KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Selasa, 03 November 2020

Sakitnya Hati

 

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Manusia makhluk multidimensi. Kehidupannya mengkait banyak sisi, tak sedikit faktor yang mempengaruhi. Beraneka jalan ceritanya, berbagai macam sudut pandangnya, warna-warni romatikanya. Keseluruhannya berbingkai berpasangan: lahir-batin, kaya-miskin, sukses-gagal, sehat-sakit, suka-duka, bahagia-celaka, dan seterusnya. Kedua bingkai silih berganti mengiringi dan menghiasi liku-liku kehidupan manusia. Masing-masing pasangan patuh dan tertib menjalankan tugasnya. Menafikan salahsatunya hanyalah perbuatan sia-sia. Lebih dari sia-sia, berbuah derita. Demikianlah kehidupan disurat, berproses meruang dan mewaktu.

Secara substanstif kedua bingkai ada dalam waktu bersamaan. Secara teknis keduanya berbagi waktu dan tugas dengan harmonis. Masing-masing tak pernah egois, juga tidak mau saling mengikis. Suka dengan duka, misalnya. Ketika duka berkunjung ke rumah kehidupan, dengan setia suka menunggu giliran berkunjung kemudian, demikian Gede Prama menutur.

Merujuk  ijtihadnya Agus Musthofa, keduanya telah disurat, dicipta bersamaan. Hanya waktu dan tempat perjumpaan dengan hati dan pikiran yang beda. Beliau mengilustrasikan dengan posisi penjual balon, penjual kue, penjual aksesori yang berada di sisi kiri-kanan eskalator lantai sebuah mall.

Setelah seseorang start naik eskalator, sesaat kemudian melewati penjual balon. Seantara kemudian berjumpa penjual kue, seantara lagi bertemu penjual aksesori, demikian seterusnya hinnga finish di pintu keluar. Para penjual di kiri kanan eskalator telah ada sejak eskalator pertama kali bergerak, bahkan sebelum seseorang masuk mall. Perjumpaan pengguna eskalator dengan masing-masing penjual yang tidak sama waktunya.

Hanya manusia serakah yang maunya mengambil sesisi keidupan, yang lain maunya dienyahkan. Maunya senang terus tanpa susah sekali pun. Inginnnya sukses terus tak mau gagal sekali pun. Sehat terus tak pernah sakit sebentar pun. Kalau bisa.

Tidak seorang pun yang tak pernah sakit. Soal penerimaan terhadap sakit, tergantung masing-masing. Ada yang merasakan sakit karena memang sakit. Ada yang merasa sehat, meski sebenarnya sakit. Diantara yang merasakan sakit, ada yang sudah mampu berdamai dengan rasa sakit, tidak sedikit yang sering bertikai dengan rasa sakit. Satu diantaranya, dengan sakit hati.

Orang yang sakit hati itu, hatinya sedang sakit. Orang sakit itu tidak sehat, karena mengidap penyakit. Ketika hati sakit sedemikian, Si Pesakitan cenderung fokus pada rasanya, bukan pada penyebab timbulnya rasa sakit. Berbagai upaya dilakukan untuk mengusir sakit. Tak sedikit yang mencari kesembuhan di luar dirinya, yang diperolah justru bertambahnya derita. Sakit hati yang meningkat jadi dendam -- apalagi berkualitas kesumat -- merepresentasikan keadaan ini.

Ketika dendam telah terbalas, Pendendam merasa sakitnya sudah terobati. Puas dan bahagia karena yang ‘sana’ sudah cukup menderita akibat pembalasannya. Penyakit yang menyebabkan sakit hati dikira sudah hilang. Rasa puas dan bahagia atas terbalasnya dendam sama sekali bukanlah indikator sehatnya hati.

Analisa psikologis justru memaparkan sebaliknya. Hati yang puas karena dendamnya terbalas justru imun, keras dan terkunci rapat terhadap kesembuhan yang sebenarnya. Hati yang keras tidak dapat menyemaikan benih kebaikan dan kebenaran dari dalam. Juga tidak mau menerima kebaikan dan kebenaran yang datang dari luar. Betapa parahnya kondisi demikian.

Bagi yang tidak lupa, tentu ingat. Hati cuma satu, penyakit hati lebih dari tujuh. Dari yang ringan hingga yang berat. Dari yang jelas hingga yang samar, baik yang berasal dari dalam ataupun dari luar. Semua penyakit hati kelakuannya 11-12: suka menipu dan sering membelenggu. Ketika hati sedang tertipu penyakit, Si Pesakitan merasa sehat. Merasa baik, merasa benar dan tidak pernah merasa salah. Sewaktu hati dibelenggu penyakit, Si Sakit merasa tidak berdaya melepas atau menyembukan penyakit.

Jika demikian bagaimana cara menyembuhkan sakit hati? Jawabannya tentu tidak sesederhana pertanyaannya. Proses penyembuhannya bisa tidak secepat harapannya, meski tidak menutup kemungkinan sebaliknya. Dalam petitih Jawa diungkap: ora ana barang kang mokal lamun Gusti kang Ngersaake (Tidak ada hal yang mustahil jika Allah yang menghendaki).

Gede Prama bertutur filosofis: Memaafkan membebaskan. Memaafkan menyembukan. Memaafkan membebaskan pemberi dan penerima maaf. Pemberi sembuh dari sakit hati, penerima terbebas dari beban moral. Abah KH. Musthofa Bisri sudah mencontohkan berulang. Kasus viralnya penghinaan dua netizen terhadap beliau lebih dari cukup menjadi tauladan bagi mereka yang hatinya sedang sakit dan ingin sembuh. Dalam beberapa kesempatan beliau menyampaikan: “Salahmu wis tak ngapura saknaliko awakmu  berbuat salah marang Aku. Mulane yen awakmu pingin mersalah, mersalaha karo Aku wae” (Salahmu sudah saya maafkan seketika dirimu berbuat salah kepadaku. Maka jika dirimu ingin berbuat salah, berbuat salahlah kepadaku saja).

Cara lain tentu ada. Al Qur’an maupun Hadits Rasulullah tak sedikit memuat formula penyembuhan hati bagi mereka yang sedang, sering tertipu, atau terbelenggu penyakit hati. Wallahua’lam bishshawab.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman