Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Studi banding lazim jadi salah satu program lembaga.
Awal tahun telah direncanakan waktu, tempat, peserta, berikut angaran.
Tujuannya jelas, untuk meningkatkan kinerja, prestasi dan prestise lembaga
pelaksana dengan ‘berguru’ ke lembaga yang lebih maju. Pelaksanaannya cenderung
sekilas. Durasi kegiatan studi 2-4 jam, waktu rekreasi tak kurang dari 24 jam.
Implementasi hasil studi sering tidak tuntas, logis jika hasilnya tidak jelas.
Kenapa studi banding? Ingin seperti, kalau bisa, lebih dari.
Dalam hubungan antar pribadi kadang juga terjadi.
Frasa ‘Tukar Pengalaman’ atau Tukar Kaweruh dalam budaya Jawa merepresentasikan
hal ini. Berbagi pengetahuan dan pengalaman dari hati ke hati, untuk kebaikan
pribadi maupun kepentingan keluarga. Secara institusional maupun personal
tujuan dasarnya sama: ingin seperti, kalau bisa, lebih dari. Dipikir orang lain
lebih dalam banyak hal, diri merasa kekurangan berbagai hal. Dus, ada motif
keirian terselubung.
Tumbuh dari membandingkan, iri berproses dari potensi
ke aksi. Ketika hati bersuara “saya begini dia begitu”, iri masih bertaraf
potensi. Setelah pikiran memprovokasi dengan menawarkan alternatif lanjutan:
“Saya masih begini dia sudah begitu, maka saya harus .....”, iri mulai beraksi.
Dari sekedar sikap antipati, ucapan menyakitkan hati, persekusi, hingga
menimbulkan anarki.
Tak selamanya berujung buruk, belum tentu berakhir
baik. Iri bisa menumbuhkan simpati, dapat menyebabkan patah hati. Ada yang
berdampak konstruktif, lazim lebih banyak yang kontra produktif. Bak pejalan di
simpang tiga, belok kanan sampai ke ghirah, belok kiri menuju dengki. Itulah
kenapa Allah menyuruh berlindung kepada-Nya “dari kejahatan orang yang iri
ketika mendengki”. Logikanya, Iri bisa memunculkan kedengkian, menimbulkan
kejahatan, menumbuhkan kebaikan, membiak kemaslahatan. Dus, ada yang
dibolehkan, ada yang terlarang.
Logika tersebut nyambung dengan hadits Nabi tentang
pengecualian sifat iri. Rasulullah SAW membolehkan iri pada dua golongan
manusia: pertama, orang yang dikarunia Allah harta, lalu harta itu dibelanjakan
untuk kebaikan dan kebenaran. Kedua, orang yang dikarunia Allah ilmu, lalu ilmu
itu diamalkan dan diajarkan. Pengecualian bersyarat: harta ‘yang’; ilmu ‘yang’.
Jika tak memenuhi syarat, jelas dilarang.
Membandingkan diri dengan orang lain bisa berujung
kufur, dapat berbuah syukur. Mata hati yang tertutup nafsu tak mampu melihat
betapa rahmat Allah demikian besar kepada semua makhluk-Nya. Manusia demikian
gagal menangkap sifat rahman-rahim-Nya. Pikirannya selalu melihat kelebihan dan
kenikmatan orang lain tanpa mau melihat dan merasakan nikmat yang Allah berikan
kepadanya. Pikirannya dibelenggu rasa iri sampai lupa kepada Dzat Yang Maha
Memberi. Hari-harinya berselimut nestapa, mengira orang lain lebih bahagia
dibanding dirinya. Menuduh orang lain beruntung, merasa dirinya buntung. Pada
titik ini Gede Prama benar ketika menyimpulkan, membandingkan jadi sumber
penderitaan.
Membandingkan berbuah syukur manakala hati mau melihat
sisi baik setiap kejadian, pikirannya sareh, mampu menerima apa pun pemberian
Tuhan (qana’ah). Hati yakin sepenuhnya, setiap pemberian-Nya adalah yang
terbaik baginya (khusnudzan). Pikirannya mampu menangkap hikmah di setiap peristiwa
(arif). Mulut dan hatinya selalu mengucap Alhamdulillah atas apapun yang Allah
karuniakan. “Alhamdulillah masih punya penghasilan meski tak seberapa.
Alhamdulillah masih diberi kesehatan, meski secara materi banyak kekuarangan.
Alhamdulillah masih dikuatkan iman, walau banyak ujian dan cobaan”.
Orang jawa memiliki kecerdasan spiritual untuk menepis
dampak buruk pembandingan. Petuah “Rejeki kuwi wis cinandi deneng Gusti”
(Rejeki itu sudah dijatah oleh Tuhan), menguatkan keyakinan atas keadilan dan kebijaksanaan
Dzat Yang Maha Rahman. Rezeki tiap orang telah diatur demikian rupa, apa,
berapa dan kapan diberikan. Dalam bekerja tak bermaksud “memburu” rezeki, lebih
diniati mewasilahi datangnya rezeki. Hasilnya Tuhan yang tentukan. Tak perlu
pembandingan.
Diperdalam petuah “Narima ing pandum” (qana’ah),
menjadikan hidup terbebas dari iri dan dengki. Bukan tak perlu kerja keras,
yang lebih penting menerima seberapa pun pemberian dengan Ikhlas. “Wong kang
demen srei, drengki, uripe ora bakal mukti” (Orang yang suka iri, dengki,
hidupnya tak akan mulia sejahtera). Rezeki tiap orang tidak mungkin tertukar,
karenanya tak perlu berebut, bertengkar, apalagi sampai berbuat makar.
Orang Jawa juga punya mantra sakti yang menangguhkan
hati menghadapi apa pun yang terjadi. Sebesar dan seburuk apa pun musibah
menimpa, selalu menyisakan kata untung. “Untung hanya patah tulang. Untung
hanya rumah yang terbakar. Untung masih hidup”. Selain menyuburkan kesyukuran,
mantra ini memperdalam keikhlasan, menyisakan kedamaian. Begitulah potret
kehidupan manusia berlimpah keberuntungan.
Membandingkan melahirkan sifat iri. Iri dalam kebaikan
dibolehkan karena menumbuhkan rasa syukur, berbunga keberuntungan, berbuah
kebahagiaan. Iri dalam keburukan dilarang karena membuncah hati dan pikiran,
melahirkan kekufuran, berakibat kebuntungan, berujung penderitaan.
|
Membandingkan |
Potensi Ý Ü
IRI Ü Þ Aksi |
Ø
Baik |
Ø
Syukur
|
Ø
Beruntung Ø
Bahagia |
|
Ø
Buruk |
Ø
Kufur
|
Ø
Buntung Ø
Menderita |
Setingkat lebih dari keberuntungan, ketika cinta telah berlabuh ke haribaan-Nya. Tak ada kebuntungan. Tak perlu keberuntungan. Tak butuh pembandingan. Yang ada hanya cinta dan cinta. Mencintai dan dicintai. Ridla dan diridlai. Kama qala: رَضِيَ اللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡه. Selebihnya lenyap entah ke mana. Wallau a'lam.
