Agus
Suprianto, SHI., SH., MSI.
(Dosen Hukum Islam STAI Yogyakarta)
Pada saat saya kecil ada nasihat dari guru-guru di Madrasah
Tarbiyatul Banin, simbah dan orang tua, yang intinya yaitu, “Yen poso seng
tenanan, ora oleh mukak tengah dalan. Sesuk seng posone tetanan oleh melu
bodho. Bodhone ping loro, sepisan bodho idul fitri, seng kepindho bodho kupat.”
Maksudnya, apabila berpuasa, lakukan dengan sungguh-sungguh, tidak boleh batal
makan atau minum di siang hari sebelum magrib. Jika puasanya genap sebulan,
boleh ikut merayakan lebaran. Lebaran dua kali yaitu lebaran Idul Fitri dan
lebaran kupat.
Kata-kata inilah yang menjadi inspirasi dan semangat
anak-anak kecil di kampung saya Desa Pekalongan Winong Pati. Semangat
menjalankan ibadah puasa, semangat malam hari sholat tarawih dan witir disertai
jamenan (kue/jajan habis tarawih), semangat tadarusan, semangat tetek
keliling (mukul kentongan dan alat tradisional) untuk membangunkan orang sahur,
sambil mengharap setelah puasa ada baju baru, zakat bareng di sekolah, semangat
takbiran/takbir keliling, sholat Id dan makan ambengan di masjid, badhan
(silaturahim keliling), dan disusul lebaran kupat.
Suasana Idul Fitri memang momentum suci dan terkenang
bagi umat Islam, khususnya Islam Pesisir di Jawa. Idul Fitri dilaksanakan
setelah melaksanakan puasa selama sebulan Ramadhan. Sebagai tanda berakhirnya
bulan Ramadhan dan memasuki 1 Syawal, umat Islam Indonesia menamainya dengan
istilah Lebaran atau Hari Raya (Riyoyo). Di Pulau Jawa, lebaran dikenal ada dua
macam yaitu bodho / lebaran Idul Fitri (1 Syawal) dan Bodho kecil / Lebaran
Ketupat (8 Syawal) yakni seminggu setelah Idul Fitri.
Bodho kecil / Lebaran Ketupat kadang bisa lebih ramai
daripada Idul Fitri. Hal ini tak lepas dari tuntunan agama Islam, di mana Nabi
Muhammad SAW menganjurkan bagi umat Islam supaya menyempurnakan puasa Ramadhan
dengan puasa sunah enam hari di bulan Syawal karena pahalanya bisa menghapus
dosa seseorang untuk satu tahun kedepan. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ
كَصِيَامِ الدَّهْر
Artinya: "Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa
enam hari di bulan Syawal, maka baginya (pahala) puasa selama setahun
penuh." (HR Muslim).
Selain itu, keutamaan puasa enam hari syawal adalah
dilipatgandakan kebaikannya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dalam Hadits
Ibnu Majah dari Thawban:
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ، حَدَّثَنَا
صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ الْحَارِثِ الذِّمَارِيُّ، قَالَ
سَمِعْتُ أَبَا أَسْمَاءَ الرَّحَبِيَّ، عَنْ ثَوْبَانَ، مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ
ـ صلى الله عليه وسلم ـ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ أَنَّهُ
قَالَ " مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ
Artinya: “Seperti dinarasikan dari Thawban, seorang budak yang
dibebaskan Rasulullah, Nabi SAW berkata, "Siapa saja yang puasa enam hari
setelah Idul Fitri seperti berpuasa selama satu tahun tersebut, dengan satu
kebaikan dihargai 20 kebaikan serupa.” (HR Ibnu Majah).
Secara detail keutamaan puasa enam hari di bulan
Syawal yaitu: pertama, menyempurnakan puasa ramadhan. Puasa sunah Syawal
sebagai penyempurna puasa Ramadhan, sebagaimana sholat sunah rawatib sebagai
penyempurna sholat fardhu lima waktu. Kedua, menyempurnakan menjadi
pahala puasa satu tahun. Puasa sunnah Syawal untuk menyempurnakan pahala puasa
menjadi pahala puasa setahun. Ketiga, menjadi tanda diterimanya puasa
ramadhan. Puasa sunah Syawal membiasakan umat Islam untuk berpuasa setelah selesainya
puasa Ramadhan.
Keempat, sebagai tanda bersyukur kepada Allah SWT. Keutamaan puasa sunah Syawal
sebagai tanda syukur umat Islam kepada Allah SWT atas anugerah yang melimpah di
bulan Ramadhan berupa puasa, qiyamul lail (shalat malam), zakat dan lain-lain.
Dan kelima, mempertahankan ibadah yang dijalankan selama Ramadhan.
Keutamaan puasa sunah Syawal menjadi wujud Ibadah yang dilaksanakan pada bulan
Ramadhan tidak terputus. Menjalankan ibadah puasa enam hari di bulan Syawal
menunjukkan bahwa ibadah yang dijalankan selama bulan Ramadhan tidak berhenti
meski bulan suci itu telah berlalu. Keistiqomahan ibadah selama ramadhan perlu
dipertahankan, bahkan ditingkatkan sebagaimana bulan syawal bermakna bulan
peningkatan.
Oleh karenanya pemeluk agama Islam di Jawa
mentradisikan Lebaran Ketupat, setelah Idul Fitri menyambung dengan berpuasa
sunat selama enam hari. Ada yang dimulai sejak tanggal 2 syawal dengan
terus-menerus dan ada yang enam hari dilakukan tidak terus menerus tetapi masih
di bulan Syawal.
Menurut sejarah cerita tutur (foklor) yang berkembang
di masyarakat yang kemudian ditulis, Lebaran Ketupat di Jawa pertama kali
diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga Raden Said. Saat beliau memperkenalkan
istilah ba’da (setelah) kepada masyarakat Jawa. Ba’da yang dimaksud Sunan
Kalijaga adalah ba’da Lebaran dan ba’da Kupat. Ba’da Lebaran dipahami dengan
prosesi Shalat Idul Fitri 1 Syawal, lalu dilanjutkan dengan tradisi
silaturrahim saling berkunjung dan memaafkan kepada sesama muslim. Sedangkan
ba’da Kupat dimulai setelah seminggu Lebaran Idul Fitri atau setelah selesai
puasa sunat enam hari bagi yang langsung menjalankan puasa terus menerus
semenjak tanggal 2 syawal.
Kemeriahan lebaran idul fitri dan lebaran kupat oleh
masyarakat Islam Jawa ditandai dengan membuat ketupat yakni sejenis makanan
yang dibuat dari beras dimasukkan dalam anyaman daun kelapa muda (Janur)
berbentuk kantong persegi empat, kemudian dimasak dan dimakan dengan sayur
santan. Setelah ketupat masak dan diberi lauk pauk ikan, telor dan daging serta
diberi kuah bersantan, masyarakat kemudian membagi-bagikan kepada tetangga,
kerabat keluarga terdekat serta orang yang lebih tua sebagai perlambang kasih
sayang dan mempererat tali silaturrahim.
Kupat atau ketupat pada hari raya mengandung ajaran
dan makna yang diberikan oleh Sunan Kalijaga yaitu ’Ngaku lepat’ artinya
mengakui kesalahan dan ’laku papat’ artinya empat tindakan yakni lebaran,
luberan, leburan dan laburan. Pertama, lebaran, mempunyai makna berarti
akhir atau usai waktu bulan puasa ramadhan dan bersiap menyongsong hari
kemenangan Idul Fitri (kembali suci). Kedua, luberan mempunyai makna
melebur atau melimpah seperti air yang tumpah karena sudah terisi penuh. Pesan
moral Luberan adalah membudayakan mau berbagi kepada orang yang tidak mampu
serta membayar zakat karena itu hak orang miskin dan harus diberikan agar harta
kita juga menjadi suci.
Ketiga, leburan mempunyai makna habis atau menyatu yaitu momen lebaran itu
untuk melebur dosa terhadap satu dengan yang lain dengan cara meminta maaf dan
memberi maaf, sehingga dosa kita dengan sesama bisa nol kembali. Dan keempat,
laburan dari kata labur atau kapur, yang mempunyai makna kapur merupakan zat
pewarna berwarna putih yang bisa digunakan untuk menjernihkan benda cair. Dari
Laburan ini bisa dipahami bahwa hari seorang muslim harus bisa kembali jernih
nan putih layaknya kapur yang menjadi simbol supaya manusia bisa menjaga
kesucian lahir dan batinnya.
Bahan pembuatan ketupat dan lepet memiliki makna
filosofi. Misalnya ketupat dan lepet dibungkus memakai janur. Janur diambil
dari bahasa Arab “Ja’a Nur” artinya telah datang cahaya dan merupakan singkatan
dari frasa "sejatine nur". Selain itu, menurut masyarakat Jawa, janur
memiliki kekuatan magis sebagai suatu benda yang dapat menolak bala. Itulah yang
menyebabkan beberapa orang menggantungkan ketupat di depan pintu rumah mereka,
sebagai salah satu upaya permohonan kepada Allah SWT, agar dijauhkan dari
malapetaka. Sehingga janur bermakna mengharapkan datang cahaya dari Allah SWT
yang senantiasa membimbing pada jalan kebenaran yang diridhai-Nya.
Anyaman ketupat yang cukup rumit memiliki arti bahwa
hidup manusia dipenuhi dengan rintangan dan lika-liku. Isi ketupat berasal dari
beras terbaik yang dimasak sampai menggumpal "kempel", memiliki makna
kebersamaan dan kemakmuran.
Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia
dan menjadi simbol/perwujudan cara pandang "kiblat papat lima pancer"
yang menegaskan adanya harmonisasi dan keseimbangan alam. Empat arah mata angin
utama yaitu timur, selatan, barat dan utara yang bertumpu pada satu pusat.
Maknanya adalah bahwa dalam kehidupan ini, ke arah manapun manusia melangkah
hendaknya tidak pernah melupakan pancer yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Bentuk segi
empat, juga menggambarkan empat jenis nafsu dunia yaitu nafsu emosi, nafsu rasa
lapar, nafsu memiliki sesuatu yang indah dan nafsu untuk memaksa diri.
Selanjutnya ketupat biasanya dimakan dengan berbagai
sayur yang memiliki bahan dasar santan. Santan atau santen memiliki arti
pangapunten yang berarti memohon maaf atas berbagai kesalahan. Seperti ungkapan
"mangan kupat nganggo santen, menawi lepat nyuwun pangapunten".
Istilah tersebut memiliki arti, "memakan ketupat dengan santan, jika ada
kesalahan mohon dimaafkan".
Jika disimpulkan, ketupat itu sendiri memiliki
beberapa filosofi khusus. Apabia orang sudah mengakui kesalahan, maka hati
seperti kupat yang dibelah, isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki
karena hati sudah dibungkus cahaya (ja’a nur). Lepet dari kata silep kang
rapet, monggo dipun silep ingkang rapet (mari kita kubur/tutup yang rapat).
Jadi setelah mengakui kesalahan (lepat), kemudian meminta maaf, maka kesalahan
yang sudah dimaafkan itu jangan pernah diulang lagi, agar persaudaraan semakin
erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.
Secara rinci ketupat, mengandung makna yaitu: Pertama,
mencerminkan beragam kesalahan manusia. Hal itu bisa terlihat dari rumitnya
bungkusan atau anyaman ketupat. Kedua, kesucian hati. Setelah ketupat
dibuka, akan terlihat nasi putih. Hal itu mencerminkan kebersihan dan kesucian
hati setelah memohon ampunan dari segala kesalahan. Ketiga, mencerminkan
kesempurnaan. Bentuk ketupat begitu sempurna dan hal itu dihubungkan dengan
kemenangan umat Islam setelah sebulan berpuasa Ramadan dan akhirnya merayakan
Idul fitri. Dan keempat, simbol permohonan maaf. Karena ketupat biasanya
dihidangkan dengan lauk yang bersantan, dalam pantun Jawa kadang disebutkan
“kupat santen“ yang artinya “Kulo lepat nyuwun ngapunten - Saya salah mohon
maaf.”
Tradisi kupatan yang dibawa oleh Walisongo khususnya
Sunan Kalijaga, dahulu sebagai upaya untuk menyebarkan agama Islam kepada
masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Hindu. Para wali memasukkan dan
mengganti adat hindu dengan nilai-nilai Islam tanpa merubah budaya lokal yang
telah mengakar kuat. Di sinilah terlihat betapa Islam masuk ke tanah Jawa
dengan jalan perdamaian. Proses asimilasi yang berlangsung justru membuat
masyarakat lebih mudah menerima Islam, dengan terbuka tanpa mengurangi
kesakralan nilai-nilai Aqidah Islamiyah.
