Dr. Muslich Taman, Lc., M.Pd.I.
(Penulis Buku 30 Pilar Keluarga Bahagia)
Berdasarkan data statistik, kasus perceraian
di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dan di antara
penyebab terbesar perceraian adalah perselisihan dan pertengkaran, yang
didominasi karena faktor ekonomi. Hal ini, seringkali terjadi karena tidak
adanya titik temu dari kedua belah pihak, atau tidak siapnya masing-masing
untuk menghadapi masalah yang sedang menerpa. Tentu kondisi yang demikian,
mengundang keprihatinan mendalam semua pihak. Mengingat keluarga adalah
institusi pertama dan sekaligus terpenting untuk membangun kepribadian setiap
anak bangsa. Dari keluarga yang baik, akan lahir anak-anak bangsa yang baik,
dan begitu sebaliknya.
Sesungguhnya
tidak ada satu pun perjalanan hidup manusia yang mulus tanpa masalah. Berjalan lurus sesuai dengan
segala yang dicita-citakan dan diharapkan. Dari awal hingga akhir. Begitupun
perjalanan
dalam meniti kehidupan berumah tangga. Bahkan, perjalanan berumah tangga manusia paling mulia, Rasulullah
bersama istri-istrinya sekalipun. Karena, hakikat hidup adalah perjuangan menghadapi
masalah. Menyelesaikan satu masalah menuju masalah berikutnya. Semakin banyak
masalah yang mampu diselesaikan dalam kehidupan seseorang, maka hidupnya
semakin hidup.
Allah berfirman, “(Dia) Yang menciptakan kematian
dan kehidupan, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik
amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (Al-Mulk: 2)
Hal yang demikian itu, adalah sunnatullah kehidupan. Dihadapi dan dialami siapa pun. Sebagai penguat,
pengokoh, dan pembeda kualitas hamba-hamba yang beriman dari yang tidak beriman.
Oleh karena itu, hal sangat penting dalam kehidupan berumah tangga adalah, saat
ada masalah dengan pasangan, sekecil apa pun, maka hendaklah suami atau istri bersikap
bijaksana, segera mengambil sikap dan inisiatif yang tepat. Cepat
menghadapinya dan mencari solusi atas masalah yang ada, dan tidak
mengacuhkannya. Jangan pura-pura
tidak ada masalah. Atau, segera bereaksi dengan menambah masalah baru.
Misalkan, dengan ngambek sambil memendam masalah yang ada,
berprilaku culas,
jutek, malas
beraktivitas, murung,
tidak peduli, atau
bersikap semaunya sendiri. Hal-hal tersebut, jangan dilakukan! Karena akan
menambah masalah semakin berkepanjangan,
Sikap menghindar dan menutupi seolah-olah tidak ada
masalah, akan dapat
membawa akibat yang lebih fatal
di kemudian hari. Masalah-masalah
yang pernah ada dan belum terselesaikan tersebut, akan dapat berakumulasi
menjadi masalah besar. Karenanya, setiap
permasalahan yang ada dalam keluarga, hendaknya
dipandang secara bijak dan segera diselesaikan. Jangan diremehkan dan dibiarkan,
atau masing-masing menempuh
langkah-langkah yang melukai perasaan pasangan.
Memang, dalam menyelesaikan masalah, apa pun
problemanya,
butuh waktu dan proses yang tepat. Butuh kearifan dan kesabaran.
Harus dicari momen dan cara bijaksana, yang tidak merendahkan perasaan pihak-pihak
yang ada. Meskipun pada dasarnya, lebih cepat akan lebih bagus dalam menyelesaikan
masalah. Bagaikan duri atau paku yang melukai kaki, bila dibiarkan
berlarut-larut akan bisa mengakibatkan luka yang berbahaya. Maka, lebih baik
segera diatasi. Dicabut lalu dengan cepat diobati. Mungkin saat itu,
berdarah-darah dan terasa sangat sakit. Tapi yang penting setelah itu, segera
sembuh, sehat, dan tidak meninggalkan titanus, atau inveksi apa pun yang lebih
luas. Begitulah juga masalah rumah tangga.
Problem rumah tangga membutuhkan kelapangan dada dan niat yang
baik dari semua pihak. Suami yang sedang marah misalkan,
tidak boleh dihadapi dengan kemarahan yang sama dari
istri. Demikian sebaliknya. Atau, kecemburuan istri kepada suami, tidak boleh
langsung disikapi
dengan perginya
istri dari rumah. Atau, keterpurukan ekonomi keluarga, langsung disikapi dengan
saling tidak percaya, atau mudah menyalahkan pasangan, dll. Sebagaimana, kobaran api
tidak boleh dilawan
dengan kobaran api, tapi
butuh siraman air dingin atau busa. Benang yang sedang kusut, butuh tangan
terampil yang penuh empati dan sabar untuk mengurai, bukan tangan acuh yang tak
peduli. Fisik yang jatuh dan terperosok, butuh uluran tangan yang hangat untuk
mengangkat dan membangunkannya. Atau, jiwa dan hati yang sedang sedih butuh
kata penghibur yang menguatkan dan membangkitkan. Dan begitu seterusnya.
Hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berikut ini bisa menjadi satu solusi yang cukup penting sekaligus sangat tepat, dimana beliau telah bersabda, ”Dan istri-istri kalian yang termasuk penghuni surga adalah yang penuh cinta kasih, banyak melahirkan anak, dan yang suka kembali kepada suaminya. Yaitu jika suaminya marah kepadanya, dia datang kepadanya dan meletakkan tangannya ke tangan suaminya seraya berkata, ’Saya tidak merasa tenang sehingga engkau ridha kepadaku." (Silsilah al-Ahaadits al-Shahiihah, 287).
Kehadiran seorang istri kepada
suaminya dan duduk di sampingnya seraya meletakkan tangan ke tangan suaminya,
mengatakan kepadanya bahwa dia tidak bisa tenang dan tidur sehingga suaminya
ridha, merupakan sarana yang sangat baik untuk menenangkan jiwa sekaligus menjernihkan
kekeruhan hidup berumah tangga, dengan sikap sabar dan lemah lembut. Buanglah sikap gengsi dan sombong,
untuk tujuan yang lebih besar dan mulia dalam berumah tangga.
Hal ini bukan
hanya berlaku bagi istri kepada suami, tetapi juga sebaliknya. Yaitu, bagi
suami kepada istrinya. Keduanya harus senantiasa bisa saling mengalah, berusaha
saling memberi, dan siap menjaga keharmonisan. Demi kebahagiaan bersama dalam
keluarga.
Agar keluarga dan
rumah tangga tidak terjerumus dalam berbagai problem dan godaan yang
membahayakan, maka suami istri harus senantiasa melakukan muhasabah dan introspeksi
diri di setiap waktu. Berusaha untuk menyelesaikan setiap persoalan yang ada,
dengan sebaik-baiknya. Dan tidak menunda-nunda. Ketika menemukan masalah yang
mengganjal, yang mengganggu pikiran dan perasaan dalam berumah tangga, baik
terkait dengan pasangan atau hal lain, hendaknya itu segera dikomunikasikan
dengan pasangan dan berusaha dicarikan solusinya. Hal ini agar problem-problem
yang ada tidak menumpuk makin hari makin banyak, sehingga menjadi virus atau
bakteri yang menggerogoti kekokohan rumah tangga dan kesetiaan dengan
pasangan.
Dalam suatu
riwayat, Rasulullah pernah menasehati Abu Dzar, “Perkokohlah bahteramu
karena samudera sangat dalam. Perbanyaklah bekalmu karena perjalanan amat
panjang. Ringankanlah beban bawaanmu karena rintangan yang engkau hadai amat
berat. Dan ikhlaskanlah amalmu karena Allah mengetahui segala yang terbesit
dalam pikiran dan hatimu”.
Dalam
mengarungi samudera, terkadang sebuah bahtera miring ke kiri dan ke kanan, satu
saat tenang dan di saat yang lain dihempas gelombang. Kadang disengat panas,
kadang diguyur hujan. Kadang menyenangkan, kadang menyedihkan. Untuk itu, sejak
awal bahtera harus dipersiapkan dan diperkuat segala sisinya. Pondasi dasarnya,
dinding-dindingnya, juga atapnya. Senantiasa menjaga arah dan langkah agar
tidak keluar dari tujuan asasinya. Segera berusaha mengembalikan ke arah dan
tujuan yang mau dituju tatkala menyimpang. Selalu berusaha menjaga keutuhan,
ketenangan, dan ketentraman anggotanya.
Sungguh, tidak
ada kebajikan dan kebahagiaan, dalam rumah tangga yang dimurkai Allah. Isinya
selalu penuh masalah, konflik, dan permusuhan. Hari-harinya senantiasa dihiasi
dengan percekcokan dan pertengkaran. Oleh karena itu, sekecil apa pun masalah
dan problem yang ada dalam rumah tangga, harus diusahakan untuk segera diatasi
dan dipadamkan. Bahtera rumah tangga hendaknya dihiasi dengan ucapan-ucapan
yang baik, pujian-pujian dan motivasi saling
menguatkan, dan doa-doa penuh harapan. Tatkala biduk rumah tangga oleng, jangan
saling berlepas tangan dan menyalahkan, tetapi justru sebaliknya, semakin peduli
untuk saling membantu, saling erat berpegangan, dan selalu mendekatkan kepada
Sang Pemilik keselamatan. Menyiapkan sepenuh jiwa dan raga untuk berkorban.
Sadarilah bahwa, niat membangun rumah tangga adalah untuk beribadah, sehingga apa pun suka dukanya harus tetap diletakkan dalam konteks ibadah. Untuk mencari pahala dan ridha Allah. Selain dituntut untuk menjaga keikhlasan, maka perjuangan meniti jalan-Nya sangat dibutuhkan, dalam situasi dan kondisi sesulit apa pun. Semakin besar jerih payah dan pengorbanan yang dilakukan, semakin besar pula pahala dan kebahagiaan yang akan didapatkan. Insya Allah.
