Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Siapa yang tidak tahu nama alat pembersih debu,
sawang, sampah, dibuat dari lidi, sabut, atau bahan sintetis, diikat, dan
diberi tangkai? Lazimnya tiap rumah tangga punya perkakas ini.
Dari kata dasar sapu terbentuk kata turunan menyapu,
menyapukan, penyapu, penyapuan, tersapu, kesapu, disapukan, bersapukan, dan
menyapu-nyapu. Keseluruhan kata tersebut tidak lepas dari kata bersih,
mengingat fungsi utama dan kegunaan alat ini tidak lain untuk menjadikan area
yang kotor jadi bersih, yang kurang bersih jadi lebih bersih.
Bersih artinya tidak kotor. Halaman, teras, lantai,
langit-langit, dinding rumah, dikatakan bersih apabila tidak ada kotoran.
Kotoran dapat berupa apa saja selama menyebabkan sesuatu tidak bersih. Dan sapu
menjadi salahsatu alat pembersihnya.
Kebersihan adalah kewajiban setiap mukmin, merujuk
sabda Nabi SAW an-Nadhaafatu minal iimaan, kebersihan adalah sebagian dari
iman. Logikanya, beriman hukumnya wajib, kebersihan sebagian dari iman, mejaga
kebersihan adalah sebagian dari kewajiban.
Dikatakan wajib karena ada perintah atau aturan yang
mengharuskan. Di ruang Kelas dibuat piket kebersihan siswa, di perkantoran ada
petugas yang rutin menyapu ruangan dan lingkungan sekitar, di rumah anak-anak
dibelajari menyapu, menegas wajibnya menjaga kebersihan.
Lebih dari kewajiban, kebersihan merupakan kebutuhan
semua orang sepanjang waktu, secara personal maupun komunal. Kewajiban yang
dilaksanakan terus menerus akhirnya jadi kebiasaan. Kebiasaan yang berjalan
dalam jangka lama jadi kebutuhan. Setelah jadi kebutuhan, tanpa diperintah,
dengan penuh kesadaran melakukan sesuatu yang dibutuhkan. Kewajiban ditopang
oleh ‘ketakutan’ terhadap sanksi dan pengawasan, sementara kebutuhan bertumpu
pada kesadaran dan keikhlasan. Awalnya kewajiban, tengahnya kebiasaan, akhirnya
jadi kebutuhan.
Kebersihan jadi kebutuhan semua orang sepanjang waktu?
Bersih itu berbunga sehat berbuah indah. Suasana dan area yang bersih, sehat
dan indah menjadikan hidup terasa nyaman. Naluri setiap orang membutuhkan
semuanya itu. Bayi berumur seminggu saja sudah bisa membedakan bersih-kotornya
lapak yang ditempati, apalagi remaja, dewasa, lansia. Suasana bersih, sehat,
indah dan nyaman tentu ingin dirasakan berlama-lama, bahkan kalau bisa
selamanya. Baru sebentar saja terasa kotor, ingin segera membersihkannya.
Setiap orang butuh kebersihan, kesehatan, keindahan dan kenyamanan setiap saat.
Pangkalnya bersih, ujungnya sehat, indah dan nyaman.
Bahwa tiap orang sepanjang waktu butuh tempat dan
suasana bersih luar-dalam, jasmani-ruhani, rasanya tak terbantahkan. Tidak
hanya teras dan halaman saja yang disapu, ruang dalam rumah juga butuh
dibersihkan. Tidak hanya pakaian saja yang perlu dibersihkan, hati dan pikiran
juga butuh suasana yang bersih. Semua orang tahu itu, tapi tidak semua mau,
padahal mampu.
Karena tidak semua orang mau, ada yang hanya
mengutamakan kebersihan untuk menampilkan kebersihan dan keindahan bagian luar
saja. Mereka demikian sibuk membersihkan bagian depan-belakang, kiri dan kanan
rumah biar tampak bersih. Tak cukup hanya tampak bersih bagian teras dan
halaman, kiri-kanan-belakang rumah ditata dan diberi aksesori sedemikian rupa
agar terlihat bersih, indah, nyaman, dan keren! Apa maunya? Biar orang yang
melihat terhipnotis dan berdecak kagum: Oh.... bersihnya... indahnya....
Ck-ck-ck. Di luar rumah tampak bersih, indah, keren, sementara bagian dalam
kotor dan berantakan.
Kebalikannya, ada yang hanya fokus pada kebersihan dan
keindahan dalam rumah. Ruang tamu, kamar tidur, ruang keluarga hingga dapur dan
kamar mandi dibersihkan dan ditata sedemikian rupa sehingga penghuninya
benar-benar merasa nyaman. Bagian luar rumah? Cukup disekat pagar tembok
keliling. Bagi mereka tidak penting. Apa artinya bersih dan indah di luar,
sementara di dalam kotor dan berantakan. Substansi lebih penting dari aksesori,
demikian kira-kira logika mereka.
Sapu yang digunakan pun harus bersih. Bagaimana
mungkin menghasilkan keadaan yang benar-benar bersih sementara sapu yang
digunakan kotor? Jeruk makan jeruk ya? Bagaimana kalau hal itu dilakukan
berulang-ulang? Lama-lama bersih juga kan?!
Logika ini membayangkan, sapu kotor yang digunakan
berulang-ulang, lama-lama kotoran yang menempel akan berguguran, pada kali ke
sekian sapu yang semula kotor akan jadi bersih. Dengan demikian – masih menurut
logika ini – pada akhirnya area yang disapu bisa benar-benar bersih, karena
sapu yang semula kotor jika digunakan terus menerus akhirnya jadi bersih.
Logika di atas mirip dengan ceritanya Fulan yang
‘berdagang’ sedekah untuk menangguk pahala berganda. Ceritanya begini, akibat
kecerobohan menjalankan bisnisnya, Fulan jatuh bangkrut dalam waktu cukup lama.
Dalam kondisi demikian ia iri dengan tetangga yang sering bersedekah dengan
harta yang mereka miliki. Demi menjaga gengsi sekaligus mendapat pahala
berganda dengan mudah, Fulan berniat mencuri untuk disedekahkan. Dia tahu
persis, 1 kejahatan dapatnya 1 dosa, 1 kebaikan balasannya 10 pahala. Ketika
hendak mencuri Fulan pun berdoa agar niatnya mencuri berhasil dengan selamat
dan mendapat hasil dalam jumlah banyak.
Fulan mengira doanya terkabul, aksi mencurinya
berhasil, selamat, dapat 10 Kg emas. Sesuai rencana dan perhitungan sebelumnya,
1 Kg emas ia jual, hasilnya disedekahkan kepada fakir miskin. Dia pikir, pahala
sedekah yang 10 jika dikurangi 1 dosa masih 9 pahala, belum lagi 9 Kg emas
tersisa. Untuk sementara waktu pikiran Fulan senang, sukses mencuri, untung 9
pahala dan 9 Kg emas. Namun terasa ada sesuatu yang membuat hatinya resah,
gelisah. Fulan pun berniat mengkonsultasikan masalahnya kepada orang yang lebih
tahu.
Suatu pagi Fulan pergi ke rumah seorang Syekh untuk
konsultasi. Baru beberapa langkah, secara kebetulan bepapasan dengan Syekh yang
dituju, dia pun menjelaskan detail masalah yang menggelisahkan hatinya. Dengan
air muka yang begitu menyejukkan tanpa mengurangi kejelasan dan ketegasan
‘fatwanya’, Sang Syekhh menutur: “Allah tidak menerima sedekah dari sesuatu
yang haram. Oleh karena itu tindakan bersedekahmu sia-sia, tidak berpahala, dan
dosa mencurimu tak terhapuskan!”.
Mendengar penjelasan sang Syekh, Fulan tercenung
sembari meghadapkan wajahnya ke tanah beberapa saat, menandakan penyesalan
mendalam. Dalam posisi demikian kepikiran, “bagaimana kalau 9 Kg emas yang
tersisa ku sedekahkan sekalian. Minimal mengimpas dosa pencurian yang
kulakukan”. Begitu Fulan menegakkan kepala hendak melanjutkan tanya, Sang Syekh
telah raib entah ke mana. Wallahua'lam.
