KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Rabu, 07 Oktober 2020

Wangkot


 Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Berapa harga dirimu? Pertanyaan ini sederhana tetapi jawabannya rumit dan njlimet. Walaupun pertanyaannya “berapa harga”, jawabnya pasti bukan sekian rupiah, sekian dolar atau sekian ringgit. Pertanyaan ini makin njlimet jawabannya dengan mengganti satu huruf saja: Berapa harga diriku?

Pakar Psikologi ada yang memilah harga diri ke dalam tiga tingkatan: rendah, sedang dan tinggi. Ada pula yang memilah jadi dua: positif dan negatif; tinggi dan rendah. Perlu mengernyitkan dahi untuk memahami pemilahan tersebut. Juga perlu berpikir dengan konsentrasi tinggi apakah harga diri Anda, menurut Anda sendiri, termasuk kategori tinggi, sedang, rendah, positif atau negatif. Apa pun kategorinya, harga diri lazimnya merujuk pada suara hati, nilai-nilai moral dan ajaran agama sebagai rujukan.

Dalam keseharian ada yang menyamakan gengsi dengan harga diri. Dalam KBBI satu di antara arti kata gengsi ialah harga diri. Benarkah sama? Berbedakah?

Tindakan yang urung dilakukan karena tidak seirama dengan hati nurani atau nilai moral yang luhur misalnya, dapat disebabkan menjaga harga diri atau menjaga gengsi. Rasionalitasnya, harga diri atau gengsi menurun apabila perbuatan yang tidak mengenakkan hati karena bertentangan dengan moralitas terlanjur dilakukan. Jadi, gengsi dan harga diri sama-sama berada dalam satu klaster beda karakter.

Harga diri lebih bersifat intrapersonal, otonom dan rasional, menyangkut seberapa ‘nilai’ dan ‘makna’ jati diri yang diberikan kepada diri sendiri. Suatu pencitraan*) yang dilakukan secara sadar dalam merancang sikap, ucapan dan tindakan.

Gengsi memiliki kecenderungan bersifat antarpersonal, kontekstual dan emosional yang membandingkan ‘harga’ diri sendiri dengan ‘harga’ diri orang lain. Suatu pencitraan yang dilakukan secara spontan dan emosional. “Jika aku mengenakan pakaian model terbaru berharga mahal di tengah mereka yang mengenakan T-shirt, naiklah gengsiku, karena aku tampil penuh wibawa di hadapan mereka” menunjukkan contoh perbandingan ‘harga’ dimaksud. Dalam logika ini casing (penampilan) dipersepsikan lebih menentukan gengsi dibanding kualitas kepribadian.

Contoh lain, senior yang diingatkan yunior karena tindakannya tidak sejalan dengan etika publik atau ajaran agama. Ketika senior menerima masukan yunior dan menyadari yang sebenarnya terjadi, berarti masih menjaga sekaligus meninggikan harga dirinya. Senior tidak merasa harga dirinya turun karena diingatkan yunior, bahkan berterima kasih. Ketika senior menolak masukan karena datangnya dari yunior, walaupun itu baik dan benar,  gengsilah yang sedang terjadi. Gengsi itu saudara seibu lain ayah dengan sombong, sedang harga diri tak memiliki hubungan nasab dengan kesombongan.

Gengsi potensial berkembang jadi penyakit hati akut, cenderung mengesampingkan rasionalitas dan memantik emosionalitas. Dampaknya sangat dalam dan meluas, mengena diri sendiri dan orang lain. Hati berproses mengeras, mengerak dan membatu sehingga sulit menerima kebaikan dan kebenaran dari pihak lain. Jika tidak ada upaya penyembuhan akan tumbuh menjadi superiority complex.

Pengidap superiority complex imajinasinya melambung, terbang melayang-layang di awan kesombongan tak berkesudahan. Pandangannya selalu ke atas, tak sebentar pun mau menoleh ke kiri atau ke kanan, apalagi ke bawah. Menatap setiap orang penuh kesombongan dan keangkuhan.

Abah KH. Mustofa Bisri mengistilahkan gengsi dengan Wangkot. Kosa kata bahasa Jawa yang mencitrakan dirinya kamil, melihat orang lain tampak kecil, kerdil, dekil, yang tak memiliki kebaikan, kebenaran, ataupun kelebihan walau secuil. Pada waktu yang sama menolak setiap kebaikan dan kebenaran yang datang dari luar. Abu Jahal dan Abu Lahab bukan tidak tahu kebaikan dan kebenaran ajaran yang dibawa Muhammad SAW. Tahu persis. Tapi karena wangkot, hatinya mengeras dan membatu, sikapnya berjuntai kebencian dan rakus kehormatan, perilakunya selalu mempertontonkan keangkuhan dan kesombongan. Kebaikan dan kebenaran tak mampu menyentuh kulitnya, apalagi menembus ke dalam sanubarinya. Wallahua‘lam.

 

*)   Dalam Psikologi pencitraan bermakna positif-konstruktif dalam proses pembentukan jati diri. Dalam politik praktis bias jadi negatif karena upaya ‘membaikkan’ diri dilakukan secara artifisial.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman