Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Dalam berbagai kesempatan KH. Syarofuddin – badalnya
Abah KH. Musthofa Bisri – mempertanyakan kenapa orang yang akan melaksanakan
ibadah haji mengadakan acara syukuran sedemikian besar, sementara tidak
demikian ketika melaksanakan shalat, zakat, atau puasa. Sembari guyonan beliau
menawarkan bagaimana jika terhadap shalat, zakat, dan puasa pun diadakan
syukuran seperti haji. ‘Kan sama-sama rukun Islam. Apakah haji lebih penting
dari rukun Islam lainnya sehingga diperlakukan berbeda? Demikian pertanyaan ikutannya.
Fenomena tasyakuran haji yang dikemas dalam seremoni
Walimatussafar sudah lama dan rasanya akan terus berjalan. Tawaran Yai Syarof
bernuansa komedi itu dapat dijawab dalam beberapa kalimat. ‘Geh boten ngaten ah
Yi, shalat maktubah nika sedinten kaping gangsal, zakat, puasa niku wajibe
setahun sepindah, lha pripon mangke menawi saben ajeng shalat, ajeng zakat lan
ajeng puasa kedah ngawontenaken syukuran kados syukuran haji? Lajeng pripon
anggene sami nandangi pakaryan sanese? Menawi haji wajibe mung sakumur
sepindah, dados menawi diwontenaken syukuran kados ngaten ‘geh maklum ta Yi..’
Sementara pertanyaan ikutannya tidak cukup dijawab
dengan satu kata: Tidak. Bahwa semua rukun Islam tidak berbeda tingkat
urgensinya: Ya. Bahwa ke-5 rukun Islam sebagai sebuah kredo dalam satu keutuhan
dan kemenyeluruhan tidak terbantahkan. Sisa pertanyaannya kenapa ibadah haji
ada seremoni sementara yang lain tidak.
Logika untuk memahami perbedaan tersebut antara lain:
pertama, kewajiban berhaji hanya seumur sekali, itu pun yang mampu secara fisik
dan finansial. Kedua, tidak setiap orang Islam diberi kemampuan fisik dan
finansial untuk berhaji. Ketiga, tidak setiap orang Islam yang memiki kemampuan
fisik maupun finanssial ‘dipanggil’ Allah untuk bermunajat di Baitullah dan
menziarahi makam Rasulullah. Keempat, haji adalah satu-satunya ibadah yang
secara tegas dijelaskan Rasulullah berpahala syurga. Karena balasannya
istimewa, wajar jika prosesinya juga tidak sama dengan ibadah lainnya.
Seremoni tasyakuran juga berdimensi sosio-relegius.
Pertama, sebagai momentun dan media silaturahim seanggota keluarga, kerabat,
sesama tetangga maupun kolega. Kedua, calon haji berkepentingan mohon ma’af
kepada para pihak. Ketika momen tersebut menjadi kesempatan terakhir
perjumpannya dengan keluarga, kerabat, tetangga dan kolega misalnya, calon haji
berharap dosa antar sesama telah mendapat ampunan begitu dipanggil ke
Rahmatullah. Ketiga, calon haji mohon do’a para pihak atas keselamatan,
kesehatan dan kelancaran ibadanya sejak persiapan, keberangkatan, pelaksanaan,
hingga kepulangan kembali ke kampung halaman.
Dalam perspektif filosofis somasi Yi Syarof belum
cukup terjawab dengan logika di atas. Kenapa kalau ibadah haji digelar syukuran
sementara yang lain tidak. Apakah secara substantif urgensinya berbeda.
Substansi ‘syukur’ dalam momen apa saja jelas
diperintahkan. Persoalannya ketika dirangkai dengan ibadah tertentu dalam
format sedemikian rupa. Apakah ibadah yang diseremonikan berdampak substantif
dalam diri pelaku sepanjang hidupnya atau hanya sementara.
Bersyukur adalah kebutuhan hidup, syukuran itu gaya
hidup. Gaya hidup bersifat viral-temporal, kebutuhan hidup bersifat subtantif
melekat sepanjang hidup. Keduanya perlu tapi harus dengan skala prioritas agar
tidak terjebak dalam situasi dan kondisi salah kaprah bener ora lumrah.
Bersyukur merupakan kewajiban dan kebutuhan hidup
sekaligus. Allah yang mewajibkan bersyukur untuk mencukupi kebutuhan hidup
manusia. Manusia yang membutuhkan syukur kepada-Nya, Allah sama sekali tidak
membutuhkan syukurnya manusia.
Dalam berbagai kesempatan Abah KH. Musthofa Bisri
ngendikan: sekiranya seluruh penduduk bumi yang mendekati jumlah 7,5 milyar tak
satu pun yang bersyukur, Allah tidak pernah gundah, apalagi susah, apalagi
marah, apalagi mengumbar sumpah serapah. Bahkan rahmat-Nya tetap saja melimpah.
Sudah ‘sepatutnya’ dan tidak sekedar ‘sewajibnya’ tiap
individu senantiasa mensyukuri setiap nikmat dan rahmat-Nya. Betapa limpahan
rahmat dan kasih sayang-Nya tidak pernah berhenti senano detik pun sedari
kandungan hingga maut datang menjemput, bahkan sesudah itu.
