Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Lepas dari simpulan diskusi para ahli abad berapa
Islam masuk Nusantara, kafilah dari mana yang membawa, peran Walisanga dalam
penyebaran Islam di Jawa sangat besar. Sebagaimana di pulau-pulau Nusantara
lainnya, penyebaran dan perkembangan Islam berlangsung evolusif dan asimilatif.
Selain sebagai agama rahmatan lil’alamin kedua pendekatan ini digunakan
Walisanga agar tidak terjadi ‘benturan’ keyakinan antara Islam dengan
agama-agama yang lebih dulu ada, sekaligus menghindarkan terjadinya ‘bentrokan’
antara umat Islam dengan penganut agama lain. Meski demikian, akidah Islam
tetap tegak berdiri berdemarkasi sangat jelas dan tegas.
Para wali menggunakan kebudayaan sebagai media dakwah,
searah tuntunan dakwah bilhikmah wal mauidzatil hasanah, sekalian menyesuaikan
karakter masyarakat Jawa yang dikenal lemah lembut. Dengan cara demikian
terbentuklah masyarakat multi kultural yang menjadi landscape terbentuknya
tatanan sosial berbineka tunggal ika. Sunan Giri menciptakan tembang bergenre
macapat, asmarandana dan tembang dolanan. Sunan Kalijaga selain dakwah
bermediakan gamelan dan wayang, juga menciptakan kidung Rumeksa ing Wengi.
Esensi ketauhidan oleh para wali dicasing dalam seni pertunjukan sehingga mudah
menyebar dan mudah diterima masyarakat.
Sebagian pemerhati menarasikan belum selesainya
islamisasi yang dilakukan Walisanga. Pendapat ini layak dihormati berdasark
fakta masih adanya praktik keislaman singkretik dalam masyarakat Jawa. Sebagian
lagi berupaya melestarikan gagrag (wadag) kebudayaan Jawa, bersubstansi ajaran
islam dalam kemasan Islam Nusantara. Bukan berarti menganggap islamisasi yang
dilakukan Walisanga telah selesai, mazhab ini bisa menerima pengamalan
keislaman bercorak Nusantara. Frasa Arab digaram, Jawa digawa sering
‘diperdengarkan’ mazhab ini, sebagai penjelas fleksibilitas ajaran Islam
berdampingan dengan kearifan lokal.
Ritus Kidung
Kidung sebagai ngelmu diperoleh melalui ‘ijazah’ dari
guru. Ijazah didapat setelah berhasil menjalani laku tirakat yang ditentukan
guru. Setelah lulus, baru boleh
mengamalkan kidung dan tersemat identitas kultural sebagai juru/tukang kidung.
Pengamalan kidung tanpa digurukan dan tanpa ijazah ketidakberkahan kidung yang
dibaca atau ditulis, tertimpanya bala, hingga terganggunya jiwa juru kidung.
Selain ijazah seorang pengidung juga disyaratkan
memiliki kecakapan teknis membaca, melantunkan, atau menyalin kidung. Ada
kidung berkonten cerita andhupara (fiktif), kaweruh kasunyatan (ilmu tentang
ada), ngelmu kanuragan (ilmu kesaktian), ngelmu tetamban (ilmu penyembuhan),
ruwatan tolak bala, dan doa untuk keperluan tertentu. Kidung yang dilantunkan
disesuaikan antara konten dengan jenis tembang. Kidung berkonten doa menyertai
kelahiran manusia dilantunkan dengan tembang sinom; kidung untuk mendoakan
ketenangan jabang bayi dilantunkan dengan tembang asmarandana; untuk mengusir
bangsa lelembut menggunakan tembang pangkur, dan seterusnya.
Ketika seseorang hendak melaksanakan hajat
mengkhitankan anaknya misalnya, disyaratkan menyiapkan sesaji sebelum kidung
dibacakan. Bahan sesaji yang utama terdiri suroh temu rose (daun sirih berurat
simetris), kembang telon (tiga macam bunga), dan gedang rojo setangkep (pisang
raja dua sisir), dan bisa bertambah sesuai jenis kidung yang hendak dibacakan.
Dalam adat jawa sesaji menyimbolkan permohonan
terkabulnya doa yang dipanjat kepada Tuhan. Daun sirih bertemu uratnya (suroh
temu rose) dimaknai permohonan suasana kebatinan pemangku hajat dengan para
pihak dalam keselarasan rasa sehingga mewujud dalam tata kehidupan penuh
harmoni dan ketenenteraman. Tiga macam bunga (kembang telon) mengandung dua
makna: bunga yang identik keindahan dan wewangian menyimbolkan permohonan
terwujudnya kehidupan penuh keberkahan serta terkabulnya tiga anugerah, sugih
ngelmu, sugih bondho, sugih ngamal (kaya ilmu, kaya harta, kaya amal kebaikan).
Pisang raja mengandung maksud terkabulnya anugerah menjadi ‘raja’ terhadap diri
sendiri, ataupun tercapainya ‘kuasa’ atau ‘wibawa’ dalam kehidupan bermasyarakat.
Ritual Kidung
Ritual kidung di Pati selatan saat ini makin
terpinggirkan oleh budaya kekinian. Kondisinya lebih mengenaskan dibanding seni
tradisonal ketoprak, wayang kulit maupun tayub. Ketoprak, wayang kulit dan
tayub relatif mampu bertahan di tengah gencarnya budaya populer karena
kemampuannya menyesuaikan diri dengan unsur-unsur seni modern. Penambahan
instrumen seperti keyboard, bas dan gitar elektrik, maupun drum ke dalam paket
gamelan menjadi ‘kekuatan’ pendukung
bertahannya seni tradisional tersebut. Dengan instrumen tersebut pula,
lagu-lagu bergenre dangdut, pop, maupun kasidah dapat disajikan.
Sekurangnya ada empat faktor penyebabnya: pertama,
perhatian dan ‘kebutuhan’ masyarakat terhadap kidung makin berkurang sebagai
dampak samping masifnya budaya pop. Kedua, makin berkembangnya pola hidup pragmatis dan pola
pikir rasional yang mempersepsikan kidung sebagai sesuatu yang berbau klenik
dan irrasional. Ketiga, kesulitan seni kidung beradaptasi dengan instrumen
musik modern. Keempat, makin langkanya juru kidung atau komponen masyarakat
yang ‘berjuang’ melestarikan seni kidung.
Ritual pembacaan kidung menyesuaikan hajat
pemangkunya. Mulai dari hajat selamatan mengiringi kelahiran; doa mohon
keselamatan, ketenangan dan ketenteraman hidup; hajat tolak bala dan
penyembuhan; hingga hajat meraih ilmu kanuragan dan kewaskitaan. Jenis kidung
yang dibacakan juga menyesuaikan kepentingan pemangkunya. Ritual kidung yang
masih eksis di masyarakat Pati selatan kebanyakan untuk keperluan ruwatan,
semacam doa tolak bala dan mohon keselamatan.
Menunjuk beberapa contoh, hajat selamatan kelahiran
dibacakan Kidungan Palairaning Manungsa, Pangrukiting Ari-ari, Purwojati; hajat
mohon keselamatan, ketenangan dan ketenteraman hidup, dibacakan Kidungan Sawabe
Nabi Wali atau disebut kidung Purwajati Sunan Kali Jaga; hajat tolak bala dan
penyembuhan dibacakan Kidungan Rajah Kalacakra, Tulak Sarap Sawan, Sesingga;
hajat meraih ilmu kanuragan dengan membaca Kidungan Padhayangan,
Aji Megananda; hajat meraih ilmu kawasikatan dibacakan Kidungan Purwa
Madya Wasana atau Kidungan Sifat Iman.
Ki Jaswadi menjelaskan urutan pelaksanaan ritual
kidung sebagai berikut:
Pertama, menentukan waktu pelaksanaan dengan
memperhitungkan hari lahir pemangku hajat yang dikorelasikan dengan bulan,
tanggal serta hari pelaksanaan.
Keduan, menyiapkan tempat. Tempat ritual ditentukan
oleh pemangku hajat, di rumah sendiri atau di tempat tertentu.
Ketiga, menyiapkan sesaji. Jenis dan rincian sesaji
ada yang ditentukan oleh juru kidung sesuai pakem berdasarkan jenis hajatnya,
ada pula yang ditentukan sendiri oleh pemangku hajat. Penyiapan sesaji ini
terkait dengan besaran biaya pengadaan bahan-bahan sesaji. Dengan
mempertimbangkan hal tersebut ada toleransi untuk menyiapkan sesaji minimalis
yaitu daun sirih, kembang telon, dan pisang raja.
Keempat, pelaksanaan ritual pembacaan kidung. Pemanku
hajat yang juga juru kidung dapat membacakan sendiri. Bagi pemangku hajat yang
tidak memiliki legitimasi spiritual, dapat minta bantuan kepada juru kidung.
Pembacaan kidung dalam paket acara tunggal, dilakukan
setelah persiapan teknis mencukupi. Pembacaan kidung yang dikolaborasikan
dengan seni pertunjukan ketoprak, wayang kulit, atau tayub, teknisnya
dikoordinasikan dengan manajemen pertunjukan.
Kelima, ucapan terima kasih pemangku hajat. Ucapan
terima kasih ada yang berupa ‘sesulih’ ala kadarnya. Juru kidung sediri tidak
menentukan besaran, mengingat tugas menjadi juru kidung telah diyakini sebagai
panggilan jiwa dalam membantu sesama.
Akhirul Kalam
Keprihatinan mendalam sementara kalangan terhadap
makin meredupnya vitalitas seni tradisional sangat bisa dipahami. Cipta, rasa
dan karya leluhur bernilai adiluhung makin terpinggirkan oleh kemajuan sain dan
teknologi. Rasionalitas mengoyak keluhuran nilai dan rasa kemanusiaan.
Kebudayaan tradisional makin aus tergerus derasnya arus jaman. Tak terkecuali
budaya tradisional bernafas Islam. Dalam bahasa Mark Horkheimer, akal budi
obyektif mengalami reduksi cukup dahsyat menjadi akal budi instrumentalis
(Sindhunata, 1983 : 99), menenggelamkan manusia dalam pola dan gaya hidup serba
pragmatis, instan dan hedonis. Wallahua’lam.
Referensi:
https://www.naqsdna.com/2017/10/arti-kidung-wahyu-kolosebo.html?m=1.
https://kangmaksum.wordpress.com/tag/kidung-rumeksa-ing-wengi-dan-terjemahannya/.
https://journal.walisongo.ac.id/index.php/teologia/article/view/394/360.
https://www.researchgate.net/Kidung_Tunjung_Biru).
https://www. researchgate.net/publication/338649245).
https://id.wikipedia.org/wiki/Kidung.
KBBI, daring.
R. Tanojo. 1966. Kidungan Purwajati. Surakarta:
TP. Pelajar.
Sindhunata. 1983. Dilema Usaha Manusia Rasional.
Jakarta: Gramedia.
Wawancara dengan Ki Jaswadi.
