Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Bhikkhu Uttamo Mahathera dalam kapasitas selaku
motivator pada salah satu unggahan video melontar pertanyaan bernada humor, “Pernah ‘nggak Anda balapan mati?”
Balapan mati? Memang ada?
Dalam unggahan tersebut diimajinasi pasutri sedang
berebut belakangan dijemput ajal. Berdalih anak-anak masih butuh perlindungan
seorang ayah, kalau kematian bisa ditawar, suami ingin mati belakangan.
Berdalih anak-anak masih butuh kasih sayang seorang ibu, jika bisa dinego, sang
istri pun rela suami mati duluan. Senada candaan ustadz/ustadzah dalam ceramah
bertema kematian, ‘Kematian adalah rahasia Allah, bisa anda dulu saya
belakangan, bisa saya belakang anda duluan’.
Diksi balapan familiar dirangkai dengan kata karung,
engrang, lari, motor, mobil, atau liar. Dalam permainan atau sungguhan, peserta
balapan bersaing ketat beradu cepat. Lebih-lebih sekelompok remaja pada momen
balapan liar. Seluruh kemampuan fisik dan teknik dicurahkan demi meraih posisi terdepan.
Kontras dengan peserta balapan mati yang berebut paling akhir menyentuh garis
finis.
Balapan mati hanya sebatas joke dan tak pernah ada
dalam kenyataan. Umat beragama apa pun yakin sepenuhnya, kematian setiap
makhluk telah tertulis rapi di sisi Ilahi. Kapan, di mana, bagaimana, dan apa
penyebabnya, hanya Allah yang tahu. Bahkan malaikat Izrail yang ditugasi Allah
mencabut semua yang bernyawa pun tidak diberi skedul kematian makhluk-Nya.
Balapan motor yang berujung kematian tidak berarti balapan mati sekaligus.
Bunuh diri bukan perbuatan sadar untuk mendahului kematian orang lain.
Ustadz/kyai ketika memberi tausiah pada shohibul
mushibah dan muazziyin tak jarang mengingatkan, kematian adalah nasihat
kehidupan paling nyata, jujur, dan pasti benar. Tak sekedar yakin, mati itu
pasti dan nyata. Janazah yang membujur itu jujur, tak pernah dan memang tidak
bisa berbohong. Diandaikan janazah bisa bicara, sepenggal tausiahnya
barangkali: “Wahai Bani Adam yang masih hidup, kalian pasti akan mengalami
sepertiku, ingatlah selalu datangnya mati dan bersiaplah sejak dini. Lebih dari
mengingat dan bersiap, berlatihlah. Semoga hal itu memudahkanmu waktu ajal
menjemput sewaktu-waktu”.
Tausiah janazah direspon beragam para penyaksinya. Ada
golongan manusia yang abai kematian. Meski sering mendengar tausiah dan
berulang menyaksikan kematian, perilakunya seolah mengatakan, “Ingat ataupun
lupa, bersiap atau tidak, tanpa latihan pun, jika waktunya tiba, mati juga”.
Bagi golongan ini, peristiwa kematian tak membekas dalam ingatan, apalagi
menyentuh kesadaran. Aktivitas keseharian dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
duniawi semata. Hidup dan mati dipersepsi laiknya matahari yang terbit di pagi
dan tenggelam di petang hari.
Ada golongan manusia yang ketika mendengar nasihat
kematian tersentuh hingga menetes air mata, terutama kematian orang tercinta.
Hanya saja berlangsung temporal. Sehari dua hari, sebulan dua bulan, setelah
itu lupa bahwa kematian setia menuggu
setiap waktu. Ketika intensitas kesadaran tentang mati tinggi, demikian
bersungguh-sungguh dan rajin mengumpulkan bekal mati. Saat kesadaran memudar,
energi diri terkonsentrasi pada kepentingan duniawi. Ketika badan sakit stadium
tinggi, ingat mati menguat kembali. Sekuat kemampuan yang tersisa berusaha
menambah bekal kematian. Namun ketika diri tenggelam dalam urusan duniawi,
datangnya mati dikira masih lama. Mirip musim hujan dan kemarau yang datang
silih berganti.
Ada juga manusia yang selalu berusaha mengingat mati.
“Umur sudah cukup, mau apa dan ke mana lagi. Tinggal menunggu mati”, “Hidup
sudah dijalani, ya... tinggal menunggu mati”, sekira demikian narasi golongan
ini. Narasi demikian lebih mencerminkan kesiapan dijemput kematian. Bukan
berarti merasa bekalnya sudah cukup, melainkan ingatan, kesadaran, dan
persiapan menunggu datangnya mati berintensitas lebih dibading golongan pertama
dan kedua. Usia yang tersisa digunakan sepenuhnya untuk menyiapkan bekal
kematian.
Bekal kematian terbaik adalah amal shalih dan
ketakwaan, bukan harta, jabatan, ataupun popularitas (Muslich Taman, Misteri
Kematian, republika.co.id). Kenapa amal shalih dan ketakwaan? “Bandha kenane
lunga, pangkat kenane minggat, popularitas bakal amblas” (harta, jabatan, dan
popularitas akan pergi sewaktu-waktu tanpa memberi tahu). Bila ketiganya tak
meninggalkan manusia, manusia pasti akan meninggalkan ketiganya. Saat maut
menjemput, amal shalih dan ketaqwaan lah yang menemani janazah ke alam barzah.
Selain mengingat dan menyiapkan bekal kematian,
pujangga Jawa merekomendasikan untuk ‘berlatih’ mati.
Latihan mati? Memang bisa?
Dalam budaya Jawa ada filosofi “Urip iku urup”
(Hidup itu bergerak). Setiap makhluk hidup pasti bergerak, dan gerak manusia
dimaknai usaha memenuhi kebutuhan duniawi maupun ukhrawi. Agar jiwa tak
tersandra gemerlapnya kehidupan maya, para bijak mengajarkan “Mati sak
jeroning urip, urip sak jeroning mati” (mati dalam kehidupan, hidup dalam
kematian), atau ‘berlatih mati sebelum mati’ (Agus Musthoha: Serial Ke-37, tt).
Petuah ini mengajarkan pengendalian nafsu duniawi yang membelenggu nurani dalam
mencapai tujuan hidup yang hakiki.
Mati sak jeroning urip, urip sak jeroning mati sebagai latihan mati yang sesungguhnya, dilakukan
dengan “Jogo babahan howo songo”, menjaga 9 lubang pengantar nikmat dan
pintu maksiat dalam tubuh: 2 mata, 2 tellinga, 2 lubang hidung, mulut, lubang
depan dan belakang (dubur). Ke-9 pintu bukan dimatikan, melainkan dikendalikan
ke jalan lurus searah perintah dan larangan Dzat Yang Maha Kudus. Dikawal ketat
agar selalu taat menjalankan syariat. Menjadikannya pintu masuknya rahmat, terjauhkan dari maksiat, agar beroleh nikmat
dan selamat hingga Hari Kiamat.
Ujung kehidupan adalah kematian. Mati dibahasakan
meninggal dunia, lengkapnya ‘meninggalkan dunia’ menuju akhirat. Dalam latihan
meninggalkan dunia, Gede Prama berbagi solusi dengan menghindari kemelakatan
tetek duniawi. Logikanya, ketika rekatan dua hal tak begitu kuat, terbayang
mudahnya lepas. Bukan tak butuh ini dan itu, melainkan tidak lekat, apalagi
terbelenggu hal-hal semu dan menipu.
Berbekal keimanan dan ketakwaan, hasil berlatih
menjaga pintu-pintu maksiat dan kemelakatan, “diteorikan” siap dijemput
kematian. Teori yang hanya sekali diuji tanpa revisi: ketika mati benar-benar
terjadi.
Dibilang teori karena soal mati selamanya berselimut
misteri sekaligus hak prerogatif Allah Rabbil Izzati. Sebagai hamba yang lemah
lagi berlumur dosa, semoga Rahman dan Rahim-Nya menyertai perpulangan kembali
kepada-Nya. Kama qala: “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun”. Wallahu a’lam.
Rujukan:
Agus
Musthofa, Melawan Kematian Serial Ke-17 Diskusi Tasawuf Modern,
Surabaya: PADMA Press, 2008.
Agus
Musthofa, Lorong Sakaratul Maut Serial ke-31 Diskusi Tasawuf Modern, tk:
PADMA Press, tt.
Gede
Prama, Compassion Menyembuhkan Pikiran, Menyejukkan Lingkungan, Menemukan
Kedamaian, tk, Karaniya, Cet. 1, 2013.
Komaruddin
Hidayat, Psikologi Kematian, Jakarta: Hikmah, VII – 2006.
Muslich
Taman, Misteri Kematian, republika.co.id;
https://www.republika.co.id/berita/qnwuh6374/misteri-kematian
https://www.youtube.com/watch?v=IePHdP0ra-Q
