Dr. Muslich Taman, Lc., M.Pd.I.
(Praktisi Pendidikan Karakter)
Meminta maaf dan memaafkan adalah di antara ciri akhlak orang-orang mulia. Akhlak orang-orang yang memiliki kelapangan dada dan kebesaran jiwa. Akhlak orang-orang yang menyadari akan eksistensi hakiki dirinya, bahwa ia manusia, yang pasti punya potensi salah. Bukan hanya salah dirinya kepada orang lain, tetapi juga salah orang lain kepada dirinya. Bukan hanya salah dirinya kepada sesama manusia, tetapi juga salah dirinya kepada Allah SWT. Hal yang absolut, bahwa tidak ada manusia sempurna, tanpa salah. Karena itu, sudah semestinya, setiap manusia menyadari takdir kesalahan itu, sehingga selain ia siap meminta maaf, ia juga siap memaafkan.
Allah berfirman, “Bersegeralah kalian kepada ampunan
dari Tuhanmu, dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS Ali Imran: 133).
Meminta maaf dan memaafkan, keduanya merupakan akhlak
terpuji yang diperintahkan oleh Allah. Keduanya sangat penting eksistensinya di
tengah-tengah kehidupan manusia. Dalam keluarga, masyarakat, tempat kerja,
bahkan dalam berbangsa dan bernegara. Keduanya merupakan akhlak yang senantiasa
diteladankan langsung oleh Nabi SAW. Baik di saat masih di Makkah, maupun
setelah di Madinah. Ketika umat Islam masih lemah, maupun ketika mereka berada
di puncak kekuatan dan kemenangan. Meminta maaf dan memaafkan merupakan
keutamaan di antara keutamaan dalam Islam. Bukan sekadar soal kebaikan sosial,
empati pada pihak lain, tetapi juga soal kesehatan. Meminta maaf dan memaafkan,
menyehatkan pelakunya, baik jiwa maupun raganya, dan menghindarkan dari
berbagai macam penyakit yang membahayakan. Sebagaimana penelitian yang pernah
dilansir oleh Psychology Today, menunjukkan bahwa meminta maaf dan memaafkan
memiliki efek fisik yang positif pada tubuh. Juga mengurangi tekanan darah,
memperlambat detak jantung, dan mengatur pernapasan.
Meminta maaf dan memaafkan, wujud keutamaan sifat,
kemuliaan akhlak, dan kebesaran jiwa. Karena, pada dasarnya, nafsu manusia
memiliki kecenderungan untuk melakukan hal yang sebaliknya, yaitu dendam,
membalas perlakuan negatif pada dirinya dengan sikap yang sama atau malah lebih
buruk lagi. Saat disakiti, ia ingin membalas menyakiti. Dihina, ingin membalas
menghina. Tidak dihormati, ingin membalas tidak menghormati. Dizhalimi, ingin
membalas menzhalimi, begitu seterusnya. Bahkan terkadang, ingin membalas dengan
berlipat dari apa yang dia alami. Begitulah kecenderungan pada umumnya nafsu
manusia.
Tetapi, justru agama mengajarkan sikap yang
sebaliknya. Manusia diperintahkan agar memaafkan jika ada orang lain berbuat
salah kepadanya, dan meminta maaf apabila dia berbuat salah kepada yang
lainnya. Meminta maaf adalah kewajiban bagi siapa saja yang melakukan kesalahan
kepada orang lain, disengaja maupun tidak disengaja, besar ataupun kecil.
Apakah berupa mengambil haknya, melukai fisiknya, menyakiti hatinya,
mengingkari janjinya, atau kesalahan-kesalahan lain yang diperbuatnya.
Terkait dengan perintah agar memaafkan, Allah SWT
berfirman, "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang baik
(ma'ruf), serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh" (QS Al-A`raf:
199).
Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menceritakan suatu
riwayat, bahwa, saat turun ayat tersebut, Rasulullah sempat bertanya kepada
Malaikat Jibril, "Wahai Jibril, bagaimana maksud dengan ayat ini?"
Maka, Jibril pun menjawab, "Allah memerintahkanmu agar engkau senantiasa
memaafkan orang-orang yang berbuat zhalim kepadamu. Agar engkau memberi kepada
orang-orang yang tidak pernah memberi kepadamu. Dan agar engkau menyambung tali
silaturahmi kepada orang-orang yang memutuskan tali silaturahmi denganmu”.
Subhanallah. Begitulah mulia ajaran yang diturunkan
Allah untuk menjadi petunjuk dalam mewujudkan keharmonisan dan kebahagiaan
hidup manusia di muka bumi ini. Mengajarkan sikap aktif dan produktif serta
senantiasa menjadi motor penggerak kebajikan di tengah dinamika pergaulan,
bukan sikap pasif, stagnan dan transaksional. Begitulah akhlak agung yang
diteladankan oleh Rasulullah SAW kepada segenap umatnya. Saat beliau SAW
mendapatkan perlakukan buruk dari orang-orang kafir, padahal beliau mampu
membalas perlakuan buruk tersebut, namun, justru beliau memberikan maaf,
menebarkan kasih sayang, dan mendoakan kebaikan kepada mereka.
Kisah dakwah Rasulullah saat di Thaif, menjadi salah
satu contoh sikap pemaaf beliau yang tidak ada tandingnya. Sepeninggal Abu Thalib
dan Sayidah Khadijah RA, gangguan kaum Quraisy Makkah terhadap Rasul dan dakwah
Islam semakin menjadi-jadi. Kaum Quraisy tak peduli dengan kesedihan dan duka
yang tengah menghinggapi diri beliau. Hingga akhirnya, beliau memutuskan keluar
dari Makkah untuk menuju Thaif. Beliau berharap penduduk Thaif mau menerima
dakwahnya. Namun ternyata, harapan beliau tinggal harapan. Penduduk Thaif
justru menolak kedatangan beliau, mencemooh beliau, bahkan mereka memperlakukan
beliau dengan sangat buruk. Beliau secara ramai-ramai dilempari kotoran dan
batu, hingga berdarahlah pelipis beliau, dan darah itu mengalir hingga tumit
beliau. Dan kenyataan ini sangat menggoreskan kesedihan dan duka mendalam dalam
hati beliau.
Namun apa yang terjadi? Saat Malaikat Jibril datang
menawarkan pertolongan kepada Rasulullah untuk menghancurkan sesiapa yang telah menyakiti beliau, dengan menimpakan dua
gunung kepada mereka, justru beliau menolak tawaran itu. Beliau memilih untuk
memaafkan mereka semua, dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Rasulullah
mengatakan kepada Jibril, “Jangan. Justru aku berharap kepada mereka, semoga
Allah SWT kelak melahirkan dari anak keturunan mereka orang-orang yang taat
beribadah kepada Allah semata, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun
juga.” (HR. Imam Al-Bukhâri dan Muslim) Demikianlah pentingnya memaafkan dan
meminta maaf dalam sepanjang kehidupan, bukan hanya di momen lebaran. Wallahu
a`lam bish shawab.
