Elmou Freez
(Blogger)
Tepat 10 Dzulhijjah peristiwa bersejarah itu terngiang
menembus batas nalar kita, perihal bagaimana cinta sejati diuji dalam titik
terberat dalam kehidupan manusia. Bagaimana mungkin Ismail merelakan dirinya
untuk disembelih oleh ayah tercintanya? Adakah makhluk di semesta ini yang
mampu menyaingi kesabaran yang dimiliki Ismail dengan menyerahkan hidupnya
sebagai pengorbanan atas cinta Ibrahim kepada Sang Kekasihnya? Adakah
keikhlasan yang mampu bersemayam dalam hati semua manusia yang sanggup
melampaui keikhlasan hati seorang Ismail? Dan adakah yang sanggup menjalankan
kerelaan melepas cinta seorang Ibrahim pada sang buah hati untuk dipersembahkan
kepada Cinta Sejatinya? Maka, nalar yang tersisa bertanya, adakah cinta sejati
di dunia ini, selain cinta kepada Sang Kekasih Sejati?
Hakekat kisah Ismail dan Ibrahim bermuara pada dua
hal, yakni cinta dan keikhlasan. Cinta yang terus menerus hidup dalam hati
Ibrahim adalah cinta sejati seorang manusia yang sangat rindu dengan Sang
Kekasih yakni Allah Azza wa Jalla. Tetapi di dunia nyata, hati Ibrahim juga
dipenuhi ruang rindu pada buah hatinya yang mana ia tak akan membiarkan Ismail
bersedih, sakit, kehausan, kelaparan, dan apapun akan ia lakukan untuk menjaga
Ismail dengan seluruh daya yang dimilikinya. Cinta seorang ayah kepada anaknya
menjadi nadi yang sangat kuat, tak akan mampu runtuh oleh hantaman apapun di
dunia ini. Cinta yang bersemayam dalam diri Ibrahim adalah manifestasi rasa
sejati yang hidup dalam hati setiap manusia, yang mana cinta pertama yang
paling agung yang tak mungkin tergantikan yakni Cinta Sejati pada Sang Khalik
dan cinta kedua adalah cinta yang paling murni yakni cinta ayah kepada anaknya.
Lalu, bagaimana jika kedua cinta ini diuji untuk
saling meniadakan? Bukan. Bukan seperti itu logika yang layak dilontarkan.
Perumpamaan yang bisa diangkat adalah jika ada rembulan di atas langit,
kemudian terbit matahari yang menerangi langit akankah rembulan itu tiada? Jika
Cinta Sejati itu adalah langitnya, maka rembulan dan matahari adalah
manifestasi percikan cahaya cinta sejati yang menjadikan pandangan mata kita
menyaksikan keindahan-Nya. Cinta Sejati yang kepada Sang Khaliq adalah bentuk
penyerahan diri total untuk terbakar dalam api kerinduan pada Sang Kekasih.
Karena cinta adalah rahasia penciptaan yang paling misteri nan agung, dan hanya
bisa tersingkap makna dan substansinya tatkala diri kita telah mampu berjumpa
dan menyatu dengan Sang Pemilik Cinta. Sementara itu cinta Ibrahim kepada
anaknya adalah bagian singkapan makna cinta yang pada akhirnya akan meluruh dan
menyatu dalam samudera Cinta Sejati.
Pelajaran penting yang bisa kita tarik benang merahnya
adalah, saat kita mencari dan berusaha menemukan cinta sejati, maka ujian akan
terus menggedor nalar ego dan batas kesadaran yang puncaknya adalah kita harus
merelakan dan mengikhlaskan cinta yang biasa-biasa saja. Kisah pengorbanan
Ibrahim dan Ismail mengajarkan bahwa sejatinya kita tidak punya apa-apa,
semuanya hanya sementara – baik yang menyangkut hal-hal yang bersifat materi
maupun spiritual. Membangkitkan dan merengkuh cinta sejati tak mudah,
memerlukan pengorbanan dan keikhlasan yang tanpa batas. Seperti merelakan
perjumpaan dan kerinduan pada seseorang yang tak akan bisa kita miliki,
kemudian kita harus mematikan semua indera agar seluruh ego menguap dan
melampaui batas ketahanan kita, hingga kita harus mati. Dan terlahir kembali.
Dalam dinamika kehidupan yang terus berjalan tanpa
tahu kapan sampai titik akhir, tak sedikit kita merasa seperti dalam labirin
mimpi, lelah, terperangkap, takut di setiap belokan, dan ingin turun dari
kereta kehidupan yang kita naiki..berharap terbangun. Tapi kalau kita meyakini
dan percaya bahwa rute yang kita lewati itu adalah garis takdir yang Sang
Kekasih Sejati bentangkan untuk kita, dan Dia sendiri yang menjaga mesinnya –
maka mimpi itu akan berubah menjadi sesuatu yang sangat mendebarkan dan penuh
antusias. Berani mengambil risiko, jatuh dan bangkit kembali. Begitulah siklus
kehidupan akan mengalir dengan ritme yang Sang Kekasih Sejati telah atur
sedemikian indah.
Saat kamu jatuh dalam titik terendah, maka percayalah
Sang Kekasih Sejati telah menyiapkan langitnya untuk menangkap dan mendekap
erat jiwamu. Jika ini adalah sisa waktu, kembalikan lagi senyummu yang manis
seperti dulu.
