![]() |
Dr. Muslich Taman, Lc., M.Pd.I.
(Praktisi Pendidikan Karakter)
Betapa makin terasa berharganya kesehatan, di saat
makin banyak orang di sekitar kita menderita sakit. Bahkan, kematian begitu
makin mudah terjadi, terutama akhir-akhir ini di saat pandemi. Tiap hari, bisa
3 sampai 4 orang yang kita kenal atau bahkan dekat dengan kita, berguguran
menghadap kepada-Nya. Saya sendiri, di masa pandemi ini, telah kehilangan
sahabat, teman kuliah, tetangga, atasan kerja, ulama kebanggaan, dan lain-lain
yang rata-rata umur mereka tidak terpaut jauh dari saya.
Bagi sebagian orang, memang masih juga belum percaya
dengan keberadaan Covid-19 ini. Mereka menganggap ini sandiwara, politisasi,
konspirasi global, dan berbagai alasan lain yang mereka 'imani'. Bermacam-macam
argumen dan dalih dari tokoh mereka digunakan untuk mementahkan hasil temuan
dan pendapat para ahli medis yang dikemukakan. Kelompok orang ini, juga abai,
bahkan terkadang melawan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.
Bagi saya, sejak munculnya Covid-19, saya percaya virus
itu ada, sebagaimana temuan dari kerja ilmiah para ahli yang berkompeten di
bidangnya. Saya percaya secara proporsional. Dan bersikap dengan proporsional
juga. Tidak paranoid, tetapi juga tidak meremehkan, apalagi menolak dan
nyinyir.
Banyak hal yang menguatkan sikap saya di atas. Bukan
semata karena saya telah percaya dengan pendapat para ahli yang berkompeten,
tetapi juga berdasarkan fakta yang diceritakan beberapa teman saya yang pernah
terpapar Covid-19, di antaranya adalah ustadz yang sangat saya percaya akan
kejujurannya. Pesannya, Covid-19 memang ada, sangat menyakitkan dan berbahaya,
serta semua harus waspada. Lebih-lebih, bagi orang yang memiliki penyakit
penyerta. Maka, saat Covid-19 menyerang, kondisinya bagai orang yang sedang
menarik nafas di saat sedang tenggelam. Teman yang lain bercerita, bahwa
keadaan yang dialaminya, untuk menunaikan shalat 2 rekaat saja, terasa sangat
berat dan menguras banyak tenaga, kisahnya.
Covid-19 telah merenggut 30.000 lebih nyawa
saudara-saudara kita. Dan 1 juta lebih dari saudara-saudara kita harus
merasakan perjuangan untuk melepaskan diri dari cengkeramannya.
Syukur kepada Allah, saya hingga saat ini, dinyatakan
negatif dari Covid-19. Tes Rapid pernah saya jalani. Tes swab juga sama.
Bahkan, isolasi mandiri selama 14 hari yang sangat menjemukan juga saya
rasakan. Saat itu, saya membatasi interaksi dengan keluarga, tidak pergi kerja,
tidak beraktivitas keluar rumah, bahkan juga tidak ke masjid. Kondisi berat dan
tidak nyaman itu saya lakukan, demi menjaga diri dan menjaga orang lain yang
saya cintai.
Terkait landasan dari sikap saya di atas, paling tidak
ada 2 prinsip yang saya pegang, yaitu:
لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
Artinya, “Tidak boleh membahayakan orang lain, dan tidak boleh
dibahayakan.”
Prinsip yang kedua,
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ
Artinya, “Menghilangkan kemudharatan itu lebih didahulukan daripada
mengambil kemaslahatan.”
Akhirnya, saya tutup tulisan ini dengan ungkapan betapa
pentingnya kesehatan diri dalam kehidupan ini. Sebagai modal kehidupan yang
bermanfaat secara lebih luas. Karenanya, kesehatan harus dijaga dan disyukuri
dengan sebaik-baiknya. Lebih-lebih di saat pendemi seperti sekarang ini, selain
wajib mentaati keputusan Ulil Amri terkait penerapan 5 M, maka yang lebih
penting adalah harus senantiasa meningkatkan imun dan iman. Menjaga pikiran
untuk senantiasa positif, hati selalu lapang dan ikhlas, serta memanfaatkan
segala nikmat yang ada untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Wallahu
a'lam bish shawab.
