KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Rabu, 16 September 2020

Kidung dalam Ritual Adat di Pati Selatan (Bagian 2 dari 2 Tulisan)

 

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Lepas dari simpulan diskusi para ahli abad berapa Islam masuk Nusantara, kafilah dari mana yang membawa, peran Walisanga dalam penyebaran Islam di Jawa sangat besar. Sebagaimana di pulau-pulau Nusantara lainnya, penyebaran dan perkembangan Islam berlangsung evolusif dan asimilatif. Selain sebagai agama rahmatan lil’alamin kedua pendekatan ini digunakan Walisanga agar tidak terjadi ‘benturan’ keyakinan antara Islam dengan agama-agama yang lebih dulu ada, sekaligus menghindarkan terjadinya ‘bentrokan’ antara umat Islam dengan penganut agama lain. Meski demikian, akidah Islam tetap tegak berdiri berdemarkasi sangat jelas dan tegas.

Para wali menggunakan kebudayaan sebagai media dakwah, searah tuntunan dakwah bilhikmah wal mauidzatil hasanah, sekalian menyesuaikan karakter masyarakat Jawa yang dikenal lemah lembut. Dengan cara demikian terbentuklah masyarakat multi kultural yang menjadi landscape terbentuknya tatanan sosial berbineka tunggal ika. Sunan Giri menciptakan tembang bergenre macapat, asmarandana dan tembang dolanan. Sunan Kalijaga selain dakwah bermediakan gamelan dan wayang, juga menciptakan kidung Rumeksa ing Wengi. Esensi ketauhidan oleh para wali dicasing dalam seni pertunjukan sehingga mudah menyebar dan mudah diterima masyarakat.

Sebagian pemerhati menarasikan belum selesainya islamisasi yang dilakukan Walisanga. Pendapat ini layak dihormati berdasark fakta masih adanya praktik keislaman singkretik dalam masyarakat Jawa. Sebagian lagi berupaya melestarikan gagrag (wadag) kebudayaan Jawa, bersubstansi ajaran islam dalam kemasan Islam Nusantara. Bukan berarti menganggap islamisasi yang dilakukan Walisanga telah selesai, mazhab ini bisa menerima pengamalan keislaman bercorak Nusantara. Frasa Arab digaram, Jawa digawa sering ‘diperdengarkan’ mazhab ini, sebagai penjelas fleksibilitas ajaran Islam berdampingan dengan kearifan lokal.

Ritus Kidung

Kidung sebagai ngelmu diperoleh melalui ‘ijazah’ dari guru. Ijazah didapat setelah berhasil menjalani laku tirakat yang ditentukan guru. Setelah lulus,  baru boleh mengamalkan kidung dan tersemat identitas kultural sebagai juru/tukang kidung. Pengamalan kidung tanpa digurukan dan tanpa ijazah ketidakberkahan kidung yang dibaca atau ditulis, tertimpanya bala, hingga terganggunya jiwa juru kidung.

Selain ijazah seorang pengidung juga disyaratkan memiliki kecakapan teknis membaca, melantunkan, atau menyalin kidung. Ada kidung berkonten cerita andhupara (fiktif), kaweruh kasunyatan (ilmu tentang ada), ngelmu kanuragan (ilmu kesaktian), ngelmu tetamban (ilmu penyembuhan), ruwatan tolak bala, dan doa untuk keperluan tertentu. Kidung yang dilantunkan disesuaikan antara konten dengan jenis tembang. Kidung berkonten doa menyertai kelahiran manusia dilantunkan dengan tembang sinom; kidung untuk mendoakan ketenangan jabang bayi dilantunkan dengan tembang asmarandana; untuk mengusir bangsa lelembut menggunakan tembang pangkur, dan seterusnya.

Ketika seseorang hendak melaksanakan hajat mengkhitankan anaknya misalnya, disyaratkan menyiapkan sesaji sebelum kidung dibacakan. Bahan sesaji yang utama terdiri suroh temu rose (daun sirih berurat simetris), kembang telon (tiga macam bunga), dan gedang rojo setangkep (pisang raja dua sisir), dan bisa bertambah sesuai jenis kidung yang hendak dibacakan.

Dalam adat jawa sesaji menyimbolkan permohonan terkabulnya doa yang dipanjat kepada Tuhan. Daun sirih bertemu uratnya (suroh temu rose) dimaknai permohonan suasana kebatinan pemangku hajat dengan para pihak dalam keselarasan rasa sehingga mewujud dalam tata kehidupan penuh harmoni dan ketenenteraman. Tiga macam bunga (kembang telon) mengandung dua makna: bunga yang identik keindahan dan wewangian menyimbolkan permohonan terwujudnya kehidupan penuh keberkahan serta terkabulnya tiga anugerah, sugih ngelmu, sugih bondho, sugih ngamal (kaya ilmu, kaya harta, kaya amal kebaikan). Pisang raja mengandung maksud terkabulnya anugerah menjadi ‘raja’ terhadap diri sendiri, ataupun tercapainya ‘kuasa’ atau ‘wibawa’  dalam kehidupan bermasyarakat.

Ritual Kidung

Ritual kidung di Pati selatan saat ini makin terpinggirkan oleh budaya kekinian. Kondisinya lebih mengenaskan dibanding seni tradisonal ketoprak, wayang kulit maupun tayub. Ketoprak, wayang kulit dan tayub relatif mampu bertahan di tengah gencarnya budaya populer karena kemampuannya menyesuaikan diri dengan unsur-unsur seni modern. Penambahan instrumen seperti keyboard, bas dan gitar elektrik, maupun drum ke dalam paket gamelan menjadi ‘kekuatan’ pendukung  bertahannya seni tradisional tersebut. Dengan instrumen tersebut pula, lagu-lagu bergenre dangdut, pop, maupun kasidah dapat disajikan.

Sekurangnya ada empat faktor penyebabnya: pertama, perhatian dan ‘kebutuhan’ masyarakat terhadap kidung makin berkurang sebagai dampak samping masifnya budaya pop. Kedua, makin  berkembangnya pola hidup pragmatis dan pola pikir rasional yang mempersepsikan kidung sebagai sesuatu yang berbau klenik dan irrasional. Ketiga, kesulitan seni kidung beradaptasi dengan instrumen musik modern. Keempat, makin langkanya juru kidung atau komponen masyarakat yang ‘berjuang’ melestarikan seni kidung.

Ritual pembacaan kidung menyesuaikan hajat pemangkunya. Mulai dari hajat selamatan mengiringi kelahiran; doa mohon keselamatan, ketenangan dan ketenteraman hidup; hajat tolak bala dan penyembuhan; hingga hajat meraih ilmu kanuragan dan kewaskitaan. Jenis kidung yang dibacakan juga menyesuaikan kepentingan pemangkunya. Ritual kidung yang masih eksis di masyarakat Pati selatan kebanyakan untuk keperluan ruwatan, semacam doa tolak bala dan mohon keselamatan.

Menunjuk beberapa contoh, hajat selamatan kelahiran dibacakan Kidungan Palairaning Manungsa, Pangrukiting Ari-ari, Purwojati; hajat mohon keselamatan, ketenangan dan ketenteraman hidup, dibacakan Kidungan Sawabe Nabi Wali atau disebut kidung Purwajati Sunan Kali Jaga; hajat tolak bala dan penyembuhan dibacakan Kidungan Rajah Kalacakra, Tulak Sarap Sawan, Sesingga; hajat meraih ilmu kanuragan dengan membaca Kidungan  Padhayangan,  Aji Megananda; hajat meraih ilmu kawasikatan dibacakan Kidungan Purwa Madya Wasana atau Kidungan Sifat Iman.

Ki Jaswadi menjelaskan urutan pelaksanaan ritual kidung sebagai berikut:

Pertama, menentukan waktu pelaksanaan dengan memperhitungkan hari lahir pemangku hajat yang dikorelasikan dengan bulan, tanggal serta hari pelaksanaan.

Keduan, menyiapkan tempat. Tempat ritual ditentukan oleh pemangku hajat, di rumah sendiri atau di tempat tertentu.

Ketiga, menyiapkan sesaji. Jenis dan rincian sesaji ada yang ditentukan oleh juru kidung sesuai pakem berdasarkan jenis hajatnya, ada pula yang ditentukan sendiri oleh pemangku hajat. Penyiapan sesaji ini terkait dengan besaran biaya pengadaan bahan-bahan sesaji. Dengan mempertimbangkan hal tersebut ada toleransi untuk menyiapkan sesaji minimalis yaitu daun sirih, kembang telon, dan pisang raja.

Keempat, pelaksanaan ritual pembacaan kidung. Pemanku hajat yang juga juru kidung dapat membacakan sendiri. Bagi pemangku hajat yang tidak memiliki legitimasi spiritual, dapat minta bantuan kepada juru kidung.

Pembacaan kidung dalam paket acara tunggal, dilakukan setelah persiapan teknis mencukupi. Pembacaan kidung yang dikolaborasikan dengan seni pertunjukan ketoprak, wayang kulit, atau tayub, teknisnya dikoordinasikan dengan manajemen pertunjukan.

Kelima, ucapan terima kasih pemangku hajat. Ucapan terima kasih ada yang berupa ‘sesulih’ ala kadarnya. Juru kidung sediri tidak menentukan besaran, mengingat tugas menjadi juru kidung telah diyakini sebagai panggilan jiwa dalam membantu sesama.

Akhirul Kalam

Keprihatinan mendalam sementara kalangan terhadap makin meredupnya vitalitas seni tradisional sangat bisa dipahami. Cipta, rasa dan karya leluhur bernilai adiluhung makin terpinggirkan oleh kemajuan sain dan teknologi. Rasionalitas mengoyak keluhuran nilai dan rasa kemanusiaan. Kebudayaan tradisional makin aus tergerus derasnya arus jaman. Tak terkecuali budaya tradisional bernafas Islam. Dalam bahasa Mark Horkheimer, akal budi obyektif mengalami reduksi cukup dahsyat menjadi akal budi instrumentalis (Sindhunata, 1983 : 99), menenggelamkan manusia dalam pola dan gaya hidup serba pragmatis, instan dan hedonis. Wallahua’lam.

Referensi:

https://www.naqsdna.com/2017/10/arti-kidung-wahyu-kolosebo.html?m=1.

https://kangmaksum.wordpress.com/tag/kidung-rumeksa-ing-wengi-dan-terjemahannya/.

https://journal.walisongo.ac.id/index.php/teologia/article/view/394/360.

https://www.researchgate.net/Kidung_Tunjung_Biru).

https://www. researchgate.net/publication/338649245).

https://id.wikipedia.org/wiki/Kidung.

KBBI, daring.

R. Tanojo. 1966. Kidungan Purwajati. Surakarta: TP. Pelajar.

Sindhunata. 1983. Dilema Usaha Manusia Rasional. Jakarta: Gramedia.

Wawancara dengan Ki Jaswadi.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman