KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Rabu, 24 Maret 2021

Gus Arif, Pandemi dan Mas Menteri (Tulisan 1 dari 2 Tulisan)

 

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Kebetulan hanya ada dalam kamus manusia. Ketika sesuatu terjadi tak terduga, tak direncana, di luar prediksi ataupun antisipasi. Betapapun rencana telah ditata demikian rapi, prediksi dan antisipasi sudah disusun sangat rinci, kehendak-Nya yang pasti terjadi.

Sekira demikian ketika melakukan ‘ritual’ jalan-jalan dari Pati ke Malang lintas Jatirogo, Bojonegoro, Nganjuk, Kediri. Rencana pulang lintas Blitar, Trenggalek, Ponorogo, Ngawi, tiba-tiba kehendak-Nya melalui pesan WhatsApp membelokkan perjalanan Penulis dari Blitar ke Jombang. Mertua Putri Kang Amirul Arifin pulang ke Rahmatullah.

Tiba di rumah duka kawasan Tunggorono Jombang pukul 16.00-an, selepas 3 jam jenazah dimakamkan. Kerabat dekat, tetangga dan kolega yang tidak sempat hadir saat pemberangkatan jenazah masih banyak berdatangan. Di antara muazziyin, Kiai dan Gus menyapa Kang Arifin Pawang, Kang Naryo, Rip, Pin, atau Naryo saja – sapaan familiar kolega di kampung halaman Pekalongan, Winong, Pati – dengan sapaan Gus. “O, keponakanku, temannya temanku telah disemati panggilan Gus oleh para Kiai dan Gus. Alhamdulillah”, simpulan dalam pikiran.

Di tengah berbagi cerita dengan para tamu sekait fenomena kekinian, Gus Arif sempat mengquote sebentuk puisi (?):

Sekarang jaman apa?!

banyak sekolah tanpa guru

banyak lembaga pendidikan tanpa pendidik

banyak pesantren jarang kiai

banyak partai politik jarang politisi

sekarang ini jaman apa?!

Atau sekarang sudah jamannya banyak guru tidak di sekolah

banyak pendidik tidak di lembaga pendidikan

banyak kiai tidak di pesantren, dan

banyak politisi tidak di partai politik

Quotan Gus Arif disebutnya ‘matan’, mengadaptasi Ilmu Hadits menunjuk redaksi terakhir dari mata rantai periwayatan, Penulis didaulat mensyarahi, mengelaborasi. Di benak kepikiran “Diminta mengarang nih”. Tak menolak dan tak mengiyakan kebayang, ngarang yang ngarang begitu saja, sejadi-jadinya. Wong tak diberi syarat dan ketentuan.

Sepintas perlu diulas fenomena sebutan Gus yang kian meluas. Merujuk beberapa sumber sebutan Gus berasal dari kata Bagus, Den Bagus, Raden Bagus, berarti laki-laki, tampan, pandai. Gelar ini disematkan pada anak laki-laki keluarga keraton, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Melebar ke keluarga priyayi, melebar lagi di keluarga kiai, khususnya pesantren NU. Awalnya sebutan Gus hanya untuk putra laki-laki kiai, keterusan untuk Gus yang sudah jadi kiai, melebar kepada santri yang mendapat berkahnya kiai. Update merambah dunia lain.

Gelar Gus kian moncer ketika Gus Dur jadi presiden, seiring karibnya, Gus Mus yang gencar menghadirkan wajah Islam moderat di tengah maraknya paham Islam garis keras di pentas politik nasional. Imajinasi yang terbangun gelar Gus identik dengan kiai dan pesantren NU. Terjadi semacam pembakuan kultural yang mendemarkasi penyematan Gus.

Dinamika kultural beriring melebarnya ring area sebutan Gus. Terbentuknya komunitas lintas sara Gusdurian sangat mungkin berkontribusi. Fenomena yang sempat menimbulkan kegelisahan sementara pihak. Mengutip Mohammad Nuruzzaman - Ketua Bidang Kajian Strategis Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor sekaligus Komandan Densus 99 Banser, sekarang ada Gus politik, Gus keilmuan, selain Gus keturunan kiai.

Disadari, ulasan kritis sembul kegelisahan memang tak memiliki legal standing penolakan, mengingat penyematan gelar Gus diberikan oleh masyarakat. Serupa penyematan predikat kiai, masyarakat lah yang memberinya. Dalam konteks demikian barangkali, gelar Gus disematkan kepada Setia Novanto, Hotman Paris Hutapea, Tomy Suharto, Yusril Ihza Mahendra.

Gelar Gus memang memberikan privilege ikutan. Disebut nama berawalan Gus berasa lebih akrab, terhormat. Ada rasa setingkat lebih. Mobilisasi kekuatan politik dirasa berenergi lebih ketika dilakukan tokoh bergelar Gus. Artis atau pendakwah bergelar Gus dirasa lebih mampu mendongkrat rating, yang secara tidak langsung bersinggungan dengan popularitas.

Varian Gus beragam, Mojok.id mengulas 5 type Gus. Menilik latar belakangnya gelar Gus dapat diklasifikasikan ke dalam 5 jenis. Pertama, Gus karena keturunan. Setiap putra laki-laki kiai disebut Gus, sebentuk ketakdiman, keakraban. Merekalah calon penyandang predikat kiai. Seiring kompetensi ilmu keagamaan dan peran mengelola pesantren, Gus muda naik strata jadi kiai. Meski sudah jadi kiai, gelar Gus tetap tersemat, semisal Gus Dur, Gus Mus, Gus Baha.

Kedua, Gus karena keberkahan. Gus jenis ini disematkan ke menantu kiai yang nota bene berasal dari keluarga nonkiai. Santri atau bukan, setelah jadi keluarga kiai dipanggil Gus.

Ketiga, Gus karena keilmuan. Santri dari luar keluarga kiai yang memiliki kedalaman ilmu keagamaan, terlibat intensif mengelola pesantren, serta kedekatan dengan para kiai mendapat berkah dipanggil Gus. Selangkah lagi Gus jenis ini naik peringkat menyandang gelar kiai seiring keberkahan ilmunya, terlebih ketika telah memiliki santri dan pesantren.

Keempat, gelar Gus karena pemberian. Kepada siapa pun, apa pun latar belakangnya, masyarakat berhak memberi gelar Gus. Soal kredibilitas lebih tergantung pada masyarakat ‘mana’ yang memberi, masalah kesintasan sangat ditentukan ‘bagaimana’ rekam jejak setelah menyemat gelar Gus.

Kelima, Gus karena keinginan. Gus jenis ini tak punya hubungan darah keluarga kiai, tak memiliki ilmu keagamaan memadai, juga tak terlibat pengelolaan pesantren, tapi ingin menyandang gelar Gus. Kembali merujuk Nuruzzaman, mungkin inilah yang dimaksud Gus imitasi.

Sejak awal kemunculannya sebutan Gus tidak rigit merepresentasikan kualifikasi keagamaan maupun keilmuan. Dalam perspektif kultural siapa saja tak dilarang mencantumkan Gus di depan namanya sepanjang memenuhi satu persyaratan: laki-laki. Wallahua’lam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman