KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 24 Mei 2021

Idul Fitri, Syawalan dan Tradisi Kupatan

 

Agus Suprianto, SHI., SH., MSI.

(Dosen Hukum Islam STAI Yogyakarta)


Pada saat saya kecil ada nasihat dari guru-guru di Madrasah Tarbiyatul Banin, simbah dan orang tua, yang intinya yaitu, “Yen poso seng tenanan, ora oleh mukak tengah dalan. Sesuk seng posone tetanan oleh melu bodho. Bodhone ping loro, sepisan bodho idul fitri, seng kepindho bodho kupat.” Maksudnya, apabila berpuasa, lakukan dengan sungguh-sungguh, tidak boleh batal makan atau minum di siang hari sebelum magrib. Jika puasanya genap sebulan, boleh ikut merayakan lebaran. Lebaran dua kali yaitu lebaran Idul Fitri dan lebaran kupat.

Kata-kata inilah yang menjadi inspirasi dan semangat anak-anak kecil di kampung saya Desa Pekalongan Winong Pati. Semangat menjalankan ibadah puasa, semangat malam hari sholat tarawih dan witir disertai jamenan (kue/jajan habis tarawih), semangat tadarusan, semangat tetek keliling (mukul kentongan dan alat tradisional) untuk membangunkan orang sahur, sambil mengharap setelah puasa ada baju baru, zakat bareng di sekolah, semangat takbiran/takbir keliling, sholat Id dan makan ambengan di masjid, badhan (silaturahim keliling), dan disusul lebaran kupat.

Suasana Idul Fitri memang momentum suci dan terkenang bagi umat Islam, khususnya Islam Pesisir di Jawa. Idul Fitri dilaksanakan setelah melaksanakan puasa selama sebulan Ramadhan. Sebagai tanda berakhirnya bulan Ramadhan dan memasuki 1 Syawal, umat Islam Indonesia menamainya dengan istilah Lebaran atau Hari Raya (Riyoyo). Di Pulau Jawa, lebaran dikenal ada dua macam yaitu bodho / lebaran Idul Fitri (1 Syawal) dan Bodho kecil / Lebaran Ketupat (8 Syawal) yakni seminggu setelah Idul Fitri.

Bodho kecil / Lebaran Ketupat kadang bisa lebih ramai daripada Idul Fitri. Hal ini tak lepas dari tuntunan agama Islam, di mana Nabi Muhammad SAW menganjurkan bagi umat Islam supaya menyempurnakan puasa Ramadhan dengan puasa sunah enam hari di bulan Syawal karena pahalanya bisa menghapus dosa seseorang untuk satu tahun kedepan. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر

Artinya: "Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka baginya (pahala) puasa selama setahun penuh." (HR Muslim).

Selain itu, keutamaan puasa enam hari syawal adalah dilipatgandakan kebaikannya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dalam Hadits Ibnu Majah dari Thawban:

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ، حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ الْحَارِثِ الذِّمَارِيُّ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا أَسْمَاءَ الرَّحَبِيَّ، عَنْ ثَوْبَانَ، مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ أَنَّهُ قَالَ ‏"‏ مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ

Artinya: “Seperti dinarasikan dari Thawban, seorang budak yang dibebaskan Rasulullah, Nabi SAW berkata, "Siapa saja yang puasa enam hari setelah Idul Fitri seperti berpuasa selama satu tahun tersebut, dengan satu kebaikan dihargai 20 kebaikan serupa.” (HR Ibnu Majah).

Secara detail keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal yaitu: pertama, menyempurnakan puasa ramadhan. Puasa sunah Syawal sebagai penyempurna puasa Ramadhan, sebagaimana sholat sunah rawatib sebagai penyempurna sholat fardhu lima waktu. Kedua, menyempurnakan menjadi pahala puasa satu tahun. Puasa sunnah Syawal untuk menyempurnakan pahala puasa menjadi pahala puasa setahun. Ketiga, menjadi tanda diterimanya puasa ramadhan. Puasa sunah Syawal membiasakan umat Islam untuk berpuasa setelah selesainya puasa Ramadhan.

Keempat, sebagai tanda bersyukur kepada Allah SWT. Keutamaan puasa sunah Syawal sebagai tanda syukur umat Islam kepada Allah SWT atas anugerah yang melimpah di bulan Ramadhan berupa puasa, qiyamul lail (shalat malam), zakat dan lain-lain. Dan kelima, mempertahankan ibadah yang dijalankan selama Ramadhan. Keutamaan puasa sunah Syawal menjadi wujud Ibadah yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan tidak terputus. Menjalankan ibadah puasa enam hari di bulan Syawal menunjukkan bahwa ibadah yang dijalankan selama bulan Ramadhan tidak berhenti meski bulan suci itu telah berlalu. Keistiqomahan ibadah selama ramadhan perlu dipertahankan, bahkan ditingkatkan sebagaimana bulan syawal bermakna bulan peningkatan.

Oleh karenanya pemeluk agama Islam di Jawa mentradisikan Lebaran Ketupat, setelah Idul Fitri menyambung dengan berpuasa sunat selama enam hari. Ada yang dimulai sejak tanggal 2 syawal dengan terus-menerus dan ada yang enam hari dilakukan tidak terus menerus tetapi masih di bulan Syawal.

Menurut sejarah cerita tutur (foklor) yang berkembang di masyarakat yang kemudian ditulis, Lebaran Ketupat di Jawa pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga Raden Said. Saat beliau memperkenalkan istilah ba’da (setelah) kepada masyarakat Jawa. Ba’da yang dimaksud Sunan Kalijaga adalah ba’da Lebaran dan ba’da Kupat. Ba’da Lebaran dipahami dengan prosesi Shalat Idul Fitri 1 Syawal, lalu dilanjutkan dengan tradisi silaturrahim saling berkunjung dan memaafkan kepada sesama muslim. Sedangkan ba’da Kupat dimulai setelah seminggu Lebaran Idul Fitri atau setelah selesai puasa sunat enam hari bagi yang langsung menjalankan puasa terus menerus semenjak tanggal 2 syawal.

Kemeriahan lebaran idul fitri dan lebaran kupat oleh masyarakat Islam Jawa ditandai dengan membuat ketupat yakni sejenis makanan yang dibuat dari beras dimasukkan dalam anyaman daun kelapa muda (Janur) berbentuk kantong persegi empat, kemudian dimasak dan dimakan dengan sayur santan. Setelah ketupat masak dan diberi lauk pauk ikan, telor dan daging serta diberi kuah bersantan, masyarakat kemudian membagi-bagikan kepada tetangga, kerabat keluarga terdekat serta orang yang lebih tua sebagai perlambang kasih sayang dan mempererat tali silaturrahim.

Kupat atau ketupat pada hari raya mengandung ajaran dan makna yang diberikan oleh Sunan Kalijaga yaitu ’Ngaku lepat’ artinya mengakui kesalahan dan ’laku papat’ artinya empat tindakan yakni lebaran, luberan, leburan dan laburan. Pertama, lebaran, mempunyai makna berarti akhir atau usai waktu bulan puasa ramadhan dan bersiap menyongsong hari kemenangan Idul Fitri (kembali suci). Kedua, luberan mempunyai makna melebur atau melimpah seperti air yang tumpah karena sudah terisi penuh. Pesan moral Luberan adalah membudayakan mau berbagi kepada orang yang tidak mampu serta membayar zakat karena itu hak orang miskin dan harus diberikan agar harta kita juga menjadi suci.

Ketiga, leburan mempunyai makna habis atau menyatu yaitu momen lebaran itu untuk melebur dosa terhadap satu dengan yang lain dengan cara meminta maaf dan memberi maaf, sehingga dosa kita dengan sesama bisa nol kembali. Dan keempat, laburan dari kata labur atau kapur, yang mempunyai makna kapur merupakan zat pewarna berwarna putih yang bisa digunakan untuk menjernihkan benda cair. Dari Laburan ini bisa dipahami bahwa hari seorang muslim harus bisa kembali jernih nan putih layaknya kapur yang menjadi simbol supaya manusia bisa menjaga kesucian lahir dan batinnya.

Bahan pembuatan ketupat dan lepet memiliki makna filosofi. Misalnya ketupat dan lepet dibungkus memakai janur. Janur diambil dari bahasa Arab “Ja’a Nur” artinya telah datang cahaya dan merupakan singkatan dari frasa "sejatine nur". Selain itu, menurut masyarakat Jawa, janur memiliki kekuatan magis sebagai suatu benda yang dapat menolak bala. Itulah yang menyebabkan beberapa orang menggantungkan ketupat di depan pintu rumah mereka, sebagai salah satu upaya permohonan kepada Allah SWT, agar dijauhkan dari malapetaka. Sehingga janur bermakna mengharapkan datang cahaya dari Allah SWT yang senantiasa membimbing pada jalan kebenaran yang diridhai-Nya.

Anyaman ketupat yang cukup rumit memiliki arti bahwa hidup manusia dipenuhi dengan rintangan dan lika-liku. Isi ketupat berasal dari beras terbaik yang dimasak sampai menggumpal "kempel", memiliki makna kebersamaan dan kemakmuran.

Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia dan menjadi simbol/perwujudan cara pandang "kiblat papat lima pancer" yang menegaskan adanya harmonisasi dan keseimbangan alam. Empat arah mata angin utama yaitu timur, selatan, barat dan utara yang bertumpu pada satu pusat. Maknanya adalah bahwa dalam kehidupan ini, ke arah manapun manusia melangkah hendaknya tidak pernah melupakan pancer yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Bentuk segi empat, juga menggambarkan empat jenis nafsu dunia yaitu nafsu emosi, nafsu rasa lapar, nafsu memiliki sesuatu yang indah dan nafsu untuk memaksa diri.

Selanjutnya ketupat biasanya dimakan dengan berbagai sayur yang memiliki bahan dasar santan. Santan atau santen memiliki arti pangapunten yang berarti memohon maaf atas berbagai kesalahan. Seperti ungkapan "mangan kupat nganggo santen, menawi lepat nyuwun pangapunten". Istilah tersebut memiliki arti, "memakan ketupat dengan santan, jika ada kesalahan mohon dimaafkan".

Jika disimpulkan, ketupat itu sendiri memiliki beberapa filosofi khusus. Apabia orang sudah mengakui kesalahan, maka hati seperti kupat yang dibelah, isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki karena hati sudah dibungkus cahaya (ja’a nur). Lepet dari kata silep kang rapet, monggo dipun silep ingkang rapet (mari kita kubur/tutup yang rapat). Jadi setelah mengakui kesalahan (lepat), kemudian meminta maaf, maka kesalahan yang sudah dimaafkan itu jangan pernah diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.

Secara rinci ketupat, mengandung makna yaitu: Pertama, mencerminkan beragam kesalahan manusia. Hal itu bisa terlihat dari rumitnya bungkusan atau anyaman ketupat. Kedua, kesucian hati. Setelah ketupat dibuka, akan terlihat nasi putih. Hal itu mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan dari segala kesalahan. Ketiga, mencerminkan kesempurnaan. Bentuk ketupat begitu sempurna dan hal itu dihubungkan dengan kemenangan umat Islam setelah sebulan berpuasa Ramadan dan akhirnya merayakan Idul fitri. Dan keempat, simbol permohonan maaf. Karena ketupat biasanya dihidangkan dengan lauk yang bersantan, dalam pantun Jawa kadang disebutkan “kupat santen“ yang artinya “Kulo lepat nyuwun ngapunten - Saya salah mohon maaf.”

Tradisi kupatan yang dibawa oleh Walisongo khususnya Sunan Kalijaga, dahulu sebagai upaya untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Hindu. Para wali memasukkan dan mengganti adat hindu dengan nilai-nilai Islam tanpa merubah budaya lokal yang telah mengakar kuat. Di sinilah terlihat betapa Islam masuk ke tanah Jawa dengan jalan perdamaian. Proses asimilasi yang berlangsung justru membuat masyarakat lebih mudah menerima Islam, dengan terbuka tanpa mengurangi kesakralan nilai-nilai Aqidah Islamiyah.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman