KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Selasa, 18 Agustus 2020

Sapu Bersih

 

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

  

Siapa yang tidak tahu nama alat pembersih debu, sawang, sampah, dibuat dari lidi, sabut, atau bahan sintetis, diikat, dan diberi tangkai? Lazimnya tiap rumah tangga punya perkakas ini.

Dari kata dasar sapu terbentuk kata turunan menyapu, menyapukan, penyapu, penyapuan, tersapu, kesapu, disapukan, bersapukan, dan menyapu-nyapu. Keseluruhan kata tersebut tidak lepas dari kata bersih, mengingat fungsi utama dan kegunaan alat ini tidak lain untuk menjadikan area yang kotor jadi bersih, yang kurang bersih jadi lebih bersih.

Bersih artinya tidak kotor. Halaman, teras, lantai, langit-langit, dinding rumah, dikatakan bersih apabila tidak ada kotoran. Kotoran dapat berupa apa saja selama menyebabkan sesuatu tidak bersih. Dan sapu menjadi salahsatu alat pembersihnya.

Kebersihan adalah kewajiban setiap mukmin, merujuk sabda Nabi SAW an-Nadhaafatu minal iimaan, kebersihan adalah sebagian dari iman. Logikanya, beriman hukumnya wajib, kebersihan sebagian dari iman, mejaga kebersihan adalah sebagian dari kewajiban.

Dikatakan wajib karena ada perintah atau aturan yang mengharuskan. Di ruang Kelas dibuat piket kebersihan siswa, di perkantoran ada petugas yang rutin menyapu ruangan dan lingkungan sekitar, di rumah anak-anak dibelajari menyapu, menegas wajibnya menjaga kebersihan.

Lebih dari kewajiban, kebersihan merupakan kebutuhan semua orang sepanjang waktu, secara personal maupun komunal. Kewajiban yang dilaksanakan terus menerus akhirnya jadi kebiasaan. Kebiasaan yang berjalan dalam jangka lama jadi kebutuhan. Setelah jadi kebutuhan, tanpa diperintah, dengan penuh kesadaran melakukan sesuatu yang dibutuhkan. Kewajiban ditopang oleh ‘ketakutan’ terhadap sanksi dan pengawasan, sementara kebutuhan bertumpu pada kesadaran dan keikhlasan. Awalnya kewajiban, tengahnya kebiasaan, akhirnya jadi kebutuhan.

Kebersihan jadi kebutuhan semua orang sepanjang waktu? Bersih itu berbunga sehat berbuah indah. Suasana dan area yang bersih, sehat dan indah menjadikan hidup terasa nyaman. Naluri setiap orang membutuhkan semuanya itu. Bayi berumur seminggu saja sudah bisa membedakan bersih-kotornya lapak yang ditempati, apalagi remaja, dewasa, lansia. Suasana bersih, sehat, indah dan nyaman tentu ingin dirasakan berlama-lama, bahkan kalau bisa selamanya. Baru sebentar saja terasa kotor, ingin segera membersihkannya. Setiap orang butuh kebersihan, kesehatan, keindahan dan kenyamanan setiap saat. Pangkalnya bersih, ujungnya sehat, indah dan nyaman.

Bahwa tiap orang sepanjang waktu butuh tempat dan suasana bersih luar-dalam, jasmani-ruhani, rasanya tak terbantahkan. Tidak hanya teras dan halaman saja yang disapu, ruang dalam rumah juga butuh dibersihkan. Tidak hanya pakaian saja yang perlu dibersihkan, hati dan pikiran juga butuh suasana yang bersih. Semua orang tahu itu, tapi tidak semua mau, padahal mampu.

Karena tidak semua orang mau, ada yang hanya mengutamakan kebersihan untuk menampilkan kebersihan dan keindahan bagian luar saja. Mereka demikian sibuk membersihkan bagian depan-belakang, kiri dan kanan rumah biar tampak bersih. Tak cukup hanya tampak bersih bagian teras dan halaman, kiri-kanan-belakang rumah ditata dan diberi aksesori sedemikian rupa agar terlihat bersih, indah, nyaman, dan keren! Apa maunya? Biar orang yang melihat terhipnotis dan berdecak kagum: Oh.... bersihnya... indahnya.... Ck-ck-ck. Di luar rumah tampak bersih, indah, keren, sementara bagian dalam kotor dan berantakan.

Kebalikannya, ada yang hanya fokus pada kebersihan dan keindahan dalam rumah. Ruang tamu, kamar tidur, ruang keluarga hingga dapur dan kamar mandi dibersihkan dan ditata sedemikian rupa sehingga penghuninya benar-benar merasa nyaman. Bagian luar rumah? Cukup disekat pagar tembok keliling. Bagi mereka tidak penting. Apa artinya bersih dan indah di luar, sementara di dalam kotor dan berantakan. Substansi lebih penting dari aksesori, demikian kira-kira logika mereka.

Sapu yang digunakan pun harus bersih. Bagaimana mungkin menghasilkan keadaan yang benar-benar bersih sementara sapu yang digunakan kotor? Jeruk makan jeruk ya? Bagaimana kalau hal itu dilakukan berulang-ulang? Lama-lama bersih juga kan?!

Logika ini membayangkan, sapu kotor yang digunakan berulang-ulang, lama-lama kotoran yang menempel akan berguguran, pada kali ke sekian sapu yang semula kotor akan jadi bersih. Dengan demikian – masih menurut logika ini – pada akhirnya area yang disapu bisa benar-benar bersih, karena sapu yang semula kotor jika digunakan terus menerus akhirnya jadi bersih.

Logika di atas mirip dengan ceritanya Fulan yang ‘berdagang’ sedekah untuk menangguk pahala berganda. Ceritanya begini, akibat kecerobohan menjalankan bisnisnya, Fulan jatuh bangkrut dalam waktu cukup lama. Dalam kondisi demikian ia iri dengan tetangga yang sering bersedekah dengan harta yang mereka miliki. Demi menjaga gengsi sekaligus mendapat pahala berganda dengan mudah, Fulan berniat mencuri untuk disedekahkan. Dia tahu persis, 1 kejahatan dapatnya 1 dosa, 1 kebaikan balasannya 10 pahala. Ketika hendak mencuri Fulan pun berdoa agar niatnya mencuri berhasil dengan selamat dan mendapat hasil dalam jumlah banyak.

Fulan mengira doanya terkabul, aksi mencurinya berhasil, selamat, dapat 10 Kg emas. Sesuai rencana dan perhitungan sebelumnya, 1 Kg emas ia jual, hasilnya disedekahkan kepada fakir miskin. Dia pikir, pahala sedekah yang 10 jika dikurangi 1 dosa masih 9 pahala, belum lagi 9 Kg emas tersisa. Untuk sementara waktu pikiran Fulan senang, sukses mencuri, untung 9 pahala dan 9 Kg emas. Namun terasa ada sesuatu yang membuat hatinya resah, gelisah. Fulan pun berniat mengkonsultasikan masalahnya kepada orang yang lebih tahu.

Suatu pagi Fulan pergi ke rumah seorang Syekh untuk konsultasi. Baru beberapa langkah, secara kebetulan bepapasan dengan Syekh yang dituju, dia pun menjelaskan detail masalah yang menggelisahkan hatinya. Dengan air muka yang begitu menyejukkan tanpa mengurangi kejelasan dan ketegasan ‘fatwanya’, Sang Syekhh menutur: “Allah tidak menerima sedekah dari sesuatu yang haram. Oleh karena itu tindakan bersedekahmu sia-sia, tidak berpahala, dan dosa mencurimu tak terhapuskan!”.

Mendengar penjelasan sang Syekh, Fulan tercenung sembari meghadapkan wajahnya ke tanah beberapa saat, menandakan penyesalan mendalam. Dalam posisi demikian kepikiran, “bagaimana kalau 9 Kg emas yang tersisa ku sedekahkan sekalian. Minimal mengimpas dosa pencurian yang kulakukan”. Begitu Fulan menegakkan kepala hendak melanjutkan tanya, Sang Syekh telah raib entah ke mana. Wallahua'lam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman