KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Selasa, 25 Agustus 2020

Pendidikan Esensial Masa Depan

 

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Praktik shalat janazah dalam proses pembelajaran pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah menjadi bagian integral dalam kurikulum. Kompetensi yang diharapkan, siswa mampu melaksanakan shalat janazah secara runut dalam rukun dan kaifiahnya. Walaupun secara fiqhiyah fardlu kifayah, namun dalam proses pembelajaran materi ini menjadi fardlu ain. Setiap siswa di jenjang ini wajib hukumnya mampu melaksanakan shalat janazah sebagai syarat pencapaian kompetensi pembelajaran dalam konteks pendidikan formal.

Pelaksanaan shalat janazah yang insidental dan status fardlu kifayah, menyebabkan penguasaan keterampilan ibadah ini cenderung formalistik-paedagogik. Artinya, motivasi penguasaan materi shalat janazah cenderung hanya untuk keperluan mendapatkan ‘nilai’ dalam proses pembelajaran. Sesudahnya, keterampilan ini jarang – untuk tidak mengatakan tidak pernah – dilaksanakan selagi usia muda. Fakta langkanya remaja atau anak muda ikut menshalatkan janazah, mengkonfirmasi hal ini.

Keadaan tersebut sangat merisaukan dunia pendidikan keislaman ketika kalangan remaja berlogika pada hukum fardlu kifayah dan berkaca pada kebiasaan yang mereka saksikan bahwa hanya orang-orang tua yang patut dan lazim melaksanakan Shalat Janazah sebagai dalih permakluman. Bagaimana kalau yang meninggal keluarga dekat, bahkan orang tuanya sendiri? Cukupkah dengan mengantar jenazah hingga ke makbaroh? Cukupkah dengan alasan fardlu kifayah? Tidak inginkah seorang anak ‘mengantarkan’ orang tuanya showan menghadap Sang Khaliq? Jika demikian logikanya, sesungguhnya telah terjadi salah satu kegagalan proses pendidikan esensial atau pendidikan nilai di kalangan generasi muda dalam hal ini, pendidikan shalat janazah.

Telah mentradisi di Desa Pekalongan Kecamatan Winong Kabupaten Pati, ketika ada warga desa yang meninggal dunia dan apabila ruangan di rumah duka tidak mencukupi untuk melaksanakan shalat janazah, pelaksanaan shalat janazah dilakukan di masjid. Yayasan Tarbiyatul Banin yang berlokasi satu komplek dengan masjid, mendapatkan ‘berkah’ tersendiri. Selain dimanfaatkan untuk praktik pembelajaran tertentu, banyak siswa dan guru yang melaksanakan shalat berjamaah di masjid ini.

Sungguh suatu pemandangan yang indah dan sangat jarang terjadi sewaktu KH. Ahmad Adib Al Arif selaku kepala Madrasah Aliyah Tarbiyatul Banin memaklumkan: “Semua siswa dari MI, MTs, maupun MA, ikut melaksanakan shalat janazah”.  Mengingat ada siswa yang belum mendapat materi shalat janazah, beliau pun memberi panduan praktis kepada para siswa agar mereka memiliki percaya diri ikut berjamaah shalat janazah. Para siswa pun dengan tertib berbaur dalam shaf-shaf muazziyin di masjid Darussalam Pekalongan untuk menshalatkan ‘tetangganya’ yang meninggal. inilah salah satu bentuk implementasi visi Yayasan Tarbiyatul Banin : Terdepan dalam ilmu, terpuji dalam laku.

Bagaimana dengan efektifitas waktu pembelajaran? Bukankah yang demikian ini menyita waktu mata pelajaran lainnya?

Perlu ditandaskan kembali bahwa proses pembelajaran harus mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor secara simultan-proporsional. Berdalih efektifitas waktu hanya untuk mengejar kompetensi lulusan ranah kognitif semata yang disimbulkan dengan deretan ‘nilai’ dalam buku rapor maupun STTB/Ijasah, berpotensi mengantarkan peserta didik ke sirath al maghdlubi ‘alaihim. Mengantarkan anak didik ke jalan kesesatan.

Pembelajaran Shalat Janazah sudah pasti tidak sekedar penguasaan kompetensi motorik. Nilai-nilai substantif esensial dapat dieksplore melalui KD ini sebagaimana sering dilisankan: Cukuplah maut itu menjadi nasihat. Puncak dan ujung kehidupan dunia tiada lain kecuali maut. Ujung dari maut yang ingin dan harus diupayakan semaksimal mungkin lebih dari sekedar surga-Nya, tapi pupusnya kerinduan dalam perjumpaan kita dengan-Nya. Abah KH. Ahmad Musthofa Bisri menasihati, masa depan yang sebenarnya bukanlah karir, jabatan atau kedudukan apalagi berlimpahnya materi.

Berlimpah peringatan telah disampaikan secara qauli-qauni, aqli-naqli. Mari songsong dan berlatih kematian sejak (usia) dini. Wallahu a'lam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman