Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Satu dari sekian kenangan waktu belajar di Madrasah Tsanawiyah awal dekade 80-an, adalah ketika guru bahasa Indonesia menyampaikan pepatah ‘Diam adalah emas’. Pepatah, peribahasa, kata mutiara, atau mahfudzat memuat nasihat, prinsip hidup, dan nilai pendidikan. Lazim dituang dalam rangkaian kata sarat makna, mengungkap kebaikan dan kebenaran, memotivasi kehati-hatian, menukik sisi-sisi kehidupan, membentuk pribadi tangguh dan bijaksana. Waktu laksana pedang, kacang lupa kulitnya, atau api kecil baik dipadam, misalnya.
Diam diibaratkan emas, bermakna baik, berharga, bijak,
berwibawa, dibanding bicara tanpa arti, omongan yang memantik masalah.
Pemaknaan ini tepat ketika sikap diam dilakukan penuh ketulusan, dengan
kebijaksanaan. Diam menghindarkan gaya bicara ‘Tong kosong berbunyi nyaring’
serta mengantisipasi risiko ‘Mulutmu harimaumu’. Diam bermakna keangkuhan
manakala terekspresi tanpa ketulusan hati, bermotif ketidakpedulian, kebencian,
atau pelecehan.
Pilihan sikap diam atau bicara, bicara sedikit atau
banyak, bersifat kontekstual, kasuistis. Diam tak selamanya bijak, bicara belum
tentu buruk. Ada saatnya harus membisu, ada waktunya harus bicara. Suatu ketika
perlu sedikit bicara, di kesempatan lain butuh banyak kata. Diam bisa jadi
sumber masalah, bicara bisa jadi solusi masalah. Bahwa banyak bicara banyak
salah itu mungkin, tapi tidak ada jaminan sedikit bicara sedikit salah.
Kemungkinan keduanya cukup variatif.
|
Pangkal |
Kemungkinan |
|
Diam |
- Benar/baik - Salah/buruk
|
|
Bicara
|
- Benar/baik - Salah/buruk
|
|
Sedikit bicara |
-
Sedikit salah,
banyak benar -
Sedikit benar,
banyak salah -
Benar semua -
Salah semua -
Menunjukkan
kewibawaan, kebijaksanaan, kesombongan -
Memperlihatkan
kelemahan (tidak cukup bahan ) -
Menutupi/takut
salah |
|
Banyak bicara |
-
Banyak salah -
Sedikit salah -
Benar semua -
Salah semua -
Menunjukkan
kepandaian (menguasai detil materi pembicaraan) -
Memperlihatkan
kebodohan (tidak menguasai persoalan) -
Menutupi
kesalahan |
Tidak sededar diam, mistik Jawa punya tradisi lebih
ekstrim, tapa bisu. Penulis pernah menjumpai pelaku. Tidak seperti umumnya
bertapa menyendiri di tempat sunyi, angker, jauh dari permukiman, ‘ritual’ tapa
bisu berlangsung di tengah interaksi sosial. Berpantang bicara kepada siapa
saja selama berhari-hari hingga bertahun-tahun. Komunikasi berjalan satu arah,
tanpa kata ataupun bahasa isyarat. Petapa merespon pembicaraan pihak lain
dengan sikap atau tindakan. Tujuannya untuk membersihkan kotoran hati dan pikiran,
memiliki kesaktian (daya linuwih), mendapatkan ilham (wangsit), hingga tujuan
tertinggi mencapai kesatuan dengan Tuhan (manunggaling kawula gusti).
Ki Jaswadi, dalang wayang, pelaku, pelatih dan
pelestari kesenian tradisional Jawa, tinggal di Pekalongan Winong Pati, menceritakan
dirinya ketika muda pernah berniat tapa bisu. Niatan muncul memprotes maraknya
ketimpangan ucapan dan perbuatan. Kecewa melihat banyak orang dipercaya
masyarakat ternyata penipu. Kesal menyaksikan tak sedikit juru dakwah mengajak
berbuat baik dengan menjelekkan pihak lain. Sering mendengar omongan
menyakitkan teman, tetangga, bahkan saudara sedarah, seiman. Perasaan marah
kepada orang-orang yang menyuruh berbuat benar tapi mencontohkan sebaliknya.
Sebelum niat dilaksanakan, Ki Jaswadi minta
pertimbangan orang bijak. Diutarakan kecamuk hati dan pikiran, berharap dapat
pembelaan. Ternyata Sang Bijak tak merekomendasikan dengan pencerahan. “Niat
tersebut bisa terwujud jika hidup menyendiri di tengah hutan atau lautan.
Selama masih berinteraksi sosial tidak mungkin mengelak berkomunikasi. Memang
demikian kodrat alam, pro kontra menyatu dalam kehidupan, tak terhindarkan.
Berniat baik saja sudah berpahala, apalagi mencontohkan. Tapa bisu justru
menutup peluang menyuarakan kebenaran, mengurai persoalan bagi yang
membutuhkan, menebar kebaikan dalam kebersamaan maupun perbedaan”.
Pencerahan Sang Bijak melebar. “Orang hidup kalau
tidak dibicarakan ya membicarakan orang. Jangankan masih hidup, sudah mati
masih jadi bahan pembicaraan. Karenanya tak perlu takut bicara atau
dibicarakan. Bersihkan niat sebelum bicara, hati-hati memilih kosa kata, cermat
menyusun kalimat, upayakan tak meyakitkan. Utarakan kata hati dengan intonasi
dan ekspresi penuh ketulusan”. Paham pencerahan Sang Bijak, Ki Jaswadi pun
mengurungkan niat.
Pencerahan Sang Bijak ‘nyambung’ dengan hadits Nabi:
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik
atau diam” (HR. Bukhari). Tak kuat melihat keburukan, baikkan dengan berkata
baik, jangan baikkan dengan berkata buruk, atau lebih baik diam seantara waktu.
Hanya ada satu pilihan dari dua kebaikan.
Hadits ini memberi pemahaman, bicara baik atau diam
berkorelasi dengan iman kepada Allah dan iman kepada Hari Akhir. Al-Qur’an
menyuruh bicara dengan perkataan yang baik (ma’ruf), lemah lembut (layyin)
serta melarang bicara berintonasi buruk lagi menyakitkan hati. Melaksanakan
perintah Allah membuktikan iman kepada-Nya. Seluruh pembicaraan dicatat
malaikat Raqib Atid, jadi bahan keputusan di Yaumil Hisab. Pilihan tersedia
hanya satu: bicara baik atau diam.
Pencerahan Sang Bijak jadi bekal penting dalam
komunikasi berbasis nurani. Gaya bicara yang lemah lembut, membaikkan,
menyelamatkan, menyenangkan, mencerahkan, menenangkan, menenteramkan, menyejukkan,
dan mendamaikan. Wallahua’lam.
