Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Kebetulan hanya ada dalam kamus manusia. Ketika sesuatu terjadi tak terduga, tak direncana, di luar prediksi ataupun antisipasi. Betapapun rencana telah ditata demikian rapi, prediksi dan antisipasi sudah disusun sangat rinci, kehendak-Nya yang pasti terjadi.
Sekira demikian ketika melakukan ‘ritual’ jalan-jalan
dari Pati ke Malang lintas Jatirogo, Bojonegoro, Nganjuk, Kediri. Rencana
pulang lintas Blitar, Trenggalek, Ponorogo, Ngawi, tiba-tiba kehendak-Nya
melalui pesan WhatsApp membelokkan perjalanan Penulis dari Blitar ke Jombang.
Mertua Putri Kang Amirul Arifin pulang ke Rahmatullah.
Tiba di rumah duka kawasan Tunggorono Jombang pukul
16.00-an, selepas 3 jam jenazah dimakamkan. Kerabat dekat, tetangga dan kolega
yang tidak sempat hadir saat pemberangkatan jenazah masih banyak berdatangan.
Di antara muazziyin, Kiai dan Gus menyapa Kang Arifin Pawang, Kang Naryo, Rip,
Pin, atau Naryo saja – sapaan familiar kolega di kampung halaman Pekalongan,
Winong, Pati – dengan sapaan Gus. “O, keponakanku, temannya temanku telah
disemati panggilan Gus oleh para Kiai dan Gus. Alhamdulillah”, simpulan dalam
pikiran.
Di tengah berbagi cerita dengan para tamu sekait
fenomena kekinian, Gus Arif sempat mengquote sebentuk puisi (?):
Sekarang jaman apa?!
banyak sekolah tanpa guru
banyak lembaga pendidikan tanpa pendidik
banyak pesantren jarang kiai
banyak partai politik jarang politisi
sekarang ini jaman apa?!
Atau sekarang sudah jamannya banyak guru tidak di
sekolah
banyak pendidik tidak di lembaga pendidikan
banyak kiai tidak di pesantren, dan
banyak politisi tidak di partai politik
Quotan Gus Arif disebutnya ‘matan’, mengadaptasi Ilmu
Hadits menunjuk redaksi terakhir dari mata rantai periwayatan, Penulis didaulat
mensyarahi, mengelaborasi. Di benak kepikiran “Diminta mengarang nih”. Tak
menolak dan tak mengiyakan kebayang, ngarang yang ngarang begitu saja,
sejadi-jadinya. Wong tak diberi syarat dan ketentuan.
Sepintas perlu diulas fenomena sebutan Gus yang kian
meluas. Merujuk beberapa sumber sebutan Gus berasal dari kata Bagus, Den Bagus,
Raden Bagus, berarti laki-laki, tampan, pandai. Gelar ini disematkan pada anak
laki-laki keluarga keraton, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Melebar ke
keluarga priyayi, melebar lagi di keluarga kiai, khususnya pesantren NU.
Awalnya sebutan Gus hanya untuk putra laki-laki kiai, keterusan untuk Gus yang
sudah jadi kiai, melebar kepada santri yang mendapat berkahnya kiai. Update
merambah dunia lain.
Gelar Gus kian moncer ketika Gus Dur jadi presiden,
seiring karibnya, Gus Mus yang gencar menghadirkan wajah Islam moderat di
tengah maraknya paham Islam garis keras di pentas politik nasional. Imajinasi
yang terbangun gelar Gus identik dengan kiai dan pesantren NU. Terjadi semacam
pembakuan kultural yang mendemarkasi penyematan Gus.
Dinamika kultural beriring melebarnya ring area
sebutan Gus. Terbentuknya komunitas lintas sara Gusdurian sangat mungkin
berkontribusi. Fenomena yang sempat menimbulkan kegelisahan sementara pihak.
Mengutip Mohammad Nuruzzaman - Ketua Bidang Kajian Strategis Pimpinan Pusat
Gerakan Pemuda Ansor sekaligus Komandan Densus 99 Banser, sekarang ada Gus
politik, Gus keilmuan, selain Gus keturunan kiai.
Disadari, ulasan kritis sembul kegelisahan memang tak
memiliki legal standing penolakan, mengingat penyematan gelar Gus diberikan
oleh masyarakat. Serupa penyematan predikat kiai, masyarakat lah yang
memberinya. Dalam konteks demikian barangkali, gelar Gus disematkan kepada
Setia Novanto, Hotman Paris Hutapea, Tomy Suharto, Yusril Ihza Mahendra.
Gelar Gus memang memberikan privilege ikutan. Disebut
nama berawalan Gus berasa lebih akrab, terhormat. Ada rasa setingkat lebih.
Mobilisasi kekuatan politik dirasa berenergi lebih ketika dilakukan tokoh
bergelar Gus. Artis atau pendakwah bergelar Gus dirasa lebih mampu mendongkrat
rating, yang secara tidak langsung bersinggungan dengan popularitas.
Varian Gus beragam, Mojok.id mengulas 5 type Gus.
Menilik latar belakangnya gelar Gus dapat diklasifikasikan ke dalam 5 jenis.
Pertama, Gus karena keturunan. Setiap putra laki-laki kiai disebut Gus,
sebentuk ketakdiman, keakraban. Merekalah calon penyandang predikat kiai.
Seiring kompetensi ilmu keagamaan dan peran mengelola pesantren, Gus muda naik
strata jadi kiai. Meski sudah jadi kiai, gelar Gus tetap tersemat, semisal Gus
Dur, Gus Mus, Gus Baha.
Kedua, Gus karena keberkahan. Gus jenis ini disematkan
ke menantu kiai yang nota bene berasal dari keluarga nonkiai. Santri atau bukan,
setelah jadi keluarga kiai dipanggil Gus.
Ketiga, Gus karena keilmuan. Santri dari luar keluarga
kiai yang memiliki kedalaman ilmu keagamaan, terlibat intensif mengelola
pesantren, serta kedekatan dengan para kiai mendapat berkah dipanggil Gus. Selangkah
lagi Gus jenis ini naik peringkat menyandang gelar kiai seiring keberkahan
ilmunya, terlebih ketika telah memiliki santri dan pesantren.
Keempat, gelar Gus karena pemberian. Kepada siapa pun,
apa pun latar belakangnya, masyarakat berhak memberi gelar Gus. Soal
kredibilitas lebih tergantung pada masyarakat ‘mana’ yang memberi, masalah
kesintasan sangat ditentukan ‘bagaimana’ rekam jejak setelah menyemat gelar
Gus.
Kelima, Gus karena keinginan. Gus jenis ini tak punya
hubungan darah keluarga kiai, tak memiliki ilmu keagamaan memadai, juga tak
terlibat pengelolaan pesantren, tapi ingin menyandang gelar Gus. Kembali
merujuk Nuruzzaman, mungkin inilah yang dimaksud Gus imitasi.
Sejak awal kemunculannya sebutan Gus tidak rigit
merepresentasikan kualifikasi keagamaan maupun keilmuan. Dalam perspektif
kultural siapa saja tak dilarang mencantumkan Gus di depan namanya sepanjang
memenuhi satu persyaratan: laki-laki. Wallahua’lam.
