KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Minggu, 14 Maret 2021

Bicara Baik atau Diam

 

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Satu dari sekian kenangan waktu belajar di Madrasah Tsanawiyah awal dekade 80-an, adalah ketika guru bahasa Indonesia menyampaikan pepatah ‘Diam adalah emas’. Pepatah, peribahasa, kata mutiara, atau mahfudzat memuat nasihat, prinsip hidup, dan nilai pendidikan. Lazim dituang dalam rangkaian kata sarat makna, mengungkap kebaikan dan kebenaran, memotivasi kehati-hatian, menukik sisi-sisi kehidupan, membentuk pribadi tangguh dan bijaksana. Waktu laksana pedang, kacang lupa kulitnya, atau api kecil baik dipadam, misalnya.

Diam diibaratkan emas, bermakna baik, berharga, bijak, berwibawa, dibanding bicara tanpa arti, omongan yang memantik masalah. Pemaknaan ini tepat ketika sikap diam dilakukan penuh ketulusan, dengan kebijaksanaan. Diam menghindarkan gaya bicara ‘Tong kosong berbunyi nyaring’ serta mengantisipasi risiko ‘Mulutmu harimaumu’. Diam bermakna keangkuhan manakala terekspresi tanpa ketulusan hati, bermotif ketidakpedulian, kebencian, atau pelecehan.

Pilihan sikap diam atau bicara, bicara sedikit atau banyak, bersifat kontekstual, kasuistis. Diam tak selamanya bijak, bicara belum tentu buruk. Ada saatnya harus membisu, ada waktunya harus bicara. Suatu ketika perlu sedikit bicara, di kesempatan lain butuh banyak kata. Diam bisa jadi sumber masalah, bicara bisa jadi solusi masalah. Bahwa banyak bicara banyak salah itu mungkin, tapi tidak ada jaminan sedikit bicara sedikit salah. Kemungkinan keduanya cukup variatif.

 

Pangkal

Kemungkinan

Diam

-    Benar/baik

-    Salah/buruk

Bicara

-    Benar/baik

-    Salah/buruk

Sedikit bicara

-    Sedikit salah, banyak benar

-    Sedikit benar, banyak salah

-    Benar semua

-    Salah semua

-    Menunjukkan kewibawaan, kebijaksanaan, kesombongan

-    Memperlihatkan kelemahan (tidak cukup bahan )

-    Menutupi/takut salah

Banyak bicara

-    Banyak salah

-    Sedikit salah

-    Benar semua

-    Salah semua

-    Menunjukkan kepandaian (menguasai detil materi pembicaraan)

-    Memperlihatkan kebodohan (tidak menguasai persoalan)

-    Menutupi kesalahan

 

Tidak sededar diam, mistik Jawa punya tradisi lebih ekstrim, tapa bisu. Penulis pernah menjumpai pelaku. Tidak seperti umumnya bertapa menyendiri di tempat sunyi, angker, jauh dari permukiman, ‘ritual’ tapa bisu berlangsung di tengah interaksi sosial. Berpantang bicara kepada siapa saja selama berhari-hari hingga bertahun-tahun. Komunikasi berjalan satu arah, tanpa kata ataupun bahasa isyarat. Petapa merespon pembicaraan pihak lain dengan sikap atau tindakan. Tujuannya untuk membersihkan kotoran hati dan pikiran, memiliki kesaktian (daya linuwih), mendapatkan ilham (wangsit), hingga tujuan tertinggi mencapai kesatuan dengan Tuhan (manunggaling kawula gusti).

Ki Jaswadi, dalang wayang, pelaku, pelatih dan pelestari kesenian tradisional Jawa, tinggal di Pekalongan Winong Pati, menceritakan dirinya ketika muda pernah berniat tapa bisu. Niatan muncul memprotes maraknya ketimpangan ucapan dan perbuatan. Kecewa melihat banyak orang dipercaya masyarakat ternyata penipu. Kesal menyaksikan tak sedikit juru dakwah mengajak berbuat baik dengan menjelekkan pihak lain. Sering mendengar omongan menyakitkan teman, tetangga, bahkan saudara sedarah, seiman. Perasaan marah kepada orang-orang yang menyuruh berbuat benar tapi mencontohkan sebaliknya.

Sebelum niat dilaksanakan, Ki Jaswadi minta pertimbangan orang bijak. Diutarakan kecamuk hati dan pikiran, berharap dapat pembelaan. Ternyata Sang Bijak tak merekomendasikan dengan pencerahan. “Niat tersebut bisa terwujud jika hidup menyendiri di tengah hutan atau lautan. Selama masih berinteraksi sosial tidak mungkin mengelak berkomunikasi. Memang demikian kodrat alam, pro kontra menyatu dalam kehidupan, tak terhindarkan. Berniat baik saja sudah berpahala, apalagi mencontohkan. Tapa bisu justru menutup peluang menyuarakan kebenaran, mengurai persoalan bagi yang membutuhkan, menebar kebaikan dalam kebersamaan maupun perbedaan”.

Pencerahan Sang Bijak melebar. “Orang hidup kalau tidak dibicarakan ya membicarakan orang. Jangankan masih hidup, sudah mati masih jadi bahan pembicaraan. Karenanya tak perlu takut bicara atau dibicarakan. Bersihkan niat sebelum bicara, hati-hati memilih kosa kata, cermat menyusun kalimat, upayakan tak meyakitkan. Utarakan kata hati dengan intonasi dan ekspresi penuh ketulusan”. Paham pencerahan Sang Bijak, Ki Jaswadi pun mengurungkan niat.

Pencerahan Sang Bijak ‘nyambung’ dengan hadits Nabi: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari). Tak kuat melihat keburukan, baikkan dengan berkata baik, jangan baikkan dengan berkata buruk, atau lebih baik diam seantara waktu. Hanya ada satu pilihan dari dua kebaikan.

Hadits ini memberi pemahaman, bicara baik atau diam berkorelasi dengan iman kepada Allah dan iman kepada Hari Akhir. Al-Qur’an menyuruh bicara dengan perkataan yang baik (ma’ruf), lemah lembut (layyin) serta melarang bicara berintonasi buruk lagi menyakitkan hati. Melaksanakan perintah Allah membuktikan iman kepada-Nya. Seluruh pembicaraan dicatat malaikat Raqib Atid, jadi bahan keputusan di Yaumil Hisab. Pilihan tersedia hanya satu: bicara baik atau diam.

Pencerahan Sang Bijak jadi bekal penting dalam komunikasi berbasis nurani. Gaya bicara yang lemah lembut, membaikkan, menyelamatkan, menyenangkan, mencerahkan, menenangkan, menenteramkan, menyejukkan, dan mendamaikan. Wallahua’lam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman