KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Sabtu, 27 Februari 2021

Harapan dan Doa Menyongsong Pilkades Pekalongan 2021

 

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

 Pekalongan, 1 dari 30 desa di Kecamatan Winong, 1 dari 401 desa di Kabupaten Pati, akan menyelenggarakan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Pilkades Serentak Gelombang I digelar 10 April 2021 di 16 desa se-Kecamatan Winong, 219 desa se-Kabupaten Pati.

Secara teknis Pilkades serentak tahun ini beda dengan sebelumnya karena diselenggarakan di tengah pandemi Covid-19. Sebagai acuan Bupati Pati Haryanto telah menandatangani Peraturan Bupati (Perbub) Nomor 88 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pilkades di Masa Pandemi. Untuk pelaksanaan lapangan akan dilengkapi Surat Edaran dan Petunjuk Teknis. Pelaksanaan Pilkades dengan protokol kesehatan juga berimplikasi dalam segi pembiayaan.

Pasal 20 Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor 11 Tahun 2014 tentang Kepala Desa jo Pasal 41 Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menyebutkan, Pilkades dilaksanakan melalui 4 tahapan: persiapan, pencalonan, pemungutan suara, dan penetapan Kepala Desa terpilih. Saat tulisan ini ditulis Pilkades Pekalongan tengah memasuki tahap pencalonan.

Pemerintah Desa telah melakukan rangkaian kegiatan mulai dari sosialisasi, pembentukan Panitia, mengumumkan waktu dan syarat-syarat pendaftaran, merumuskan anggaran, identifikasi dan verifikasi data pemilih, dan seterusnya. Sekira demikian dengan bacalon Kades yang berniat maju. Mulai meneguhkan niat dalam hati, mempersiapkan persyaratan administrasi, bersilaturahmi mohon doa restu kolega dan famili, melakukan konsolidasi, dan seterusnya.

Umumnya, harap-harap cemas menyelimuti saat menanti waktu yang menentukan. Jarum jam terkesan bergerak lambat. Momentum terasa terlalu cepat mendekat. Detak jantung seiring detak jam menyongsong hari “H” yang dinantikan. Harapan dan kecemasan campur aduk dalam hati dan pikiran. Namun suasana demikian tak terjadi dalam benak warga Pekalongan.

Suasana kebatinan warga Pekalongan terasa “adem ayem” mensikapi agenda pelaksanaan amanat konstitusi. Harapan itu pasti, tapi kecemasan enggan singgah di hati. Tak bermaksud menangguk simpati, memang demikianlah yang terjadi. Telah dan cukup teruji, sekurangnya dalam 3x terakhir gelaran pesta demokrasi. Harapan dan doa seluruh warga Pekalongan, semoga tetap demikian suasana Pilkades tahun ini.

Menurut pakar manajemen, persiapan dan perencanaan adalah kunci keberhasilan. Persiapan baik, proses berjalan baik, memungkinkan hasil terbaik. Persiapan jelek, pelaksanaan buruk, logis jika hasilnya terpuruk. Siapa pun tentu ingin meraih sukses. Karenanya, persiapan dilakukan sebaik mungkin, perencanaan disusun serapi mungkin, pelaksanaan diupayakan seoptimal mungkin, berharap niatan mewujud dalam kenyataan: Sukses.

Tak ada yang salah dalam logika manajemen tersebut, namun belum tentu benar 100 %. Harapan yang hanya bersandar pada kemampan akal tak jarang berujung kekecewaan. Betul apa yang dikatakan Gede Prama, “Harapan adalah ibu kandung kekecewaan”. Untuk menghindarinya, kerjakan kegiatan sepenuh keihklasan, tanpa harapan. Seperti air hujan yang mengalir di sungai menuju lautan. Kalau belum mampu melakukan kegiatan tanpa harapan, minimal jangan ‘terlalu’ besar harapan.

Logika yang 100 % benar adalah “Manusia merencanakan, Allah yang menentukan”. Persiapan teknik dan logistik tetap perlu dioptimalkan. Rencana yang rinci rapi juga perlu dimaksimalkan. Jangan lupa, persiapan terpenting dan terbaik adalah “Persiapan Mental” menerima kenyataan. Persiapan mental yang dibungkus keikhlasan bisa meredam dampak buruk kegagalan. Tak sekedar meredam, keikhlasan bahkan mampu melenyapkan kekecewaan.

Aura kompetisi kian menghangat seiring hari “H” makin mendekat. Hari di mana ditentukan “Siapa” putra terbaik pilihan masyarakat, komandan pemegang amanat rakyat. Pemimpin yang diharapkan cakap mengolah sumber daya (SDA), trampil  mengelola budi daya (SDM) untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Lebih dari itu, diharapkan mampu menjaga kerukunan, kebersamaan, dan kedamaian di tengah masyarakat.

Dalam kompetisi kadang sulit menghindarkan ambisi untuk memenangi kontestasi. Agar tak berujung sakit hati, diperlukan kecerdasan dan kearifan mengelola ambisi. Perlu kesungguhan mengendalikan emosi, butuh keseriusan mendengarkan suara hati, jangan sampai ambisi berujung frustasi. Apalagi beranak cucu persekusi, intimidasi, hingga menimbulkan anarki. Siapa pun warga Pekalongan meyakini sepenuh hati, hal itu tak kan terjadi. Kecuali dalam mimpi.

Di akhir tahapan penyelenggaraan Pilkades, akan ditetapkan calon terpilih pemangku tugas dan jabatan Kepala Desa. Kesedihan dan kegembiraan kadang ‘sulit’ dihindarkan. Kesulitan berganti kemudahan ketika keikhlasan tetap bersemayam dalam hati dan pikiran. Kalaupun bergembira, sewajarnya. Bilapun bersedih, sekedarnya. Toh, sedih dan gembira tak selamanya. Cukup sekedarnya. Sewajarnya.

Kelancaran, ketertiban, kebersamaan, kesaudaraan, kerukunan, ketenteraman dan kedamaian, sejak persiapan, pelaksanaan, hingga akhir hajatan demokrasi adalah doa dan harapan segenap warga Pekalongan tanpa kecuali.

Rekonsiliasi merupakan doa dan harapan pasca kompetisi. Kemarin terpaksa harus bersaing, tiba waktunya bersanding. Meski pernah berseberangan, semoga endingnya bergandengan. Kalaupun secara tak sengaja pernah ‘memukul’, alangkah indahnya jika didempul dengan merangkul. Jika sebelumnya kubu-kubuan, tiba saatnya merajut kembali kesatuan dan persatuan.

Keluasan pikiran dan ketulusan hati seorang Jokowi, sangat patut diteladani. Betapapun sengit waktu berkompetisi, beliau mampu mengakhiri dengan rekonsiliasi: menyanding, menggandeng, dan merangkul Prabowo Subianto. Orang boleh tak sependapat dengan beliau berdua, bagi penulis, itulah teladan kepemimpinan termahal dan terbaik.

Logika kontes berkonsekwensi gagal atau sukses. Kandidat Pilkades logis berharap sukses. Semoga tak ada air mata menetes, semua proses berjalan beres, Pilkades Pekalongan berlangsung sedingin Es. Amiin, birahmatika Ya Mujibassailiin. Wallahua’lam.

Baca Juga:

Pilkades Sedingin Es, Mungkinkah? (Bagian 1 dari 2 Tulisan)

Pilkades Sedingin Es, Mungkinkah? (Bagian 2 dari 2 Tulisan)

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman