Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Dalam kepustakaan filsafat, epistemologi dimaknai
pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan; teori ilmu pengetahuan;
pengetahuan tentang hakekat pengetahuan. Searah karakter filsafat yang radikal
dalam mengungkap suatu, epistemologi pun mengkaji secara radikal
masalah-masalah yang terkait pengetahuan seperti: pengertian dan hakekat tahu
dan pengetahuan, asal mula terjadinya, struktur dan sistematika, metode
formulasi, validitas dan kebenaran, serta fungsi dan hikmah pengetahuan.
Ketika kata epistemologi dirangkai dengan kata masalah
dikandung maksud mengurai hal-hal yang terkandung dan terkait diksi masalah:
Apa pengertian dan hakekatnya? Kapan terjadinya? Apa penyebab dan akibatnya?
Apa fungsi dan hikmahnya? Kenapa hidup dan matinya manusia tak lepas dari
masalah? Tulisan ini tidak akan mengupas tuntas semua masalah tentang masalah.
Meski demikian ada harapan dapat menambah -- meski sedikit -- kepahaman
terhadap masalah atau hal-hal yang terkandung dan terkait sehingga terhindar
dari masalah dalam memahami dan mengelola masalah.
Tak seorang pun di dunia ini yang terbebas dari
masalah, baikpun dia balita, remaja, dewasa, maupun lansia. Bahkan dalam ranah
keimanan, kelak di akhirat pun masalah tetap ada. Merujuk kisah diturunkan-Nya
Adam dan Hawa dari surga ke dunia karena ‘tersandung’ masalah. Selama di dunia
Bani Adam diberi dan diharuskan mengelola masalah – sebagai cobaan dan ujian --
untuk dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Di akhirat, tiap ruas tulang akan
diminta pertanggungjawaban. Setiap butir rizki yang kita upayakan selama
menempuh perjalanan menuju kematian akan dipersoalkan teknis perolehan dan
penggunaannya.
Masalah diartikan sebagai sesuatu yang harus
diselesaikan; soal (KBBI). Mengacu pada proses pembelajaran, soal memang harus
dikerjakan dan diselesaikan untuk mendapatkan nilai sesuai kemampuan. Kata
masalah berlawanan dengan kata maslahah, yang oleh Imam Ghazali dirumuskan
sebagai manfaat yang didapat hasil menghidarkan kemadharatan (masalah). Ketika
masalah berhasil dikerjakan, diselesaikan, hasilnya manfaat, maslahah.
Jika dicermati lebih makna yang terkandung dalam kata
masalah lebih dari itu. Pada hakekatnya kata masalah mengandung makna segala
sesuatu yang menghalangi atau mengambat pencapaian tujuan; keadaan yang tidak
sesuai keinginan; tantangan yang membutuhkan jawaban; kesulitan yang
membutuhkan pemecahan atau jalan keluar; kesulitan dalam melaksanakan perintah
dan menghindari larangan; sesuatu yang perlu diurai, didalami dan dipahami
untuk mendapatkan pengetahuan yang baik dan benar.
Masalah terjadi ketika ada sesuatu yang menghalangi,
menghambat atau menyulitkan mencapai keinginan, tujuan. Masalah juga muncul
sewaktu disadari ada halangan, hambatan atau kesulitan melaksanakan kewajiban
atau menghindari larangan. Kerusakan mesin mobil jadi hambatan dalam perjalanan
menuju tempat tujuan. Cerita orang jajan di warung makan berlaukkan beberapa
potong yang dikira daging sapi tidak menimbulkan masalah sepanjang pejajannya
tidak tahu, tak menyadari bahwa yang disantap adalah daging babi.
Masalah timbul karena sebab subyektif atau obyektif.
Faktor subyektif terletak pada persepsi dan kesadaran terhadap sesuatu yang
menghalangi, menghabat, menyulitkan
tercapainya tujuan, terlaksananya suatu perintah, atau terhindarnya
suatu larangan. Bakul warung penjaja daging babi mempersepsi berjualan daging
haram itu tidak (jadi) masalah, atau diabaikan sebagai masalah. Pejajan sontak
muntah mengeluarkan seluruh isi perut setelah menyadari bahwa yang disantapnya
adalah daging babi. Kerusakan AC mobil tidak harus menunda perjalanan jika
tidak dianggap masalah. Ketika dianggap masalah, kerusakan perlu diperbaiki
lebih dulu dan menyebabkan perjalanan tertunda sementara.
Faktor obyektif penyebab timbulnya masalah berada di
luar subyek, di luar diri yang bersangkutan. Ketidakpunyaan SIM bagi seseorang
yang mau ke kota berkendara motor tidak menimbulkan masalah ketika berhasil
menghindari razia melalui jalan tikus. Secara subyektif tidak ada, minimal
terhindar dari masalah untuk sementara waktu. Secara obyektif masalah tetap
ada, tidak punya SIM. Menghindari masalah tidak menghilangkan masalah.
Setiap sebab pasti menimbulkan akibat. Akibat
timbulnya masalah ialah terhalang, terhambat, atau kesulitan mencapai tujuan,
terlaksananya kewajiban atau terhindarnya larangan. Dari sebab yang sederhana
bisa timbul akibat yang sederhana bisa juga menimbulan akikat yang komplek.
Sebaliknya, sebab yang komplek bisa menimbulkan akibat yang komplek bisa pula
menimbulkan akibat cukup sederhana. Ada banyak masalah yang begitu terpecahkan
salahsatu diantaranya, terpecahkan seluruh masalahnya. Ada pula pemecahan suatu
masalah menimbulkan masalah lain. Upaya medis dalam penyembuhan penyakit
komplikatif mengilutrasikan hal ini.
Masalah dan penyebabnya secara kuantitatif bisa
tunggal bisa ganda, secara kualitatif bisa sederhana bisa komplek. Ditilik dari
ranahnya, ada masalah dan penyebab bersifat personal-komunal, jasmani-ruhani,
duniawi-ukhrawi. Diklasifikasi dari jenisnya, macam-macam masalah dan
penyebabnya sebanyak aspek kehidupan manusia: sosial, politik, ekonomi, budaya,
asmara, dan seterusnya. Dari segi waktu, ada yang kemarin, sekarang dan akan
datang. Keseluruhannya merupakan entitas dalam kehidupan.
Bahwa kehidupan manusia tak lepas dari masalah, itu
pasti. Meski sudah pasti, terlalu banyak yang berharap dan berdoa agar
kehidupannya terbebas sama sekali dari masalah. Harapan demikian tidak akan
pernah jadi kenyataan dan doa semacam itu nyaris tidak akan dikabulkan Tuhan.
Jika demikian, apakah Tuhan itu pelit hingga tidak berkenan mengabulkan doa
hamba-Nya atau sengaja mempersulit hamba-Nya dengan menghadirkan masalah dalam
kehidupan? Jawabnya sudah pasti: Tidak. Jika ada hamba-Nya yang berprasaka
seperti itu justru mengganda masalah: sudah masalahnya sulit dipecahkan plus
buruknya sangka kepada-Nya. Jalan menuju penyelesaian justru makin terjal dan
berliku.
Jika ada yang berprasangka Tuhan sengaja atau tidak
sengaja – mana ada Tuhan tidak sengaja – mempersulit hamba-Nya dengan
menimpakan masalah, jelas itu pikiran minal ghaawiin. Memangnya Tuhan hoby
mempersulit hamba-Nya apa?!
Bahwa Allah selalu Maha Baik kepada seluruh hamba-Nya,
sementara tidak semua hamba selalu baik kepada-Nya adalah kenyataan tak
terbantahkan. Penghadiran masalah dalam kehidupan menjadi media bagi tumbuh-kembangnya
kemampuan menjalani kehidupan; menjadi cobaan dan ujian dalam mendaki ke tangga
prestasi duniawi dan ukhrawi; sebagai sarana tumbuh-kembangnya kesadaran
kehambaan kepada tuannya. Hadirnya masalah juga menjadi salahsatu cara Allah
berkomunikasi dan mendekati hamba-Nya dan sebaliknya, sebagai media komunikasi
dan pendekatan hamba kepada Sang Khalik. Penimpaan masalah juga menjadi test
case seberapa besar ketaatan, keistiqamahan, dan kesyukuran. Butir-butir makna
yang terkandung dalam Qs. ‘Alam Nashrah lebih dari cukup menjelaskan hal ini.
Setiap masalah pasti ada jalan keluar dan hikmahnya. Fainna ma’al ‘usri yusraa.
Inna ma’al ‘usri yusraa, maka mendekatlah, curhatlah, mengadulah, mintalah,
mohonlah, mendambalah, hanya kepada-Nya. Jangan sekalipun kepada selain-Nya.
Wallahua‘lam bishshawab.
