KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Rabu, 17 Februari 2021

Menjaga dan Mensyukuri Kesehatan Saat Pandemi Covid-19

Dr. Muslich Taman, Lc., M.Pd.I.

(Praktisi Pendidikan Karakter)

 

Betapa makin terasa berharganya kesehatan, di saat makin banyak orang di sekitar kita menderita sakit. Bahkan, kematian begitu makin mudah terjadi, terutama akhir-akhir ini di saat pandemi. Tiap hari, bisa 3 sampai 4 orang yang kita kenal atau bahkan dekat dengan kita, berguguran menghadap kepada-Nya. Saya sendiri, di masa pandemi ini, telah kehilangan sahabat, teman kuliah, tetangga, atasan kerja, ulama kebanggaan, dan lain-lain yang rata-rata umur mereka tidak terpaut jauh dari saya.

Bagi sebagian orang, memang masih juga belum percaya dengan keberadaan Covid-19 ini. Mereka menganggap ini sandiwara, politisasi, konspirasi global, dan berbagai alasan lain yang mereka 'imani'. Bermacam-macam argumen dan dalih dari tokoh mereka digunakan untuk mementahkan hasil temuan dan pendapat para ahli medis yang dikemukakan. Kelompok orang ini, juga abai, bahkan terkadang melawan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

Bagi saya, sejak munculnya Covid-19, saya percaya virus itu ada, sebagaimana temuan dari kerja ilmiah para ahli yang berkompeten di bidangnya. Saya percaya secara proporsional. Dan bersikap dengan proporsional juga. Tidak paranoid, tetapi juga tidak meremehkan, apalagi menolak dan nyinyir.

Banyak hal yang menguatkan sikap saya di atas. Bukan semata karena saya telah percaya dengan pendapat para ahli yang berkompeten, tetapi juga berdasarkan fakta yang diceritakan beberapa teman saya yang pernah terpapar Covid-19, di antaranya adalah ustadz yang sangat saya percaya akan kejujurannya. Pesannya, Covid-19 memang ada, sangat menyakitkan dan berbahaya, serta semua harus waspada. Lebih-lebih, bagi orang yang memiliki penyakit penyerta. Maka, saat Covid-19 menyerang, kondisinya bagai orang yang sedang menarik nafas di saat sedang tenggelam. Teman yang lain bercerita, bahwa keadaan yang dialaminya, untuk menunaikan shalat 2 rekaat saja, terasa sangat berat dan menguras banyak tenaga, kisahnya.

Covid-19 telah merenggut 30.000 lebih nyawa saudara-saudara kita. Dan 1 juta lebih dari saudara-saudara kita harus merasakan perjuangan untuk melepaskan diri dari cengkeramannya.

Syukur kepada Allah, saya hingga saat ini, dinyatakan negatif dari Covid-19. Tes Rapid pernah saya jalani. Tes swab juga sama. Bahkan, isolasi mandiri selama 14 hari yang sangat menjemukan juga saya rasakan. Saat itu, saya membatasi interaksi dengan keluarga, tidak pergi kerja, tidak beraktivitas keluar rumah, bahkan juga tidak ke masjid. Kondisi berat dan tidak nyaman itu saya lakukan, demi menjaga diri dan menjaga orang lain yang saya cintai.

Terkait landasan dari sikap saya di atas, paling tidak ada 2 prinsip yang saya pegang, yaitu:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

 

Artinya, “Tidak boleh membahayakan orang lain, dan tidak boleh dibahayakan.”

 

Prinsip yang kedua,

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

 

Artinya, “Menghilangkan kemudharatan itu lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.”

Akhirnya, saya tutup tulisan ini dengan ungkapan betapa pentingnya kesehatan diri dalam kehidupan ini. Sebagai modal kehidupan yang bermanfaat secara lebih luas. Karenanya, kesehatan harus dijaga dan disyukuri dengan sebaik-baiknya. Lebih-lebih di saat pendemi seperti sekarang ini, selain wajib mentaati keputusan Ulil Amri terkait penerapan 5 M, maka yang lebih penting adalah harus senantiasa meningkatkan imun dan iman. Menjaga pikiran untuk senantiasa positif, hati selalu lapang dan ikhlas, serta memanfaatkan segala nikmat yang ada untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Wallahu a'lam bish shawab.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman