KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Minggu, 21 Februari 2021

Quote Gus Dur: Hamba Amatiran

 

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

 “Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih hamba amatiran.” (Gus Dur).

 

Hinaan dan pujian antar sesama itu hal biasa. Pastikan jangan balas menghina agar tak berdampak buruk, hati-hati terhadap pujian jangan sampai terlena. Jadikan hinaan sebagai tantangan yang harus ditaklukkan. Jadikan pujian sebagai media bersyukur agar tetap rendah hati. Jadikan keduanya motivasi meningkatkan kualitas diri di hadapan Allah dan sesama. Sekira demikian poin-poin elaborasi Ahfa Waid dalam bukunya berjudul “Nasihat-nasihat Keseharian Gus Dur, Gus Mus, dan Cak Nun”. Ulasan berikut bermaksud menafsirnya.

Amatir sebagai lawan kata profesional diartikan ‘kegiatan yang dilakukan tanpa didasarkan ilmu yang memadai’. Dengan demikian, hamba amatiran ialah hamba yang melaksanakan tugas kehambaan, dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, berbekal ilmu kurang memadai. Bersedekah yang dibarter dengan pujian dari sesama, misalnya.

Orang dihina sesama bisa karena miskin harta, kurang ilmu, dipandang rendah status sosialnya, hingga tampilan fisik yang kurang simpatik. Orang yang dihina belum tentu hina, terhina. Orang yang dihina lalu merasa terganggu, menunjukkan kurangnya ilmu, amatir. Hinaan orang belum tentu menghinakan orang yang dihina di hadapan Allah maupun sesama. Penghina lebih amatir, tak punya sifat bijaksana. Orang yang cukup ilmu tak kan pernah menghina sesama. Penghina belum tentu lebih mulia dari yang dihina. Penghina pada hakekatnya justru lebih hina dari orang yang dihina, di hadapan Allah maupun sesama.

Perilaku menghina lebih karena selera suka-tidak suka, jarang berpangkal benar-salah. Karena tidak suka, dicari-carilah kekurangan untuk dijadikan bahan hinaan. Sulit ditemukan penghinaan didasarkan benar-salahnya suatu perbuatan. Kalaupun ada, tidak logis dan tidak etis. Tidak berkemistri dengan ajaran agama maupun hati nurani. Logika dan etikanya, jika ada orang berbuat tidak benar, dalam konteks pengamalan agama, bukan dicela, dihina, tapi dibimbing dan dibina.

Hakikat kehinaan manusia di hadapan Allah disebabkan karena: 1) kedudukannya sebagai makhluk, serba lemah dan terbatas, tidak sempurna; 2) kekafiran, dalam arti tertutup hati dan pikiran dari hidayah-Nya. Fir’aun misalnya; 3) pembangkangan terhadap perintah dan larangan-Nya. Abu Jahal tahu pasti kebenaran risalah kenabian Muhammad SAW, tapi demi ‘gengsi’ tak mengakui, apalagi mengikuti; 4) kesusupan nafsu buruk dalam melaksanakan perintah dan larangan-Nya. Tidak kufur, bukan sengaja membangkang, tapi lalai beramal dengan ilmu yang benar. Orang berbuat riya bukan tidak paham tentang riya, melainkan sedang lalai terbujuk nafsu sehingga tidak terasa amalnya bertentangan dengan petunjuk-Nya.

Pujian memang menyenangkan, membanggakan, menandakan kehormatan. Demi mendapatkan kesenangan, kebanggaan dan kehormatan, ada yang bersedia “membeli” pujian. Pada waktu yang sama, pujian tak jarang menggoda iman, melenakan kehati-hatian, menjerumuskan harga diri dan kehormatan.

Bagi mereka yang berilmu memadai lebih memilih berhati-hati menyikapi pujian. Kalaupun menerima, hati dan pikiran ditata sedemikian rupa agar tak mengeruhkan keikhlasan, tak melenakan dan menjerumuskan.

Setingkat lebih, ada golongan manusia tidak butuh pujian, tak menolak celaan. Keduanya dijadikan bahan ujian memurnikan keikhlasan. Setingkat lagi bahkan, dijadikan bahan ujian pun tidak. Kalaupun sanjungan berdatangan atau celaan berhamburan, itu pun tak pernah dihiraukan, tidak menambah atau mengurangi keikhlasan.

Dicela tak membuat merana, dihina tak menyebabkan sengsara. Dipuji tak menjadikan besar hati, disanjung tak berdampak adigung. Seluruh aktivitas beralas ikhlas, hati dan pikiran tak berwas-was. Tegak lurus ke atas, berserah diri hanya kepada Dzat Yang Maha Takberwatas. Kama qala: Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan atau dalam keadaan tunduk, dan aku bukanlah dari golongan orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan yang demikian itulah aku diperintahkan. Dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri.

Itukah sosok hamba profesional? Wallahu’alam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman