Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Manusia makhluk multidimensi. Kehidupannya mengkait
banyak sisi, tak sedikit faktor yang mempengaruhi. Beraneka jalan ceritanya,
berbagai macam sudut pandangnya, warna-warni romatikanya. Keseluruhannya
berbingkai berpasangan: lahir-batin, kaya-miskin, sukses-gagal, sehat-sakit,
suka-duka, bahagia-celaka, dan seterusnya. Kedua bingkai silih berganti
mengiringi dan menghiasi liku-liku kehidupan manusia. Masing-masing pasangan
patuh dan tertib menjalankan tugasnya. Menafikan salahsatunya hanyalah
perbuatan sia-sia. Lebih dari sia-sia, berbuah derita. Demikianlah kehidupan
disurat, berproses meruang dan mewaktu.
Secara substanstif kedua bingkai ada dalam waktu
bersamaan. Secara teknis keduanya berbagi waktu dan tugas dengan harmonis.
Masing-masing tak pernah egois, juga tidak mau saling mengikis. Suka dengan
duka, misalnya. Ketika duka berkunjung ke rumah kehidupan, dengan setia suka
menunggu giliran berkunjung kemudian, demikian Gede Prama menutur.
Merujuk ijtihadnya Agus Musthofa, keduanya telah disurat, dicipta bersamaan.
Hanya waktu dan tempat perjumpaan dengan hati dan pikiran yang beda. Beliau
mengilustrasikan dengan posisi penjual balon, penjual kue, penjual aksesori
yang berada di sisi kiri-kanan eskalator lantai sebuah mall.
Setelah seseorang start naik eskalator, sesaat
kemudian melewati penjual balon. Seantara kemudian berjumpa penjual kue,
seantara lagi bertemu penjual aksesori, demikian seterusnya hinnga finish di
pintu keluar. Para penjual di kiri kanan eskalator telah ada sejak eskalator
pertama kali bergerak, bahkan sebelum seseorang masuk mall. Perjumpaan pengguna
eskalator dengan masing-masing penjual yang tidak sama waktunya.
Hanya manusia serakah yang maunya mengambil sesisi
keidupan, yang lain maunya dienyahkan. Maunya senang terus tanpa susah sekali
pun. Inginnnya sukses terus tak mau gagal sekali pun. Sehat terus tak pernah
sakit sebentar pun. Kalau bisa.
Tidak seorang pun yang tak pernah sakit. Soal
penerimaan terhadap sakit, tergantung masing-masing. Ada yang merasakan sakit
karena memang sakit. Ada yang merasa sehat, meski sebenarnya sakit. Diantara
yang merasakan sakit, ada yang sudah mampu berdamai dengan rasa sakit, tidak
sedikit yang sering bertikai dengan rasa sakit. Satu diantaranya, dengan sakit
hati.
Orang yang sakit hati itu, hatinya sedang sakit. Orang
sakit itu tidak sehat, karena mengidap penyakit. Ketika hati sakit sedemikian,
Si Pesakitan cenderung fokus pada rasanya, bukan pada penyebab timbulnya rasa
sakit. Berbagai upaya dilakukan untuk mengusir sakit. Tak sedikit yang mencari
kesembuhan di luar dirinya, yang diperolah justru bertambahnya derita. Sakit
hati yang meningkat jadi dendam -- apalagi berkualitas kesumat --
merepresentasikan keadaan ini.
Ketika dendam telah terbalas, Pendendam merasa
sakitnya sudah terobati. Puas dan bahagia karena yang ‘sana’ sudah cukup
menderita akibat pembalasannya. Penyakit yang menyebabkan sakit hati dikira
sudah hilang. Rasa puas dan bahagia atas terbalasnya dendam sama sekali
bukanlah indikator sehatnya hati.
Analisa psikologis justru memaparkan sebaliknya. Hati
yang puas karena dendamnya terbalas justru imun, keras dan terkunci rapat
terhadap kesembuhan yang sebenarnya. Hati yang keras tidak dapat menyemaikan
benih kebaikan dan kebenaran dari dalam. Juga tidak mau menerima kebaikan dan
kebenaran yang datang dari luar. Betapa parahnya kondisi demikian.
Bagi yang tidak lupa, tentu ingat. Hati cuma satu,
penyakit hati lebih dari tujuh. Dari yang ringan hingga yang berat. Dari yang
jelas hingga yang samar, baik yang berasal dari dalam ataupun dari luar. Semua
penyakit hati kelakuannya 11-12: suka menipu dan sering membelenggu. Ketika
hati sedang tertipu penyakit, Si Pesakitan merasa sehat. Merasa baik, merasa
benar dan tidak pernah merasa salah. Sewaktu hati dibelenggu penyakit, Si Sakit
merasa tidak berdaya melepas atau menyembukan penyakit.
Jika demikian bagaimana cara menyembuhkan sakit hati?
Jawabannya tentu tidak sesederhana pertanyaannya. Proses penyembuhannya bisa
tidak secepat harapannya, meski tidak menutup kemungkinan sebaliknya. Dalam
petitih Jawa diungkap: ora ana barang kang mokal lamun Gusti kang Ngersaake
(Tidak ada hal yang mustahil jika Allah yang menghendaki).
Gede Prama bertutur filosofis: Memaafkan membebaskan.
Memaafkan menyembukan. Memaafkan membebaskan pemberi dan penerima maaf. Pemberi
sembuh dari sakit hati, penerima terbebas dari beban moral. Abah KH. Musthofa
Bisri sudah mencontohkan berulang. Kasus viralnya penghinaan dua netizen
terhadap beliau lebih dari cukup menjadi tauladan bagi mereka yang hatinya
sedang sakit dan ingin sembuh. Dalam beberapa kesempatan beliau menyampaikan:
“Salahmu wis tak ngapura saknaliko awakmu
berbuat salah marang Aku. Mulane yen awakmu pingin mersalah, mersalaha
karo Aku wae” (Salahmu sudah saya maafkan seketika dirimu berbuat salah
kepadaku. Maka jika dirimu ingin berbuat salah, berbuat salahlah kepadaku
saja).
Cara lain tentu ada. Al Qur’an maupun Hadits
Rasulullah tak sedikit memuat formula penyembuhan hati bagi mereka yang sedang,
sering tertipu, atau terbelenggu penyakit hati. Wallahua’lam bishshawab.
