KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 27 Juli 2020

Mensyukuri Kata

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Ribuan tahun telah dilakukan penelitian oleh pakar yang kompeten dari berbagai disiplin untuk merumuskan teori asal usul kata (bahasa), namun hingga saat ini belum ada kesimpulan final dari mana dan bagaimana asal usul Kata bermula. Kalau dinalar pun sulit dimengerti karena tidak ada satu pun formula untuk merumuskan terbentuknya suatu Kata. Kenapa misalnya, kombinasi vocal dan konsonan: k – a – t – a, atau a – k – t – a dalam Bahasa Indonesia memiliki arti yang dapat dipahami. Tapi kalau kombinasinya diubah: a – a – t – k atau k – t – a – a, tidak lagi mengandung arti.

Dari salah satu ciptaan-Nya yang terlalu amat sangat kecil ini: kata, kita tersadar betapa agung kasih sayang-Nya, yang dengannya kita bisa berbicara, bercerita, bercengkerama penuh kehangatan, berkomunikasi dan saling memahami satu sama lain. Bayangkan tiba-tiba kita tidak bisa berkata-kata, untuk sementara apalagi seterusnya, betapa susahnya. Bahkan berapapun biaya disiapkan belum tentu dapat mengembalikan keadaan semula.

Kata yang dirangkai sedemikian rupa membentuk suatu kalimat. Dengan kalimat manusia bisa mengkomunikasikan pikiran dan perasaan. Sebagai media, kata dalam bahasa lisan maupun tulisan tidak cukup menampung dan merepresentasikan isi pikiran atau perasaan manusia. Karenanya ada bahasa isarat, bahasa tubuh dan bahasa hati. Apapun bentuknya – lisan, tulisan, isarat, tubuh, hati – bahasa adalah sarana komunikasi baik antar sesama manusia, antara mahluk dengan Al-Khaliq maupun antara manusia dengan semesta.

Penelitian para pakar telah merambah ranah komunikasi semesta. Selain komunikasi antar sesama manusia, antara Tuhan dengan manusia, ditengarai adanya komunikasi antara manusia dengan alam. Tentu saja dengan tingkat dan jenis kata dan bahasa yang berbeda.

Masaru Emoto, dokter pengobatan alternatif dari Jepang, dalam risetnya menengarai kemampuan air merespon emosi manusia. Menggunakan teknik fotografi berkecepatan tinggi, terlihat struktur kristal air yang berbeda ketika kata tertentu dibaca dan ditujukan kepada air. Ketika diucapkan do’a atau kata bernuansa syukur atau cinta, kristal air membentuk konfigurasi visual-artistik yang memberi kesan rapi dan teratur. Sebaliknya, apabila diucapkan kata-kata bernuansa negatif atau destruktif, kristal air memperlihatkan tekstur berantakan.

Hasil riset ini menunjukkan adanya transformasi energi dari manusia ke air bermediakan kata. Hasil riset tersebut juga mengkonfirmasi peristiwa seorang kyai atau ‘orang pintar’ yang membacakan do’a bermediakan air untuk diminum seorang yang sedang sakit kemudian sakitnya berangsur reda. Atau pawang hujan yang mampu ‘mendriver’ awan sehingga ketika mengkristal jadi hujan jatuhnya bergeser di tempat lain.

Abah KH. Musthofa Bisri dalam berbagai kesempatan menjelaskan aktivitas dialognya dengan pohon kelapa. Di depan rumah beliau (dulu) terdapat dua pohon kelapa. Satu di sebelah kanan, satunya di sebelah kiri.

Pohon yang di sebelah kanan sering disapa, ditepuk-tepuk dan diajak bicara. Suatu ketika beliau menyapa dengan mengucap salam. Di ketika lain beliau menayakan kabarnya si pohon kelapa sambil menepuk-nepuknya. Karena perlakuan demikian, pohon kelapa ini tumbuh lebih subur dan berbuah jauh lebih banyak dibanding pohon kelapa yang tidak pernah disapa.

Demikian pula terhadap pohon mangga yang berada di depan ruang dapur rumah beliau. Ketika bagian dapur hendak direnovasi, dengan terpaksa dipotong sebagian cabangnya. Akibatnya, pada musim buah tahun itu, pohon tersebut tidak berbunga alias tidak berbuah. Dalam bahasa humor beliau, pohon mangga tersebut sedang purik atau mutung (ngambek, red). Baru pada musim buah tahun berikutnya pohon mangga tersebut berbunga dan berbuah kembali.

Setiap kata memuat informasi yang dapat dikomunikasikan, apakah perintah, larangan, atau penjelasan. Informasi tersebut mengandung energi yang mampu menggerakkan sesuatu. Bukankah misalnya, untuk menghentikan orang yang sedang berjalan atau berkendara, Polisi Lalu Lintas cukup mengucapkan kata ‘Stop’ kemudian pejalan atau pengendara itu berhenti? Atau seorang guru yang cukup mengucapkan kata ‘Diam’ membuat anak-anak menjadi tenang dari suasana  gaduh? Atau dengan mengucapkan ‘Syzsyzaahh’ kepada seekor ayam yang akan memagut padi membuatnya urung dan menjauh?

Kiranya tidak terlalu sulit dipahami bahwa setiap kata mengandung informasi, dan informasi tersebut bermuatan energi yang dapat bertransformasi kepada pihak lain. Positif atau negatif, konstruktif atau destruktifnya energi yang bertransformasi tergantung konten informasi setiap kata yang digunakan.

Maka benarlah ungkapan, ‘Kata-kata yang menyakitkan, lebih menyakitkan dari tikaman senjata tajam’. Luka akibat senjata tajam dalam tempo 1 atau 2 bulan bisa sembuh, sementara luka karena tikaman ‘kata-kata’ sembuhnya bisa 1, 2, 10 atau 20 tahun kemudian, bahkan bisa lebih dari itu. Dalam bahasa Inggris, inilah korelasi antara word(s) dengan sword. Kata-kata bisa seperti sebilah pedang yang melukai perasaan atau membunuh karakter seseorang. Dampaknya bisa individual bisa sosial. Karenanya memilih dan menggunakan kata yang mencerahkan, menjelaskan, mencerdaskan, membaikkan, membenarkan, menyejukkan, menyenangkan, menenteramkan, membahagiakan dan menyelamatkan dalam komunikasi lisan atau tulis menjadi salah satu cara mensyukuri anugerah-Nya. Wallahu a'lam bishshawab. Pekalongan, 190817.

---------------------------

Tulisan ini terdapat dalam Kado Pernikahan Ahmad Falih dengan Nurul Afifah bertajuk Tafakurku Tasyakurku.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman