KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Selasa, 09 Maret 2021

Demi Masa

 

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.

Allah bersumpah, manusia pasti beroleh keberuntungan jika mau beriman, beramal salih, saling berpesan dan berpegang pada kebenaran, saling berpesan dan berpegang pada kesabaran. Jika tidak mau, pasti rugi. Pasti terbukti. Sekira demikian kandungan Qs. Al-‘Ashr.

Penulis tak bermaksud menafsirkan Qs. Al-‘Ashr, karena tak memiliki kompetensi untuk itu, seujung kuku sekalipun. Tulisan ini mencoba menangkap kandungan makna ‘Demi Masa’ terkait ‘Beriman’ menggunakan logika. Itu pun hanya mendasarkan ‘terjemahan’ ayatnya. Sudah pasti sangat relatif: mungkin salah, belum tentu benar; mungkin tepat, bisa tidak. Dalam konteks menafakuri ayat-ayat-Nya, niat dan semangat belajar memahami firman-Nya, dengan memohon sebesar-besar ampunan-Nya, senantiasa berharap rahmat-Nya, semoga ada manfaatnya.

Bagi manusia, sumpah dijadikan jaminan, pembelaan, atau taruhan atas kebenaran yang diucapkan. Jika sumpahnya ternyata palsu, orang yang bersumpah berisiko menerima akibatnya. Orang bersumpah pocong misalnya, jika ternyata sumpahnya palsu tak lama kemudian ‘dipercaya’ jadi pocong alias mati. Sementara sumpah Allah untuk meyakinkan manusia yang masih ragu. Demi keselamatan dan kemaslahatan manusia. Sama sekali bukan membela kebenaran firman-Nya.

Logikanya, Allah sama sekali tak berkepentingan ‘mengangkat’ sumpah untuk mendapat ‘pengakuan’ manusia. Allah tak butuh pembenaran dari makhluk-Nya. Sumpah Allah semata untuk meyakinkan manusia yang ‘mau’ mengimani kebenaran firman-Nya.

Persoalannya memang ‘mau’ dan ‘tidak mau’, mengingat Allah tidak pernah memaksa manusia untuk mengimani-Nya. Allah telah berikan hidayah – instink, akal, dan agama. Allah telah beberkan kebenaran ayat-ayat qauliah dan kauniah, terserah mau beriman atau tidak. Mau beriman tak menjadikan Allah sumpringah. Tidak mau beriman, tak menyebabkan Allah murka.

Sumpah Allah Demi Masa, memastikan firman-Nya benar sepanjang waktu. Hakikat waktu hanya satu, tak putus, tak berulang, meski terpilah: dulu – sekarang – akan datang. Ketika manusia mati memang ‘meninggalkan’ (waktu) dunia. Yang mati jasadnya, rohnya pindah di alam (waktu) barzah, menunggu tibanya alam (waktu) akhirat (Yaumil Qiyamah).

Demi Waktu, Allah lah Pencipta, Penguasa dan Pengatur seluruh waktu berikut semua peristiwa yang terjadi sepanjang waktu. Demi Waktu, manusia yang mau beriman pasti beruntung, tidak mau beriman pasti merugi. Keberuntungan orang beriman dan kerugian orang yang ingkar pasti benar sepanjang waktu.

Iman berarti percaya (husnudzan), berantonim curiga (su’udzan). Orang husnudzan kepada orang lain, suasana hati dan pikirannya tentu lebih baik, lebih tenang, dibanding orang menaruh curiga. Sebaliknya, orang dipercaya, diberi kepercayaan, suasana hati dan pikirannya lebih tenang, lebih nyaman, dibanding ketika dicurigai. Suasana hati dan pikiran yang baik, tenang, dan nyaman adalah sebuah keburuntungan. Ini baru dengan sesama manusia, apalagi husnudzan kepada Allah.

Iman juga berarti yakin, berantonim ragu. Dalam arti demikian, iman bisa berasal dari hidayah Allah, bisa dari logika manusia. Abu Bakar yang tidak ragu atas kebenaran Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad semata karena hidayah Allah, muncul tanpa logika lebih dulu. Keimanan Nabi Ibahim mengisyaratkan tumbuh dari melogikakan tanda-tanda kebesaran Allah. Keimanan Umar bin Khattab lebih berdasar logika setelah mendengar dan menyadari kebenaran risalah yang dibawa Rasulullah SAW. Sekurang-kurangnya, hidayah yang diberikan Allah melalui logika.

Setiap pekerjaan yang dilakukan berlandaskan keyakinan beroleh tiga keuntungan. Pertama, suasana hati dan pikiran lebih baik, lebih tenang, lebih nyaman, sebelum, selama, dan setelah melakukan pekerjaan. Kedua, memungkinkan hasil lebih produktif secara kuantitatif maupun kualitatif. Ketiga, terhindar dari penyesalan jika terjadi kegagalan.

Orang melakukan pekerjaan berlandaskan keyakinan lebih bisa menerima kenyataan. Kegagalan jadi bahan evaluasi, mawas diri, membuka kesadaran atas kekurangan dan kelemahan tanpa menyalahkan diri sendiri, apalagi orang lain.

Kondisi sebaliknya terjadi ketika keraguan menyertai pekerjaan. Hati diliputi was-was, pikiran tak menentu, jantung berdetak lebih cepat. Hasil pekerjan berpotensi tak sesuai harapan. Jika gagal timbul penyesalan, menyalahkan diri sendiri, bisa-bisa menyalahkan orang lain yang notabene tak bersangkut-paut. Keraguan berkepanjangan berdampak buruk bagi kesehatan fisik maupun psikis. Pikiran semrawut, nafsu makan turun, kesehatan fisik menurun, misalnya. Hati kalut, pikiran kusut, berujung depresi, misal lainnya.

Diandaikan tiga siswa, Ahmad, Ihsan dan Umar, diberi tugas guru olahraga melompati parit. Hati dan pikiran Ahmad matap, yakin mampu melompat. Berhasil dan selamat. Ihsan yakin mampu melompat, meski ternyata gagal, ia tak menyesal. Kegagalan jadi bahan evaluasi tanpa menggerutu, apalagi menyalahkan guru.

Umar yang tidak yakin mampu, belum melompat hatinya ragu, pikiran tak menentu, jantungnya deg-degan. Bisa, tidak, bisa, tidak. Terbayang kegagalan berikut akibatnya, kaosnya basah, malu kepada teman, dapat nilai jelek, belum lagi jika cidera terantuk bibir parit. Kalaupun berhasil, toch hatinya sempat was-was, pikiran tak menentu, apalagi jika ternyata gagal. Sementara Ahmad dan Ihsan, hati dan pikirannya mantap, bersih dan fokus karena percaya (husnudzan) dan yakin (tidak ragu). Wallahua’lam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman