KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Selasa, 08 September 2020

Kidung dalam Ritual Adat di Pati Selatan (Bagian 1 dari 2 Tulisan)

 
Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

  

Pengantar

Masyarakat Pati lazim mendemarkasikan wilayah Kabupaten Pati dengan menyebut Pati utara dan Pati selatan. Demarkasi ranah persepsi Pati Selatan menunjuk daerah di selatan alur Sungai Silugonggo yang melintang dari ujung barat di Kecamatan Kayen, melintas Kecamatan Gabus, Pati, Jakenan, dan bermuara di Laut Jawa di Kecamatan Juwana. Dari sini masyarakat justru lebih familiar menyebutnya kali Juwana. Selain wilayah kecamatan yang dilintasi Sungai Silugonggo, termasuk disebut daerah Pati selatan adalah Kecamatan Sukolilo, Tambakromo, Winong, Pucakwangi, Jaken dan Kecamatan Batangan di ujung timur berbatasan dengan Kabupaten Rembang.

Kesenian tradisional di Kabupaten Pati yang cukup eksis ialah ketoprak, wayang dan tayub. Pada dekade 60-70-an melegenda beberapa grup seni tradisional dari Pati selatan. Tercatat ketoprak Kudur, Kropak (Winong), ketoprak Ngulaan (Jaken), dan ketoprak Karaban (Gabus). Menyebut beberapa nama, dalang wayang kulit pernah melegenda seperti Ki Joyo Kasan, Ki Suwadi (Winong), Ki Sukarmin (Gabus), Ki Abu, Ki Jamsu dan Ki Jamsri (Jaken), Ki Gembluk (Jakenan). Desa Kropak, Kudur, Gunungpanti dan Godo cukup dikenal dengan penari tayubnya. Ada grup gambus Bintang Terbit (Bangklean, Jakenan), grup Lesbumi (Winong). Semua grup tersebut pasca dekade 70-an hilang dari peredaran.

Jumlah grup ketoprak di Pati selatan saat ini sebenarnya cukup banyak namun tidak semelegenda zaman dulu. Di antara seniman yang terus berjuang nguri-nguri kesenian tradisonal wayang kulit, Ki Murso (Gabus), Ki Kartubi (Kayen), Ki Hartoyo (Pucakwangi), Ki Siswanto, Ki Budiyono, Ki Jaswadi (Winong). Dua tokoh yang disebut terakhir juga ‘berjuang’ melestarikan seni tradisional kidung dan sendra tari berbasis kebuddayaan jawa dan seni pertunjukan ketoprak.

Upaya melestarikan kebudayaan tradisional Jawa juga dilakukan oleh Ki Mursa dengan membuka kursus pedalangan di bawah naungan Pepadi (Persatuan Pedalangan Independen) Cabang Pati. Ki Mursa juga dikenal sebagai juru ruwat yang diadakan oleh ahli waris Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak.

Seiring kemajuan sain dan teknologi maupun tingkat pemahaman keagamaan, cukup banyak adat peninggalan leluhur bernuansa kemasyarakatan makin punah. Makin jarang ditemui adat sambatan waktu mendirikan rumah; adat jengkingan dalam olah pertanian; adat telasan dalam proses menuntut ilmu kanuragan atau kewaskitaan.

Tulisan serba singkat berikut menyorot keberadaan adat kidung di daerah Pati selatan. Informasi dan bahan utama penulisan diperoleh melalui wawancara dengan Ki Jaswadi, pemerhati, pelestari, dan pelaku seni tradisional Jawa, tinggal di Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati.

Kidung: Selayang Pandang

Kidung dalam bentuk nomina berarti nyanyian, lagu; puisi (KBBI); tembang, sekar (Wiki). Bentuk verbanya menjadi ngidung, angidung, mangidung (Wiki), nyekar, nembang kidung, menunjuk pada aktivitas menyanyikan, melagukan, membaca, memanjatkan kidung. Ki Jaswadi menambahkan, kidung juga dapat diartikan pujian, mantra, doa.

Kidung merupakan karya sastra asli Jawa, satu klaster dengan kakawin, macapat, dan serat dengan beberapa perbedaan. Sebagai karya sastra yang tumbuhkembang di Jawa sejak era Tengahan atau era majapahit akhir, nilai-nilai kejawaan, kehinduan dan keislaman sangat kental di dalamnya. Mempertimbangkan orisinalitas berikut konteks tumbuhkembangnya, kidung dapat diartikan sebagai karya sastra pujangga Jawa berbentuk puisi yang tumbuhkembang sejak era Tengahan atau Majapahit akhir.

Belum ditemukan rigiditas struktur dan performa sastra kidung sehingga menyulitkan pemerhati dan peneliti dalam memformulasikan struktur bakunya. (https://www. researchgate.net/publication/338649245). Meski demikian, indentifikasi secara umum dapat digunakan untuk menilik struktur atau performa bakunya.

Ditilik dari makna yang terkandung, ada yang berisi cerita fiksi dan sejaraj, berisi pujian atau doa, dan berisi ngelmu. Dari kepentingan para pihak, ada kidung untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Ditilik dari penyajiannya, ada yang ditulis, dibaca, dan dilantunkan. Kidung yang disajikan dengan lantunkan, lazimnya diadakan malam hari dengan diiringi musik minimalis atau lengkap (gamelan)

Pembacaan kidung umumnya pada malam hari, dengan iringian musik atau tidak. Dalam momen tertentu, mempertimbangkan aspek teknis, ada yang dilaksanakan di siang hari. Iringan musik tergantung pemangku hajat, ada yang cukup menggunakan instrumen musik berupa dua buah terbang atau rebana besar dan kecil, ada yang menggunakan gamelan lengkap dalam paket seni pertunjukan barongan, wayang kulit atau ketoprak. Pembacaan kidung dapat dilakukan di awal, tengah, atau akhir pertunjukan.

Kidung berisi nasehat dalam bentuk sejarah atau cerita fiktif yang diiringi musik minimalis disebut kentrung. Antara kidung dan kentrung dapat disajikan secara terpisah maupun dalam satu paket acara secara bergantian. Penyajian kidung secara terpisah maupun bersama kentrung, selalu diawali dengan lantunan ritmis juru kidung: “Ana kidung.....”, sebagai pembeda dengan kentrung yang berisi nasehat atau cerita.

Sebagaimana puisi dalam kesusasteraan kontemporer, makna yang dapat digali dalam baris dan pupuh suatu kidung sangat beragam. Ada kidung berisi sejarah, tentang ketuhanan, atau nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Ada pula kidung yang bermuatan kaweruh (ilmu pengetahuan), ngelmu (pengetahuan bidang tertentu), pujian, doa atau mantra. Kidung yang dicipta pujangga Jawa-Islam, muatannya sarat nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan pola hubungan manusia selaku makhluk dengan Pencipta dan Pemelihara semesta, Allah  SWT. Kidung Rumekso ing Wengi karya Sunan Kalijaga merepresentasikan konten demikian, sebagaimana dieksplorasi M. Sakdullah dalam  https://journal.walisongo.ac.id.

Disarikan dari wawancara dengan Ki Jaswadi, lingkup keperluan, penyajian dan kandungan kidung dapat diskemakan:

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman