Oleh Agus Suprianto, SH., SHI., MSI.
(Alumni MA Tarbiyatul Banin dan Alumni Ponpes Al-Hikmah)
Salah satu kampung di Kabupaten Pati yaitu Desa Pekalongan Kecamatan Winong Kabupaten Pati, ada kebiasaan menjelang bulan suci Ramadhan yaitu megengan. Megengan dilaksanakan masyarakat umumnya dengan cara masing-masing keluarga membuat sego besek atau sego berkat. Caranya yaitu besek (yang terbuat dari ayaman bambu) atau ceting (yang terbuat dari plastik), kemudian diisi nasi dan diatas nasi diberi lauk ayam atau ikan bandeng, lalu ditambah bumbu-bumbu, seperti mie kuning, mie putih, tomis kacang panjang, tomis kentang dan dikasih gorengan peyek, tempe goreng dan tahu goreng.
Malam harinya lalu mengundang tetangga sekitar untuk
melakukan bacaan tahlil kirim doa kepada para leluhur seperti kepada orang tua,
simbah, buyut, dan lainnya yang telah meninggal dunia. Termasuk kirim shalawat
dan do’a kepada Rasulullah SAW, Keluarganya, para sahabat, dan para ulama serta
khususnya untuk pendiri Desa Pekalongan yaitu Ki Ageng Rante Kencono Wulung,
keluarga dan keturunannya.
Tradisi megengan secara pribadi oleh masing-masing
keluarga, lazim dilaksanakan sebelum tahun 2000-an. Sehingga satu malam, bisa
tahlilan berkali-kali dari rumah ke rumah dan hasilnya sego besek atau sego
berkat menumpuk banyak di rumah. Kemudian sejak tahun 2000-an, acara megengan
dipusatkan di Masjid Jami’ Darussalam atau Musholla / Langgar. Setiap keluarga
membawa sego besek atau sego berkat sekitar 4 – 6 paket dan diletakkan ditengah
Masjid / Musholla / Langgar, lalu setelah bacaan tahlil selesai, sego besek
atau sego berkat dibagi secara merata ke jamaah tahlilan yang ikut megengan.
Sebagian ada yang langsung dimakan dan sebagian lainnya, sego besek atau sego
berkat dibawa pulang untuk dimakan di rumah.
Megengan berasal dari megeng yang artinya ‘menahan’.
Sering juga disebut dengan ritual ‘mapag’ yaitu menjemput awal bulan puasa.
Megengan bermakna sebagai sebuah peringatan bahwa sebentar lagi akan memasuki
bulan suci Ramadan. Selama menjalankan ibadah puasa, umat Muslim diwajibkan
untuk menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat
menggugurkan ibadah puasa. Secara filosofi megengan mengandung arti yaitu : 1).
untuk menahan segala hal yang bisa membatalkan ibadah puasa, dan 2). Untuk
ungkapan rasa syukur karena akan menghadapi bulan Ramadan.
Menurut Nur Syam, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dalam
artikel Tradisi Megengan di Jawa (nursyam.uinsby.ac.id), megengan berarti
menahan. Misalnya ungkapan megeng nafas, artinya menahan nafas, megeng hawa
nafsu artinya menahan hawa nafsu dan sebagainya. Dalam konteks bulan Ramadan
adalah menahan hawa nafsu yang terkait dengan makan, minum, berhubungan
seksual, dan hal lain yang membatalkan puasa. Apabila nafsu itu tidak
dikendalikan, justru bisa menjerumuskan manusia ke lembah kenistaan. Nafsu ini
disebut dengan nafsu lawwamah atau tingkatan nafsu manusia yang harus
dikendalikan. Selain itu, ada nafsu mutmainnah yaitu tingkatan nafsu pada
manusia yang bisa dikendalikan dengan berdasar pada Perintah ajaran agama.
Nafsu inilah yang akan menuntun manusia untuk tetap berada di jalan Iman dan Islam.
Umat Islam yang mengembangkan nafsu mutmainnah akan dijamin keselamatannya
dalam mengarungi bahtera kehidupan.
Menurut sejarah, megengan merupakan hasil akulturasi
budaya lokal dan budaya Islam. Sebelum pulau Jawa kedatangan agama Islam
melalui Walisongo diantaranya Sunan kalijaga, di zaman pemerintahan Majapahit
telah didapati tradisi serupa yang disebut dengan “ruwahan“. Ruwahan merupakan
tradisi bulan ruwah yaitu penanggalan bulan Jawa yang bersamaan dengan bulan
Sya’ban pada penanggalan Hijriyah. Bulan Sya’ban adalah bulan untuk berbagi
kasih dan sedekah. Istilah ruwah dimaknai sebagai bulan arwah yang berarti roh,
dalam hal ini adalah bulan untuk kirim do’a kepada roh para leluhur, roh para
ulama dan roh para pejuang yang telah mendahului kita semua.
Ketika Islam mulai berkembang di tanah Jawa, salah
satu jalan dakwah yang dipakai Walisongo adalah pendekatan budaya lokal. Sunan
Kalijaga berdakwah dengan menggunakan pendekatan sosial budaya. Salah satunya
mengubah atau memodifikasi tradisi ruwahan menjadi tradisi megengan. Biasanya
sesajen dalam ruwahan dikhususkan untuk arwah dan tidak boleh dimakan. Pada
tradisi megengan sesajen tersebut diganti dengan sedekah makanan yang dibagikan
dan dimakan bersama.
Umumnya megengan ada menu makanan khas nusantara yaitu
kolak pisang, kue apem, dan ketan. Makanan itu adalah simbol. Kolak diambil
dari kata ‘khalaqa’ yang artinya menciptakan. Kata lainnya ‘khaliq’ artinya
sang pencipta. Secara harfiah, orang Jawa mengartikan kolak sebagai simbol
harapan agar senantiasa mengingat sang pencipta. Kemudian apem berasal dari
kata ‘afwan’ artinya maaf atau mohon ampunan. Dimaksudkan untuk saling
memaafkan antar sesama manusia. Dimaknai juga sebagai pertobatan manusia yang
memohon ampun kepada Allah SWT. Tekstur apem yang lengket mengartikan eratnya
tali silaturahim sebagai sesama umat Islam dan sesama satu bangsa. Lalu ketan
berasal dari bahasa arab ‘khotan’ yang artinya kesalahan. Selain itu ketan
dalam bahasa jawa yaitu ‘kraketan’ atau ‘ngraketke ikatan’ yang artinya merekatkan
ikatan persaudaraan antar sesama manusia. Ketan untuk mengingsyaratkan
perenungan dan introspeksi diri atas kesalahan dan dosa-dosa yang dilakukan
selama ini.
Tiga kegiatan lain yang terkait dengan tradisi
megengan yaitu pertama, melakukan mandi keramas atau ‘padusan’ yang bertujuan
untuk mensucikan diri persiapan menghadapi datangnya bulan suci ramadan. Kedua,
melakukan ziarah kubur ke makam orang tua dan leluhur, dengan tujuan untuk
mendoakan, memohonkan ampunan kepada Allah SWT. Dan ketiga, melakukan saling
meminta maaf kepada orang tua, keluarga, teman, sahabat, sesama jamaah atau
kepada sesama umat Islam lainnya.
Adapun makna yang dapat diambil dari tradisi megengan
menurut Suharsono dalam tulisan berjudul Berebut Berkah pada Tradisi Megengan
di Pati, 2019 (etnis.id), antara lain: pertama, setiap manusia terutama umat
Islam adalah sama dan punya hak untuk mengambil rezekinya. Ketika sego berkat
dikumpulkan menjadi satu, maka memberikan filosofi bahwa rezeki itu milik siapa
saja. Bagi yang memberikan sego berkat terbaik, maka Allah SWT akan memberikan
rezeki yang baik pula bahkan Insya Allah lebih baik; Kedua, keikhlasan yang
harus dimiliki setiap orang. Saat menaruh sego berkat dengan menu terbaik, maka
nilai keikhlasan bahwa sego berkat tersebut bukanlah milik kita lagi dan ikhlas
siapapun nanti yang menerimanya; Ketiga, kebersamaan. Sebuah tradisi yang tidak
akan bisa dinilai dengan apapun, proses pengumpulan sego berkat merupakan kerja
sama dan menandakan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin; Keempat, acara megengan membangun
kekuatan iman dan takwa untuk menghadapi bulan Ramadan. Karena ibadah puasa
hanya untuk Allah, sehingga Allah yang akan memberikan balasannya; Kelima, suka
cita. Megengan menciptakan suasana suka-cita saat menyambut datangnya bulan
Ramadan. Setiap orang yang hadir dalam acara Megengan memberikan suasana
bahagia dan kegembiraan.