Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Betapa tidak istimewa, puluhan ribu lulusan SLTA tiap
tahun berebut tiket masuk fakultas keguruan. Secara akumulaif lulusan fakultas
keguruan mencapai ratusan ribu. Ratusan ribu calon guru ini harus berjuang
keras agar bisa mengamalkan ilmunya di lembaga pendidikan formal, negeri
ataupun swasta. Karena daya tampung yang terbatas, hanya sebagian kecil yang
mendapat kesempatan mengabdikan diri di sekolah/madrasah.
Dalam memperingati Hari Guru Nasional tahun ini patut
dijadikan momentum introspeksi dalam menjalani profesi. Apakah, sehingga
menjadi guru sampai saat ini, karena cita-cita, terpaksa, atau panggilan jiwa?
Jawaban terhadap pertanyaan ini sangat mendasar dan menentukan suasana hati
serta kualitas kinerja bagi siapa saja yang mengemban tugas dan tanggungjawab
pendidikan dan pembelajaran.
Hampir setiap orang ketika usia muda punya cita-cita
yang ingin diwujudkan di masa depan. Cita-cita merupakan gambaran kehidupan
yang serba baik, serba tinggi dan serba mulia yang ‘ingin’ diraih melalui
berbagai usaha dan doa. Tidak cukup dengan usaha, kadang harus berjuang keras
menghadapi berbagai tantangan. Suka, duka, bahkan luka, menjadi romantika yang
harus dijalani dan diterima. Tak sedikit yang bercita-cita jadi guru mengalami
kesulitan, bahkan tidak berkesempatan mewujudkan. Betapa pun kemampuan bisa
diandalkan, semangat dan kemauan pun tak diragukan, namun semua itu tinggal
impian. Lirik puitis nan mengiris yang didendangkan Iwan Fals dalam lagu
berjudul Sarjana Muda, menceritakan nasib sebagian besar lulusan perguruan
tinggi, tak terkecuali para sarjana calon guru.
Ketika diterima jadi guru -- honorer sekali pun --
kepuasan dan kebahagiaan menyelimuti kehidupan. Jerih payah dan pengorbanan
selama ini terbayar sudah. Namun pada
titik ini potensi melemahnya motivasi dan kinerja mulai muncul. Ibarat sinetron
telah mencapai klimaks, alur cerita berikutnya menuju antiklimaks. Karena
terbius rasa puas telah meraih status guru berikut kompensasi sosial
ekonominya, ketekunan dan kesungguhan melaksanakan tanggungjawab berangsur
kendor. Motivasi dan energi yang tercurah tak lagi semenggebu sebelum cita-cita
teraih.
Menjadi guru karena terpaksa dampaknya lebih buruk
lagi. Semula dibayangkan betapa mudah dan enaknya jadi guru. Berbekal persiapan
penguasaan materi pembelajaran ala kadarnya, tinggal berdiri di depan kelas
mentransfer pengetahuan dan keterapilan. Jika ada anak tidak atau kurang paham,
tinggal menyuruh membaca dan mendalami materi. Berbekal kemampuan
mengoperasikan komputer/laptop, terbayangkan begitu mudahnya mengerjakan
administrasi pembelajaran. Apa sulitnya jadi guru? Profesi keguruan juga
dibayangkan sedemikian enaknya dibanding profesi lain. Berangkat dan pulang
mengajar pakaian tetap bersih dan rapi. Ketika anak-anak libur akhir semester
maupun akhir tahun pelajaran, guru pun ikut libur. Honor atau gaji -- bagi PNS
-- dapat diandalkan, dana pensiun begitu menjanjikan. Bahkan, di sela tugas
mengajar bisa disambi (sambil) mengerjakan pekerja lain untuk menambah
pendapatan.
Dalam kenyataan, menjadi seorang guru tidak semudah
dan seenak yang dibayangkan. Tugas guru tidak sekedar mentransfer pengetahuan
dan keterampilan, tapi juga mendidik dan membentuk aklak/karakter peserta
didik. Tugas-tugas keguruan yang dari ‘luar’ tampak santai, ternyata demikian
suntuk menyita energi dan pikiran. Mulailah muncul rasa malas melaksanakan
tugas dan kewajiban. Kemalasan yang berkepanjangan akan meningkat jadi
kebosanan. Apa yang semula dicita-citakan, berujung keterpaksaan. Tugas ganda
sebagai pendidik dan mengajar, hanya tugas mengajar yang dilaksanakan. Itu pun
berkualitas minimal, untuk tidak menyebut asal-salan. Jika demikian yang
terjadi, ilmu yang diajarkan sulit diamalkan. Rizki yang didapat, jauh dari
keberkahan.
Menjadi guru karena panggilan jiwa bukanlah karena
cita-cita, apalagi karena terpaksa. Menjadi guru karena cita-cita, bisa
berakhir kecewa. Menjadi guru karena terpaksa, terasa menyiksa, dihantui rasa
putus asa, bahkan bisa berbuah dosa. Menjadi guru karena panggilan jiwa, serasa
Allah selalu bersama kita.
Proses pembelajaran secara formal memang dibatasi oleh
ruang dan jam efektif, namun tidak demikian ketika kesadaran yang tertanam
karena panggilan jiwa. Seorang yang secara formal menyandang status guru, tidak
berarti tanggungjawab mendidik dan mengajarnya terbatas pada ruang dan waktu
formal. Akronim berbahasa Jawa tentang ‘guru’ bermakna positif sebagai sosok
yang patut digugu lan ditiru (didengar nasehatnya dan diteladani akhlaknya)
menegaskan hal ini. Ucapan dan tindakan harus mencerminkan akhlakul karimah di
mana dan kapan pun, terhadap siapa pun, dalam kondisi yang bagaimanapun. Hal
ini terjadi karena kesadaran jiwa yang paling dalam selalu memandu setiap
ucapan dan perberbuatan bernilai pendidikan dan pembelajaran.
Fungsi keteladanan guru yang hanya dipraktikkan pada
waktu melaksanakan tugas-tugas kedinasan misalnya, akronim ‘guru’ berubah
negatif menjadi sosok wagu tur saru (karakter menyebalkan dan tak patut
dicontoh). Logika demikian diperkuat fakta bahwa tidak ada istilah ‘mantan’ bagi setiap guru,
meskipun secara formal telah purna tugas. Oleh karena itu fungsi, tugas dan
tangggungjawab seorang guru pada hakekatnya berlangsung sepanjang waktu.
Formal, informal, nonformal sekaligus.
Untuk menjadi guru karena panggilan jiwa, kiatnya
cukup sederhana. Pertama, istikamahkan kesadaran bahwa Allah lah yang
“memanggil” jadi guru. Ketika panggilan itu iatikamah mengiang, akan tumbuh
kesadaran lanjut bahwa Allah selalu bersama di setiap melakukan kegiatan, di
mana dan kapan pun, tak terbatas oleh ruang dan waktu. Jangan ‘bayangkan’ Allah
berada di mana tapi ‘rasakan’ Dia berada di mana-mana. Kedua, menjadi guru
adalah anugerah-Nya yang istimewa kepada hamba-hamba pilihan-Nya, maka
syukurilah sepanjang waktu. Mohonlah selalu agar dimampukan mensyukuri setiap
rahmat-Nya.
Ketiga, laksanakan tugas dan tanggungjawab sepenuh
keikhlasan. Jika diaudiokan, keikhlasan awalnya selirih teriakan berjarak
puluhan meter atau jika divisualkan sebentuk garis setebal rambut dibelah
tujuh. Suara itu akan mengeras jika diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Suara
itu bisa lenyap manakala diabaikan. Suara itu juga bisa mengeras tapi bising
ketika ada suara-suara lainnya, menggambarkan keikhlasan yang terkontaminasi
oleh motiv sosial, ekonomi, atau lainnya. Mohonlah kepada Allah agar dijauhkan
dari motiv-motiv yang akan mengaburkan dan merusak keikhlasan (riak). Keempat,
tumbuh-kuatkan optimisme atau khusnudzan kepada Allah. Dalam banyak hal sering
sekali optimisme dikalahkan pesimisme, bahkan tidak sedikit yang ‘mengawali’
kegiatan dengan sikap pesimis. Untuk mengukur seberapa besar ‘kemampuan’
mencapai keberhasilan ialah dengan menakar seberapa kuat ‘kemauan’ dalam
mewujudkan keberhasilan yang ingin diraih. Yang pertama dan utama itu kemauan.
Buang jauh-jauh pikiran dan kekhawatiran yang membisikkan ketidakmampuan.
Jangan berpikir besarnya honor/gaji jaminan terpenuhinya kebutuhan, hanya
keberkahan yang bisa mencukupkan kebutuhan.
Maaf seribu maaf, tulisan ini sekedar berbagi, syukur
mampu menginspirasi, dan sama sekali tidak bermaksud menggurui. Bahkan siswa
pun lebih nyaman ketika dididik dan diajar tidak dengan style menggurui.
Selamat Hari Guru Nasional. Wallahua'lam.
