KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Selasa, 20 Juli 2021

Menjelang Sisa Waktu

 

Elmou Freez

(Blogger)

 

Tepat 10 Dzulhijjah peristiwa bersejarah itu terngiang menembus batas nalar kita, perihal bagaimana cinta sejati diuji dalam titik terberat dalam kehidupan manusia. Bagaimana mungkin Ismail merelakan dirinya untuk disembelih oleh ayah tercintanya? Adakah makhluk di semesta ini yang mampu menyaingi kesabaran yang dimiliki Ismail dengan menyerahkan hidupnya sebagai pengorbanan atas cinta Ibrahim kepada Sang Kekasihnya? Adakah keikhlasan yang mampu bersemayam dalam hati semua manusia yang sanggup melampaui keikhlasan hati seorang Ismail? Dan adakah yang sanggup menjalankan kerelaan melepas cinta seorang Ibrahim pada sang buah hati untuk dipersembahkan kepada Cinta Sejatinya? Maka, nalar yang tersisa bertanya, adakah cinta sejati di dunia ini, selain cinta kepada Sang Kekasih Sejati?

Hakekat kisah Ismail dan Ibrahim bermuara pada dua hal, yakni cinta dan keikhlasan. Cinta yang terus menerus hidup dalam hati Ibrahim adalah cinta sejati seorang manusia yang sangat rindu dengan Sang Kekasih yakni Allah Azza wa Jalla. Tetapi di dunia nyata, hati Ibrahim juga dipenuhi ruang rindu pada buah hatinya yang mana ia tak akan membiarkan Ismail bersedih, sakit, kehausan, kelaparan, dan apapun akan ia lakukan untuk menjaga Ismail dengan seluruh daya yang dimilikinya. Cinta seorang ayah kepada anaknya menjadi nadi yang sangat kuat, tak akan mampu runtuh oleh hantaman apapun di dunia ini. Cinta yang bersemayam dalam diri Ibrahim adalah manifestasi rasa sejati yang hidup dalam hati setiap manusia, yang mana cinta pertama yang paling agung yang tak mungkin tergantikan yakni Cinta Sejati pada Sang Khalik dan cinta kedua adalah cinta yang paling murni yakni cinta ayah kepada anaknya.

Lalu, bagaimana jika kedua cinta ini diuji untuk saling meniadakan? Bukan. Bukan seperti itu logika yang layak dilontarkan. Perumpamaan yang bisa diangkat adalah jika ada rembulan di atas langit, kemudian terbit matahari yang menerangi langit akankah rembulan itu tiada? Jika Cinta Sejati itu adalah langitnya, maka rembulan dan matahari adalah manifestasi percikan cahaya cinta sejati yang menjadikan pandangan mata kita menyaksikan keindahan-Nya. Cinta Sejati yang kepada Sang Khaliq adalah bentuk penyerahan diri total untuk terbakar dalam api kerinduan pada Sang Kekasih. Karena cinta adalah rahasia penciptaan yang paling misteri nan agung, dan hanya bisa tersingkap makna dan substansinya tatkala diri kita telah mampu berjumpa dan menyatu dengan Sang Pemilik Cinta. Sementara itu cinta Ibrahim kepada anaknya adalah bagian singkapan makna cinta yang pada akhirnya akan meluruh dan menyatu dalam samudera Cinta Sejati.

Pelajaran penting yang bisa kita tarik benang merahnya adalah, saat kita mencari dan berusaha menemukan cinta sejati, maka ujian akan terus menggedor nalar ego dan batas kesadaran yang puncaknya adalah kita harus merelakan dan mengikhlaskan cinta yang biasa-biasa saja. Kisah pengorbanan Ibrahim dan Ismail mengajarkan bahwa sejatinya kita tidak punya apa-apa, semuanya hanya sementara – baik yang menyangkut hal-hal yang bersifat materi maupun spiritual. Membangkitkan dan merengkuh cinta sejati tak mudah, memerlukan pengorbanan dan keikhlasan yang tanpa batas. Seperti merelakan perjumpaan dan kerinduan pada seseorang yang tak akan bisa kita miliki, kemudian kita harus mematikan semua indera agar seluruh ego menguap dan melampaui batas ketahanan kita, hingga kita harus mati. Dan terlahir kembali.

Dalam dinamika kehidupan yang terus berjalan tanpa tahu kapan sampai titik akhir, tak sedikit kita merasa seperti dalam labirin mimpi, lelah, terperangkap, takut di setiap belokan, dan ingin turun dari kereta kehidupan yang kita naiki..berharap terbangun. Tapi kalau kita meyakini dan percaya bahwa rute yang kita lewati itu adalah garis takdir yang Sang Kekasih Sejati bentangkan untuk kita, dan Dia sendiri yang menjaga mesinnya – maka mimpi itu akan berubah menjadi sesuatu yang sangat mendebarkan dan penuh antusias. Berani mengambil risiko, jatuh dan bangkit kembali. Begitulah siklus kehidupan akan mengalir dengan ritme yang Sang Kekasih Sejati telah atur sedemikian indah.

Saat kamu jatuh dalam titik terendah, maka percayalah Sang Kekasih Sejati telah menyiapkan langitnya untuk menangkap dan mendekap erat jiwamu. Jika ini adalah sisa waktu, kembalikan lagi senyummu yang manis seperti dulu.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman