Anita Qurroti A’yuni, Lc., M.Pd.
(Pemerhati Kajian Pendidikan, Perempuan dan Anak)
Sepatutnya para orang tua bersedih, saat mendapati anak-anak mereka lebih fasih bercerita tentang tokoh-tokoh fiksi khayalan. Akan tetapi, saat anak-anak diminta menceritakan siapa Baginda Nabi Muhammad SAW, mereka gagap. Mencetak anak dengan karakter cinta Rasul adalah harapan bagi setiap orang tua muslim. Agar karakter cinta Rasul terinternalisasi dalam diri anak, tidaklah mudah. Butuh sinergi antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Perlu kerja sama orang sekampung. “It take a village to rising children,” kata Hillary Clinton.
Karakter adalah perilaku yang diulang-ulang. Cinta
Rasul adalah prioritas kedua setelah cinta kepada Allah SWT. Karena Allah
adalah sumber segala cinta dan muara dari seluruh cinta. Seseorang yang
memiliki karakter cinta Rasul berarti menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai
suri tauladan dalam setiap perilakunya sehari-hari. Rasulullah dijadikan
sebagai idola dalam setiap tarikan nafasnya. Sifat-sifat Rasulullah yang mulia,
ditiru. Ucapan dan amalan-amalan sholeh yang Rasulullah kerjakan dalam
kehidupan sehari-hari, dijadikan rujukan sejak bangun tidur hingga menjelang
tidur di malam hari.
Rasulullah SAW dalam riwayat At-Thabrani, Ibnu Najjar
dan Ad-Dailami bersabda:
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أدبوا أولادكم على ثلاث خصال: حب نبيكم، وحب أهل بيته،
وقراءة القرآن، فإن حملة القرآن في ظل الله يوم لا ظل إلا ظله مع أنبيائه وأصفيائه
Dari Ali R.A. ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Didiklah anak-anak kalian dengan tiga macam perkara, yaitu mencintai
Nabi kalian dan keluarganya serta membaca Al-Qur’an, karena sesungguhnya orang
yang menjunjung tinggi Al-Qur’an akan berada di bawah lindungan Allah, di waktu
tidak ada lindungan selain lindungan-Nya bersama para Nabi dan kekasih-Nya.”
(H.R Ad-Dailami).
Cinta memerlukan bukti. Lalu, apa saja tanda bahwa ada
karakter cinta Rasul pada diri kita? Setidaknya ada delapan indikator bahwa
seseorang itu mencintai Rasulullah Muhammad SAW. Di antaranya ialah, mengetahui
kisah perjalanan hidup Rasulullah, mengikuti akhlak Nabi Muhammad SAW, menaati
perintah Rasul, bershalawat untuk Rasulullah SAW, rindu berjumpa dengan Rasul,
melanjutkan dakwah Rasul, memuliakan Rasul, serta cinta dengan apa yang beliau
cintai.
Satu di antara faktor penentu keberhasilan mencetak
anak yang berkarakter cinta Rasul yaitu dengan memaksimalkan the golden age.
Yaitu masa emas dalam periodesasi pertumbuhan dan perkembangan manusia.
Berbagai penelitian mengungkapan bahwa masa emas terjadi sejak seorang manusia
berada dalam rahim ibu hingga beberapa tahun pertama kelahirannya. Masa ini
populer dengan sebutan usia dini.
Usia dini adalah masa yang penting dan efektif untuk
menuju sumber daya manusia berkualitas yang berkarakter cinta Rasul. Dr. Warni
Djuwita, pakar pendidikan anak usia dini mengatakan 80% pembentukan karakter
optimal di usia 0-8 tahun. Keberhasilan dan kegagalan pengembangan spiritual,
emosional dan intelektual seorang anak sering terletak pada tingkat kemampuan
dan kesadaran orang tua dalam memanfaatkan peluang di masa ini. Oleh karena
itu, sejak anak-anak berada di usia dini, para orang tua harus berusaha dengan
sungguh-sungguh untuk menanamkan karakter cinta Rasul pada anak-anaknya. Siapa
yang membiasakan diri di masa muda dengan sesuatu, niscaya akan terbiasa
dengannya hingga tua.
Ada tiga tahapan yang perlu orang tua usahakan untuk
bisa menanamkan karakter cinta Rasul kepada anak-anaknya. Di antaranya:
·
Tahap Transformasi
Pada tahap ini, orang tua mengenalkan kepada
anak-anaknya tentang siapa Rasulullah Muhammad SAW. Bagaimana sejarah hidupnya.
Seperti apa sifat-sifat yang dimilikinya. Apa saja keistimewaannya. Saat ini
ada banyak cara yang bisa orang tua lakukan untuk mengenalkan sosok Baginda
Rasulullah SAW kepada anak-anaknya. Mulai dari membacakan buku cerita, kisah
sebelum tidur, menonton film-film kartun di media online yang menceritakan
tentang Rasulullah SAW, dan lain sebagainya. Salah satu yang efektif yaitu
dengan mengiringi anak-anak tidur dengan melantunkan shalawat Nabi yang berisi
tentang kisah perjalanan hidup Rasulullah Muhammad SAW.
·
Tahap Transaksi
Pada tahap ini, orang tua mulai mencontohkan karakter
cinta Rasul kepada anak-anaknya. Ayah dan Bunda menunjukkan kepada anak
bagaimana mencintai Rasulullah. Di antaranya yaitu berakhlak mulia terhadap
anak-anak. Misalnya, saat anak-anak berperilaku yang membuat naik darah, orang
tua berusaha menahan amarahnya. Orang tua bersikap lemah lembut penuh kasih
sayang saat memberikan nasehat kepada anak-anak. Memberikan teladan di hadapan
anak-anak terkait akhlak Rasulullah adalah usaha terbaik untuk menanamkan
karakter cinta Rasul.
·
Tahap Transinternalisasi
Pada tahap ini, orang tua mulai mengajak anak-anak
untuk mengamalkan amalan-amalan Sunnah yang mudah dilakukan oleh anak-anak yang
Rasulullah ajarkan. Misalnya dengan mulai membiasakan anak-anak membaca
basmalah sebelum melakukan sesuatu dan membaca hamdalah setelah melakukan
sesuatu, membiasakan anak-anak mengucapkan salam, dan amalan-amalan sunnah
lainnya yang mudah dilakukan oleh anak-anak.
Amalan-amalan sunnah yang mudah dan sederhana namun
besar hikmahnya ini, jika dimulai sedari kecil maka akan terbiasa mereka
lakukan hingga dewasa dan tua. Secara perlahan, kita telah membentuk karakter
cinta Rasul ke dalam diri anak-anak kita. Semoga Allah memudahkan usaha kita
dalam membentuk generasi yang cinta terhadap Baginda Rasulullah Muhammad SAW.