Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Ketimbang distigma klaster penularan virus, Idul Fitri lebih afdhal dikategorikan klaster penularan air mata. Istri bersimpuh di pangkuan suami, bercucuran air mata cinta. Suami berpostur tegap bermental tegar sekalipun, tumbang tertular. Anak-anak pun demikian. Linangan air mata tak terbendung menanda ‘pengakuan dosa’ di hadapan pengukir jiwa raga. Jadilah Idul Fitri klaster cucuran air mata, semacam ‘mata air’ tumpahnya air mata.
Mata air dengan air mata sama dalam suku kata dan
pola. Beda arti, proses, jenis, dan fungsi, namun berkorelasi dalam makna.
Keduanya tersusun dari suku kata mata dan air, keduanya berpola DM. Mata
diterangkan oleh air. Mata apa? Mata air, bukan mata pisau, rantai, keranjang,
uang, atau mata duitan. Air diterangkan oleh mata. Air apa? Air mata, bukan air
mawar, tawar, atau air comberan.
Mata dalam frasa mata air berarti sesuatu yang menjadi
pusat (KBBI), sumber dari mana air memancar. Proses terbentuknya berlangsung
alami, berasal dari permukaan bumi air meresap dalam tanah, mengikuti hukum
fisika tertentu kemudian memancar. Dalam kasus tekanan begitu kuat, muncratlah
air ke luar permukaan bumi.
Air mata menunjuk pada air yang keluar dari mata
biologis karena sebab fisiologis atau psikologis. Berasal dari cairan darah di
kepala, air mata ‘mengalir’ melalui dan disaring oleh kelenjar lakrimal
sehingga cairan darah berwarna merah berubah bening. https://www.brilio.net/.
Dalam disiplin ilmu hidrologi dikenal bermacam mata
air: mata air vulkanik, celah, hangat, panas, depresi, kontak, artesis, dan
mata air turbuler. https://foresteract.com/mata-air/. Dalam ilmu
neuropsikobiologi, dikenal 3 jenis air mata:
air mata basal, refleks, dan air mata emosi.
Mata air berfungsi sebagai aset masyarakat untuk
mensuplai berbagai kebutuhan hidup manusia, hewan dan tumbuhan. Fungsi air mata
pun beragam, mulai dari menjaga kondisi bola mata tetap basah, menghilangkan
noda semisal debu atau gas bawang merah yang nempel di kornea, mengendurkan
saraf otak akibat beban psiologis, hingga melunakkan hati yang mengeras.
Sedemikian vital fungsi air, budaya Jawa menyebutnya
“Banyu Panguripan”. Air diyakini jadi dasar dan sumber kehidupan, lahir maupun
batin. Searah penjelasan Al-Qur’an tentang air sebagai asal muasal penciptaan
semesta (Qs. Al-Anbiya, 21:30).
Pada konteks mata air berlaku diktum ‘mata air
kehidupan’. Tak ada kehidupan biologis tanpa air. Karenanya, demi
mempertahankan hidup perlu perjuangan ekstra untuk mendapatkan (sumber) air.
Dalam kasus tertentu, ada petani terpaksa ‘berkelahi’ bertaruh nyawa berebut
air demi kelangsungan hidup tanamannya. Atau patriot bangsa yang rela bertaruh
nyawa dalam mempertahankan tanah airnya.
Dalam frasa air mata berlaku diktum ‘air mata
kehidupan’. Air mata jadi salahsatu penanda kehidupan ruhani. Kesulitan mengurai
masalah kecil, sempitnya pikiran menghadapi persoalan hidup, kegagalan
menangkap hikmah sebuah kegagalan, berlinanglah air mata. Kalaupun orang yang
mudah meneteskan air mata dibilang lemah, lebay, dan cengeng, justru itulah
penanda jiwanya hidup.
Kalau dibilang orang tangguh ialah mereka yang pantang
meneteskan air mata menghadapi besar dan beratnya problema kehidupan, bukan
berarti air mata terlarang berlinang. Jika air mata tak pernah mengalir sekali
pun, patut dipertanyakan hidup-matinya jiwa. Lha wong hati nurani yang jadi
mata air-nya air mata dalam kondisi tertutup, mengeras, dan mati, mana mungkin
mata kepala mencucurkan air.
Cucuran air mata tak selamanya mengindikasikan
lemahnya jiwa. Dalam frekuensi dan porsi tertentu justru jadi salahsatu indikator
sehatnya. Hati yang sehat ialah hati yang lembut, sensitif terhadap hal-hal
positif, mudah tersentuh nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan hingga melinang
air mata. Hati tak sehat ditandai lemahnya reciver kebaikan dan kebenaran,
tumpulnya sensitivitas vertikal maupun horisontal, penyebab sulitnya air mata
mencucur.
Idul Fitri jadi puncak dan buah ibadah sepanjang
ramadlan sebagaimana doa yang dipanjat: Wahai Tuhan kami, terimalah puasa kami,
salat kami, rukuk' kami, sujud kami dan tilawah kami. Sesungguhnya Engkau Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Selama bulan ramadlan terjadi detoksifikasi jiwa orang
yang berpuasa. Hadits Rasulullah membagi proses detoksifikasi dalam tiga fase:
10 hari pertama Allah menurunkan rahmat, 10 hari kedua dibukanya pintu ampunan
seluas-luasnya, dan 10 hari terakhir pembebasan dari neraka. Dalam konteks
inilah muslim-muslimah yang menunaikan puasa dengan baik dan benar berbuah
fitrah, suci dari dosa, dengan syarat dan ketentuan.
Untuk mencapai kesucian jiwa di momen Idul Fitri,
puasa disyaratkan tak sekadar menahan haus dan lapar. Ampunan diberikan kepada
mereka yang memohon dengan sungguh-sungguh lahir batin. Jika disadari pernah
berdosa besar tetap disyaratkan tobat nasuha. Setelah dua syarat terpenuhi
barulah fase ketiga berkah ramadlan dikaruniakan. Betapapun demikian, Allah
tetap Maha Berkehendak. Maha Semau Gue, kama qala KH. Ahmad Musthofa
Bisri.
Lebih dari detoksifikasi dosa vertikal, ibadah
ramadlan juga membuahkan kelembutan hati yang mendetok dosa-dosa sosial. Rasanya
sangat sulit dijumpai, maaf di hari raya menunggu diminta. Nyaris setiap orang
bergegas meminta dan memberi maaf tanpa syarat. Kalaupun ada ”dosa besar” antar
sesama, minimal half time atau time out.
Pada taraf tertentu kelembutan hati sebagai berkah
ibadah ramadlan mampu melinangkan air mata. Penanda tumbuhnya penyesalan,
sejenis resolusi pertaubatan, runtuhnya kesombongan, melunaknya kekakuan,
lenyapnya keakuan dan keangkuhan. Vertikal maupun horisontal.
Linangan air mata bisa jadi penanda kemurnian cinta,
kecuali cucuran Air Mata Darah, Air Mata Perkawinan dan Air Mata Buaya, yang
masing-masing dinyanyikan Rhoma Irama, Mansyur Syah dan Rita Sugiharto. Itulah
mengapa air mata menetes menjelang berakhirnya ramadlan, sementara belum tentu
bisa berjumpa ramadlan berikutnya. Itu pula mengapa istri, suami, adik, kakak,
berlinang air mata di hari raya. Wallahua’lam.
