KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 21 September 2020

Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan Madrasah Berbasis Marketing Mix

 

Dr. H. Munjahid, M.Ag.

(Dekan Fakultas Tarbiyah IIQ An-Nur Yogyakarta)

 

Posisi madrasah hingga saat ini masih termarginalkan. Kedudukannya sebagai lembaga pendidikan berada di kelas dua. Secara umum, posisi madrasah masih berada di bawah sekolah. Masih banyak masyarakat yang belum mengenal madrasah. (Ara Hidayat dan Imam Machali, 2010: 271). Lebih-lebih bagi sebagian madrasah swasta ada yang hanya mampu bertahan hidup, namun tidak mampu berkembang secara signifikan. Kebanyakan madrasah hanya mampu mengekor dan tidak mampu untuk maju. Walaupun ada sebagian madrasah yang sudah tidak mampu menampung para peminatnya terutama madrasah-madrasah berbasis pesantren. Namun demikian, ada pula sebagian madrasah yang hanya menjadi tempat “pelarian terakhir” bagi calon peserta didik, setelah tidak diterima di berbagai sekolah. Menurut mantan Menteri agama Suryadharma Ali, bahwa sejumlah hal yang dihadapi oleh bidang pendidikan agama dan keagaamaan antara lain adalah masih rendahnya kualitas dan daya saing madrasah dan perguruan tinggi agama dalam memberikan layanan pendidikan. (Republika, Minggu, 4 Rabiul Akhir 1433 / 26 Pebruari 2012/ 23:36).

Muslih Usa (2003) pernah menulis artikel dengan judul "Madrasah Terpadu MTsN Malang I Meraih Keunggulan melalui Ketekunan dan Kerja Keras". Menurutnya, bahwa Juara nasional yang diperoleh madrasah ini karena adanya upaya yang sistematis dan terencana yang diwujudkan dengan suatu kerja keras, kedisiplinan, pengorbanan, dan ditopang Pondok Pesantren Modern Surya Buana (PPMSB) yang dimilikinya.

Aang Kunaepi (2006) menulis artikel dengan judul "Pendekatan Total Quality Management (Revitalisasi dan Optimalisasi Manajemen Madrasah Sebagai Pendidikan Islam, Menuju Pendidikan Alternatif)". Menurutnya dalam menghadapi desentralisasi pendidikan, sejumlah lembaga pendidikan telah mengadopsi suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan bisnis, yakni konsep Total Quality Management (TQM). Hal tersebut juga penting diperhatikan dan diterapkan dalam lembaga-lembaga pendidikan madrasah.

Amin Abdullah (2008) menulisPendidikan dan Upaya Mencerdaskan Bangsa Kebijakan Pendidikan Islam dari Dakwah ke Akademik dalam Tradisi Ilmiah dalam Masyarakat Islam: Sejarah, Institusi, dan Tantangan Perubahan”. Menurutnya, Masuknya modernisme, revivalisme Islam berimplikasi pada menebalnya semangat dan tekad untuk adanya kritik terhadap dunia pesantren dan dunia pendidikan Islam secara umum. Di mata para revivalis, dunia pesantren dengan model kontribusinya sesuai dengan konteks masa berdiri dan berkembangnya, jika terus dipertahankan, tanpa kritisisme yang berarti, justru akan melumpuhkan élan vital Islam itu sendiri yakni progresivitas dan daya tawarnya terhadap tantangan zaman.

Marketing Mix

Marketing mix atau bauran pemasaran adalah serangkaian unsur-unsur pemasaran yang dapat dikendalikan oleh perusahaan dan dipadukan sedemikian rupa sehingga dapat mencapai tujuannya dalam pasar sasaran. (Lampiyoadi, Rambat & A. Hamdani dalam Imam Machali dan Adhi Setiyawan (ed), 2010: 213). Dalam kontek pendidikan, bauran pemasaran (marketing mix) adalah unsur-unsur yang sangat penting dan dapat dipadukan sedemikian rupa, sehingga dapat menghasilkan strategi pemasaran yang dapat digunakan untuk memenangkan persaingan.

Ada tujuh unsur yang terdapat dalam bauran pemasaran, yang disingkat dengan 7P. Yang 4P tradisional digunakan dalam pemasaran barang yaitu:  produck (produk),  yaitu jasa seperti apa yang ditawarkan; price (harga), yaitu strategi penentuan harga; place (lokasi atau tempat), yaitu di mana tempat jasa diberikan; promotion (promosi), yaitu bagaimana promosi dilakukan. Sedangkan yang 3P sebagai perluasan bauran pemasaran terdiri dari people (SDM), yaitu  kualitas, kualifikasi, dan kompetensi yang dimiliki oleh orang-orang yang terlibat dalam pemberian jasa madrasah; physical evident (bukti fisik), yaitu sarana prasarana seperti apa yang dimiliki; dan process (proses), yaitu manajemen layanan pembelajaran yang diberikan. (Philip Kotler, Thomas Hayes & Paul N. Bloom dalam Imam Machali dan Adhi Setiyawan (ed), 2010: 213).

 

Daftar Pustaka

Abdullah, Amin, Pendidikan dan Upaya Mencerdaskan Bangsa Kebijakan Pendidikan Islam dari Dakwah ke Akademik, dalam Kusmana JM. Muslimin (ed), Paradigma Baru Pendidikan Restropeksi dan Proyeksi Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia). (Jakarta: IAIN Indonesia Sosial Equity Project (IISEP) kerjasama dengan  Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Islam Departemen Agama RI, Cet. Pertama, 2008).

Hidayat, Ara dan Imam Machali, Pengelolaan Pendidikan (Konsep, Prinsip, dan Aplikasi dalam Mengelola Sekolah dan Madrasah, Bandung: Pustaka Educa, 2010: 271.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tarbiyah/09/11/14/89175-menag-kualitas madrasah -masih-rendah.

Kunaepi, Aang, Pendekatan Total Quality Management (Revitalisasi dan Optimalisasi Manajemen Madrasah Sebagai Pendidikan Islam Menuju Pendidikan Alternatif, dalam An-Nur Jurnal Studi Islam STIQ An-Nur Yogyakarat, Vol. II, No. 4, Februari 2006.

Machali, Imam dan Adhi Setiyawan (ed), Antalogi Pendidikan Islam, Yogyakarta: Fak. Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, 2010.

Tjiptono, Fandi & Anastasia Diana, Total Quality Management, Yogyakarta, Penerbit ANDI,  2001.

Usa, Muslih, Madrasah Terpadu: MTsN Malang I Meraih Keunggulan melalui Ketekunan dan Kerja Keras, dalam Jurnal Pendidikan Islam Konsep dan Implementasinya, Jurusan Tarbiyah FIAI UII Yogyakarta, Vol. VIII TH VI Juni 2003.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman