KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 08 Februari 2021

Latihan Mati

 

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

  

Bhikkhu Uttamo Mahathera dalam kapasitas selaku motivator pada salah satu unggahan video melontar pertanyaan bernada humor, “Pernah ‘nggak Anda balapan mati?”

Balapan mati? Memang ada?

Dalam unggahan tersebut diimajinasi pasutri sedang berebut belakangan dijemput ajal. Berdalih anak-anak masih butuh perlindungan seorang ayah, kalau kematian bisa ditawar, suami ingin mati belakangan. Berdalih anak-anak masih butuh kasih sayang seorang ibu, jika bisa dinego, sang istri pun rela suami mati duluan. Senada candaan ustadz/ustadzah dalam ceramah bertema kematian, ‘Kematian adalah rahasia Allah, bisa anda dulu saya belakangan, bisa saya belakang anda duluan’.

Diksi balapan familiar dirangkai dengan kata karung, engrang, lari, motor, mobil, atau liar. Dalam permainan atau sungguhan, peserta balapan bersaing ketat beradu cepat. Lebih-lebih sekelompok remaja pada momen balapan liar. Seluruh kemampuan fisik dan teknik dicurahkan demi meraih posisi terdepan. Kontras dengan peserta balapan mati yang berebut paling akhir menyentuh garis finis.

Balapan mati hanya sebatas joke dan tak pernah ada dalam kenyataan. Umat beragama apa pun yakin sepenuhnya, kematian setiap makhluk telah tertulis rapi di sisi Ilahi. Kapan, di mana, bagaimana, dan apa penyebabnya, hanya Allah yang tahu. Bahkan malaikat Izrail yang ditugasi Allah mencabut semua yang bernyawa pun tidak diberi skedul kematian makhluk-Nya. Balapan motor yang berujung kematian tidak berarti balapan mati sekaligus. Bunuh diri bukan perbuatan sadar untuk mendahului kematian orang lain.

Ustadz/kyai ketika memberi tausiah pada shohibul mushibah dan muazziyin tak jarang mengingatkan, kematian adalah nasihat kehidupan paling nyata, jujur, dan pasti benar. Tak sekedar yakin, mati itu pasti dan nyata. Janazah yang membujur itu jujur, tak pernah dan memang tidak bisa berbohong. Diandaikan janazah bisa bicara, sepenggal tausiahnya barangkali: “Wahai Bani Adam yang masih hidup, kalian pasti akan mengalami sepertiku, ingatlah selalu datangnya mati dan bersiaplah sejak dini. Lebih dari mengingat dan bersiap, berlatihlah. Semoga hal itu memudahkanmu waktu ajal menjemput sewaktu-waktu”.

Tausiah janazah direspon beragam para penyaksinya. Ada golongan manusia yang abai kematian. Meski sering mendengar tausiah dan berulang menyaksikan kematian, perilakunya seolah mengatakan, “Ingat ataupun lupa, bersiap atau tidak, tanpa latihan pun, jika waktunya tiba, mati juga”. Bagi golongan ini, peristiwa kematian tak membekas dalam ingatan, apalagi menyentuh kesadaran. Aktivitas keseharian dilakukan untuk memenuhi kebutuhan duniawi semata. Hidup dan mati dipersepsi laiknya matahari yang terbit di pagi dan tenggelam di petang hari.

Ada golongan manusia yang ketika mendengar nasihat kematian tersentuh hingga menetes air mata, terutama kematian orang tercinta. Hanya saja berlangsung temporal. Sehari dua hari, sebulan dua bulan, setelah itu lupa  bahwa kematian setia menuggu setiap waktu. Ketika intensitas kesadaran tentang mati tinggi, demikian bersungguh-sungguh dan rajin mengumpulkan bekal mati. Saat kesadaran memudar, energi diri terkonsentrasi pada kepentingan duniawi. Ketika badan sakit stadium tinggi, ingat mati menguat kembali. Sekuat kemampuan yang tersisa berusaha menambah bekal kematian. Namun ketika diri tenggelam dalam urusan duniawi, datangnya mati dikira masih lama. Mirip musim hujan dan kemarau yang datang silih berganti.

Ada juga manusia yang selalu berusaha mengingat mati. “Umur sudah cukup, mau apa dan ke mana lagi. Tinggal menunggu mati”, “Hidup sudah dijalani, ya... tinggal menunggu mati”, sekira demikian narasi golongan ini. Narasi demikian lebih mencerminkan kesiapan dijemput kematian. Bukan berarti merasa bekalnya sudah cukup, melainkan ingatan, kesadaran, dan persiapan menunggu datangnya mati berintensitas lebih dibading golongan pertama dan kedua. Usia yang tersisa digunakan sepenuhnya untuk menyiapkan bekal kematian.

Bekal kematian terbaik adalah amal shalih dan ketakwaan, bukan harta, jabatan, ataupun popularitas (Muslich Taman, Misteri Kematian, republika.co.id). Kenapa amal shalih dan ketakwaan? “Bandha kenane lunga, pangkat kenane minggat, popularitas bakal amblas” (harta, jabatan, dan popularitas akan pergi sewaktu-waktu tanpa memberi tahu). Bila ketiganya tak meninggalkan manusia, manusia pasti akan meninggalkan ketiganya. Saat maut menjemput, amal shalih dan ketaqwaan lah yang menemani janazah ke alam barzah.

Selain mengingat dan menyiapkan bekal kematian, pujangga Jawa merekomendasikan untuk ‘berlatih’ mati.

Latihan mati? Memang bisa?

Dalam budaya Jawa ada filosofi “Urip iku urup” (Hidup itu bergerak). Setiap makhluk hidup pasti bergerak, dan gerak manusia dimaknai usaha memenuhi kebutuhan duniawi maupun ukhrawi. Agar jiwa tak tersandra gemerlapnya kehidupan maya, para bijak mengajarkan “Mati sak jeroning urip, urip sak jeroning mati” (mati dalam kehidupan, hidup dalam kematian), atau ‘berlatih mati sebelum mati’ (Agus Musthoha: Serial Ke-37, tt). Petuah ini mengajarkan pengendalian nafsu duniawi yang membelenggu nurani dalam mencapai tujuan hidup yang hakiki.

Mati sak jeroning urip, urip sak jeroning mati sebagai latihan mati yang sesungguhnya, dilakukan dengan “Jogo babahan howo songo”, menjaga 9 lubang pengantar nikmat dan pintu maksiat dalam tubuh: 2 mata, 2 tellinga, 2 lubang hidung, mulut, lubang depan dan belakang (dubur). Ke-9 pintu bukan dimatikan, melainkan dikendalikan ke jalan lurus searah perintah dan larangan Dzat Yang Maha Kudus. Dikawal ketat agar selalu taat menjalankan syariat. Menjadikannya pintu masuknya rahmat,  terjauhkan dari maksiat, agar beroleh nikmat dan selamat hingga Hari Kiamat.

Ujung kehidupan adalah kematian. Mati dibahasakan meninggal dunia, lengkapnya ‘meninggalkan dunia’ menuju akhirat. Dalam latihan meninggalkan dunia, Gede Prama berbagi solusi dengan menghindari kemelakatan tetek duniawi. Logikanya, ketika rekatan dua hal tak begitu kuat, terbayang mudahnya lepas. Bukan tak butuh ini dan itu, melainkan tidak lekat, apalagi terbelenggu hal-hal semu dan menipu.

Berbekal keimanan dan ketakwaan, hasil berlatih menjaga pintu-pintu maksiat dan kemelakatan, “diteorikan” siap dijemput kematian. Teori yang hanya sekali diuji tanpa revisi: ketika mati benar-benar terjadi.

Dibilang teori karena soal mati selamanya berselimut misteri sekaligus hak prerogatif Allah Rabbil Izzati. Sebagai hamba yang lemah lagi berlumur dosa, semoga Rahman dan Rahim-Nya menyertai perpulangan kembali kepada-Nya. Kama qala: “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun”. Wallahu a’lam.

 

Rujukan:

Agus Musthofa, Melawan Kematian Serial Ke-17 Diskusi Tasawuf Modern, Surabaya: PADMA Press, 2008.

Agus Musthofa, Lorong Sakaratul Maut Serial ke-31 Diskusi Tasawuf Modern, tk: PADMA Press, tt.

Gede Prama, Compassion Menyembuhkan Pikiran, Menyejukkan Lingkungan, Menemukan Kedamaian, tk, Karaniya, Cet. 1, 2013.

Komaruddin Hidayat, Psikologi Kematian, Jakarta: Hikmah, VII – 2006.

Muslich Taman, Misteri Kematian, republika.co.id; https://www.republika.co.id/berita/qnwuh6374/misteri-kematian

https://www.youtube.com/watch?v=IePHdP0ra-Q

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman