KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Kamis, 30 Juli 2020

Kurban Seremonial Vs Esensial

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Al-Quran mengajarkan berkurban melalui dua kisah, Qabil-Habil dan Ibrahim-Ismail, untuk diteladani umat Islam. Substansi kedua kisah itu menjelaskan tujuan tertinggi setiap aktivitas yang dinisbahkan dengan kurban, mendapatkan ridla Allah. Untuk mencapai tujuan tersebut, tiga syarat harus terpenuhi: ketaatan, keikhlasan, dan kebersihan jiwa dari nafsu angkara.

Lepas dari perdebatan apakah Adam manusia pertama atau bukan, secara genealogi seluruh manusia yang hidup dan pernah hidup di planet ini adalah bani Adam. Bermula ketika Hawa melahirkan anak pertama dan kedua dengan kembarannya masing-masing: Qabil-Iklima, Habil-Labuda. Berdasarkan wahyu dari Allah Adam memutuskan menikahkan silang antar mereka. Habil menerima apa pun keputusan ayahnya, sementara Qabil menolak karena tidak sesuai dorongan nafsu yang ingin menikah dengan kembarannya, Iklima.

Kebijakan seorang ayah dalam rangka mengakomodir protes anaknya, Adam memfasilitasi fit and proper test dengan menyuruh keduanya berkurban di hadapan Allah. Siapa yang kurbannya diterima dialah yang berhak menikahi Iklima. Habil dengan ikhlas mematuhi petunjuk ayahnya, berkurban binatang ternak kualitas baik, dan diterima Allah. Sementara Qabil yang telah dirasuki nafsu angkara, berkurban hasil pertanian kualitas buruk dan tertolak.

Qabil gagal memahami dan memenuhi tiga syarat mendapatkan ridla Allah. Di awal, ketentuan ayahnya tak dipatuhi. Keikhlasan sebagai syarat kedua tak dipenuhi. Ketiga, nafsu angkara mengotori ketaatan dan keikhlasan. Tak berhenti sampai di situ, nafsu yang merasukinya menggerakkan tindakan lebih fatal: membunuh Habil, pesaing dan saudara kandung sendiri. Dari kisah ini sangat jelas terbaca, nafsu yang tak terkendali dapat dipastikan menimbulkan kemadlaratan yang lebih besar.

Perkawinan Ibrahim dengan Sarah tidak berputra, Sarah pun meminta Ibrahim menikahi Hajar. Dalam usia cukup tua Ibrahim ingin dikarunia anak, maka bermohonlah ia kepada Allah. Setelah doanya terkabul dengan dikaruniai seorang putra, Ismail, ujian ketaatan dan keikhlasan pun datang. Sekira Ismail telah berumur, Ibrahim diperintah mengurbankan putra satu-satunya tersebut. Sebagai seorang ayah dan selaku penerima perintah, Ibrahim merasa perlu ‘mengkonfirmasi’ kesediaan putranya. Dengan penuh ketaatan dan keikhlasan Ismail menerima perintah Allah dan prosesi kurban pun dilaksanakan. Atas dasar ketaatan dan keikhlasan Ibrahim,  Allah mengganti Ismail dengan seekor domba,  penanda lulusnya Ibrahim menjalani ujian keimanan.

Habil yang lolos fit and proper test dengan kurban seekor domba, Ibrahim yang lulus ujian ditandai penggantian Ismail dengan seekor domba pula, memetaforkan ‘penyembelihan’ nafsu buruk dalam pribadi manusia. Nafsu hayawan memang tak pernah sirna dalam diri manusia, namun intervensinya harus dikendalikan, dan pada momen yang tepat harus ‘disembelih’ agar tidak mengotori jiwa dan keimanan.

Kualifikasi berkurban lebih tinggi dicontohkan Ibrahim dan Ismail. Ketinggian kualifikasi dimaksud bukan dalam konteks ‘membandingkan’ ketinggian derajat antara Qabil-Habil dengan Ibrahim-Ismail, melainkan sekait ‘apa’ yang dikurbankan dan ‘bagaimana’ proses itu berlangsung. Qabil-Habil berkurban dengan buah karya – hasil pertanian dan peternakan – sementara dalam kisah Ibarhim-Ismail yang dijadikan kurban adalah buah hati. Ibrahim-Ismail sepenuh ketaatan dan keikhlasan melaksanakan perintah berkurban, sementara Qabil-Habil tidak demikian.

Berkurban menjadi syari’at Rasul akhir jaman, Muhamad SAW. Tidak sedikit umat Islam yang melaksanakan syari’at ini dengan menyembelih hewan kurban tepat di hari raya Idul Adha maupun pada hari tasyrik. Bahkan untuk kepentingan pendidikan, para siswa pun ‘dilatih’ berkurban.

Semangat dan jiwa berkurban sepatutnya dilakukan dalam dimensi esensial, kurban apa saja:  waktu, harta, tenaga atau pikiran, di setiap kesempatan, agar tak terbatas dalam gelaran seremonial. Semangat dan jiwa berkurban yang terhenti pasca momen Idul Adha mengindikasikan pencapaian minimal dalam meneladani Ibrahim dan Ismail. Tidak ada yang salah dengan pencapaian minimal, tapi bukankah dalam meraih kebaikan dianjurkan maksimal.

Berkurban yang berhenti di seremonial Idul Adha juga berdampak terjadinya disorientasi tujuan dalam seluruh kegiatan yang diatasnakaman berkurban. Ibrahim tidak mengorbankan*) putranya, begitu pula Isamil tidak menjadi korban ayahnya, sebab keduanya bertumpu pada ketaatan dan keikhlasan melaksanakan perintah. Ibrahim rela mengurbankan ego kepemilikan dan Ismail pun rela mengurbankan ego pribadinya. Ibahim dan Ismail mencontohkan pencapaian tujuan tertinggi dalam berkurban, mendapatkan ridla-Nya. Karena itu jangan pernah berkurban sesuatu yang tercemari ambisi atau kepentingan pribadi, apalagi sampai tega mengorbankan kepentingan, bahkan, orang lain. Wallahu a’lam.

 

*) Dalam konteks ini KBBI memuat dua kata: kurban dan korban. Diksi kurban secara spesifik berdimensi teologis, sementara diksi korban merujuk selainnya.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman