Ahmad Thoha
(Pemerhati
Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Ribuan tahun telah dilakukan penelitian oleh pakar
yang kompeten dari berbagai disiplin untuk merumuskan teori asal usul kata
(bahasa), namun hingga saat ini belum ada kesimpulan final dari mana dan
bagaimana asal usul Kata bermula. Kalau dinalar pun sulit dimengerti karena
tidak ada satu pun formula untuk merumuskan terbentuknya suatu Kata. Kenapa misalnya,
kombinasi vocal dan konsonan: k – a – t – a, atau a – k – t – a dalam Bahasa
Indonesia memiliki arti yang dapat dipahami. Tapi kalau kombinasinya diubah: a
– a – t – k atau k – t – a – a, tidak lagi mengandung arti.
Dari salah satu ciptaan-Nya yang terlalu amat
sangat kecil ini: kata, kita tersadar betapa agung kasih sayang-Nya, yang
dengannya kita bisa berbicara, bercerita, bercengkerama penuh kehangatan, berkomunikasi
dan saling memahami satu sama lain. Bayangkan tiba-tiba kita tidak bisa
berkata-kata, untuk sementara apalagi seterusnya, betapa susahnya. Bahkan
berapapun biaya disiapkan belum tentu dapat mengembalikan keadaan semula.
Kata yang dirangkai sedemikian rupa membentuk
suatu kalimat. Dengan kalimat manusia bisa mengkomunikasikan pikiran dan perasaan.
Sebagai media, kata dalam bahasa lisan maupun tulisan tidak cukup menampung dan
merepresentasikan isi pikiran atau perasaan manusia. Karenanya ada bahasa isarat,
bahasa tubuh dan bahasa hati. Apapun bentuknya – lisan, tulisan, isarat, tubuh,
hati – bahasa adalah sarana komunikasi baik antar sesama manusia, antara mahluk
dengan Al-Khaliq maupun antara manusia dengan semesta.
Penelitian para pakar telah merambah ranah komunikasi
semesta. Selain komunikasi antar sesama manusia, antara Tuhan dengan manusia,
ditengarai adanya komunikasi antara manusia dengan alam. Tentu saja dengan
tingkat dan jenis kata dan bahasa yang berbeda.
Masaru Emoto, dokter pengobatan alternatif dari
Jepang, dalam risetnya menengarai kemampuan air merespon emosi manusia.
Menggunakan teknik fotografi berkecepatan tinggi, terlihat struktur kristal air
yang berbeda ketika kata tertentu dibaca dan ditujukan kepada air. Ketika
diucapkan do’a atau kata bernuansa syukur atau cinta, kristal air membentuk
konfigurasi visual-artistik yang memberi kesan rapi dan teratur. Sebaliknya,
apabila diucapkan kata-kata bernuansa negatif atau destruktif, kristal air
memperlihatkan tekstur berantakan.
Hasil riset ini menunjukkan adanya transformasi
energi dari manusia ke air bermediakan kata. Hasil riset tersebut juga
mengkonfirmasi peristiwa seorang kyai atau ‘orang pintar’ yang membacakan do’a
bermediakan air untuk diminum seorang yang sedang sakit kemudian sakitnya
berangsur reda. Atau pawang hujan yang mampu ‘mendriver’ awan sehingga ketika
mengkristal jadi hujan jatuhnya bergeser di tempat lain.
Abah KH. Musthofa Bisri dalam berbagai kesempatan
menjelaskan aktivitas dialognya dengan pohon kelapa. Di depan rumah beliau
(dulu) terdapat dua pohon kelapa. Satu di sebelah kanan, satunya di sebelah
kiri.
Pohon yang di sebelah kanan sering disapa,
ditepuk-tepuk dan diajak bicara. Suatu ketika beliau menyapa dengan mengucap
salam. Di ketika lain beliau
menayakan kabarnya si pohon kelapa sambil menepuk-nepuknya.
Karena perlakuan demikian, pohon kelapa ini tumbuh lebih subur dan berbuah jauh
lebih banyak dibanding pohon kelapa yang tidak pernah disapa.
Demikian pula terhadap pohon mangga yang berada di
depan ruang dapur rumah beliau. Ketika bagian dapur hendak direnovasi, dengan
terpaksa dipotong sebagian cabangnya. Akibatnya, pada musim buah tahun itu,
pohon tersebut tidak berbunga alias tidak berbuah. Dalam bahasa humor beliau,
pohon mangga tersebut sedang purik atau
mutung (ngambek, red). Baru pada musim buah tahun berikutnya
pohon mangga tersebut berbunga dan berbuah kembali.
Setiap kata memuat informasi yang dapat
dikomunikasikan, apakah perintah, larangan, atau penjelasan. Informasi tersebut
mengandung energi yang mampu menggerakkan sesuatu. Bukankah misalnya, untuk
menghentikan orang yang sedang berjalan atau berkendara, Polisi Lalu Lintas
cukup mengucapkan kata ‘Stop’ kemudian pejalan atau pengendara itu berhenti?
Atau seorang guru yang cukup mengucapkan kata ‘Diam’ membuat anak-anak menjadi
tenang dari suasana gaduh? Atau dengan
mengucapkan ‘Syzsyzaahh’ kepada seekor ayam yang akan memagut padi membuatnya
urung dan menjauh?
Kiranya tidak terlalu sulit dipahami bahwa setiap
kata mengandung informasi, dan informasi tersebut bermuatan energi yang dapat bertransformasi
kepada pihak lain. Positif atau negatif, konstruktif atau destruktifnya energi
yang bertransformasi tergantung konten informasi setiap kata yang digunakan.
Maka benarlah ungkapan, ‘Kata-kata yang menyakitkan, lebih menyakitkan dari tikaman senjata tajam’. Luka akibat senjata tajam dalam tempo 1 atau 2 bulan bisa sembuh, sementara luka karena tikaman ‘kata-kata’ sembuhnya bisa 1, 2, 10 atau 20 tahun kemudian, bahkan bisa lebih dari itu. Dalam bahasa Inggris, inilah korelasi antara word(s) dengan sword. Kata-kata bisa seperti sebilah pedang yang melukai perasaan atau membunuh karakter seseorang. Dampaknya bisa individual bisa sosial. Karenanya memilih dan menggunakan kata yang mencerahkan, menjelaskan, mencerdaskan, membaikkan, membenarkan, menyejukkan, menyenangkan, menenteramkan, membahagiakan dan menyelamatkan dalam komunikasi lisan atau tulis menjadi salah satu cara mensyukuri anugerah-Nya. Wallahu a'lam bishshawab. Pekalongan, 190817.
---------------------------
Tulisan
ini terdapat dalam Kado Pernikahan Ahmad Falih dengan Nurul Afifah bertajuk “Tafakurku Tasyakurku”.
