KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Kamis, 08 Oktober 2020

Urgensi Nafkah Batin bagi Kebahagiaan Pasutri

 

Dr. Muslich Taman, Lc., M.Pd.I.

(Penulis Buku 30 Pilar Keluarga Bahagia)

 

Dengan judul tulisan agak vulgar dan sensitif ini, saya berharap semoga ia banyak memberikan kebaikan dan manfaat. Terutama, demi terwujudnya keharmonisan dan kebahagiaan bagi setiap pasangan suami istri (pasutri) yang membacanya.

Dari perspektif agama, nafkah batin dalam kehidupan rumah tangga, sesungguhnya bukan sekadar dipandang sebagai pemenuhan kewajiban atas hak pasangannya. Atau, semata sebagai pemenuhan kebutuhan biologis atau hiburan psikologis yang menyenangkan bagi masing-masing pasangan. Tetapi yang tak kalah penting dari itu, ia juga bentuk ibadah yang sarat dengan pahala dan keutamaan di sisi Allah SWT, yang dapat melahirkan keharmonisan dan kebahagiaan lahir batin dalam kehidupan berumah tangga.

Karena pentingnya nafkah batin dalam kehidupan rumah tangga, Islam memberikan begitu banyak perhatian dan sekaligus bimbingan terkait dengannya. Salah satunya, Allah berfirman:

فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

 

“Apabila mereka (istri-istri kalian) telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang senantiasa mensucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)

Dalam ayat selanjutnya, Allah menyatakan:

 نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ 

"Istri-istri kalian adalah (seperti) taman ladang kalian, maka datangilah taman ladang tempat bercocok kalian itu, bagaimana saja yang kalian kehendaki." (Al-Baqarah: 223)

Rasulullah SAW juga bersabda:

"Bagi kalian, dalam hal berhubungan badan dengan pasangan hidup kalian, mendapatkan pahala." (HR. Muslim dan Ahmad)

Selain itu ada kisah menarik dari sahabat Rasulullah yang bernama Salman, tatkala Salman berziarah ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian seadanya yang tampak kusut. Melihat keadaan tersebut, sebagai sesama sahabat, Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan engkau seperti itu?” Istri Abu Darda menjawab, “Saudaramu, Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada urusan keduniaan (berhubungan badan).”

Tidak berselang lama, Abu Darda’ pun datang, dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai, Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Silakan makanlah, saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan, sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan (membatalkan puasanya). Saat datang waktu malam, Abu Darda’ segera bangun untuk mengerjakan shalat malam. Melihat hal itu, Salman berkata padanya, “Tidurlah. Silahkan istirahat!” Abu Darda’ pun, kemudian tidur kembali.

Ketika belum berselang lama, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam, Salman lagi-lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga tiba akhir malam, Salman kemudian berkata kepadanya, “Bangunlah!” Lalu mereka shalat malam bersama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi Rabb (Tuhan)-mu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“

Selanjutnya, saat datang siang, Abu Darda’ segera mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu menceritakan apa yang terjadi terkait dirinya bersama Salman. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Al-Bukhari)

Begitulah Islam. Agama yang sangat menjaga keseimbangan antara orentasi duniawi dan ukhrawi. Membimbing pemeluknya agar menjalani hidup yang bisa membawanya pada kebahagiaan, tidak hanya di akhirat tetapi juga di dunia. Bahagia pribadinya, bahagia keluarganya, dan juga bahagia masyarakat yang hidup bersamanya.

Imam Ibnul Qayyim punya perhatian khusus dalam masalah ini, dalam kitabnya, Zadul Maad, beliau menjelaskan, bahwa di antara manfaat hubungan seks bagi suami istri adalah dapat memelihara kesehatan, menyempurnakan kenikmatan, menentramkan perasaan, dan memudahkan tercapainya tujuan.

Begitu juga, beberapa hasil riset modern banyak mendukung hal-hal di atas, di antaranya menyatakan, hubungan suami istri yang baik dan optimal, dapat semakin meningkatkan keharmonisan sekaligus kesehatan masing-masing pasangan suami istri. Ia dapat meningkatkan sistem imun, mengurangi stress, menurunkan tekanan darah, dan menyebabkan ketenangan.

Mengingat begitu urgennya masalah ini, Imam Ibnu Hazm, sebagaimana yang dikutip Syaikh Kamil Uwaidah dalam buku Al-Jami' fi Fiqhi An-Nisa mengatakan, bahwa wajib hukumnya bagi setiap suami yang mampu melakukannya, agar menyampuri istrinya minimal sekali pada masa sucinya. Dan jika hal itu tidak dilakukan, maka sungguh suami telah bermaksiat kepada Allah, tegasnya. Adapun terkait berapa kali maksimalnya, hal itu tergantung keadaan dan kebutuhan masing-masing pasutri yang ada. Tidak ada ketentuan khusus dalam masalah tersebut. Sebagaimana wajib bagi suami memberikan nafkah batin ini kepada istrinya, maka wajib pula bagi istri untuk memenuhi ajakan suami saat ia membutuhkan pelayanan hal tersebut darinya.

Hubungan badan pasutri, mustahil terbangun dengan baik tanpa menjadikan kasih sayang  dan ketulusan sebagai pondasi kokohnya. Lebih dari itu, hubungan badan pasutri, tanpa rasa kasih sayang dan ketulusan untuk saling memberikan kebahagiaan kepada pasangannya, akan menjadi sebatas pelampiasan birahi yang tidak banyak manfaatnya. Bahkan, bisa saja sebaliknya, ia menjadi aktivitas yang penuh beban dan menyakitkan. Karena ia hanya bersatu dalam raga, tanpa jiwa. Berpelukan sebatas lahir, tanpa batin. Dekat secara fisik, tanpa perasaan dan kelembutan. Sejatinya, kehangatan kontak badan (seksual) pasutri tidak mungkin terjadi, sebelum ada pertemuan dalam akal pikiran terlebih dahulu, yaitu didahului adanya sikap penerimaan jiwa pasutri, dan hasrat kuat melakukan hubungan, yang dilandasi dorongan cinta atau kasih sayang di antara keduanya.

Jika hubungan badan pasutri tidak berlangsung dalam koredor cinta atau kasih sayang timbal-balik, hubungan ini tentu akan dapat berubah menjadi siksaan yang mendera partner secara timbal balik pula. Seharusnya, hubungan badan menjadi momentum total untuk mengekspresikan cinta dan kasih sayang pasutri, untuk membuktikannya bagi pasangannya, dan bukan sekadar aktivitas menggugurkan kewajiban, atau jalan pintas membebaskan diri dari godaan nafsu, atau penyaluran hasrat untuk mendapatkan kehangatan tubuh saja. Dengan demikian, diharapkan keduanya benar-benar berhasil mendapatkan kesegaran pikiran dan perasaan, yang kemudian menghantarkannya merasa bersemangat, penuh gairah, bersyukur, dan bahagia.

Keluarga yang banyak didambakan pasutri bukanlah keluarga yang hanya menghabiskan waktunya untuk menjalani rutinitas kerja sehari-hari. Terlalu serius dan monoton. Meskipun, barangkali dengan rutinitas yang ada itu, mereka berhasil menggapai sukses materi, dengan banyak harta dan tinggi jabatan, atau mungkin meraih pujian dari orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Islam telah memberikan banyak petunjuk yang membimbing dan mengarahkan kepada keluarga muslim agar senantiasa menjaga keseimbangan kesibukan duniawi dan ukhrawi. Yaitu keseimbangan kesuksesan di dunia dan akhirat. Termasuk, bagaimana cara menikmati hari-hari kehidupan berumah tangga yang romantis penuh cinta dan kasih sayang bersama sang pasangan.

Sebagai penutup, ada pelajaran dari Abu Darda` untuk pembaca semua, demi kelanggengan dan kebahagiaan dalam berumah tangga. Abu Darda` berkata kepada istrinya (Ummu Darda`) Radhiyallahu Anhuma, “Jika saya marah, kamu bujuk dan mengalahlah kepadaku. Dan jika kamu marah, maka saya pun akan bujuk dan mengalah padamu. Jika (hal ini) tidak (kita lakukan), niscaya kita tidak akan sanggup untuk terus bersama.” Wallahu a`lam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman