KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Rabu, 02 September 2020

Sudut Pandang


Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

 

Sewaktu belajar Matematika di SD maupun SLTP, sudut menjadi salah satu materi pembelajaran. Di tingkatan ini pembelajaran sudut diawali dari yang berderajat besar: 30, 45 , 90, dll. Atau dari bentuk-bentuknya: lancip, tumpul, sama sisi, dsb-nya. Besar kecilnya derajat suatu sudut berkorelasi dengan areanya. Jika besar kecilnya derajat sudut ini digunakan untuk memandang suatu objek, juga korelatif dengan viewnya. Sudut yang dibuat dari selembar kertas dibentuk melingkar mengerucut dan dipotong bagian pangkalnya untuk ‘ngintip’ suatu objek menjadi konfirmasi terhadap hal ini.

Sederhananya, terdapat 360 buah sudut dari yang berderajat 1 sampai yang berderajat 360. Hal ini menjelaskan adanya gradasi view suatu objek jika di ‘intip’ dari besaran derajat sudut yang berbeda. Makin besar derajat suatu sudut makin luas viewnya, demikian logika matematik.

Sudut dalam Ilmu Matematika yang ditransfer ke Ilmu Filsafat, jumlahnya lebih dari 360 buah. Sudut dalam matematika tersebut dalam diskursus filosofis baru berada di aras dimensi 1, jika dimensi yang digunakan bertambah akan menghasilkan kelipatannya. Dengan pendekatan transformasi dari matematika ke filsafat maka kalkulasinya adalah: sudut dalam dimensi 1 = 360 buah, dalam dimensi 2 = 360 buah, sudut dalam dimensi 3 = 360 buah. Dari 3 dimensi ini saja jumlahnya: 360 x 3 = 1.080 sudut. Demikian seterusnya, dan jika dalam matematika suatu sudut berkorelasi dengan viewnya, maka dalam kehidupan sosial, politik, budaya, bahkan agama, konsep ini mengalami transformasi menjadi Sudut Pandang, yang juga berkorelasi dengan viewnya.

Secara terminologis Sudut Pandang berhimpit tipis dengan Cara Pandang, sebagai pendekatan ‘dari mana’ dan ‘bagaimana’ suatu objek dilihat dengan mata kepala maupun mata hati atau pikiran. Hal ini mengingatkan cerita sejumlah orang buta yang meraba bagian yang berbeda dari tubuh seekor gajah. Suatu objek tunggal dipandang dari sudut yang berbeda menghasilkan view atau informasi atau pengertian atau pemahaman atau hikmah yang tidak sama, tapi harus dan memang objeknya adalah tunggal. Belum lagi ‘mata’ yang digunakan.

Terkait hal yang terakhir ini, kondisi ‘mata’ akan berpengaruh dan berkorelasi dengan kejelasan atau kerincian atau keluasan atau kejernihan atau kedalaman objek yang dipandang. Sampai di sini saya teringat tausiah Al Mukarrom KH. Syarofuddin ketika mBadali[1]  Abah KH. Ahmad Mustofa Bisri dalam ngaji kilatan[2] bulan Ramadlan 1438 yang baru lalu.

Beliau mengisahkan, seluruh penduduk desa berdo’a memohon hujan di tengah teriknya kemarau panjang. Ketika do’a dikabulkan Allah tentu mereka mensyukuri-Nya. Namun ketika hujan turun hingga menyebabkan banjir setinggi dada di dalam rumah, ‘sudut pandang’ mereka tidak lagi sama: sebagian dari mereka tak henti-hentinya mengeluh karena memandangnya sebagai bencana; rumah berantakan, sebagian perabotan rumah rusak, tidak bisa kerja seperti biasanya, dan kalau banjir surut tambah pekerjaan yang tidak ada upahnya. Gusti... Gusti...?! Temandang menehi udan ae ko’ ora uwis-uwis, malah nganti banjir nisan. Gustialah iki karepe mboh piye?  Udan elah neng ora nganti banjir lek gene?! (Ya Tuhan...?! Niat memberi hujan saja kok terus-terusan, malah sampai banjir. Gusti Allah ini maunya bagaimana sih? Memberi hujan tapi tidak sampai banjir kenapa?).

Di antara mereka ada yang menyikapinya dengan biasa saja atas dasar pemikiran, ada musim kemarau ada musim hujan. Kemarau yang panjang mengakibatkan kesulitan mendapatkan air sedemikian rupa sedang musim hujan yang berintensitas tinggi wajar jika menyebabkan banjir. Kemarau tidak selamanya, banjir pun sama. Musim kemarau tidak mungkin eksis tanpa musim hujan dan sebaliknya. Musim hujan tidak akan dan tidak bisa meniadakan musim kemarau dan sebaliknya.

Ada pula penduduk desa yang malah tidak henti-hentinya bersyukur: Wah, malah kebeneran ora kangelan kerjo, gur thenguk-thenguk bloko, idep-idep libur kerjo, entuk ransum mangan soko BPBD. Alhamdulillah, ko’ le loma temen Gusti Allah kuwi, wong ngirimi banyu ko’ yo semene okehe. Ngene iki nek tuku nganggo mobil tengki terus pirang atus tengki? Njur duwite piro? Alhamdulillah, bocah-bocah senenge rak mekakat, ciblon gak leren-leren, gak usah nggawe kolam renang tur gratis. (Wah, malah kebetulan sekali tidak usah kerja, cuma nganggur saja, hitung-hitung libur kerja, dapat ransum makan dari BPBD. Alhamdulillah, Gusti Allah memang Maha Pemurah, orang mengirimi air segini banyaknya. Kalau beli pakai mobil tangki terus berapa tangki? Berapa banyak uangnya? Alhamdulillah, anak-anak riang bukan kepalang, bermain air tak henti-hentinya, tidak usah bikin kolam renang dan gratis lagi).

Sebenarnya masih banyak lagi sudut pandang yang bisa dieksplor, setingkat kelimitan derajat sudut pandang yang digunakan. Ketiga sampel tersebut sekedar mebantu pemahaman betapa sudut pandang demikian beragam: golongan pertama memaki-maki Allah karena tidak sesuai dengan keinginannya, golongan kedua memahami dan menerima ‘otoritas’-Nya, sementara golongan ketiga memuji-muji Allah karena kemurahan dan betapa besar kasih dan sayang-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.



[1] Asisten pribadi yang menggantikan tugas dengan otoritas penuh.

[2] Mengaji di pesantren khusus program bulan ramadlan.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman