KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 10 Agustus 2020

Syukuran: Persepsi VS Logika

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

  

Dalam berbagai kesempatan KH. Syarofuddin – badalnya Abah KH. Musthofa Bisri – mempertanyakan kenapa orang yang akan melaksanakan ibadah haji mengadakan acara syukuran sedemikian besar, sementara tidak demikian ketika melaksanakan shalat, zakat, atau puasa. Sembari guyonan beliau menawarkan bagaimana jika terhadap shalat, zakat, dan puasa pun diadakan syukuran seperti haji. ‘Kan sama-sama rukun Islam. Apakah haji lebih penting dari rukun Islam lainnya sehingga diperlakukan berbeda? Demikian pertanyaan ikutannya.

Fenomena tasyakuran haji yang dikemas dalam seremoni Walimatussafar sudah lama dan rasanya akan terus berjalan. Tawaran Yai Syarof bernuansa komedi itu dapat dijawab dalam beberapa kalimat. ‘Geh boten ngaten ah Yi, shalat maktubah nika sedinten kaping gangsal, zakat, puasa niku wajibe setahun sepindah, lha pripon mangke menawi saben ajeng shalat, ajeng zakat lan ajeng puasa kedah ngawontenaken syukuran kados syukuran haji? Lajeng pripon anggene sami nandangi pakaryan sanese? Menawi haji wajibe mung sakumur sepindah, dados menawi diwontenaken syukuran kados ngaten ‘geh maklum ta Yi..’

Sementara pertanyaan ikutannya tidak cukup dijawab dengan satu kata: Tidak. Bahwa semua rukun Islam tidak berbeda tingkat urgensinya: Ya. Bahwa ke-5 rukun Islam sebagai sebuah kredo dalam satu keutuhan dan kemenyeluruhan tidak terbantahkan. Sisa pertanyaannya kenapa ibadah haji ada seremoni sementara yang lain tidak.

Logika untuk memahami perbedaan tersebut antara lain: pertama, kewajiban berhaji hanya seumur sekali, itu pun yang mampu secara fisik dan finansial. Kedua, tidak setiap orang Islam diberi kemampuan fisik dan finansial untuk berhaji. Ketiga, tidak setiap orang Islam yang memiki kemampuan fisik maupun finanssial ‘dipanggil’ Allah untuk bermunajat di Baitullah dan menziarahi makam Rasulullah. Keempat, haji adalah satu-satunya ibadah yang secara tegas dijelaskan Rasulullah berpahala syurga. Karena balasannya istimewa, wajar jika prosesinya juga tidak sama dengan ibadah lainnya.

Seremoni tasyakuran juga berdimensi sosio-relegius. Pertama, sebagai momentun dan media silaturahim seanggota keluarga, kerabat, sesama tetangga maupun kolega. Kedua, calon haji berkepentingan mohon ma’af kepada para pihak. Ketika momen tersebut menjadi kesempatan terakhir perjumpannya dengan keluarga, kerabat, tetangga dan kolega misalnya, calon haji berharap dosa antar sesama telah mendapat ampunan begitu dipanggil ke Rahmatullah. Ketiga, calon haji mohon do’a para pihak atas keselamatan, kesehatan dan kelancaran ibadanya sejak persiapan, keberangkatan, pelaksanaan, hingga kepulangan kembali ke kampung halaman.

Dalam perspektif filosofis somasi Yi Syarof belum cukup terjawab dengan logika di atas. Kenapa kalau ibadah haji digelar syukuran sementara yang lain tidak. Apakah secara substantif urgensinya berbeda.

Substansi ‘syukur’ dalam momen apa saja jelas diperintahkan. Persoalannya ketika dirangkai dengan ibadah tertentu dalam format sedemikian rupa. Apakah ibadah yang diseremonikan berdampak substantif dalam diri pelaku sepanjang hidupnya atau hanya sementara.

Bersyukur adalah kebutuhan hidup, syukuran itu gaya hidup. Gaya hidup bersifat viral-temporal, kebutuhan hidup bersifat subtantif melekat sepanjang hidup. Keduanya perlu tapi harus dengan skala prioritas agar tidak terjebak dalam situasi dan kondisi salah kaprah bener ora lumrah.

Bersyukur merupakan kewajiban dan kebutuhan hidup sekaligus. Allah yang mewajibkan bersyukur untuk mencukupi kebutuhan hidup manusia. Manusia yang membutuhkan syukur kepada-Nya, Allah sama sekali tidak membutuhkan syukurnya manusia.

Dalam berbagai kesempatan Abah KH. Musthofa Bisri ngendikan: sekiranya seluruh penduduk bumi yang mendekati jumlah 7,5 milyar tak satu pun yang bersyukur, Allah tidak pernah gundah, apalagi susah, apalagi marah, apalagi mengumbar sumpah serapah. Bahkan rahmat-Nya tetap saja melimpah.

Sudah ‘sepatutnya’ dan tidak sekedar ‘sewajibnya’ tiap individu senantiasa mensyukuri setiap nikmat dan rahmat-Nya. Betapa limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya tidak pernah berhenti senano detik pun sedari kandungan hingga maut datang menjemput, bahkan sesudah itu.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman