Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Allah, Dzat Maha Indah dan menyukai keindahan.
Keindahan-Nya memancar ke seluruh penjuru semesta, hanglimputi –
membungkus dan menyelusup – semua yang ada, yang tampak maupun yang
tersembunyi, yang masih hidup maupun yang telah mati, duniawi maupun ukhrawi.
Seluruh makhluk Allah cipta dalam grand design
sangat indah, secara koneksial maupun individual. Bagaimana uap air dari
permukaan laut, sungai, tetumbuhan, dan salju di puncak gunung, bahkan dari
keringat tubuh kita, berpindah ke atmosfer membentuk awan. Energi matahari
menggerakkan awan dari titik vertikalnya jadi rintik hujan ke tempat-tempat
sesuai roadmap-nya. Dengan air hujan tanah kering jadi subur,
benih-benih tumbuh menghijau, mengindahkan pandangan mata. Atau, dua sejoli
yang jatuh asmara beranjak ke pelaminan membentuk keluarga, yang dari keduanya
Allah karuniakan indahnya rasa dalam komunikasi, interaksi, dan reproduksi.
Secara individu, bagaimana gagrag (wadag)
manusia secara keseluruhan didesain sedemikian apik. Kepala di atas, tubuh
bagian tengah, kaki di bawah. Coba kalau posisi vertikalnya terbalik.
Konstruksi muka pun demikian serasi. Kedua telinga, mata, pipi, dan bibir
berposisi simetris. Bayangkan salah satu atau semuanya asimetris. Hidung
berlubang simetris menghadap ke bawah, berposisi antara kedua mata, kedua pipi,
jidat dan bibir. Pernahkah terbayangkan lubang hidung terletak di punggung?
Keindahan mana lagi yang tak terjustifikasi.
Selain konstruksi wadag yang demikian indah, manusia
berfitrah menyukai keindahan. Fitrah ini merupakan gen rabbani yang built-in
ketika ditiupkan ruh-Nya semasa proses penciptaan. Sebagaimana spare part
lain dalam diri manusia, gen suka keindahan ada yang tumbuh progresif,
konstruktif, produktif -- yang kemudian secara sosiologis membentuk klaster
seniman -- ada yang perkembangannya minimalis stagnan. Alis tumbuhnya tak sama
dengan kumis. Meski demikian jangan keburu mengklaim jika senimanlah yang lebih
dekat kepada Yang Maha Indah ketimbang klaster sosiologis lainnya. Bahwa Allah
itu Maha Seniman, rasanya tak satu pun pasal menyangkal.
Bunga, satu dari bertriliun makhluk yang istikamah
berdzikir kepada-Nya, menayang kemaharahmanrahim-Nya. Bunga-bunga bermekaran di
taman sari, indah merona menyambut mentari pagi, sembari bergoyang ditiup angin
spoi. Tak henti bertasbih memanjat puji, melangitkan keindahan menanda
keagungan Dzat Yang Maha Suci. Tak peduli apakah manusia yang terkenal sombong
itu mau mengerti, apatah mengikuti.
Lebah dan kupu-kupu datang pergi silih berganti,
membantu bunga dalam penyerbukan dan pembuahan. Lebah menghisap nektar yang
disediakan bunga untuk diproses jadi obat berbagai penyakit manusia. Kedua
pihak saling berterima kasih tanpa merasa telah berjasa di antara mereka, atas
nama melaksanakan tugas Yang Maha Segalanya. Sebuah interaksi kosmik
berkecerdasan sistemik melampaui kemauan dan kemampuan makhluk paling mulia
bernama manusia.
Tamu yang berkunjung dikalungi bunga, menanda
penghormatan dan keagungannya. Ada yang mengutarakan isi hati dengan sekuntum
bunga. Gadis cantik sekampung dinobatkan sebagai bunga desa. Mereka yang jatuh
cinta hatinya berbunga-bunga. Pengantin dikalungi bunga, menambah molek
parasnya, menebar keharuman suasana, membingkai kebahagiaan yang dirasakan dan
dibagikannya. Peziarah ada yang menempatkan bunga di atas pusara, berharap
aromanya mempermudah melangitnya doa. Keindahan dan keharuman bunga berwajah
damai dan mempesona. Itulah kenapa banyak orang menyukai bunga, tak sedikit
yang suka berkunjung ke taman bunga,
berharap berkah keindahan dan kebahagiaan yang dipancarkannya.
Keikhlasan bunga melampaui manusia. Ketika butuh, ke
manapun dicari, berapapun harga dibayar, dipuja-puja – dulu Gelombang Cinta pernah jadi idola,
sekarang si Rondo Bolong sedang menggoda – demi puasnya rasa. Setelah itu
kuntum bunga dibuang begitu saja, tanpa sepatah ucap terima kasih kepadanya.
Berkat keikhlasan tanpa batas, meski jadi sampah tetap membawa berkah. Sampah
bunga melaksanakan tugas berikutnya jadi humus yang menyuburkan tanaman untuk
kebutuhan manusia.
Bunga-bunga melantar pesan semesta, mencerdaskan nalar
dan membaguskan budi manusia. Di mana, kapan, dan apa pun namanya, bunga-bunga
istikamah memberi tausiah. Bunga Plastik mengingatkan agar bersikap dan
bertindak realistik. Hanya manusia bodoh yang mengikuti intrik bunga Plastik,
membungkus kepalsuan dengan kostum sangat menarik. Bunga Bangkai mengajari
fokus berbagi makna tanpa memandang nama. Bunga beracun berpesan agar tak
mengikuti jejaknya. Di balik penampilan indahnya, tersimpan racun mematikan.
Hanya manusia dungu yang berperilaku laiknya bunga beracun.
Rumah yang berhiaskan bunga begitu mempesona,
meresonansi kebahagiaan dan kedamaian penghuninya. Mereka yang memahami bahasa
bunga mampu menangkap komunikasi dan merespon interaksi supranaturalnya.
Pikiran sengkarut diurainya, hati yang keras dilembutkannya, perangai buruk
dibaikkannya, muka cemberut dicerahkannya. Di ketika itu pula bunga berbisik
lembut kepada manusia yang mau dan mampu menangkapnya: “Perbuatlah sepertiku
yang selalu memancarkan keindahan, menebar kedamaian, berbagi kebahagiaan buat
siapa saja. Jangan lupa senantiasa bertasbih memanjat puji kepada Khalikmu”.
Wallahua’lam.
