(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Sewaktu belajar Matematika di SD maupun SLTP, sudut
menjadi salah satu materi pembelajaran. Di tingkatan ini pembelajaran sudut
diawali dari yang berderajat besar: 30, 45 , 90, dll. Atau dari
bentuk-bentuknya: lancip, tumpul, sama sisi, dsb-nya. Besar kecilnya derajat
suatu sudut berkorelasi dengan areanya. Jika besar kecilnya derajat sudut ini
digunakan untuk memandang suatu objek, juga korelatif dengan viewnya. Sudut
yang dibuat dari selembar kertas dibentuk melingkar mengerucut dan dipotong
bagian pangkalnya untuk ‘ngintip’ suatu objek menjadi konfirmasi terhadap hal
ini.
Sederhananya, terdapat 360 buah sudut dari yang berderajat
1 sampai yang berderajat 360. Hal ini menjelaskan adanya gradasi view suatu
objek jika di ‘intip’ dari besaran derajat sudut yang berbeda. Makin besar
derajat suatu sudut makin luas viewnya, demikian logika matematik.
Sudut dalam Ilmu Matematika yang ditransfer ke Ilmu
Filsafat, jumlahnya lebih dari 360 buah. Sudut dalam matematika tersebut dalam
diskursus filosofis baru berada di aras dimensi 1, jika dimensi yang digunakan
bertambah akan menghasilkan kelipatannya. Dengan pendekatan transformasi dari
matematika ke filsafat maka kalkulasinya adalah: sudut dalam dimensi 1 = 360
buah, dalam dimensi 2 = 360 buah, sudut dalam dimensi 3 = 360 buah. Dari 3
dimensi ini saja jumlahnya: 360 x 3 = 1.080 sudut. Demikian seterusnya, dan
jika dalam matematika suatu sudut berkorelasi dengan viewnya, maka dalam
kehidupan sosial, politik, budaya, bahkan agama, konsep ini mengalami
transformasi menjadi Sudut Pandang, yang juga berkorelasi dengan viewnya.
Secara terminologis Sudut Pandang berhimpit tipis
dengan Cara Pandang, sebagai pendekatan ‘dari mana’ dan ‘bagaimana’ suatu objek
dilihat dengan mata kepala maupun mata hati atau pikiran. Hal ini mengingatkan
cerita sejumlah orang buta yang meraba bagian yang berbeda dari tubuh seekor
gajah. Suatu objek tunggal dipandang dari sudut yang berbeda menghasilkan view
atau informasi atau pengertian atau pemahaman atau hikmah yang tidak sama, tapi
harus dan memang objeknya adalah tunggal. Belum lagi ‘mata’ yang digunakan.
Terkait hal yang terakhir ini, kondisi ‘mata’ akan
berpengaruh dan berkorelasi dengan kejelasan atau kerincian atau keluasan atau
kejernihan atau kedalaman objek yang dipandang. Sampai di sini saya teringat
tausiah Al Mukarrom KH. Syarofuddin ketika mBadali[1] Abah KH. Ahmad Mustofa Bisri dalam ngaji
kilatan[2]
bulan Ramadlan 1438 yang baru lalu.
Beliau mengisahkan, seluruh penduduk desa berdo’a
memohon hujan di tengah teriknya kemarau panjang. Ketika do’a dikabulkan Allah
tentu mereka mensyukuri-Nya. Namun ketika hujan turun hingga menyebabkan banjir
setinggi dada di dalam rumah, ‘sudut pandang’ mereka tidak lagi sama: sebagian
dari mereka tak henti-hentinya mengeluh karena memandangnya sebagai bencana;
rumah berantakan, sebagian perabotan rumah rusak, tidak bisa kerja seperti
biasanya, dan kalau banjir surut tambah pekerjaan yang tidak ada upahnya. Gusti...
Gusti...?! Temandang menehi udan ae ko’ ora uwis-uwis, malah nganti banjir
nisan. Gustialah iki karepe mboh piye?
Udan elah neng ora nganti banjir lek gene?! (Ya Tuhan...?! Niat
memberi hujan saja kok terus-terusan, malah sampai banjir. Gusti Allah ini
maunya bagaimana sih? Memberi hujan tapi tidak sampai banjir kenapa?).
Di antara mereka ada yang menyikapinya dengan biasa
saja atas dasar pemikiran, ada musim kemarau ada musim hujan. Kemarau yang
panjang mengakibatkan kesulitan mendapatkan air sedemikian rupa sedang musim
hujan yang berintensitas tinggi wajar jika menyebabkan banjir. Kemarau tidak
selamanya, banjir pun sama. Musim kemarau tidak mungkin eksis tanpa musim hujan
dan sebaliknya. Musim hujan tidak akan dan tidak bisa meniadakan musim kemarau
dan sebaliknya.
Ada pula penduduk desa yang malah tidak henti-hentinya
bersyukur: Wah, malah kebeneran ora kangelan kerjo, gur thenguk-thenguk
bloko, idep-idep libur kerjo, entuk ransum mangan soko BPBD. Alhamdulillah, ko’
le loma temen Gusti Allah kuwi, wong ngirimi banyu ko’ yo semene okehe. Ngene
iki nek tuku nganggo mobil tengki terus pirang atus tengki? Njur duwite piro?
Alhamdulillah, bocah-bocah senenge rak mekakat, ciblon gak leren-leren, gak
usah nggawe kolam renang tur gratis. (Wah, malah kebetulan sekali tidak
usah kerja, cuma nganggur saja, hitung-hitung libur kerja, dapat ransum makan
dari BPBD. Alhamdulillah, Gusti Allah memang Maha Pemurah, orang mengirimi air
segini banyaknya. Kalau beli pakai mobil tangki terus berapa tangki? Berapa
banyak uangnya? Alhamdulillah, anak-anak riang bukan kepalang, bermain air tak
henti-hentinya, tidak usah bikin kolam renang dan gratis lagi).
Sebenarnya masih banyak lagi sudut pandang yang bisa
dieksplor, setingkat kelimitan derajat sudut pandang yang digunakan. Ketiga
sampel tersebut sekedar mebantu pemahaman betapa sudut pandang demikian
beragam: golongan pertama memaki-maki Allah karena tidak sesuai dengan
keinginannya, golongan kedua memahami dan menerima ‘otoritas’-Nya, sementara
golongan ketiga memuji-muji Allah karena kemurahan dan betapa besar kasih dan
sayang-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.
