(Pemerhati
Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Pengantar
Masyarakat Pati lazim mendemarkasikan wilayah
Kabupaten Pati dengan menyebut Pati utara dan Pati selatan. Demarkasi ranah
persepsi Pati Selatan menunjuk daerah di selatan alur Sungai Silugonggo yang
melintang dari ujung barat di Kecamatan Kayen, melintas Kecamatan Gabus, Pati,
Jakenan, dan bermuara di Laut Jawa di Kecamatan Juwana. Dari sini masyarakat
justru lebih familiar menyebutnya kali Juwana. Selain wilayah kecamatan yang
dilintasi Sungai Silugonggo, termasuk disebut daerah Pati selatan adalah
Kecamatan Sukolilo, Tambakromo, Winong, Pucakwangi, Jaken dan Kecamatan
Batangan di ujung timur berbatasan dengan Kabupaten Rembang.
Kesenian tradisional di Kabupaten Pati yang cukup
eksis ialah ketoprak, wayang dan tayub. Pada dekade 60-70-an melegenda beberapa
grup seni tradisional dari Pati selatan. Tercatat ketoprak Kudur, Kropak
(Winong), ketoprak Ngulaan (Jaken), dan ketoprak Karaban (Gabus). Menyebut
beberapa nama, dalang wayang kulit pernah melegenda seperti Ki Joyo Kasan, Ki
Suwadi (Winong), Ki Sukarmin (Gabus), Ki Abu, Ki Jamsu dan Ki Jamsri (Jaken),
Ki Gembluk (Jakenan). Desa Kropak, Kudur, Gunungpanti dan Godo cukup dikenal
dengan penari tayubnya. Ada grup gambus Bintang Terbit (Bangklean, Jakenan),
grup Lesbumi (Winong). Semua grup tersebut pasca dekade 70-an hilang dari
peredaran.
Jumlah grup ketoprak di Pati selatan saat ini
sebenarnya cukup banyak namun tidak semelegenda zaman dulu. Di antara seniman
yang terus berjuang nguri-nguri kesenian tradisonal wayang kulit, Ki
Murso (Gabus), Ki Kartubi (Kayen), Ki Hartoyo (Pucakwangi), Ki Siswanto, Ki
Budiyono, Ki Jaswadi (Winong). Dua tokoh yang disebut terakhir juga ‘berjuang’
melestarikan seni tradisional kidung dan sendra tari berbasis kebuddayaan jawa
dan seni pertunjukan ketoprak.
Upaya melestarikan kebudayaan tradisional Jawa juga
dilakukan oleh Ki Mursa dengan membuka kursus pedalangan di bawah naungan
Pepadi (Persatuan Pedalangan Independen) Cabang Pati. Ki Mursa juga dikenal sebagai
juru ruwat yang diadakan oleh ahli waris Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak.
Seiring kemajuan sain dan teknologi maupun tingkat
pemahaman keagamaan, cukup banyak adat peninggalan leluhur bernuansa
kemasyarakatan makin punah. Makin jarang ditemui adat sambatan waktu mendirikan
rumah; adat jengkingan dalam olah pertanian; adat telasan dalam proses menuntut
ilmu kanuragan atau kewaskitaan.
Tulisan serba singkat berikut menyorot keberadaan adat
kidung di daerah Pati selatan. Informasi dan bahan utama penulisan diperoleh
melalui wawancara dengan Ki Jaswadi, pemerhati, pelestari, dan pelaku seni
tradisional Jawa, tinggal di Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati.
Kidung: Selayang Pandang
Kidung dalam bentuk nomina berarti nyanyian, lagu;
puisi (KBBI); tembang, sekar (Wiki). Bentuk verbanya menjadi ngidung, angidung,
mangidung (Wiki), nyekar, nembang kidung, menunjuk pada aktivitas menyanyikan,
melagukan, membaca, memanjatkan kidung. Ki Jaswadi menambahkan, kidung juga
dapat diartikan pujian, mantra, doa.
Kidung merupakan karya sastra asli Jawa, satu klaster
dengan kakawin, macapat, dan serat dengan beberapa perbedaan. Sebagai karya
sastra yang tumbuhkembang di Jawa sejak era Tengahan atau era majapahit akhir,
nilai-nilai kejawaan, kehinduan dan keislaman sangat kental di dalamnya.
Mempertimbangkan orisinalitas berikut konteks tumbuhkembangnya, kidung dapat
diartikan sebagai karya sastra pujangga Jawa berbentuk puisi yang tumbuhkembang
sejak era Tengahan atau Majapahit akhir.
Belum ditemukan rigiditas struktur dan performa sastra
kidung sehingga menyulitkan pemerhati dan peneliti dalam memformulasikan
struktur bakunya. (https://www. researchgate.net/publication/338649245). Meski
demikian, indentifikasi secara umum dapat digunakan untuk menilik struktur atau
performa bakunya.
Ditilik dari makna yang terkandung, ada yang berisi
cerita fiksi dan sejaraj, berisi pujian atau doa, dan berisi ngelmu. Dari
kepentingan para pihak, ada kidung untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan
masyarakat. Ditilik dari penyajiannya, ada yang ditulis, dibaca, dan
dilantunkan. Kidung yang disajikan dengan lantunkan, lazimnya diadakan malam
hari dengan diiringi musik minimalis atau lengkap (gamelan)
Pembacaan kidung umumnya pada malam hari, dengan
iringian musik atau tidak. Dalam momen tertentu, mempertimbangkan aspek teknis,
ada yang dilaksanakan di siang hari. Iringan musik tergantung pemangku hajat,
ada yang cukup menggunakan instrumen musik berupa dua buah terbang atau rebana
besar dan kecil, ada yang menggunakan gamelan lengkap dalam paket seni
pertunjukan barongan, wayang kulit atau ketoprak. Pembacaan kidung dapat
dilakukan di awal, tengah, atau akhir pertunjukan.
Kidung berisi nasehat dalam bentuk sejarah atau cerita
fiktif yang diiringi musik minimalis disebut kentrung. Antara kidung dan
kentrung dapat disajikan secara terpisah maupun dalam satu paket acara secara
bergantian. Penyajian kidung secara terpisah maupun bersama kentrung, selalu
diawali dengan lantunan ritmis juru kidung: “Ana kidung.....”, sebagai pembeda
dengan kentrung yang berisi nasehat atau cerita.
Sebagaimana puisi dalam kesusasteraan kontemporer,
makna yang dapat digali dalam baris dan pupuh suatu kidung sangat beragam. Ada
kidung berisi sejarah, tentang ketuhanan, atau nilai-nilai kemanusiaan yang
luhur. Ada pula kidung yang bermuatan kaweruh (ilmu pengetahuan), ngelmu
(pengetahuan bidang tertentu), pujian, doa atau mantra. Kidung yang dicipta
pujangga Jawa-Islam, muatannya sarat nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan
pola hubungan manusia selaku makhluk dengan Pencipta dan Pemelihara semesta,
Allah SWT. Kidung Rumekso ing Wengi
karya Sunan Kalijaga merepresentasikan konten demikian, sebagaimana dieksplorasi
M. Sakdullah dalam
https://journal.walisongo.ac.id.
Disarikan dari wawancara dengan Ki Jaswadi, lingkup keperluan, penyajian dan kandungan kidung dapat diskemakan:

