KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Jumat, 25 September 2020

Istiqamah dalam Syukur dan Sabar

 

Dr. Muslich Taman, Lc., M.Pd.I.

(Penulis Buku 30 Pilar Keluarga Bahagia)

 

  “Bersabar itu indah,” kata Dr. Aidh Al-Qarni penulis buku Best Seller La Tahzan (Jangan Bersedih), dalam mengawali tulisannya tentang tema kesabaran. Lebih lanjut dia mengatakan, bersabar merupakan ciri orang-orang yang ikhlas dalam menghadapi berbagai kesulitan. Dan ia juga merupakan ciri orang-orang yang memiliki kemauan keras dan tidak mudah putus asa. Seberapapun besar permasalahan yang ada, sebaiknya harus tetap bersabar. Bersabar bukan karena tidak berdaya, tetapi bersabar karena pilihan merdeka dan ikhlas mencari ridha Allah semata. Percayalah bahwa kebahagiaan dan kemenangan itu sesungguhnya akan datang bersama orang-orang yang sanggup bersabar. Di balik kesulitan apa pun yang dihadapi dengan kesabaran, akan ada kemudahan dan jalan keluar terbaik menuju kebahagiaan.

  Pada setiap makhluk yang Allah ciptakan, di balik pesona dan keindahannya yang kadang memukau, pasti terselip padanya kekurangan dan ketidaksempurnaan. Yang demikian ini, tentu penuh dengan hikmah dan pelajaran, terkadang bagi makhluk itu sendiri dan terkadang bagi makhluk yang lain. Yang pasti, bukan berarti Allah tidak mampu menyempurnakannya. Bukan pula Allah tidak mencintai keindahan.

  Dalam kaitannya dengan manusia, dan secara lebih khusus dengan pasangan hidup dalam rumah tangga; di antara pasangan ada yang baik budinya, tetapi kurang tampan wajahnya. Ada yang banyak hartanya dan tampan wajahnya, tetapi dia buruk akhlaknya. Juga, ada yang tampan wajahnya, elok hatinya, tetapi ia miskin harta. Ada juga, yang tampak segalanya nyaris sempurna, tetapi ternyata, justru malah sebaliknya, begitulah seterusnya. Dan itulah fitrah kehidupan di dunia ini. Tidak ada satupun makhluk-Nya yang sempurna. Termasuk setiap pasangan suami istri. Siapa pun dia.

Kekurangan-kekurangan yang ada pada diri pasangan, terkadang baru kelihatan dan diketahui pasangannya tatkala seseorang sudah lama berumah tangga. Aib dan kekurangan masing-masing pasangan semakin tampak seiring berjalannya waktu, dan setelah sekian lama hidup bersama. Dalam keadaan demikian, sebaiknya pasangan suami istri sanggup menerima kenyataan. Tidak langsung lari darinya, kecewa, berpaling, mencampakkan, memusuhi, atau berpikir mencari pengganti. Jika demikian, itu adalah sikap egois dan jauh dari bijaksana. Lari dari masalah, tetapi mencari masalah baru. Alangkah baiknya, masing-masing pasangan suami istri bersabar dan terus bersabar. Sambil berusaha mencari jalan terbaik, dan selalu berdoa kepada Allah Dzat yang menggenggam hati setiap manusia. Terus berjuang untuk memperbaiki keadaan, agar persoalan rumah tangga tidak semakin kacau dan menjauh dari kebahagiaan. Bukankah dalam diri kita juga ada banyak kekurangan?! Maka, bersabarlah sebagaimana pasangan hidup kita telah bersabar atas kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan pelajaran kepada kita, beliau bersabda, “Jangan ada seorang suami mukmin yang dengan mudah membenci dan menyalahkan pasangannya yang mukminah. Karena kalaupun dia tidak menyukai salah satu sifatnya, dia (pasti) menyukai sifatnya yang lain.” (HR. Muslim).

Jika dalam diri pasangan hidup kita ada kekurangan, terutama yang menyangkut akhlak yang bisa diperbaiki (bukan kekurangan fisik, yang tidak bisa diperbaiki), maka perbaikilah dengan cara menasihati secara baik. Perbaikilah dengan penuh kelembutan dan kesabaran, tanpa harus menyakiti perasaan dan terkesan menggurui serta merendahkan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengajarkan,  “Nasihatilah para wanita dengan baik (lemah lembut). Karena, sesungguhnya mereka itu diciptakan dari tulang rusuk. Sesungguhnya bagian yang paling bengkok pada tulang rusuk adalah ujungnya yang paling atas. Maka, jika kamu paksa meluruskannya, kamu akan mematahkannya. Dan, jika kamu membiarkannya, ia akan terus bengkok.” (HR. Al-Bukhari).

Pada riwayat lain dikatakan, “Jika kalian paksa meluruskannya, kalian akan memecahkannya. Dan, memecahkannya berarti menceraikannya.”

Setelah masing-masing pasangan berusaha untuk bersabar atas kekurangan yang ada dalam diri pasangannya, maka sudah dapat dipastikan bahwa dalam dirinya juga ada kebaikan dan kelebihan -dan boleh jadi kebaikan dan kelebihan yang dia miliki itu lebih banyak daripada kekurangannya-, maka merupakan kewajiban setiap pasangan, adalah mensyukuri setiap kebaikan dan kelebihan yang ada pada pasangannya. Ingatlah pada kebaikan-kebaikan yang membuat diri kita dulu menikah dengannya. Bahkan, pujilah kebaikan dan kelebihan-kelebihannya. Ucapkan terimakasih dan tampakkan wajah yang senang saat melihat kebaikan darinya. Bersyukurlah kepada Allah, dan jangan pura-pura tidak tahu, apalagi sampai mengingkari nikmat yang ada padanya. Barangsiapa yang diberi kebaikan, sekecil apa pun kebaikan itu, hendaklah ia berterima kasih atas kebaikan itu dengan mensyukurinya. 

Buktikan rasa syukur Anda kepada Allah dengan sesuatu yang dapat membahagiakan pasangan Anda. Apakah itu memujinya dengan kata-kata, dengan ekspresi yang menyenangkan hatinya, atau dengan bersujud syukur kepada Allah di hadapannya. “Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak mau bersyukur kepada manusia.” (HR. Al-Bukhari).

Apabila manusia mau bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan, maka sebagaimana janji-Nya, Allah akan semakin menambah jumlah nikmat yang ada dan ia pun akan semakin bertambah merasakan kebahagiaan. Dengan bersyukur hati manusia akan merasa tenang dan tentram. Dengan bersyukur, kenikmatan yang Allah berikan terasa makin berarti dan berharga. Dengan bersyukur Allah semakin menambah cinta-Nya. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu. Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya adzab-Ku sangatla pedih.” (Ibrahim: 7).

Jangan sampai, kebaikan pasangan hidup yang begitu banyak, terkubur dengan kejelekan dan kesalahannya yang tak seberapa. Pasangan hidup yang tidak bisa menghargai kebaikan yang ada pada pasangannya, yang hanya cenderung melihat sisi-sisi buruk dan kekurangannya saja, sebenarnya dia sedang menjerumuskan dirinya dalam jurang kehinaan. Orang yang hina adalah orang yang suka menghinakan pasangannya, dan orang yang mulia adalah orang yang senantiasa memuliakan pasangannya. 

Demikianlah, terkadang ada pasangan hidup yang menjatuhkan dirinya ke derajat yang hina. Yaitu, kalaupun pasangannya telah berbuat baik kepadanya sepanjang hidup bersamanya, kemudian sekali saja dia berbuat buruk, maka seolah-olah hilang dan lenyaplah semua kebaikan yang pernah dimilikinya.

Oleh karena itu, hendaklah bagi setiap pasangan suami istri beristiqamah dalam syukur dan sabar kepada pasangannya. Berusaha untuk tangguh dan jangan mudah menyerah. Selalu bertekad untuk tidak putus asa menghadapi badai dan gelombang yang menghadang bahtera rumah tangga. Sejak akad nikah diikrarkan hingga kematian memisahkan. Badai dan gelombang kadang datang di awal perjalanan, kadang di tengah, bahkan kadang di akhir saat bahtera hampir sampai tujuan untuk berlabuh di dermaga yang diimpikan. 

Kalau karena terjangan gelombang, ternyata bahtera pun akhirnya pecah, maka, itu adalah takdir perjuangan. Tetaplah saling berusaha menjaga dan jangan saling menenggelamkan. Tetaplah saling menghormati dan memuliakan, karena hal itu adalah pertanda kepribadian yang luhur dan mulia. Sebaliknya, saling meremehkan dan menghinakan adalah pertanda budi yang rendah dan hina.

Dalam sebuah hadits qudsi Allah menjelaskan, “Hai hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas Diri-Ku, dan Aku jadikan kezhaliman itu haram di antara sesama kamu. Maka, janganlah kamu saling berbuat zhalim.” (HR. Muslim).

Orang mukmin itu harus menghindari pelaknatan dan pencelaan terhadap sesama manusia. Lebih-lebih kepada orang yang pernah dia cintai atau pernah berjuang dalam suka duka menjalani hidup bersamanya. Rasulullah bersabda, “Orang mukmin bukanlah orang yang gemar mengecam, atau melaknat, atau berkata keji atau kotor.” (HR. At-Tirmidzi) Juga, sabda beliau, “Sesungguhnya Allah membenci orang yang keji dan suka berkata kotor.” (HR. At-Tirmidzi).

Akhirnya, penulis mengajak kepada semua saudara tercinta, yang bercita-cita ingin menggapai keluarga bahagia, hendaknya senantiasa bersyukur dan bersabar atas segala karunia yang ada. Bersyukur atas kelebihan-kelebihan yang dimiliki pasangan, dan bersabar terhadap kekurangan-kekurangannya. Dengan demikian, hati akan menjadi lebih tenang dan tentram, serta hidup menjadi lebih bahagia. Wallahu a`lam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman