Dr. H. Munjahid, M.Ag.
(Dekan Fakultas Tarbiyah IIQ An-Nur Yogyakarta)
Posisi madrasah hingga saat ini masih termarginalkan.
Kedudukannya sebagai lembaga pendidikan berada di kelas dua. Secara umum,
posisi madrasah masih berada di bawah sekolah. Masih banyak masyarakat yang
belum mengenal madrasah. (Ara Hidayat dan Imam Machali, 2010: 271). Lebih-lebih
bagi sebagian madrasah swasta ada yang hanya mampu bertahan hidup, namun tidak
mampu berkembang secara signifikan. Kebanyakan madrasah hanya mampu mengekor
dan tidak mampu untuk maju. Walaupun ada sebagian madrasah yang sudah tidak
mampu menampung para peminatnya terutama madrasah-madrasah berbasis pesantren.
Namun demikian, ada pula sebagian madrasah yang hanya menjadi tempat “pelarian
terakhir” bagi calon peserta didik, setelah tidak diterima di berbagai sekolah.
Menurut mantan Menteri agama Suryadharma Ali, bahwa sejumlah hal yang dihadapi
oleh bidang pendidikan agama dan keagaamaan antara lain adalah masih rendahnya
kualitas dan daya saing madrasah dan perguruan tinggi agama dalam memberikan
layanan pendidikan. (Republika, Minggu, 4 Rabiul Akhir 1433 / 26 Pebruari 2012/
23:36).
Muslih Usa (2003) pernah menulis artikel dengan judul
"Madrasah Terpadu MTsN Malang I Meraih Keunggulan melalui Ketekunan dan
Kerja Keras". Menurutnya, bahwa Juara nasional yang diperoleh madrasah ini
karena adanya upaya yang sistematis dan terencana yang diwujudkan dengan suatu
kerja keras, kedisiplinan, pengorbanan, dan ditopang Pondok Pesantren Modern
Surya Buana (PPMSB) yang dimilikinya.
Aang Kunaepi (2006) menulis artikel dengan judul
"Pendekatan Total Quality Management (Revitalisasi dan Optimalisasi
Manajemen Madrasah Sebagai Pendidikan Islam, Menuju Pendidikan
Alternatif)". Menurutnya dalam menghadapi desentralisasi pendidikan,
sejumlah lembaga pendidikan telah mengadopsi suatu pendekatan yang digunakan
dalam kegiatan bisnis, yakni konsep Total Quality Management (TQM).
Hal tersebut juga penting diperhatikan dan diterapkan dalam lembaga-lembaga
pendidikan madrasah.
Amin Abdullah (2008) menulis “Pendidikan dan
Upaya Mencerdaskan Bangsa Kebijakan Pendidikan Islam dari Dakwah ke Akademik
dalam Tradisi Ilmiah dalam Masyarakat Islam: Sejarah, Institusi, dan Tantangan
Perubahan”. Menurutnya, Masuknya modernisme, revivalisme Islam
berimplikasi pada menebalnya semangat dan tekad untuk adanya kritik terhadap
dunia pesantren dan dunia pendidikan Islam secara umum. Di mata para revivalis,
dunia pesantren dengan model kontribusinya sesuai dengan konteks masa berdiri
dan berkembangnya, jika terus dipertahankan, tanpa kritisisme yang berarti,
justru akan melumpuhkan élan vital Islam itu sendiri yakni progresivitas
dan daya tawarnya terhadap tantangan zaman.
Marketing Mix
Marketing mix atau bauran pemasaran adalah serangkaian unsur-unsur pemasaran yang
dapat dikendalikan oleh perusahaan dan dipadukan sedemikian rupa sehingga dapat
mencapai tujuannya dalam pasar sasaran. (Lampiyoadi, Rambat & A. Hamdani
dalam Imam Machali dan Adhi Setiyawan (ed), 2010: 213). Dalam kontek
pendidikan, bauran pemasaran (marketing mix) adalah unsur-unsur yang
sangat penting dan dapat dipadukan sedemikian rupa, sehingga dapat menghasilkan
strategi pemasaran yang dapat digunakan untuk memenangkan persaingan.
Ada tujuh unsur yang terdapat dalam bauran pemasaran,
yang disingkat dengan 7P. Yang 4P tradisional digunakan dalam pemasaran barang
yaitu: produck (produk), yaitu jasa seperti apa yang ditawarkan; price
(harga), yaitu strategi penentuan harga; place (lokasi atau tempat), yaitu
di mana tempat jasa diberikan; promotion (promosi), yaitu bagaimana
promosi dilakukan. Sedangkan yang 3P sebagai perluasan bauran pemasaran terdiri
dari people (SDM), yaitu
kualitas, kualifikasi, dan kompetensi yang dimiliki oleh orang-orang
yang terlibat dalam pemberian jasa madrasah; physical evident (bukti
fisik), yaitu sarana prasarana seperti apa yang dimiliki; dan process
(proses), yaitu manajemen layanan pembelajaran yang diberikan. (Philip Kotler,
Thomas Hayes & Paul N. Bloom dalam Imam Machali dan Adhi Setiyawan (ed),
2010: 213).
Daftar Pustaka
Abdullah, Amin, Pendidikan dan Upaya
Mencerdaskan Bangsa Kebijakan Pendidikan Islam dari Dakwah ke Akademik,
dalam Kusmana JM. Muslimin (ed), Paradigma Baru Pendidikan Restropeksi dan
Proyeksi Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia). (Jakarta: IAIN
Indonesia Sosial Equity Project (IISEP) kerjasama dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam,
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Islam Departemen Agama RI, Cet. Pertama,
2008).
Hidayat, Ara dan Imam Machali, Pengelolaan
Pendidikan (Konsep, Prinsip, dan Aplikasi dalam Mengelola Sekolah dan Madrasah,
Bandung: Pustaka Educa, 2010: 271.
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tarbiyah/09/11/14/89175-menag-kualitas
madrasah -masih-rendah.
Kunaepi, Aang, Pendekatan Total Quality Management
(Revitalisasi dan Optimalisasi Manajemen Madrasah Sebagai Pendidikan Islam
Menuju Pendidikan Alternatif, dalam An-Nur Jurnal Studi Islam STIQ
An-Nur Yogyakarat, Vol. II, No. 4, Februari 2006.
Machali, Imam dan Adhi Setiyawan (ed), Antalogi
Pendidikan Islam, Yogyakarta: Fak. Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan
Kalijaga, 2010.
Tjiptono, Fandi & Anastasia Diana, Total
Quality Management, Yogyakarta, Penerbit ANDI, 2001.
Usa, Muslih, Madrasah Terpadu: MTsN Malang I Meraih Keunggulan melalui
Ketekunan dan Kerja Keras, dalam Jurnal Pendidikan Islam Konsep dan Implementasinya, Jurusan
Tarbiyah FIAI UII Yogyakarta, Vol. VIII TH VI Juni 2003.
