KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Selasa, 04 Agustus 2020

Jangan Pernah Lari Dari Masalah

Dr. Muslich Taman, Lc., M.Pd.I.

(Penulis Buku 30 Pilar Keluarga Bahagia)


 Berdasarkan data statistik, kasus perceraian di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dan di antara penyebab terbesar perceraian adalah perselisihan dan pertengkaran, yang didominasi karena faktor ekonomi. Hal ini, seringkali terjadi karena tidak adanya titik temu dari kedua belah pihak, atau tidak siapnya masing-masing untuk menghadapi masalah yang sedang menerpa. Tentu kondisi yang demikian, mengundang keprihatinan mendalam semua pihak. Mengingat keluarga adalah institusi pertama dan sekaligus terpenting untuk membangun kepribadian setiap anak bangsa. Dari keluarga yang baik, akan lahir anak-anak bangsa yang baik, dan begitu sebaliknya.  

Sesungguhnya tidak ada satu pun perjalanan hidup manusia yang mulus tanpa masalah. Berjalan lurus sesuai dengan segala yang dicita-citakan dan diharapkan. Dari awal hingga akhir. Begitupun perjalanan dalam meniti kehidupan berumah tangga. Bahkan, perjalanan berumah tangga manusia paling mulia, Rasulullah bersama istri-istrinya sekalipun. Karena, hakikat hidup adalah perjuangan menghadapi masalah. Menyelesaikan satu masalah menuju masalah berikutnya. Semakin banyak masalah yang mampu diselesaikan dalam kehidupan seseorang, maka hidupnya semakin hidup.

Allah berfirman, “(Dia) Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (Al-Mulk: 2)

Hal yang demikian itu, adalah sunnatullah kehidupan. Dihadapi dan dialami siapa pun. Sebagai penguat, pengokoh, dan pembeda kualitas hamba-hamba yang beriman dari yang tidak beriman. Oleh karena itu, hal sangat penting dalam kehidupan berumah tangga adalah, saat ada masalah dengan pasangan, sekecil apa pun, maka hendaklah suami atau istri bersikap bijaksana, segera mengambil sikap dan inisiatif yang tepat. Cepat menghadapinya dan mencari solusi atas masalah yang ada, dan tidak mengacuhkannya. Jangan pura-pura tidak ada masalah. Atau, segera bereaksi dengan menambah masalah baru. Misalkan, dengan ngambek sambil memendam masalah yang ada, berprilaku culas, jutek, malas beraktivitas, murung, tidak peduli, atau bersikap semaunya sendiri. Hal-hal tersebut, jangan dilakukan! Karena akan menambah masalah semakin berkepanjangan,

Sikap menghindar dan menutupi seolah-olah tidak ada masalah, akan dapat membawa akibat yang lebih fatal di kemudian hari. Masalah-masalah yang pernah ada dan belum terselesaikan tersebut, akan dapat berakumulasi menjadi masalah besar. Karenanya, setiap permasalahan yang ada dalam keluarga, hendaknya dipandang secara bijak dan segera diselesaikan. Jangan diremehkan dan dibiarkan, atau masing-masing menempuh langkah-langkah yang melukai perasaan pasangan.

Memang, dalam menyelesaikan masalah, apa pun problemanya, butuh waktu dan proses yang tepat. Butuh kearifan dan kesabaran. Harus dicari momen dan cara bijaksana, yang tidak merendahkan perasaan pihak-pihak yang ada. Meskipun pada dasarnya, lebih cepat akan lebih bagus dalam menyelesaikan masalah. Bagaikan duri atau paku yang melukai kaki, bila dibiarkan berlarut-larut akan bisa mengakibatkan luka yang berbahaya. Maka, lebih baik segera diatasi. Dicabut lalu dengan cepat diobati. Mungkin saat itu, berdarah-darah dan terasa sangat sakit. Tapi yang penting setelah itu, segera sembuh, sehat, dan tidak meninggalkan titanus, atau inveksi apa pun yang lebih luas. Begitulah juga masalah rumah tangga.

Problem rumah tangga membutuhkan kelapangan dada dan niat yang baik dari semua pihak. Suami yang sedang marah misalkan, tidak boleh dihadapi dengan kemarahan yang sama dari istri. Demikian sebaliknya. Atau, kecemburuan istri kepada suami, tidak boleh langsung disikapi dengan perginya istri dari rumah. Atau, keterpurukan ekonomi keluarga, langsung disikapi dengan saling tidak percaya, atau mudah menyalahkan pasangan, dll. Sebagaimana, kobaran api tidak boleh dilawan dengan kobaran api, tapi butuh siraman air dingin atau busa. Benang yang sedang kusut, butuh tangan terampil yang penuh empati dan sabar untuk mengurai, bukan tangan acuh yang tak peduli. Fisik yang jatuh dan terperosok, butuh uluran tangan yang hangat untuk mengangkat dan membangunkannya. Atau, jiwa dan hati yang sedang sedih butuh kata penghibur yang menguatkan dan membangkitkan. Dan begitu seterusnya. 

Hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berikut ini bisa menjadi satu solusi yang cukup penting sekaligus sangat tepat, dimana beliau telah bersabda, Dan istri-istri kalian yang termasuk penghuni surga adalah yang penuh cinta kasih, banyak melahirkan anak, dan yang suka kembali kepada suaminya. Yaitu jika suaminya marah kepadanya, dia datang kepadanya dan meletakkan tangannya ke tangan suaminya seraya berkata, ’Saya tidak merasa tenang sehingga engkau ridha kepadaku." (Silsilah al-Ahaadits al-Shahiihah, 287).

Kehadiran seorang istri kepada suaminya dan duduk di sampingnya seraya meletakkan tangan ke tangan suaminya, mengatakan kepadanya bahwa dia tidak bisa tenang dan tidur sehingga suaminya ridha, merupakan sarana yang sangat baik untuk menenangkan jiwa sekaligus menjernihkan kekeruhan hidup berumah tangga, dengan sikap sabar dan lemah lembut. Buanglah sikap gengsi dan sombong, untuk tujuan yang lebih besar dan mulia dalam berumah tangga. Hal ini bukan hanya berlaku bagi istri kepada suami, tetapi juga sebaliknya. Yaitu, bagi suami kepada istrinya. Keduanya harus senantiasa bisa saling mengalah, berusaha saling memberi, dan siap menjaga keharmonisan. Demi kebahagiaan bersama dalam keluarga.

Agar keluarga dan rumah tangga tidak terjerumus dalam berbagai problem dan godaan yang membahayakan, maka suami istri harus senantiasa melakukan muhasabah dan introspeksi diri di setiap waktu. Berusaha untuk menyelesaikan setiap persoalan yang ada, dengan sebaik-baiknya. Dan tidak menunda-nunda. Ketika menemukan masalah yang mengganjal, yang mengganggu pikiran dan perasaan dalam berumah tangga, baik terkait dengan pasangan atau hal lain, hendaknya itu segera dikomunikasikan dengan pasangan dan berusaha dicarikan solusinya. Hal ini agar problem-problem yang ada tidak menumpuk makin hari makin banyak, sehingga menjadi virus atau bakteri yang menggerogoti kekokohan rumah tangga dan kesetiaan dengan pasangan. 

Dalam suatu riwayat, Rasulullah pernah menasehati Abu Dzar, “Perkokohlah bahteramu karena samudera sangat dalam. Perbanyaklah bekalmu karena perjalanan amat panjang. Ringankanlah beban bawaanmu karena rintangan yang engkau hadai amat berat. Dan ikhlaskanlah amalmu karena Allah mengetahui segala yang terbesit dalam pikiran dan hatimu”.

Dalam mengarungi samudera, terkadang sebuah bahtera miring ke kiri dan ke kanan, satu saat tenang dan di saat yang lain dihempas gelombang. Kadang disengat panas, kadang diguyur hujan. Kadang menyenangkan, kadang menyedihkan. Untuk itu, sejak awal bahtera harus dipersiapkan dan diperkuat segala sisinya. Pondasi dasarnya, dinding-dindingnya, juga atapnya. Senantiasa menjaga arah dan langkah agar tidak keluar dari tujuan asasinya. Segera berusaha mengembalikan ke arah dan tujuan yang mau dituju tatkala menyimpang. Selalu berusaha menjaga keutuhan, ketenangan, dan ketentraman anggotanya.

Sungguh, tidak ada kebajikan dan kebahagiaan, dalam rumah tangga yang dimurkai Allah. Isinya selalu penuh masalah, konflik, dan permusuhan. Hari-harinya senantiasa dihiasi dengan percekcokan dan pertengkaran. Oleh karena itu, sekecil apa pun masalah dan problem yang ada dalam rumah tangga, harus diusahakan untuk segera diatasi dan dipadamkan. Bahtera rumah tangga hendaknya dihiasi dengan ucapan-ucapan yang baik, pujian-pujian dan motivasi  saling menguatkan, dan doa-doa penuh harapan. Tatkala biduk rumah tangga oleng, jangan saling berlepas tangan dan menyalahkan, tetapi justru sebaliknya, semakin peduli untuk saling membantu, saling erat berpegangan, dan selalu mendekatkan kepada Sang Pemilik keselamatan. Menyiapkan sepenuh jiwa dan raga untuk berkorban.

Sadarilah bahwa, niat membangun rumah tangga adalah untuk beribadah, sehingga apa pun suka dukanya harus tetap diletakkan dalam konteks ibadah. Untuk mencari pahala dan ridha Allah. Selain dituntut untuk menjaga keikhlasan, maka perjuangan meniti jalan-Nya sangat dibutuhkan, dalam situasi dan kondisi sesulit apa pun. Semakin besar jerih payah dan pengorbanan yang dilakukan, semakin besar pula pahala dan kebahagiaan yang akan didapatkan. Insya Allah.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman