Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Kebetulan, 3 bulan setelah Menteri Pendidikan Nadiem Makarim mengatakan “kita masuk era di mana masuk kelas tidak menjamin belajar”, pembelajaran kemudian berlangsung di luar kelas, di rumah guru dan siswa. Kian merebaknya pandemi Covid-19 Maret 2020 ‘memaksa’ proses pembelajaran secara daring, seakan membenarkan sinyalemen Mas Menteri pada pelantikan rektor UI, 4 Desember 2019.
Dalam kesempatan itu Nadim Makarim juga mengatakan,
“Kita memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi, kita memasuki era
di mana kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya. Kita memasuki era di mana
akreditasi tidak menjamin mutu”.
Rendahnya mutu pendidikan nasional sebenarnya sudah
lama terjadi. Kerja keras para pihak sampai saat ini belum mampu menganjak mutu
pendidikan dari peringkat menengah lingkup ASEAN, peringkat bawah skala global.
Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator
Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Agus Sartono mencatat, per 2019 angkatan
kerja 65 persen dari lulusan SD/SMP, 25 persen lulusan SMA/SMK, dan 10 persen
lulusan perguruan tinggi. Dus cerita Iwan Fals dalam lagu ‘Sarjana Muda’ rilis
tahun 1981 masih terjadi sampai saat ini.
Menanggapi pernyataan Menteri Pendidikan, Shamsi Ali,
Presiden Nusantara Foundation mempertanyakan “Kalau gelar bukan jaminan
kompetensi, kelulusan bukan jaminan siap kerja, akreditasi bukan jaminan mutu,
dan masuk kelas bukan jaminan belajar, ngapain perlu kementerian pendidikan?
Biarlah masing-masing belajar sendiri-sendiri”.
Jika kalimat terakhir -biarlah masing-masing belajar
sendiri-sendiri menunjukkan keputusasaan ataupun cibiran, sungguh sangat tidak
diperlukan. Jika dimaksudkan sebagai solusi alternatif cuitan itu pun bisa
disoal, apakah dengan membiarkan masing-masing belajar sendiri-sendiri jadi
jaminan prestasi belajar menjulang? Sebentuk debat kusir yang digulir,
bernuansa cibir, ada maksud menganulir, tapi tak menjamin persoalan jadi klir.
Setahun lebih pandemi melanda, menyandra kehidupan
masyarakat berlingkup nasional maupun global. Berbagai strategi digunakan untuk
menghentikan serangan virus mematikan. Tak cukup efektif dengan PSBB
(Pembatasan Sosial Berskala Besar), PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan
Masyarakat berskala Mikro) pun diterapkan berpanjang-panjang. Kurang digdayanya
negara seperkasa AS, Rusia, Cina, Uni Eropa, dipaksa bertekuk lutut di hadapan
Covid-19. Tak dipehitungkan lagi besaran anggaran untuk melawan dan melumpuhkan
Corona.
Dalam ketidakmenentuan dampak pandemi masih dijumpai
oknum pejabat berbuat lacur, mengorupsi dana subsidi. Keteladanan publik figur
dirasa kian lipur. Panggung politik tak hentinya mempertontonkan tawur. Media
sosial tak jarang bertutur ngawur. Kejernihan nurani terancam kabur. Keramahan
dan kesantunan bertatakrama kian tersingkur. Nyaris tersungkur, terkubur.
Keresahan, kesedihan, kebingungan nyaris merata. Ada
yang keteror akal sehatnya, bunuh diri dipikir jadi solusi. Karyawan kena PHK,
UKM mati suri, banyak artis dan seniman tak bisa menghibur. Rakyat kecil tak
mampu menempur. Sekolah, madrasah, majelis taklim, pesantren pada libur, dai
dan kiai banyak nganggur, tak lagi leluasa bertutur dalam majelis yang
Insyaallah mabrur.
Situsi kondisi demikiankah yang melatari bagian
pertama puisi Gus Arif?
Sekarang jaman apa?!
banyak sekolah tanpa guru
banyak lembaga pendidikan tanpa pendidik
banyak pesantren jarang kiai
banyak partai politik jarang politisi
sekarang ini jaman apa?!
Sebentuk ekspresi kemarahan, visual kegusaran, atau
sebatas pertanyaan? Di situlah asyiknya. Warna-warni bunga mengindahkan taman
kehidupan. Masyuknya di sana, dalam indahnya transendensi warna warni
kehidupan.
Artian denotatif “banyak sekolah tanpa guru, banyak
lembaga pendidikan tanpa pendidik, banyak pesantren jarang kiai, banyak partai
politik jarang politisi” dalam kodisi obyektif sekarang ini, ya. Tapi tidak
hanya sekarang. Kemarin, mendatang juga (akan) terjadi. Analog ketika orang tua
bilang pada anak muda, sak iki jamane wes tuwa, sekarang sudah jaman akhir.
Peristiwa yang ditutur berbungkus waktu ‘sak iki, sekarang’ juga terjadi pada
jaman dulu, sekarang, dan yang akan datang. Tak kurang 1.400 tahun berlalu Nabi
Muhammad telah meharamkan korupsi, sekarang pun masih terjadi, misalnya.
Mendatang?
Sekolah, lembaga, pesantren, dan partai adalah
cesingnya aplikasi, wadaknya ruh keguruan, kependidikan, kekiaian dan
kepolitisian. Banyak sekolah tanpa guru adalah sekolah, guru. Banyak lembaga
pendidikan tanpa pendidik adalah media dan materi pendidikan. Demikian halnya
pesantren dan kiai, partai politik dan politisi.
Bahwa tersaksikan, minimal terlihat banyak wadak tanpa
ruh, lebih tepatnya ruh yang mengeruh bersemayam di wadak itu ada banyak, tentu
ada sedikit yang sebaliknya. Sekeping matauangnya banyak-sedikit. Sunnatullah
yang diframing Peter Berger dalam konstruksi piramida sosial berlaku di
berbagai segi kehidupan. Kemarin, sekarang, mendatang.
Setingkat lebih, kemarahan, kegusaran, pertanyaan,
adalah sebentuk tangga menjulang. Anak tangga proses pencapaian. Ceruk
berkedalaman. Tersingkapnya leyer-leyer hijab. Di atas, di kedalaman, tak ada
kemarahan, atau kegusaran, maupun pertanyaan. Yang ada gelaran kepahaman
terbatas atau hamparan ketidakpahaman terbatas, mewadahi kesadaran, penerimaan
penuh kemesraan. Jumbuhnya keterbatasan ke dalam ketidakterbatasan.
Tenggelamnya kemungkinan dalam kepastian-Nya.
Diksi ‘atau’ yang mengawali bagian kedua puisi Gus
Arif dimungkinkan sebentuk keragauan atau pertanyaan afirmatif.
Atau sekarang sudah jamannya banyak guru tidak di
sekolah
banyak pendidik tidak di lembaga pendidikan
banyak kiai tidak di pesantren, dan
banyak politisi tidak di partai politik
Tidakkah frasa ‘banyak guru tidak di sekolah’ ila
akhirihi secara konotatif telah ada sejak dulu, berlanjut hingga sekarang, dan
akan tetap terjadi di masa mendatang? Bukankah apa pun yang di atas, di bawah,
kiri-kanan, depan-belakang, di luar, di dalam, adalah guru, pendidik, kiai,
bahkan ‘politik’ kehidupan dan kematian? Itukah sosok ‘guru sejati’ yang ingin
ditemukan para Pencari? Wallahu a’lam.
