Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.
Allah bersumpah, manusia pasti beroleh keberuntungan
jika mau beriman, beramal salih, saling berpesan dan berpegang pada kebenaran,
saling berpesan dan berpegang pada kesabaran. Jika tidak mau, pasti rugi. Pasti
terbukti. Sekira demikian kandungan Qs. Al-‘Ashr.
Penulis tak bermaksud menafsirkan Qs. Al-‘Ashr, karena
tak memiliki kompetensi untuk itu, seujung kuku sekalipun. Tulisan ini mencoba
menangkap kandungan makna ‘Demi Masa’ terkait ‘Beriman’ menggunakan logika. Itu
pun hanya mendasarkan ‘terjemahan’ ayatnya. Sudah pasti sangat relatif: mungkin
salah, belum tentu benar; mungkin tepat, bisa tidak. Dalam konteks menafakuri
ayat-ayat-Nya, niat dan semangat belajar memahami firman-Nya, dengan memohon
sebesar-besar ampunan-Nya, senantiasa berharap rahmat-Nya, semoga ada manfaatnya.
Bagi manusia, sumpah dijadikan jaminan, pembelaan,
atau taruhan atas kebenaran yang diucapkan. Jika sumpahnya ternyata palsu, orang
yang bersumpah berisiko menerima akibatnya. Orang bersumpah pocong misalnya,
jika ternyata sumpahnya palsu tak lama kemudian ‘dipercaya’ jadi pocong alias
mati. Sementara sumpah Allah untuk meyakinkan manusia yang masih ragu. Demi
keselamatan dan kemaslahatan manusia. Sama sekali bukan membela kebenaran
firman-Nya.
Logikanya, Allah sama sekali tak berkepentingan ‘mengangkat’
sumpah untuk mendapat ‘pengakuan’ manusia. Allah tak butuh pembenaran dari
makhluk-Nya. Sumpah Allah semata untuk meyakinkan manusia yang ‘mau’ mengimani
kebenaran firman-Nya.
Persoalannya memang ‘mau’ dan ‘tidak mau’, mengingat
Allah tidak pernah memaksa manusia untuk mengimani-Nya. Allah telah berikan
hidayah – instink, akal, dan agama. Allah telah beberkan kebenaran ayat-ayat
qauliah dan kauniah, terserah mau beriman atau tidak. Mau beriman tak
menjadikan Allah sumpringah. Tidak mau beriman, tak menyebabkan Allah murka.
Sumpah Allah Demi Masa, memastikan firman-Nya benar
sepanjang waktu. Hakikat waktu hanya satu, tak putus, tak berulang, meski
terpilah: dulu – sekarang – akan datang. Ketika manusia mati memang
‘meninggalkan’ (waktu) dunia. Yang mati jasadnya, rohnya pindah di alam (waktu)
barzah, menunggu tibanya alam (waktu) akhirat (Yaumil Qiyamah).
Demi Waktu, Allah lah Pencipta, Penguasa dan Pengatur
seluruh waktu berikut semua peristiwa yang terjadi sepanjang waktu. Demi Waktu,
manusia yang mau beriman pasti beruntung, tidak mau beriman pasti merugi.
Keberuntungan orang beriman dan kerugian orang yang ingkar pasti benar
sepanjang waktu.
Iman berarti percaya (husnudzan), berantonim
curiga (su’udzan). Orang husnudzan kepada orang lain, suasana
hati dan pikirannya tentu lebih baik, lebih tenang, dibanding orang menaruh
curiga. Sebaliknya, orang dipercaya, diberi kepercayaan, suasana hati dan
pikirannya lebih tenang, lebih nyaman, dibanding ketika dicurigai. Suasana hati
dan pikiran yang baik, tenang, dan nyaman adalah sebuah keburuntungan. Ini baru
dengan sesama manusia, apalagi husnudzan kepada Allah.
Iman juga berarti yakin, berantonim ragu. Dalam arti
demikian, iman bisa berasal dari hidayah Allah, bisa dari logika manusia. Abu
Bakar yang tidak ragu atas kebenaran Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad semata karena
hidayah Allah, muncul tanpa logika lebih dulu. Keimanan Nabi Ibahim
mengisyaratkan tumbuh dari melogikakan tanda-tanda kebesaran Allah. Keimanan
Umar bin Khattab lebih berdasar logika setelah mendengar dan menyadari
kebenaran risalah yang dibawa Rasulullah SAW. Sekurang-kurangnya, hidayah yang
diberikan Allah melalui logika.
Setiap pekerjaan yang dilakukan berlandaskan keyakinan
beroleh tiga keuntungan. Pertama, suasana hati dan pikiran lebih baik,
lebih tenang, lebih nyaman, sebelum, selama, dan setelah melakukan pekerjaan. Kedua,
memungkinkan hasil lebih produktif secara kuantitatif maupun kualitatif. Ketiga,
terhindar dari penyesalan jika terjadi kegagalan.
Orang melakukan pekerjaan berlandaskan keyakinan lebih
bisa menerima kenyataan. Kegagalan jadi bahan evaluasi, mawas diri, membuka
kesadaran atas kekurangan dan kelemahan tanpa menyalahkan diri sendiri, apalagi
orang lain.
Kondisi sebaliknya terjadi ketika keraguan menyertai
pekerjaan. Hati diliputi was-was, pikiran tak menentu, jantung berdetak lebih
cepat. Hasil pekerjan berpotensi tak sesuai harapan. Jika gagal timbul
penyesalan, menyalahkan diri sendiri, bisa-bisa menyalahkan orang lain yang
notabene tak bersangkut-paut. Keraguan berkepanjangan berdampak buruk bagi
kesehatan fisik maupun psikis. Pikiran semrawut, nafsu makan turun, kesehatan
fisik menurun, misalnya. Hati kalut, pikiran kusut, berujung depresi, misal
lainnya.
Diandaikan tiga siswa, Ahmad, Ihsan dan Umar, diberi
tugas guru olahraga melompati parit. Hati dan pikiran Ahmad matap, yakin mampu
melompat. Berhasil dan selamat. Ihsan yakin mampu melompat, meski ternyata gagal,
ia tak menyesal. Kegagalan jadi bahan evaluasi tanpa menggerutu, apalagi
menyalahkan guru.
Umar yang tidak yakin mampu, belum melompat hatinya
ragu, pikiran tak menentu, jantungnya deg-degan. Bisa, tidak, bisa, tidak.
Terbayang kegagalan berikut akibatnya, kaosnya basah, malu kepada teman, dapat
nilai jelek, belum lagi jika cidera terantuk bibir parit. Kalaupun berhasil, toch
hatinya sempat was-was, pikiran tak menentu, apalagi jika ternyata gagal.
Sementara Ahmad dan Ihsan, hati dan pikirannya mantap, bersih dan fokus karena
percaya (husnudzan) dan yakin (tidak ragu). Wallahua’lam.
