KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 10 Mei 2021

Hari Raya dan Air Mata

 

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Ketimbang distigma klaster penularan virus, Idul Fitri lebih afdhal dikategorikan klaster penularan air mata. Istri bersimpuh di pangkuan suami, bercucuran air mata cinta. Suami berpostur tegap bermental tegar sekalipun, tumbang tertular. Anak-anak pun demikian. Linangan air mata tak terbendung menanda ‘pengakuan dosa’ di hadapan pengukir jiwa raga. Jadilah Idul Fitri klaster cucuran air mata, semacam ‘mata air’ tumpahnya air mata.

Mata air dengan air mata sama dalam suku kata dan pola. Beda arti, proses, jenis, dan fungsi, namun berkorelasi dalam makna. Keduanya tersusun dari suku kata mata dan air, keduanya berpola DM. Mata diterangkan oleh air. Mata apa? Mata air, bukan mata pisau, rantai, keranjang, uang, atau mata duitan. Air diterangkan oleh mata. Air apa? Air mata, bukan air mawar, tawar, atau air comberan.

Mata dalam frasa mata air berarti sesuatu yang menjadi pusat (KBBI), sumber dari mana air memancar. Proses terbentuknya berlangsung alami, berasal dari permukaan bumi air meresap dalam tanah, mengikuti hukum fisika tertentu kemudian memancar. Dalam kasus tekanan begitu kuat, muncratlah air ke luar permukaan bumi.

Air mata menunjuk pada air yang keluar dari mata biologis karena sebab fisiologis atau psikologis. Berasal dari cairan darah di kepala, air mata ‘mengalir’ melalui dan disaring oleh kelenjar lakrimal sehingga cairan darah berwarna merah berubah bening. https://www.brilio.net/.

Dalam disiplin ilmu hidrologi dikenal bermacam mata air: mata air vulkanik, celah, hangat, panas, depresi, kontak, artesis, dan mata air turbuler. https://foresteract.com/mata-air/. Dalam ilmu neuropsikobiologi, dikenal 3 jenis air mata:  air mata basal, refleks, dan air mata emosi.

Mata air berfungsi sebagai aset masyarakat untuk mensuplai berbagai kebutuhan hidup manusia, hewan dan tumbuhan. Fungsi air mata pun beragam, mulai dari menjaga kondisi bola mata tetap basah, menghilangkan noda semisal debu atau gas bawang merah yang nempel di kornea, mengendurkan saraf otak akibat beban psiologis, hingga melunakkan hati yang mengeras.

Sedemikian vital fungsi air, budaya Jawa menyebutnya “Banyu Panguripan”. Air diyakini jadi dasar dan sumber kehidupan, lahir maupun batin. Searah penjelasan Al-Qur’an tentang air sebagai asal muasal penciptaan semesta (Qs. Al-Anbiya, 21:30).

Pada konteks mata air berlaku diktum ‘mata air kehidupan’. Tak ada kehidupan biologis tanpa air. Karenanya, demi mempertahankan hidup perlu perjuangan ekstra untuk mendapatkan (sumber) air. Dalam kasus tertentu, ada petani terpaksa ‘berkelahi’ bertaruh nyawa berebut air demi kelangsungan hidup tanamannya. Atau patriot bangsa yang rela bertaruh nyawa dalam mempertahankan tanah airnya.

Dalam frasa air mata berlaku diktum ‘air mata kehidupan’. Air mata jadi salahsatu penanda kehidupan ruhani. Kesulitan mengurai masalah kecil, sempitnya pikiran menghadapi persoalan hidup, kegagalan menangkap hikmah sebuah kegagalan, berlinanglah air mata. Kalaupun orang yang mudah meneteskan air mata dibilang lemah, lebay, dan cengeng, justru itulah penanda jiwanya hidup.

Kalau dibilang orang tangguh ialah mereka yang pantang meneteskan air mata menghadapi besar dan beratnya problema kehidupan, bukan berarti air mata terlarang berlinang. Jika air mata tak pernah mengalir sekali pun, patut dipertanyakan hidup-matinya jiwa. Lha wong hati nurani yang jadi mata air-nya air mata dalam kondisi tertutup, mengeras, dan mati, mana mungkin mata kepala mencucurkan air.

Cucuran air mata tak selamanya mengindikasikan lemahnya jiwa. Dalam frekuensi dan porsi tertentu justru jadi salahsatu indikator sehatnya. Hati yang sehat ialah hati yang lembut, sensitif terhadap hal-hal positif, mudah tersentuh nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan hingga melinang air mata. Hati tak sehat ditandai lemahnya reciver kebaikan dan kebenaran, tumpulnya sensitivitas vertikal maupun horisontal, penyebab sulitnya air mata mencucur.

Idul Fitri jadi puncak dan buah ibadah sepanjang ramadlan sebagaimana doa yang dipanjat: Wahai Tuhan kami, terimalah puasa kami, salat kami, rukuk' kami, sujud kami dan tilawah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Selama bulan ramadlan terjadi detoksifikasi jiwa orang yang berpuasa. Hadits Rasulullah membagi proses detoksifikasi dalam tiga fase: 10 hari pertama Allah menurunkan rahmat, 10 hari kedua dibukanya pintu ampunan seluas-luasnya, dan 10 hari terakhir pembebasan dari neraka. Dalam konteks inilah muslim-muslimah yang menunaikan puasa dengan baik dan benar berbuah fitrah, suci dari dosa, dengan syarat dan ketentuan.

Untuk mencapai kesucian jiwa di momen Idul Fitri, puasa disyaratkan tak sekadar menahan haus dan lapar. Ampunan diberikan kepada mereka yang memohon dengan sungguh-sungguh lahir batin. Jika disadari pernah berdosa besar tetap disyaratkan tobat nasuha. Setelah dua syarat terpenuhi barulah fase ketiga berkah ramadlan dikaruniakan. Betapapun demikian, Allah tetap Maha Berkehendak. Maha Semau Gue, kama qala KH. Ahmad Musthofa Bisri.

Lebih dari detoksifikasi dosa vertikal, ibadah ramadlan juga membuahkan kelembutan hati yang mendetok dosa-dosa sosial. Rasanya sangat sulit dijumpai, maaf di hari raya menunggu diminta. Nyaris setiap orang bergegas meminta dan memberi maaf tanpa syarat. Kalaupun ada ”dosa besar” antar sesama, minimal half time atau time out.

Pada taraf tertentu kelembutan hati sebagai berkah ibadah ramadlan mampu melinangkan air mata. Penanda tumbuhnya penyesalan, sejenis resolusi pertaubatan, runtuhnya kesombongan, melunaknya kekakuan, lenyapnya keakuan dan keangkuhan. Vertikal maupun horisontal.

Linangan air mata bisa jadi penanda kemurnian cinta, kecuali cucuran Air Mata Darah, Air Mata Perkawinan dan Air Mata Buaya, yang masing-masing dinyanyikan Rhoma Irama, Mansyur Syah dan Rita Sugiharto. Itulah mengapa air mata menetes menjelang berakhirnya ramadlan, sementara belum tentu bisa berjumpa ramadlan berikutnya. Itu pula mengapa istri, suami, adik, kakak, berlinang air mata di hari raya. Wallahua’lam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman