Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Al-Quran mengajarkan berkurban melalui dua kisah,
Qabil-Habil dan Ibrahim-Ismail, untuk diteladani umat Islam. Substansi kedua
kisah itu menjelaskan tujuan tertinggi setiap aktivitas yang dinisbahkan dengan
kurban, mendapatkan ridla Allah. Untuk mencapai tujuan tersebut, tiga syarat
harus terpenuhi: ketaatan, keikhlasan, dan kebersihan jiwa dari nafsu angkara.
Lepas dari perdebatan apakah Adam manusia pertama atau
bukan, secara genealogi seluruh manusia yang hidup dan pernah hidup di planet
ini adalah bani Adam. Bermula ketika Hawa melahirkan anak pertama dan kedua
dengan kembarannya masing-masing: Qabil-Iklima, Habil-Labuda. Berdasarkan wahyu
dari Allah Adam memutuskan menikahkan silang antar mereka. Habil menerima apa
pun keputusan ayahnya, sementara Qabil menolak karena tidak sesuai dorongan
nafsu yang ingin menikah dengan kembarannya, Iklima.
Kebijakan seorang ayah dalam rangka mengakomodir
protes anaknya, Adam memfasilitasi fit and proper test dengan menyuruh keduanya
berkurban di hadapan Allah. Siapa yang kurbannya diterima dialah yang berhak
menikahi Iklima. Habil dengan ikhlas mematuhi petunjuk ayahnya, berkurban
binatang ternak kualitas baik, dan diterima Allah. Sementara Qabil yang telah
dirasuki nafsu angkara, berkurban hasil pertanian kualitas buruk dan tertolak.
Qabil gagal memahami dan memenuhi tiga syarat
mendapatkan ridla Allah. Di awal, ketentuan ayahnya tak dipatuhi. Keikhlasan
sebagai syarat kedua tak dipenuhi. Ketiga, nafsu angkara mengotori ketaatan dan
keikhlasan. Tak berhenti sampai di situ, nafsu yang merasukinya menggerakkan
tindakan lebih fatal: membunuh Habil, pesaing dan saudara kandung sendiri. Dari
kisah ini sangat jelas terbaca, nafsu yang tak terkendali dapat dipastikan
menimbulkan kemadlaratan yang lebih besar.
Perkawinan Ibrahim dengan Sarah tidak berputra, Sarah
pun meminta Ibrahim menikahi Hajar. Dalam usia cukup tua Ibrahim ingin dikarunia
anak, maka bermohonlah ia kepada Allah. Setelah doanya terkabul dengan
dikaruniai seorang putra, Ismail, ujian ketaatan dan keikhlasan pun datang.
Sekira Ismail telah berumur, Ibrahim diperintah mengurbankan putra satu-satunya
tersebut. Sebagai seorang ayah dan selaku penerima perintah, Ibrahim merasa
perlu ‘mengkonfirmasi’ kesediaan putranya. Dengan penuh ketaatan dan keikhlasan
Ismail menerima perintah Allah dan prosesi kurban pun dilaksanakan. Atas dasar
ketaatan dan keikhlasan Ibrahim, Allah
mengganti Ismail dengan seekor domba,
penanda lulusnya Ibrahim menjalani ujian keimanan.
Habil yang lolos fit and proper test dengan
kurban seekor domba, Ibrahim yang lulus ujian ditandai penggantian Ismail
dengan seekor domba pula, memetaforkan ‘penyembelihan’ nafsu buruk dalam
pribadi manusia. Nafsu hayawan memang tak pernah sirna dalam diri manusia,
namun intervensinya harus dikendalikan, dan pada momen yang tepat harus
‘disembelih’ agar tidak mengotori jiwa dan keimanan.
Kualifikasi berkurban lebih tinggi dicontohkan Ibrahim
dan Ismail. Ketinggian kualifikasi dimaksud bukan dalam konteks ‘membandingkan’
ketinggian derajat antara Qabil-Habil dengan Ibrahim-Ismail, melainkan sekait
‘apa’ yang dikurbankan dan ‘bagaimana’ proses itu berlangsung. Qabil-Habil berkurban
dengan buah karya – hasil pertanian dan peternakan – sementara dalam kisah
Ibarhim-Ismail yang dijadikan kurban adalah buah hati. Ibrahim-Ismail sepenuh
ketaatan dan keikhlasan melaksanakan perintah berkurban, sementara Qabil-Habil
tidak demikian.
Berkurban menjadi syari’at Rasul akhir jaman, Muhamad
SAW. Tidak sedikit umat Islam yang melaksanakan syari’at ini dengan menyembelih
hewan kurban tepat di hari raya Idul Adha maupun pada hari tasyrik. Bahkan
untuk kepentingan pendidikan, para siswa pun ‘dilatih’ berkurban.
Semangat dan jiwa berkurban sepatutnya dilakukan dalam
dimensi esensial, kurban apa saja:
waktu, harta, tenaga atau pikiran, di setiap kesempatan, agar tak
terbatas dalam gelaran seremonial. Semangat dan jiwa berkurban yang terhenti
pasca momen Idul Adha mengindikasikan pencapaian minimal dalam meneladani
Ibrahim dan Ismail. Tidak ada yang salah dengan pencapaian minimal, tapi
bukankah dalam meraih kebaikan dianjurkan maksimal.
Berkurban yang berhenti di seremonial Idul Adha juga
berdampak terjadinya disorientasi tujuan dalam seluruh kegiatan yang
diatasnakaman berkurban. Ibrahim tidak mengorbankan*) putranya, begitu pula
Isamil tidak menjadi korban ayahnya, sebab keduanya bertumpu pada ketaatan dan
keikhlasan melaksanakan perintah. Ibrahim rela mengurbankan ego kepemilikan dan
Ismail pun rela mengurbankan ego pribadinya. Ibahim dan Ismail mencontohkan
pencapaian tujuan tertinggi dalam berkurban, mendapatkan ridla-Nya. Karena itu
jangan pernah berkurban sesuatu yang tercemari ambisi atau kepentingan pribadi,
apalagi sampai tega mengorbankan kepentingan, bahkan, orang lain. Wallahu a’lam.
*) Dalam konteks ini KBBI memuat dua kata: kurban dan korban. Diksi kurban secara spesifik berdimensi teologis, sementara diksi korban merujuk selainnya.
