(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Berapa harga dirimu? Pertanyaan ini sederhana tetapi
jawabannya rumit dan njlimet. Walaupun pertanyaannya “berapa harga”,
jawabnya pasti bukan sekian rupiah, sekian dolar atau sekian ringgit.
Pertanyaan ini makin njlimet jawabannya dengan mengganti satu huruf
saja: Berapa harga diriku?
Pakar Psikologi ada yang memilah harga diri ke dalam
tiga tingkatan: rendah, sedang dan tinggi. Ada pula yang memilah jadi dua:
positif dan negatif; tinggi dan rendah. Perlu mengernyitkan dahi untuk memahami
pemilahan tersebut. Juga perlu berpikir dengan konsentrasi tinggi apakah harga
diri Anda, menurut Anda sendiri, termasuk kategori tinggi, sedang, rendah,
positif atau negatif. Apa pun kategorinya, harga diri lazimnya merujuk pada
suara hati, nilai-nilai moral dan ajaran agama sebagai rujukan.
Dalam keseharian ada yang menyamakan gengsi dengan
harga diri. Dalam KBBI satu di antara arti kata gengsi ialah harga diri. Benarkah
sama? Berbedakah?
Tindakan yang urung dilakukan karena tidak seirama
dengan hati nurani atau nilai moral yang luhur misalnya, dapat disebabkan
menjaga harga diri atau menjaga gengsi. Rasionalitasnya, harga diri atau gengsi
menurun apabila perbuatan yang tidak mengenakkan hati karena bertentangan
dengan moralitas terlanjur dilakukan. Jadi, gengsi dan harga diri sama-sama
berada dalam satu klaster beda karakter.
Harga diri lebih bersifat intrapersonal, otonom dan
rasional, menyangkut seberapa ‘nilai’ dan ‘makna’ jati diri yang diberikan
kepada diri sendiri. Suatu pencitraan*) yang dilakukan secara sadar dalam
merancang sikap, ucapan dan tindakan.
Gengsi memiliki kecenderungan bersifat antarpersonal,
kontekstual dan emosional yang membandingkan ‘harga’ diri sendiri dengan
‘harga’ diri orang lain. Suatu pencitraan yang dilakukan secara spontan dan
emosional. “Jika aku mengenakan pakaian model terbaru berharga mahal di tengah
mereka yang mengenakan T-shirt, naiklah gengsiku, karena aku tampil penuh
wibawa di hadapan mereka” menunjukkan contoh perbandingan ‘harga’ dimaksud.
Dalam logika ini casing (penampilan) dipersepsikan lebih menentukan
gengsi dibanding kualitas kepribadian.
Contoh lain, senior yang diingatkan yunior karena
tindakannya tidak sejalan dengan etika publik atau ajaran agama. Ketika senior
menerima masukan yunior dan menyadari yang sebenarnya terjadi, berarti masih
menjaga sekaligus meninggikan harga dirinya. Senior tidak merasa harga dirinya
turun karena diingatkan yunior, bahkan berterima kasih. Ketika senior menolak
masukan karena datangnya dari yunior, walaupun itu baik dan benar, gengsilah yang sedang terjadi. Gengsi itu
saudara seibu lain ayah dengan sombong, sedang harga diri tak memiliki hubungan
nasab dengan kesombongan.
Gengsi potensial berkembang jadi penyakit hati akut,
cenderung mengesampingkan rasionalitas dan memantik emosionalitas. Dampaknya
sangat dalam dan meluas, mengena diri sendiri dan orang lain. Hati berproses
mengeras, mengerak dan membatu sehingga sulit menerima kebaikan dan kebenaran
dari pihak lain. Jika tidak ada upaya penyembuhan akan tumbuh menjadi
superiority complex.
Pengidap superiority complex imajinasinya melambung,
terbang melayang-layang di awan kesombongan tak berkesudahan. Pandangannya
selalu ke atas, tak sebentar pun mau menoleh ke kiri atau ke kanan, apalagi ke
bawah. Menatap setiap orang penuh kesombongan dan keangkuhan.
Abah KH. Mustofa Bisri mengistilahkan gengsi dengan
Wangkot. Kosa kata bahasa Jawa yang mencitrakan dirinya kamil, melihat orang
lain tampak kecil, kerdil, dekil, yang tak memiliki kebaikan, kebenaran,
ataupun kelebihan walau secuil. Pada waktu yang sama menolak setiap kebaikan
dan kebenaran yang datang dari luar. Abu Jahal dan Abu Lahab bukan tidak tahu
kebaikan dan kebenaran ajaran yang dibawa Muhammad SAW. Tahu persis. Tapi
karena wangkot, hatinya mengeras dan membatu, sikapnya berjuntai kebencian dan
rakus kehormatan, perilakunya selalu mempertontonkan keangkuhan dan
kesombongan. Kebaikan dan kebenaran tak mampu menyentuh kulitnya, apalagi
menembus ke dalam sanubarinya. Wallahua‘lam.
*) Dalam Psikologi pencitraan
bermakna positif-konstruktif dalam proses pembentukan jati diri. Dalam politik
praktis bias jadi negatif karena upaya ‘membaikkan’ diri dilakukan secara
artifisial.
