KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Minggu, 28 Maret 2021

Gus Arif, Pandemi dan Mas Menteri (Tulisan 2 dari 2 Tulisan)

 

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Kebetulan, 3 bulan setelah Menteri Pendidikan Nadiem Makarim mengatakan “kita masuk era di mana masuk kelas tidak menjamin belajar”, pembelajaran kemudian berlangsung di luar kelas, di rumah guru dan siswa. Kian merebaknya pandemi Covid-19 Maret 2020 ‘memaksa’ proses pembelajaran secara daring, seakan membenarkan sinyalemen Mas Menteri pada pelantikan rektor UI, 4 Desember 2019.

Dalam kesempatan itu Nadim Makarim juga mengatakan, “Kita memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi, kita memasuki era di mana kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya. Kita memasuki era di mana akreditasi tidak menjamin mutu”.

Rendahnya mutu pendidikan nasional sebenarnya sudah lama terjadi. Kerja keras para pihak sampai saat ini belum mampu menganjak mutu pendidikan dari peringkat menengah lingkup ASEAN, peringkat bawah skala global. Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Agus Sartono mencatat, per 2019 angkatan kerja 65 persen dari lulusan SD/SMP, 25 persen lulusan SMA/SMK, dan 10 persen lulusan perguruan tinggi. Dus cerita Iwan Fals dalam lagu ‘Sarjana Muda’ rilis tahun 1981 masih terjadi sampai saat ini.

Menanggapi pernyataan Menteri Pendidikan, Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation mempertanyakan “Kalau gelar bukan jaminan kompetensi, kelulusan bukan jaminan siap kerja, akreditasi bukan jaminan mutu, dan masuk kelas bukan jaminan belajar, ngapain perlu kementerian pendidikan? Biarlah masing-masing belajar sendiri-sendiri”.

Jika kalimat terakhir -biarlah masing-masing belajar sendiri-sendiri menunjukkan keputusasaan ataupun cibiran, sungguh sangat tidak diperlukan. Jika dimaksudkan sebagai solusi alternatif cuitan itu pun bisa disoal, apakah dengan membiarkan masing-masing belajar sendiri-sendiri jadi jaminan prestasi belajar menjulang? Sebentuk debat kusir yang digulir, bernuansa cibir, ada maksud menganulir, tapi tak menjamin persoalan jadi klir.

Setahun lebih pandemi melanda, menyandra kehidupan masyarakat berlingkup nasional maupun global. Berbagai strategi digunakan untuk menghentikan serangan virus mematikan. Tak cukup efektif dengan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat berskala Mikro) pun diterapkan berpanjang-panjang. Kurang digdayanya negara seperkasa AS, Rusia, Cina, Uni Eropa, dipaksa bertekuk lutut di hadapan Covid-19. Tak dipehitungkan lagi besaran anggaran untuk melawan dan melumpuhkan Corona.

Dalam ketidakmenentuan dampak pandemi masih dijumpai oknum pejabat berbuat lacur, mengorupsi dana subsidi. Keteladanan publik figur dirasa kian lipur. Panggung politik tak hentinya mempertontonkan tawur. Media sosial tak jarang bertutur ngawur. Kejernihan nurani terancam kabur. Keramahan dan kesantunan bertatakrama kian tersingkur. Nyaris tersungkur, terkubur.

Keresahan, kesedihan, kebingungan nyaris merata. Ada yang keteror akal sehatnya, bunuh diri dipikir jadi solusi. Karyawan kena PHK, UKM mati suri, banyak artis dan seniman tak bisa menghibur. Rakyat kecil tak mampu menempur. Sekolah, madrasah, majelis taklim, pesantren pada libur, dai dan kiai banyak nganggur, tak lagi leluasa bertutur dalam majelis yang Insyaallah mabrur.

Situsi kondisi demikiankah yang melatari bagian pertama puisi Gus Arif?

Sekarang jaman apa?!

banyak sekolah tanpa guru

banyak lembaga pendidikan tanpa pendidik

banyak pesantren jarang kiai

banyak partai politik jarang politisi

sekarang ini jaman apa?!

Sebentuk ekspresi kemarahan, visual kegusaran, atau sebatas pertanyaan? Di situlah asyiknya. Warna-warni bunga mengindahkan taman kehidupan. Masyuknya di sana, dalam indahnya transendensi warna warni kehidupan.

Artian denotatif “banyak sekolah tanpa guru, banyak lembaga pendidikan tanpa pendidik, banyak pesantren jarang kiai, banyak partai politik jarang politisi” dalam kodisi obyektif sekarang ini, ya. Tapi tidak hanya sekarang. Kemarin, mendatang juga (akan) terjadi. Analog ketika orang tua bilang pada anak muda, sak iki jamane wes tuwa, sekarang sudah jaman akhir. Peristiwa yang ditutur berbungkus waktu ‘sak iki, sekarang’ juga terjadi pada jaman dulu, sekarang, dan yang akan datang. Tak kurang 1.400 tahun berlalu Nabi Muhammad telah meharamkan korupsi, sekarang pun masih terjadi, misalnya. Mendatang?

Sekolah, lembaga, pesantren, dan partai adalah cesingnya aplikasi, wadaknya ruh keguruan, kependidikan, kekiaian dan kepolitisian. Banyak sekolah tanpa guru adalah sekolah, guru. Banyak lembaga pendidikan tanpa pendidik adalah media dan materi pendidikan. Demikian halnya pesantren dan kiai, partai politik dan politisi.

Bahwa tersaksikan, minimal terlihat banyak wadak tanpa ruh, lebih tepatnya ruh yang mengeruh bersemayam di wadak itu ada banyak, tentu ada sedikit yang sebaliknya. Sekeping matauangnya banyak-sedikit. Sunnatullah yang diframing Peter Berger dalam konstruksi piramida sosial berlaku di berbagai segi kehidupan. Kemarin, sekarang, mendatang.

Setingkat lebih, kemarahan, kegusaran, pertanyaan, adalah sebentuk tangga menjulang. Anak tangga proses pencapaian. Ceruk berkedalaman. Tersingkapnya leyer-leyer hijab. Di atas, di kedalaman, tak ada kemarahan, atau kegusaran, maupun pertanyaan. Yang ada gelaran kepahaman terbatas atau hamparan ketidakpahaman terbatas, mewadahi kesadaran, penerimaan penuh kemesraan. Jumbuhnya keterbatasan ke dalam ketidakterbatasan. Tenggelamnya kemungkinan dalam kepastian-Nya.

Diksi ‘atau’ yang mengawali bagian kedua puisi Gus Arif dimungkinkan sebentuk keragauan atau pertanyaan afirmatif.

Atau sekarang sudah jamannya banyak guru tidak di sekolah

banyak pendidik tidak di lembaga pendidikan

banyak kiai tidak di pesantren, dan

banyak politisi tidak di partai politik

Tidakkah frasa ‘banyak guru tidak di sekolah’ ila akhirihi secara konotatif telah ada sejak dulu, berlanjut hingga sekarang, dan akan tetap terjadi di masa mendatang? Bukankah apa pun yang di atas, di bawah, kiri-kanan, depan-belakang, di luar, di dalam, adalah guru, pendidik, kiai, bahkan ‘politik’ kehidupan dan kematian? Itukah sosok ‘guru sejati’ yang ingin ditemukan para Pencari? Wallahu a’lam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman