Khouf
dan
Roja' (Idul Adlha)[1]
Drs. KH. Ah. Adib Al Arif, M.Ag.[2]
![]() |
| Suasana Shalat Idul Adlha di Masjid Darussalam Desa Pekalongan |
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اللهُ أَكْبَرُ (3×) اللهُ أَكْبَرُ (3×) اللهُ أكبَرُ
(3×)
اللهُ أَكْبَرُ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَأبْدَر- اللهُ
أَكْبَرُ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَأَفْطَر
اللهُ أَكْبَرُ كُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَأَمْطَر وَكُلَّماَ
نَبَتَ نَبَاتٌ وَأَزْهَر
اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ,
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ, وَاللهُ أَكْبَرُ, اللهُ
أَكْبَر,ُ وَ للهِ اْلحَمْدُ.
إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ،
ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله
فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ. أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا
اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى
اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hadirin jamaah Shalat Idul
Adlha yang dimuliakan Allah
Marilah kita tingkatkan ketaqwaan
kepada Allah SWT dengan senantiasa meneliti dan introspeksi terhadap segala
tindak tanduk kita apakah sudah sesuai dengan ajaran Allah SWT ataukah belum.
Lalu bagaimana seharusnya sikap
terhadap Gusti Allah SWT?
Di antaranya adalah yang
dicontohkan oleh Nabiyullah Ibrahim AS dan Nabiyullah Ismail AS.
QS. As Shaaffat:
فَلَمَّا
بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي
أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka
tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,
Ibrahim berkata: ‘Hai
anakku sesungguhnya
aku
melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai
bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
Ada sifat yang diujikan Allah
SAW kepada kedua nabi tersebut, bagaimana kesabaran mereka dalam menghadapi
cobaan sekaligus keteguhan hati mereka dalam menjalankan perintah berat dari
Allah SAW.
Ternyata kunci kesabaran beliau
berdua adalah adanya rasa takut bermaksiat dan berharap dapat ridlo dari Allah
SAW. Sikap takut itu disebut dengan khauf dan berpengharapan penuh kepada Allah
SWT itu disebut dengan raja’. Ini sesuai dengan QS Al A’raf ayat 56:
وَلَا تُفْسِدُواْ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا
وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ
ٱلْمُحْسِنِينَ
“Dan
janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya
dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (Tidak akan diterima) dan harapan
(akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang
berbuat baik.”
Dalam kitab
tafsir Al-Wasith karya Syaikh Tanthowi dijelaskan bahwa takut
adalah rasa susah dalam hati lantaran mewaspadai suatu hal yang tidak diingini
di masa mendatang. Berharap
adalah kesenangan hati lantaran menunggu hal yang diingini di masa mendatang.
Rasa takut dan harapan merupakan obat bagi hati dari penyakit merasa aman dari
azab Allah dan putus asa akan rahmat-Nya.
Bila dalam hati telah merasa
takut betapa dahsyatnya hukuman Allah maka ia akan khawatir dan susah. Berharap
ia bisa merasakan rahmat, kasih sayang dan ampunan-Nya ia akan
tenang disertai kesadarannya akan kedahsyatan hukuman-Nya.
Jadi, rasa takut
dan berharap bagaikan dua sayap bagi seekor burung. Harapan akan membimbing
kepada segala kebaikan sedangkan rasa takut menjadi cemeti dalam menghalangi
setiap keburukan. Kedua hal ini merupakan kedudukan dan keadaan bagi orang yang
berjalan di jalan Allah.
Tanda-tanda berharap adalah
kesungguhan dalam bermujahadah dengan amal sholeh dan istiqamah dalam kebaikan.
Di antara tanda keteguhannya ialah merasa nikmat akan kelanggengan taat kepada
Allah dan menikmati bermunajat kepada-Nya.
Ciri sifat takut adalah
meninggalkan kemaksiatan dan hawa nafsu, atau merasa kurang nyaman dengan
segala kenikmatan duniawi, mengekang anggota badan dari kemaksiatan dan
mendorongnya dalam ketaatan.
Hasil rasa takut (khauf) dan
pengharapan (raja’) ini di antaranya disebut di akhir ayat tersebut:
إن رحمة الله قريب من المحسنين
“Sesungguhnya
rahmat Allah dekat dari muhsinin”. Yaitu orang-orang yang mengikuti perintah
Allah dan meninggalkan larangan-Nya.
Ternyata itulah yang dilakukan
oleh Nabiyullah Ibrahim dan Nabiyullah Ismail AS. Sehingga beliau berdua pun
masuk ke dalam golongan orang-orang berbuat kebaikan (muhsinin).
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ. وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ. قَدْ
صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Tatkala
keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya),
(nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami
panggillah dia: ‘Hai
Ibrahim. Sesungguhnya
kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi
balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Yang
dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari
Allah SAW dan wajib melaksanakannya. Karena mimpi seorang Nabi adalah wahyu.
Orang-orang berbuat kebaikan
(muhisinin) inilah di Akhirat kelak ia akan meraih ridha Allah yang
mengantarkan ke Surga Adn. Allah berfirman dalam QS. Al Bayyinah: 8
رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
“Allah
ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Balasan
itu (Surga Adn) adalah bagi orang yang takut terhadap Tuhan-Nya".
Nah. Jamaah Shalat Idul Adlha
yang dirahmati Allah,
Saat ini kita berada di dalam
situasi mencekam di bawah ancaman bencana pandemi covid-19. Lalu apa yang bisa
kita lakukan dalam menghadapi ini semua?
Tak lain adalah:
1.
tetap
bersabar dengan selalu mengikuti protokol kesehatan (rajin menjaga kebersihan,
memakai masker dan menjaga jarak).
2.
Efek
pandemi di bidang ekonomi harus mempertebal rasa takut (khouf), jangan sampai ada
kesalahan mencari rizki (maksiat ekonomi).
3.
serta
selalu berharap (raja’) akan datangnya pertolongan dari Allah SWT.
Semoga kita semua tetap di
jalan Allah, senantiasa mendapat anugerah-Nya serta kembali kepadaNya.
Semoga Allah melindungi
keimanan kita, melindungi amalan-amalan kita dari ketergelinciran yang tidak
kita sadari. Amin. Amin Ya Rabbal Alamin.
وإذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم {إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا
الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ
وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (15) تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ
رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (16)} [السجدة:
15، 16]
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم. ونفعني وإياكم
بتلاوته إنه هو السميع العليم.
