Dr. Muslich Taman, Lc., M.Pd.I.
(Penulis Buku 30 Pilar Keluarga Bahagia)
Tentang pentingnya berdandan untuk pasangan,
sebenarnya telah diketahui oleh banyak orang, lebih-lebih bagi muslim, ia
merupakan perintah Nabi kepada umatnya demi terciptanya cinta dan kasih sayang
dalam kehidupan berumah tangga. Tetapi, sangat disayangkan, ia hanya diamalkan
oleh sedikit orang. Banyak pasangan suami istri, setelah menikah mereka
mengabaikan hal yang dianjurkan oleh Nabi tersebut. Sebuah tips yang sangat
penting, untuk menjaga kelanggengan dan keharmonisan cinta dalam berkeluarga.
Entah karena mental malas yang ada pada diri pasutri, atau karena rasa PD berlebih
yang dimilikinya, seolah ia telah berada pada zona aman karena telah memiliki
pasangan, dan mengira pasangannya tidak menganggap penting hal itu, atau dia
lupa, kalau agamanya telah mengisyaratkan, bahwa keindahan, kebersihan, aroma
harum, dan hal-hal lain yang menarik hati itu, bisa menimbulkan ketenangan dan
ketentraman pada setiap jiwa. Lebih-lebih bagi pasangan suami istri. Dan
sebaliknya, pemandangan yang lusuh, kumel, kotor, awut-awutan, aroma tak sedap,
dan penampilan membosankan, itu dapat menimbulkan kebencian, kekecewaan,
kemalasan, dan ketidaknyamanan pada diri seseorang.
Karena itu, dalam sebuah sabdanya Rasulullah
memberikan pujian sebagai wanita terbaik, kepada wanita yang bisa menyenangkan
pasangannya saat ia memandang dirinya. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik istri
adalah yang menyenangkan jika engkau memandangnya, taat jika engkau
memerintahnya, serta menjaga dirinya dan hartamu (harta suami) di saat engkau
tidak berada di sisinya.” (HR. Ath-Thabarani) Tentu, hal ini tidak semata-mata
karena soal dandanan zhahir semata, tetapi juga dandanan batin yang
dilakukannya.
Betapa memesonanya wanita yang mau berdandan untuk suaminya, dan betapa karismatiknya pria yang menjaga penampilan dan kebersihan diri untuk istrinya. Itu semua, adalah bentuk ibadah dalam kehidupan berumah tangga. Amal shalih dan investasi kebaikan dalam kehidupan berkeluarga. Berdandan dan menjaga penampilan diri, tidak hanya berlaku bagi sang istri untuk suaminya, tetapi juga bagi suami untuk istrinya. Karena, pada dasarnya keindahan itu menjadi daya tarik dan pesona bagi siapa saja, laki-laki dan juga perempuan. Oleh karena itu, keduanya harus saling menyadari, memahami, memotivasi, berusaha memberi, dan tidak hanya pandai menuntut dan mencerca pasangannya. Bila seorang suami suka terhadap hal yang indah-indah dari pasangannya, maka demikian pula halnya bagi seorang istri dari suaminya.
Karena itu, jika Anda ingin harmonis dan sukses hidup
berumah tangga bersama pasangan, serta mendapatkan curahan cinta dan
perhatiannya, maka Anda harus membantu pasangan Anda untuk menjaga hatinya,
menundukkan pandangan matanya, serta membuatnya tidak lebih tertarik melihat
wanita atau pria lain daripada pada pasangannya sendiri. Bagi suami, hal itu
bisa dilakukan dengan cara menjaga penampilan, rajin olahraga, atau senantiasa
menjaga kebersihan diri. Dan bagi istri, dengan cara berhias, memakai parfum,
menjaga kerapihan, dan langkah-langkah lain yang bisa mempercantik diri,
dibarengi dengan menampilkan sifat-sifat terpuji sebagai wanita shalehah.
Sebagaimana telah disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits di atas, ”Sebaik-baik
istri adalah yang menyenangkan jika engkau memandangnya.” Selain itu, juga
sabda beliau, ”Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” Dan
Rasulullah dalam suatu kesempatan juga pernah menjelaskan, bahwa kehidupan
dunia adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.
Karena itu, sesuai dengan fitrahnya, Islam telah
memerintahkan wanita untuk berhias dan memakai wangi-wangian bagi suaminya.
Serta, menjadikan perbuatan ini termasuk bagian dari sifat-sifat wanita
shalihah. Hanya saja, seiring dengan berjalannya waktu, justru terkadang para
wanita telah mengabaikan hal penting dan mulia ini. Dan justeru melakukan yang
sebaliknya. Jika untuk pasangannya, dia tidak mempedulikannya, tetapi jika
untuk orang lain, seperti ketika akan pergi keluar rumah untuk arisan,
kondangan, kerja, berbelanja, atau berkunjung dan dikunjungi oleh orang lain,
maka dia akan memilih pakaian paling menarik, dan berdandan secantik-cantiknya
dengan hiasan yang beraneka ragam. Sehingga, berdandan dan berhias dirinya itu
justru untuk orang lain, dan bukan untuk pasangannya. Ini merupakan kesalahan
besar yang dilakukan oleh banyak pasangan suami istri.
Tidak ada yang lebih menentramkan bagi hati seorang
laki-laki melebihi memandang istri yang berwajah ceria, bararoma harum, berhias
dan berdandan menarik untuk dirinya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
sendiri telah memerintahkan laki-laki ketika kembali dari perjalanan jauh
(safar) untuk tidak langsung masuk rumah menemui istrinya (tanpa memberi kabar
akan kehadirannya), hal itu dimaksudkan agar dia tidak mendapatkan pemandangan
dari istrinya dalam keadaan yang tidak diharapkannya, semisal lusuh, kotor, dan
acak-acakan yang tidak dia inginkan, yang pada gilirannya akan membuatnya
kecewa lalu menjauhinya. Hendaklah suami memberi tahu akan kehadirannya,
sehingga istrinya siap menyambut kedatangannya dengan melakukan apa yang
semestinya bisa dilakukan; membersihkan diri, merapikan kamar, menertibkan
perabot rumah, dll, serta berhias untuknya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam bersabda,
”Jika engkau masuk (datang) pada malam hari (dari
bepergian), maka janganlah engkau langsung masuk menemui istrimu sehingga istri
yang ditinggalkan itu bersiap-siap dengan mencukur bulu dan menyisir rambut
yang masih acak-acakan.”
Di dalam hadits di atas terdapat bimbingan mulia dari
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sekaligus pengarahan bagi wanita agar
dia benar-benar memperhatikan kebersihan, penampilan, dan tidak memperlihatkan
diri di hadapan suami kecuali dengan penampilan yang menarik. Yang dapat
menambah rasa kasih dan sayang di antara keduanya, serta memperkokoh pondasi
kehidupan berumah tangga.
Lebih-lebih di zaman modern seperti sekarang ini.
Berbagai macam godaan di luar rumah serta berbagai pemandangan menggoda
laki-laki, dan sebaliknya. Hal itu semakin menempatkan tanggung jawab yang
cukup berat di pundak para pasutri, lebih khusus bagi istri. Sebab, dia harus
melindungi suaminya, menjaga kesuciannya, dan membantunya untuk tetap
menundukkan pandangan matanya, serta menghindarkan berbagai macam godaan
terlarang di jalanan. Hal itu tidak mungkin terealisir, -atau paling tidak
sebagai ikhtiar meminimalisir penyelewengan pada pasangan-, dengan jalan
menghiasi diri dengan sifat-sifat wanita shalehah, dan penampilan diri yang
menarik, yang dapat menaklukkan hati dan menjaga pandangan suami. Dimana, suami
bisa tetap setia, bahkan menjadi tenteram jika melihatnya, membuat rindu dan
terpaut hati ingin segera kembali jika jauh dari sisinya, dan membuatnya
bahagia lahir batin.
Pada dasarnya, kecantikan itu terbagi menjadi dua;
cantik luar dan cantik dalam. Yaitu, cantik lahir dan cantik batin. Meski
cantik batinlah yang jauh lebih utama, tetapi cantik lahir tidak boleh
diabaikan..
Canti batin, adalah keseriusan untuk berpegang pada
perintah-perintah agama serta berakhlak mulia. Tulus, tawadhu’, bersyukur,
berlapang dada, menghargai dan menghormati pasangan, serta sifat terpuji lainnya.
Berapa banyak wanita yang memiliki penampilan lahir
tidak terlalu cantik, tetapi penampilan batinnya sangat cantik. Maka, ia pun
dipandang oleh suaminya sebagai wanita yang luar biasa. Sebagai sosok
mengagumkan dan tidak ada duanya. Pribadi yang memiliki inner beauty penuh daya
magnet. Ia dinilai suaminya sebagai wanita yang harus selalu dijaga, karena
telah membuatnya bahagia.
Kecantikan batin itu berpusat pada hati, dan itulah kecantikan hakiki yang akan terus berlangsung sampai manusia mati. Ia mampu menghiasi diri bahkan menutupi kekurangan penampilan lahir yang tidak begitu cantik, sehingga tampak menjadi cantik.
Sebaliknya. Berapa banyak wanita yang tampak begitu
cantik secara lahiriah; make up wajahnya menggoda, kombinasi pakaian dan
asesorisnya sempurna, bodinya menawan, tetapi ternyata sangat buruk penampilan
batinnya, sehingga pasangannya tidak sanggup berlama untuk memandang wajahnya
atau mendekati tubuhnya? Jika mendekat terasa panas dan menyesakkan hati.
Cantik, tetapi tak berdaya tarik. Siapa pun dibuatnya tidak betah bertahan lama
bila hidup bersamanya. Karena, di balik kecantikan yang ditampakkan, ia
menebarkan racun yang menyakitkan, bahkan mematikan.
Kecantikan lahir, ia biasanya akan mudah pudar bahkan
cepat hilang bersamaan dengan bertambahnya usia. Dan masa-masa itu tidak lama.
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajak umatnya untuk
lebih memilih kecantikan batiniah serta mengutamakannya atas kecantikan
lahiriah. Setelah sebelumnya, beliau menjelaskan tentang sifat-sifat yang
karenanya kebanyakan seorang wanita dinikahi, di mana beliau bersabda, ”Wanita
itu pada umumnya dinikahi karena empat hal; karena hartanya, karena
keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Utamakanlah oleh
kalian wanita yang taat beragama, niscaya kalian akan beruntung.”
Seorang wanita tidak boleh larut dalam kesibukan mempercantik lahiriah/jasmaniah dengan mengabaikan kecantikan batiniah. Bahkan sebaiknya, wanita harus lebih banyak memperhatikan pentingnya mempercantik batiniah dirinya, karena poros keharmonisan dan kehidupan suami istri sesungguhnya lebih banyak bertumpu padanya, khususnya setelah masa-masa dimana kecantikan jasmaniah itu pudar karena usia. Wallahu a`lam.
