Dr. Muslich Taman, Lc., M.Pd.I.
(Penulis Buku 30 Pilar Keluarga Bahagia)
“Bersabar itu
indah,” kata Dr. Aidh Al-Qarni penulis buku Best Seller La Tahzan (Jangan
Bersedih), dalam mengawali tulisannya tentang tema kesabaran. Lebih lanjut dia
mengatakan, bersabar merupakan ciri orang-orang yang ikhlas dalam menghadapi
berbagai kesulitan. Dan ia juga merupakan ciri orang-orang yang memiliki
kemauan keras dan tidak mudah putus asa. Seberapapun besar permasalahan yang
ada, sebaiknya harus tetap bersabar. Bersabar bukan karena tidak berdaya,
tetapi bersabar karena pilihan merdeka dan ikhlas mencari ridha Allah semata.
Percayalah bahwa kebahagiaan dan kemenangan itu sesungguhnya akan datang
bersama orang-orang yang sanggup bersabar. Di balik kesulitan apa pun yang
dihadapi dengan kesabaran, akan ada kemudahan dan jalan keluar terbaik menuju
kebahagiaan.
Pada setiap
makhluk yang Allah ciptakan, di balik pesona dan keindahannya yang kadang
memukau, pasti terselip padanya kekurangan dan ketidaksempurnaan. Yang demikian
ini, tentu penuh dengan hikmah dan pelajaran, terkadang bagi makhluk itu
sendiri dan terkadang bagi makhluk yang lain. Yang pasti, bukan berarti Allah
tidak mampu menyempurnakannya. Bukan pula Allah tidak mencintai keindahan.
Dalam kaitannya
dengan manusia, dan secara lebih khusus dengan pasangan hidup dalam rumah
tangga; di antara pasangan ada yang baik budinya, tetapi kurang tampan
wajahnya. Ada yang banyak hartanya dan tampan wajahnya, tetapi dia buruk
akhlaknya. Juga, ada yang tampan wajahnya, elok hatinya, tetapi ia miskin
harta. Ada juga, yang tampak segalanya nyaris sempurna, tetapi ternyata, justru
malah sebaliknya, begitulah seterusnya. Dan itulah fitrah kehidupan di dunia
ini. Tidak ada satupun makhluk-Nya yang sempurna. Termasuk setiap pasangan
suami istri. Siapa pun dia.
Kekurangan-kekurangan yang ada pada diri pasangan,
terkadang baru kelihatan dan diketahui pasangannya tatkala seseorang sudah lama
berumah tangga. Aib dan kekurangan masing-masing pasangan semakin tampak
seiring berjalannya waktu, dan setelah sekian lama hidup bersama. Dalam keadaan
demikian, sebaiknya pasangan suami istri sanggup menerima kenyataan. Tidak
langsung lari darinya, kecewa, berpaling, mencampakkan, memusuhi, atau berpikir
mencari pengganti. Jika demikian, itu adalah sikap egois dan jauh dari
bijaksana. Lari dari masalah, tetapi mencari masalah baru. Alangkah baiknya,
masing-masing pasangan suami istri bersabar dan terus bersabar. Sambil berusaha
mencari jalan terbaik, dan selalu berdoa kepada Allah Dzat yang menggenggam
hati setiap manusia. Terus berjuang untuk memperbaiki keadaan, agar persoalan
rumah tangga tidak semakin kacau dan menjauh dari kebahagiaan. Bukankah dalam
diri kita juga ada banyak kekurangan?! Maka, bersabarlah sebagaimana pasangan
hidup kita telah bersabar atas kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan
pelajaran kepada kita, beliau bersabda, “Jangan ada seorang suami mukmin yang
dengan mudah membenci dan menyalahkan pasangannya yang mukminah. Karena
kalaupun dia tidak menyukai salah satu sifatnya, dia (pasti) menyukai sifatnya
yang lain.” (HR. Muslim).
Jika dalam diri pasangan hidup kita ada kekurangan,
terutama yang menyangkut akhlak yang bisa diperbaiki (bukan kekurangan fisik,
yang tidak bisa diperbaiki), maka perbaikilah dengan cara menasihati secara
baik. Perbaikilah dengan penuh kelembutan dan kesabaran, tanpa harus menyakiti
perasaan dan terkesan menggurui serta merendahkan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
telah mengajarkan, “Nasihatilah para
wanita dengan baik (lemah lembut). Karena, sesungguhnya mereka itu diciptakan
dari tulang rusuk. Sesungguhnya bagian yang paling bengkok pada tulang rusuk
adalah ujungnya yang paling atas. Maka, jika kamu paksa meluruskannya, kamu
akan mematahkannya. Dan, jika kamu membiarkannya, ia akan terus bengkok.” (HR.
Al-Bukhari).
Pada riwayat lain dikatakan, “Jika kalian paksa
meluruskannya, kalian akan memecahkannya. Dan, memecahkannya berarti
menceraikannya.”
Setelah masing-masing pasangan berusaha untuk bersabar
atas kekurangan yang ada dalam diri pasangannya, maka sudah dapat dipastikan
bahwa dalam dirinya juga ada kebaikan dan kelebihan -dan boleh jadi kebaikan
dan kelebihan yang dia miliki itu lebih banyak daripada kekurangannya-, maka
merupakan kewajiban setiap pasangan, adalah mensyukuri setiap kebaikan dan
kelebihan yang ada pada pasangannya. Ingatlah pada kebaikan-kebaikan yang
membuat diri kita dulu menikah dengannya. Bahkan, pujilah kebaikan dan
kelebihan-kelebihannya. Ucapkan terimakasih dan tampakkan wajah yang senang
saat melihat kebaikan darinya. Bersyukurlah kepada Allah, dan jangan pura-pura
tidak tahu, apalagi sampai mengingkari nikmat yang ada padanya. Barangsiapa yang
diberi kebaikan, sekecil apa pun kebaikan itu, hendaklah ia berterima kasih
atas kebaikan itu dengan mensyukurinya.
Buktikan rasa syukur Anda kepada Allah dengan sesuatu
yang dapat membahagiakan pasangan Anda. Apakah itu memujinya dengan kata-kata, dengan
ekspresi yang menyenangkan hatinya, atau dengan bersujud syukur kepada Allah di
hadapannya. “Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak mau bersyukur
kepada manusia.” (HR. Al-Bukhari).
Apabila manusia mau bersyukur kepada Allah atas nikmat
yang telah diberikan, maka sebagaimana janji-Nya, Allah akan semakin menambah
jumlah nikmat yang ada dan ia pun akan semakin bertambah merasakan kebahagiaan.
Dengan bersyukur hati manusia akan merasa tenang dan tentram. Dengan bersyukur,
kenikmatan yang Allah berikan terasa makin berarti dan berharga. Dengan
bersyukur Allah semakin menambah cinta-Nya. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu. Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku,
maka sesungguhnya adzab-Ku sangatla pedih.” (Ibrahim: 7).
Jangan sampai, kebaikan pasangan hidup yang begitu
banyak, terkubur dengan kejelekan dan kesalahannya yang tak seberapa. Pasangan
hidup yang tidak bisa menghargai kebaikan yang ada pada pasangannya, yang hanya
cenderung melihat sisi-sisi buruk dan kekurangannya saja, sebenarnya dia sedang
menjerumuskan dirinya dalam jurang kehinaan. Orang yang hina adalah orang yang
suka menghinakan pasangannya, dan orang yang mulia adalah orang yang senantiasa
memuliakan pasangannya.
Demikianlah, terkadang ada pasangan hidup yang
menjatuhkan dirinya ke derajat yang hina. Yaitu, kalaupun pasangannya telah
berbuat baik kepadanya sepanjang hidup bersamanya, kemudian sekali saja dia
berbuat buruk, maka seolah-olah hilang dan lenyaplah semua kebaikan yang pernah
dimilikinya.
Oleh karena itu, hendaklah bagi setiap pasangan suami
istri beristiqamah dalam syukur dan sabar kepada pasangannya. Berusaha untuk
tangguh dan jangan mudah menyerah. Selalu bertekad untuk tidak putus asa
menghadapi badai dan gelombang yang menghadang bahtera rumah tangga. Sejak akad
nikah diikrarkan hingga kematian memisahkan. Badai dan gelombang kadang datang
di awal perjalanan, kadang di tengah, bahkan kadang di akhir saat bahtera
hampir sampai tujuan untuk berlabuh di dermaga yang diimpikan.
Kalau karena terjangan gelombang, ternyata bahtera pun
akhirnya pecah, maka, itu adalah takdir perjuangan. Tetaplah saling berusaha
menjaga dan jangan saling menenggelamkan. Tetaplah saling menghormati dan
memuliakan, karena hal itu adalah pertanda kepribadian yang luhur dan mulia.
Sebaliknya, saling meremehkan dan menghinakan adalah pertanda budi yang rendah
dan hina.
Dalam sebuah hadits qudsi Allah menjelaskan, “Hai
hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas Diri-Ku, dan
Aku jadikan kezhaliman itu haram di antara sesama kamu. Maka, janganlah kamu
saling berbuat zhalim.” (HR. Muslim).
Orang mukmin itu harus menghindari pelaknatan dan
pencelaan terhadap sesama manusia. Lebih-lebih kepada orang yang pernah dia
cintai atau pernah berjuang dalam suka duka menjalani hidup bersamanya.
Rasulullah bersabda, “Orang mukmin bukanlah orang yang gemar mengecam, atau
melaknat, atau berkata keji atau kotor.” (HR. At-Tirmidzi) Juga, sabda beliau,
“Sesungguhnya Allah membenci orang yang keji dan suka berkata kotor.” (HR.
At-Tirmidzi).
Akhirnya, penulis mengajak kepada semua saudara
tercinta, yang bercita-cita ingin menggapai keluarga bahagia, hendaknya
senantiasa bersyukur dan bersabar atas segala karunia yang ada. Bersyukur atas
kelebihan-kelebihan yang dimiliki pasangan, dan bersabar terhadap
kekurangan-kekurangannya. Dengan demikian, hati akan menjadi lebih tenang dan
tentram, serta hidup menjadi lebih bahagia. Wallahu a`lam.
