KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Rabu, 25 November 2020

Epistemologi Masalah

 

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Dalam kepustakaan filsafat, epistemologi dimaknai pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan; teori ilmu pengetahuan; pengetahuan tentang hakekat pengetahuan. Searah karakter filsafat yang radikal dalam mengungkap suatu, epistemologi pun mengkaji secara radikal masalah-masalah yang terkait pengetahuan seperti: pengertian dan hakekat tahu dan pengetahuan, asal mula terjadinya, struktur dan sistematika, metode formulasi, validitas dan kebenaran, serta fungsi dan hikmah pengetahuan.

Ketika kata epistemologi dirangkai dengan kata masalah dikandung maksud mengurai hal-hal yang terkandung dan terkait diksi masalah: Apa pengertian dan hakekatnya? Kapan terjadinya? Apa penyebab dan akibatnya? Apa fungsi dan hikmahnya? Kenapa hidup dan matinya manusia tak lepas dari masalah? Tulisan ini tidak akan mengupas tuntas semua masalah tentang masalah. Meski demikian ada harapan dapat menambah -- meski sedikit -- kepahaman terhadap masalah atau hal-hal yang terkandung dan terkait sehingga terhindar dari masalah dalam memahami dan mengelola masalah.

Tak seorang pun di dunia ini yang terbebas dari masalah, baikpun dia balita, remaja, dewasa, maupun lansia. Bahkan dalam ranah keimanan, kelak di akhirat pun masalah tetap ada. Merujuk kisah diturunkan-Nya Adam dan Hawa dari surga ke dunia karena ‘tersandung’ masalah. Selama di dunia Bani Adam diberi dan diharuskan mengelola masalah – sebagai cobaan dan ujian -- untuk dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Di akhirat, tiap ruas tulang akan diminta pertanggungjawaban. Setiap butir rizki yang kita upayakan selama menempuh perjalanan menuju kematian akan dipersoalkan teknis perolehan dan penggunaannya.

Masalah diartikan sebagai sesuatu yang harus diselesaikan; soal (KBBI). Mengacu pada proses pembelajaran, soal memang harus dikerjakan dan diselesaikan untuk mendapatkan nilai sesuai kemampuan. Kata masalah berlawanan dengan kata maslahah, yang oleh Imam Ghazali dirumuskan sebagai manfaat yang didapat hasil menghidarkan kemadharatan (masalah). Ketika masalah berhasil dikerjakan, diselesaikan, hasilnya manfaat, maslahah.

Jika dicermati lebih makna yang terkandung dalam kata masalah lebih dari itu. Pada hakekatnya kata masalah mengandung makna segala sesuatu yang menghalangi atau mengambat pencapaian tujuan; keadaan yang tidak sesuai keinginan; tantangan yang membutuhkan jawaban; kesulitan yang membutuhkan pemecahan atau jalan keluar; kesulitan dalam melaksanakan perintah dan menghindari larangan; sesuatu yang perlu diurai, didalami dan dipahami untuk mendapatkan pengetahuan yang baik dan benar.

Masalah terjadi ketika ada sesuatu yang menghalangi, menghambat atau menyulitkan mencapai keinginan, tujuan. Masalah juga muncul sewaktu disadari ada halangan, hambatan atau kesulitan melaksanakan kewajiban atau menghindari larangan. Kerusakan mesin mobil jadi hambatan dalam perjalanan menuju tempat tujuan. Cerita orang jajan di warung makan berlaukkan beberapa potong yang dikira daging sapi tidak menimbulkan masalah sepanjang pejajannya tidak tahu, tak menyadari bahwa yang disantap adalah daging babi.

Masalah timbul karena sebab subyektif atau obyektif. Faktor subyektif terletak pada persepsi dan kesadaran terhadap sesuatu yang menghalangi, menghabat, menyulitkan  tercapainya tujuan, terlaksananya suatu perintah, atau terhindarnya suatu larangan. Bakul warung penjaja daging babi mempersepsi berjualan daging haram itu tidak (jadi) masalah, atau diabaikan sebagai masalah. Pejajan sontak muntah mengeluarkan seluruh isi perut setelah menyadari bahwa yang disantapnya adalah daging babi. Kerusakan AC mobil tidak harus menunda perjalanan jika tidak dianggap masalah. Ketika dianggap masalah, kerusakan perlu diperbaiki lebih dulu dan menyebabkan perjalanan tertunda sementara.

Faktor obyektif penyebab timbulnya masalah berada di luar subyek, di luar diri yang bersangkutan. Ketidakpunyaan SIM bagi seseorang yang mau ke kota berkendara motor tidak menimbulkan masalah ketika berhasil menghindari razia melalui jalan tikus. Secara subyektif tidak ada, minimal terhindar dari masalah untuk sementara waktu. Secara obyektif masalah tetap ada, tidak punya SIM. Menghindari masalah tidak menghilangkan masalah.

Setiap sebab pasti menimbulkan akibat. Akibat timbulnya masalah ialah terhalang, terhambat, atau kesulitan mencapai tujuan, terlaksananya kewajiban atau terhindarnya larangan. Dari sebab yang sederhana bisa timbul akibat yang sederhana bisa juga menimbulan akikat yang komplek. Sebaliknya, sebab yang komplek bisa menimbulkan akibat yang komplek bisa pula menimbulkan akibat cukup sederhana. Ada banyak masalah yang begitu terpecahkan salahsatu diantaranya, terpecahkan seluruh masalahnya. Ada pula pemecahan suatu masalah menimbulkan masalah lain. Upaya medis dalam penyembuhan penyakit komplikatif mengilutrasikan hal ini.

Masalah dan penyebabnya secara kuantitatif bisa tunggal bisa ganda, secara kualitatif bisa sederhana bisa komplek. Ditilik dari ranahnya, ada masalah dan penyebab bersifat personal-komunal, jasmani-ruhani, duniawi-ukhrawi. Diklasifikasi dari jenisnya, macam-macam masalah dan penyebabnya sebanyak aspek kehidupan manusia: sosial, politik, ekonomi, budaya, asmara, dan seterusnya. Dari segi waktu, ada yang kemarin, sekarang dan akan datang. Keseluruhannya merupakan entitas dalam kehidupan.

Bahwa kehidupan manusia tak lepas dari masalah, itu pasti. Meski sudah pasti, terlalu banyak yang berharap dan berdoa agar kehidupannya terbebas sama sekali dari masalah. Harapan demikian tidak akan pernah jadi kenyataan dan doa semacam itu nyaris tidak akan dikabulkan Tuhan. Jika demikian, apakah Tuhan itu pelit hingga tidak berkenan mengabulkan doa hamba-Nya atau sengaja mempersulit hamba-Nya dengan menghadirkan masalah dalam kehidupan? Jawabnya sudah pasti: Tidak. Jika ada hamba-Nya yang berprasaka seperti itu justru mengganda masalah: sudah masalahnya sulit dipecahkan plus buruknya sangka kepada-Nya. Jalan menuju penyelesaian justru makin terjal dan berliku.

Jika ada yang berprasangka Tuhan sengaja atau tidak sengaja – mana ada Tuhan tidak sengaja – mempersulit hamba-Nya dengan menimpakan masalah, jelas itu pikiran minal ghaawiin. Memangnya Tuhan hoby mempersulit hamba-Nya apa?!

Bahwa Allah selalu Maha Baik kepada seluruh hamba-Nya, sementara tidak semua hamba selalu baik kepada-Nya adalah kenyataan tak terbantahkan. Penghadiran masalah dalam kehidupan menjadi media bagi tumbuh-kembangnya kemampuan menjalani kehidupan; menjadi cobaan dan ujian dalam mendaki ke tangga prestasi duniawi dan ukhrawi; sebagai sarana tumbuh-kembangnya kesadaran kehambaan kepada tuannya. Hadirnya masalah juga menjadi salahsatu cara Allah berkomunikasi dan mendekati hamba-Nya dan sebaliknya, sebagai media komunikasi dan pendekatan hamba kepada Sang Khalik. Penimpaan masalah juga menjadi test case seberapa besar ketaatan, keistiqamahan, dan kesyukuran. Butir-butir makna yang terkandung dalam Qs. ‘Alam Nashrah lebih dari cukup menjelaskan hal ini. Setiap masalah pasti ada jalan keluar dan hikmahnya. Fainna ma’al ‘usri yusraa. Inna ma’al ‘usri yusraa, maka mendekatlah, curhatlah, mengadulah, mintalah, mohonlah, mendambalah, hanya kepada-Nya. Jangan sekalipun kepada selain-Nya. Wallahua‘lam bishshawab.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman