KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 08 Juni 2020

Takut

Oleh Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)


Rasa takut itu manusiawi, alami, bawaan sejak lahir alias gawan bayi.  Keberadaan rasa takut mengikuti hukum keseimbangan ciptaan-Nya:  takut-berani, kalut-berseri, salut-benci, dan semacamnya. Masing-masing pasangan muncul bergantian dalam kehidupan. Takut tidak terus menerus, berani tidak selamanya. Psikologi Rasa Ki Ageng Suryomentaram menggunakan diksi mulur-mungkret (memanjang-memendek, timbul-tenggelam, red.), ketika rasa takut mulur, rasa berani munkret, dan sebaliknya.

Banyak segi untuk mengkaji rasa takut: biologis, psikologis, sosiologis, filosofis hingga teologis. Waktu takut muncul, tubuh bereaksi secara biokimia dengan sendirinya. Tubuh akan melepaskan hormon adrenalin dalam jumlah cukup banyak untuk mengurangi tekanan psikis, diikuti oleh keluarnya keringat dingin, jantung berdebar dan perubahan lingkar kelompak mata. Sebab-akibat ini terjadi secara berimbang, berat-ringannya tekanan sebanding dengan  banyak-sedikitnya keringat dingin dan cepat-lambatnya debar jantung.

Dalam kehidupan sosial ketakutan dipicu sikap atau tindakan orang lain yang mengancam kenyamanan, keamanan, dan harga diri. Reaksi internal seperti mengurangi komunikasi sosial atau menarik diri dari pergaulan. Sedangkan reaksi eksternal berbentuk pembelaan diri dengan membenci, mencaci, atau melawan pihak yang mengusik kenyamanan, mengancam keamanan, dan menimbulkan ketakutan.

Rasa takut tidak hanya milik manusia, hewan pun punya. Penyebabnya relatif sama: ancaman terhadap kenyamanan dan keamanan. Responnya melarikan diri atau melawan. Seekor kuncing yang kepergok hendak mencuri lauk lari tungganglanggang, atau ular akan menggigit ketika terusik kenyamanan dan keamanannya. Fakta ini  menjelaskan kesamaan pola stimulus-respon dengan manusia. Dalam perskepktif filosofis, insting rasa takut adalah entitas dari eksistensi manusia yang multidimensional.

Dalam perspektif ketuhanan, rasa takut merupakan bagian dari rahmat-Nya kepada hamba yang dicintai-Nya. Hamba yang tidak punya rasa takut adalah hamba -- pada titik itu – yang tidak diberi, minimal dikurangi rahmat-Nya. Ketiadaan rasa takut bahkan bisa menyebabkan lupa diri, sombong pada sesama, dan durhaka kepada-Nya. Pemberian rasa takut (khauf) Allah iringi dengan raja, pengharapan kepada-Nya. Dengan khauf dan raja kehidupan berproses dinamis dan berimbang.

Tidak sedikit orang yang membenci rasa ini. Maunya dibuang jauh dan tak pernah ada sedikitpun, kapanpun, terhadap apapun. Andaikan ada yang bisa membuang jauh rasa takut, lalu jadilah pemberani tanpa rasa takut, pada gilirannya keberanian itu akan menjelma jadi ketakutan terhadap rasa takut itu sendiri. Satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri, kata Franklin Delano Roosevelt, presiden Amerika.

BTW, rasa takut itu insting, fitrah dan sebagian dari karunia-Nya. Menghindari rasa takut seluruhnya, tidak mungkin; menghilangkan sama sekali, apalagi. Persoalannya bukan ‘bagaimana’ menghilangkan, tapi ‘bagaimana’ mengelolanya dengan baik. Rasa takut yang dikelola dengan baik akan berubah jadi energi positif, berbuah hikmah dan berkah bagi diri sendiri dan orang lain. Wallahua’lam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman