KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 15 Februari 2021

Hidup Berlimpah Keberuntungan

 

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Studi banding lazim jadi salah satu program lembaga. Awal tahun telah direncanakan waktu, tempat, peserta, berikut angaran. Tujuannya jelas, untuk meningkatkan kinerja, prestasi dan prestise lembaga pelaksana dengan ‘berguru’ ke lembaga yang lebih maju. Pelaksanaannya cenderung sekilas. Durasi kegiatan studi 2-4 jam, waktu rekreasi tak kurang dari 24 jam. Implementasi hasil studi sering tidak tuntas, logis jika hasilnya tidak jelas. Kenapa studi banding? Ingin seperti, kalau bisa, lebih dari.

Dalam hubungan antar pribadi kadang juga terjadi. Frasa ‘Tukar Pengalaman’ atau Tukar Kaweruh dalam budaya Jawa merepresentasikan hal ini. Berbagi pengetahuan dan pengalaman dari hati ke hati, untuk kebaikan pribadi maupun kepentingan keluarga. Secara institusional maupun personal tujuan dasarnya sama: ingin seperti, kalau bisa, lebih dari. Dipikir orang lain lebih dalam banyak hal, diri merasa kekurangan berbagai hal. Dus, ada motif keirian terselubung.

Tumbuh dari membandingkan, iri berproses dari potensi ke aksi. Ketika hati bersuara “saya begini dia begitu”, iri masih bertaraf potensi. Setelah pikiran memprovokasi dengan menawarkan alternatif lanjutan: “Saya masih begini dia sudah begitu, maka saya harus .....”, iri mulai beraksi. Dari sekedar sikap antipati, ucapan menyakitkan hati, persekusi, hingga menimbulkan anarki.

Tak selamanya berujung buruk, belum tentu berakhir baik. Iri bisa menumbuhkan simpati, dapat menyebabkan patah hati. Ada yang berdampak konstruktif, lazim lebih banyak yang kontra produktif. Bak pejalan di simpang tiga, belok kanan sampai ke ghirah, belok kiri menuju dengki. Itulah kenapa Allah menyuruh berlindung kepada-Nya “dari kejahatan orang yang iri ketika mendengki”. Logikanya, Iri bisa memunculkan kedengkian, menimbulkan kejahatan, menumbuhkan kebaikan, membiak kemaslahatan. Dus, ada yang dibolehkan, ada yang terlarang.

Logika tersebut nyambung dengan hadits Nabi tentang pengecualian sifat iri. Rasulullah SAW membolehkan iri pada dua golongan manusia: pertama, orang yang dikarunia Allah harta, lalu harta itu dibelanjakan untuk kebaikan dan kebenaran. Kedua, orang yang dikarunia Allah ilmu, lalu ilmu itu diamalkan dan diajarkan. Pengecualian bersyarat: harta ‘yang’; ilmu ‘yang’. Jika tak memenuhi syarat, jelas dilarang.

Membandingkan diri dengan orang lain bisa berujung kufur, dapat berbuah syukur. Mata hati yang tertutup nafsu tak mampu melihat betapa rahmat Allah demikian besar kepada semua makhluk-Nya. Manusia demikian gagal menangkap sifat rahman-rahim-Nya. Pikirannya selalu melihat kelebihan dan kenikmatan orang lain tanpa mau melihat dan merasakan nikmat yang Allah berikan kepadanya. Pikirannya dibelenggu rasa iri sampai lupa kepada Dzat Yang Maha Memberi. Hari-harinya berselimut nestapa, mengira orang lain lebih bahagia dibanding dirinya. Menuduh orang lain beruntung, merasa dirinya buntung. Pada titik ini Gede Prama benar ketika menyimpulkan, membandingkan jadi sumber penderitaan.

Membandingkan berbuah syukur manakala hati mau melihat sisi baik setiap kejadian, pikirannya sareh, mampu menerima apa pun pemberian Tuhan (qana’ah). Hati yakin sepenuhnya, setiap pemberian-Nya adalah yang terbaik baginya (khusnudzan). Pikirannya mampu menangkap hikmah di setiap peristiwa (arif). Mulut dan hatinya selalu mengucap Alhamdulillah atas apapun yang Allah karuniakan. “Alhamdulillah masih punya penghasilan meski tak seberapa. Alhamdulillah masih diberi kesehatan, meski secara materi banyak kekuarangan. Alhamdulillah masih dikuatkan iman, walau banyak ujian dan cobaan”.

Orang jawa memiliki kecerdasan spiritual untuk menepis dampak buruk pembandingan. Petuah “Rejeki kuwi wis cinandi deneng Gusti” (Rejeki itu sudah dijatah oleh Tuhan), menguatkan keyakinan atas keadilan dan kebijaksanaan Dzat Yang Maha Rahman. Rezeki tiap orang telah diatur demikian rupa, apa, berapa dan kapan diberikan. Dalam bekerja tak bermaksud “memburu” rezeki, lebih diniati mewasilahi datangnya rezeki. Hasilnya Tuhan yang tentukan. Tak perlu pembandingan.

Diperdalam petuah “Narima ing pandum” (qana’ah), menjadikan hidup terbebas dari iri dan dengki. Bukan tak perlu kerja keras, yang lebih penting menerima seberapa pun pemberian dengan Ikhlas. “Wong kang demen srei, drengki, uripe ora bakal mukti” (Orang yang suka iri, dengki, hidupnya tak akan mulia sejahtera). Rezeki tiap orang tidak mungkin tertukar, karenanya tak perlu berebut, bertengkar, apalagi sampai berbuat makar.

Orang Jawa juga punya mantra sakti yang menangguhkan hati menghadapi apa pun yang terjadi. Sebesar dan seburuk apa pun musibah menimpa, selalu menyisakan kata untung. “Untung hanya patah tulang. Untung hanya rumah yang terbakar. Untung masih hidup”. Selain menyuburkan kesyukuran, mantra ini memperdalam keikhlasan, menyisakan kedamaian. Begitulah potret kehidupan manusia berlimpah keberuntungan.

Membandingkan melahirkan sifat iri. Iri dalam kebaikan dibolehkan karena menumbuhkan rasa syukur, berbunga keberuntungan, berbuah kebahagiaan. Iri dalam keburukan dilarang karena membuncah hati dan pikiran, melahirkan kekufuran, berakibat kebuntungan, berujung penderitaan.

Membandingkan

Potensi

Ý

Ü IRI Ü

Þ

Aksi

Ø Baik

Ø Syukur

Ø Beruntung

Ø Bahagia

Ø Buruk

Ø Kufur

Ø Buntung

Ø Menderita

 

Setingkat lebih dari keberuntungan, ketika cinta telah berlabuh ke haribaan-Nya. Tak ada kebuntungan. Tak perlu keberuntungan. Tak butuh pembandingan. Yang ada hanya cinta dan cinta. Mencintai dan dicintai. Ridla dan diridlai. Kama qala: رَضِيَ اللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡه. Selebihnya lenyap entah ke mana. Wallau a'lam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman