KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Rabu, 14 Oktober 2020

Bahasa Bunga

 

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Allah, Dzat Maha Indah dan menyukai keindahan. Keindahan-Nya memancar ke seluruh penjuru semesta, hanglimputi – membungkus dan menyelusup – semua yang ada, yang tampak maupun yang tersembunyi, yang masih hidup maupun yang telah mati, duniawi maupun ukhrawi.

Seluruh makhluk Allah cipta dalam grand design sangat indah, secara koneksial maupun individual. Bagaimana uap air dari permukaan laut, sungai, tetumbuhan, dan salju di puncak gunung, bahkan dari keringat tubuh kita, berpindah ke atmosfer membentuk awan. Energi matahari menggerakkan awan dari titik vertikalnya jadi rintik hujan ke tempat-tempat sesuai roadmap-nya. Dengan air hujan tanah kering jadi subur, benih-benih tumbuh menghijau, mengindahkan pandangan mata. Atau, dua sejoli yang jatuh asmara beranjak ke pelaminan membentuk keluarga, yang dari keduanya Allah karuniakan indahnya rasa dalam komunikasi, interaksi, dan reproduksi.

Secara individu, bagaimana gagrag (wadag) manusia secara keseluruhan didesain sedemikian apik. Kepala di atas, tubuh bagian tengah, kaki di bawah. Coba kalau posisi vertikalnya terbalik. Konstruksi muka pun demikian serasi. Kedua telinga, mata, pipi, dan bibir berposisi simetris. Bayangkan salah satu atau semuanya asimetris. Hidung berlubang simetris menghadap ke bawah, berposisi antara kedua mata, kedua pipi, jidat dan bibir. Pernahkah terbayangkan lubang hidung terletak di punggung? Keindahan mana lagi yang tak terjustifikasi.

Selain konstruksi wadag yang demikian indah, manusia berfitrah menyukai keindahan. Fitrah ini merupakan gen rabbani yang built-in ketika ditiupkan ruh-Nya semasa proses penciptaan. Sebagaimana spare part lain dalam diri manusia, gen suka keindahan ada yang tumbuh progresif, konstruktif, produktif -- yang kemudian secara sosiologis membentuk klaster seniman -- ada yang perkembangannya minimalis stagnan. Alis tumbuhnya tak sama dengan kumis. Meski demikian jangan keburu mengklaim jika senimanlah yang lebih dekat kepada Yang Maha Indah ketimbang klaster sosiologis lainnya. Bahwa Allah itu Maha Seniman, rasanya tak satu pun pasal menyangkal.

Bunga, satu dari bertriliun makhluk yang istikamah berdzikir kepada-Nya, menayang kemaharahmanrahim-Nya. Bunga-bunga bermekaran di taman sari, indah merona menyambut mentari pagi, sembari bergoyang ditiup angin spoi. Tak henti bertasbih memanjat puji, melangitkan keindahan menanda keagungan Dzat Yang Maha Suci. Tak peduli apakah manusia yang terkenal sombong itu mau mengerti, apatah mengikuti.

Lebah dan kupu-kupu datang pergi silih berganti, membantu bunga dalam penyerbukan dan pembuahan. Lebah menghisap nektar yang disediakan bunga untuk diproses jadi obat berbagai penyakit manusia. Kedua pihak saling berterima kasih tanpa merasa telah berjasa di antara mereka, atas nama melaksanakan tugas Yang Maha Segalanya. Sebuah interaksi kosmik berkecerdasan sistemik melampaui kemauan dan kemampuan makhluk paling mulia bernama manusia.

Tamu yang berkunjung dikalungi bunga, menanda penghormatan dan keagungannya. Ada yang mengutarakan isi hati dengan sekuntum bunga. Gadis cantik sekampung dinobatkan sebagai bunga desa. Mereka yang jatuh cinta hatinya berbunga-bunga. Pengantin dikalungi bunga, menambah molek parasnya, menebar keharuman suasana, membingkai kebahagiaan yang dirasakan dan dibagikannya. Peziarah ada yang menempatkan bunga di atas pusara, berharap aromanya mempermudah melangitnya doa. Keindahan dan keharuman bunga berwajah damai dan mempesona. Itulah kenapa banyak orang menyukai bunga, tak sedikit yang suka berkunjung ke taman  bunga, berharap berkah keindahan dan kebahagiaan yang dipancarkannya.

Keikhlasan bunga melampaui manusia. Ketika butuh, ke manapun dicari, berapapun harga dibayar, dipuja-puja  – dulu Gelombang Cinta pernah jadi idola, sekarang si Rondo Bolong sedang menggoda – demi puasnya rasa. Setelah itu kuntum bunga dibuang begitu saja, tanpa sepatah ucap terima kasih kepadanya. Berkat keikhlasan tanpa batas, meski jadi sampah tetap membawa berkah. Sampah bunga melaksanakan tugas berikutnya jadi humus yang menyuburkan tanaman untuk kebutuhan manusia.

Bunga-bunga melantar pesan semesta, mencerdaskan nalar dan membaguskan budi manusia. Di mana, kapan, dan apa pun namanya, bunga-bunga istikamah memberi tausiah. Bunga Plastik mengingatkan agar bersikap dan bertindak realistik. Hanya manusia bodoh yang mengikuti intrik bunga Plastik, membungkus kepalsuan dengan kostum sangat menarik. Bunga Bangkai mengajari fokus berbagi makna tanpa memandang nama. Bunga beracun berpesan agar tak mengikuti jejaknya. Di balik penampilan indahnya, tersimpan racun mematikan. Hanya manusia dungu yang berperilaku laiknya bunga beracun.

Rumah yang berhiaskan bunga begitu mempesona, meresonansi kebahagiaan dan kedamaian penghuninya. Mereka yang memahami bahasa bunga mampu menangkap komunikasi dan merespon interaksi supranaturalnya. Pikiran sengkarut diurainya, hati yang keras dilembutkannya, perangai buruk dibaikkannya, muka cemberut dicerahkannya. Di ketika itu pula bunga berbisik lembut kepada manusia yang mau dan mampu menangkapnya: “Perbuatlah sepertiku yang selalu memancarkan keindahan, menebar kedamaian, berbagi kebahagiaan buat siapa saja. Jangan lupa senantiasa bertasbih memanjat puji kepada Khalikmu”. Wallahua’lam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman