langgar. Setiap keluarga membawa sego besek atau sego berkat sekitar 4 – 6 paket dan diletakkan ditengah Masjid / Musholla / Langgar, lalu setelah bacaan tahlil selesai, sego besek atau sego berkat dibagi secara merata ke jamaah tahlilan yang ikut megengan. Sebagian ada yang langsung dimakan dan sebagian lainnya, sego besek atau sego berkat dibawa pulang untuk dimakan di rumah. 

Megengan berasal dari megeng yang artinya ‘menahan’. Sering juga disebut dengan ritual ‘mapag’ yaitu menjemput awal bulan puasa. Megengan bermakna sebagai sebuah peringatan bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan suci Ramadan. Selama menjalankan ibadah puasa, umat Muslim diwajibkan untuk menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa. Secara filosofi megengan mengandung arti yaitu : 1). untuk menahan segala hal yang bisa membatalkan ibadah puasa, dan 2). Untuk ungkapan rasa syukur karena akan menghadapi bulan Ramadan.

Menurut Nur Syam, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dalam artikel Tradisi Megengan di Jawa (nursyam.uinsby.ac.id), megengan berarti menahan. Misalnya ungkapan megeng nafas, artinya menahan nafas, megeng hawa nafsu artinya menahan hawa nafsu dan sebagainya. Dalam konteks bulan Ramadan adalah menahan hawa nafsu yang terkait dengan makan, minum, berhubungan seksual, dan hal lain yang membatalkan puasa. Apabila nafsu itu tidak dikendalikan, justru bisa menjerumuskan manusia ke lembah kenistaan. Nafsu ini disebut dengan nafsu lawwamah atau tingkatan nafsu manusia yang harus dikendalikan. Selain itu, ada nafsu mutmainnah yaitu tingkatan nafsu pada manusia yang bisa dikendalikan dengan berdasar pada Perintah ajaran agama. Nafsu inilah yang akan menuntun manusia untuk tetap berada di jalan Iman dan Islam. Umat Islam yang mengembangkan nafsu mutmainnah akan dijamin keselamatannya dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Menurut sejarah, megengan merupakan hasil akulturasi budaya lokal dan budaya Islam. Sebelum pulau Jawa kedatangan agama Islam melalui Walisongo diantaranya Sunan kalijaga, di zaman pemerintahan Majapahit telah didapati tradisi serupa yang disebut dengan “ruwahan“. Ruwahan merupakan tradisi bulan ruwah yaitu penanggalan bulan Jawa yang bersamaan dengan bulan Sya’ban pada penanggalan Hijriyah. Bulan Sya’ban adalah bulan untuk berbagi kasih dan sedekah. Istilah ruwah dimaknai sebagai bulan arwah yang berarti roh, dalam hal ini adalah bulan untuk kirim do’a kepada roh para leluhur, roh para ulama dan roh para pejuang yang telah mendahului kita semua.

Ketika Islam mulai berkembang di tanah Jawa, salah satu jalan dakwah yang dipakai Walisongo adalah pendekatan budaya lokal. Sunan Kalijaga berdakwah dengan menggunakan pendekatan sosial budaya. Salah satunya mengubah atau memodifikasi tradisi ruwahan menjadi tradisi megengan. Biasanya sesajen dalam ruwahan dikhususkan untuk arwah dan tidak boleh dimakan. Pada tradisi megengan sesajen tersebut diganti dengan sedekah makanan yang dibagikan dan dimakan bersama.

Umumnya megengan ada menu makanan khas nusantara yaitu kolak pisang, kue apem, dan ketan. Makanan itu adalah simbol. Kolak diambil dari kata ‘khalaqa’ yang artinya menciptakan. Kata lainnya ‘khaliq’ artinya sang pencipta. Secara harfiah, orang Jawa mengartikan kolak sebagai simbol harapan agar senantiasa mengingat sang pencipta. Kemudian apem berasal dari kata ‘afwan’ artinya maaf atau mohon ampunan. Dimaksudkan untuk saling memaafkan antar sesama manusia. Dimaknai juga sebagai pertobatan manusia yang memohon ampun kepada Allah SWT. Tekstur apem yang lengket mengartikan eratnya tali silaturahim sebagai sesama umat Islam dan sesama satu bangsa. Lalu ketan berasal dari bahasa arab ‘khotan’ yang artinya kesalahan. Selain itu ketan dalam bahasa jawa yaitu ‘kraketan’ atau ‘ngraketke ikatan’ yang artinya merekatkan ikatan persaudaraan antar sesama manusia. Ketan untuk mengingsyaratkan perenungan dan introspeksi diri atas kesalahan dan dosa-dosa yang dilakukan selama ini.

Tiga kegiatan lain yang terkait dengan tradisi megengan yaitu pertama, melakukan mandi keramas atau ‘padusan’ yang bertujuan untuk mensucikan diri persiapan menghadapi datangnya bulan suci ramadan. Kedua, melakukan ziarah kubur ke makam orang tua dan leluhur, dengan tujuan untuk mendoakan, memohonkan ampunan kepada Allah SWT. Dan ketiga, melakukan saling meminta maaf kepada orang tua, keluarga, teman, sahabat, sesama jamaah atau kepada sesama umat Islam lainnya.

Adapun makna yang dapat diambil dari tradisi megengan menurut Suharsono dalam tulisan berjudul Berebut Berkah pada Tradisi Megengan di Pati, 2019 (etnis.id), antara lain: pertama, setiap manusia terutama umat Islam adalah sama dan punya hak untuk mengambil rezekinya. Ketika sego berkat dikumpulkan menjadi satu, maka memberikan filosofi bahwa rezeki itu milik siapa saja. Bagi yang memberikan sego berkat terbaik, maka Allah SWT akan memberikan rezeki yang baik pula bahkan Insya Allah lebih baik; Kedua, keikhlasan yang harus dimiliki setiap orang. Saat menaruh sego berkat dengan menu terbaik, maka nilai keikhlasan bahwa sego berkat tersebut bukanlah milik kita lagi dan ikhlas siapapun nanti yang menerimanya; Ketiga, kebersamaan. Sebuah tradisi yang tidak akan bisa dinilai dengan apapun, proses pengumpulan sego berkat merupakan kerja sama dan menandakan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil  alamin; Keempat, acara megengan membangun kekuatan iman dan takwa untuk menghadapi bulan Ramadan. Karena ibadah puasa hanya untuk Allah, sehingga Allah yang akan memberikan balasannya; Kelima, suka cita. Megengan menciptakan suasana suka-cita saat menyambut datangnya bulan Ramadan. Setiap orang yang hadir dalam acara Megengan memberikan suasana bahagia dan kegembiraan.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman