Oleh Ahmad Thoha
(Pemerhati
Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Rasa takut itu manusiawi, alami, bawaan sejak lahir
alias gawan bayi. Keberadaan rasa takut
mengikuti hukum keseimbangan ciptaan-Nya:
takut-berani, kalut-berseri, salut-benci, dan semacamnya. Masing-masing
pasangan muncul bergantian dalam kehidupan. Takut tidak terus menerus, berani
tidak selamanya. Psikologi Rasa Ki Ageng Suryomentaram menggunakan diksi
mulur-mungkret (memanjang-memendek, timbul-tenggelam, red.), ketika rasa takut
mulur, rasa berani munkret, dan sebaliknya.
Banyak segi untuk mengkaji rasa takut: biologis,
psikologis, sosiologis, filosofis hingga teologis. Waktu takut muncul, tubuh
bereaksi secara biokimia dengan sendirinya. Tubuh akan melepaskan hormon
adrenalin dalam jumlah cukup banyak untuk mengurangi tekanan psikis, diikuti
oleh keluarnya keringat dingin, jantung berdebar dan perubahan lingkar kelompak
mata. Sebab-akibat ini terjadi secara berimbang, berat-ringannya tekanan
sebanding dengan banyak-sedikitnya
keringat dingin dan cepat-lambatnya debar jantung.
Dalam kehidupan sosial ketakutan dipicu sikap atau
tindakan orang lain yang mengancam kenyamanan, keamanan, dan harga diri. Reaksi
internal seperti mengurangi komunikasi sosial atau menarik diri dari pergaulan.
Sedangkan reaksi eksternal berbentuk pembelaan diri dengan membenci, mencaci,
atau melawan pihak yang mengusik kenyamanan, mengancam keamanan, dan
menimbulkan ketakutan.
Rasa takut tidak hanya milik manusia, hewan pun punya.
Penyebabnya relatif sama: ancaman terhadap kenyamanan dan keamanan. Responnya
melarikan diri atau melawan. Seekor kuncing yang kepergok hendak mencuri lauk
lari tungganglanggang, atau ular akan menggigit ketika terusik kenyamanan dan
keamanannya. Fakta ini menjelaskan
kesamaan pola stimulus-respon dengan manusia. Dalam perskepktif filosofis,
insting rasa takut adalah entitas dari eksistensi manusia yang
multidimensional.
Dalam perspektif ketuhanan, rasa takut merupakan
bagian dari rahmat-Nya kepada hamba yang dicintai-Nya. Hamba yang tidak punya
rasa takut adalah hamba -- pada titik itu – yang tidak diberi, minimal
dikurangi rahmat-Nya. Ketiadaan rasa takut bahkan bisa menyebabkan lupa diri,
sombong pada sesama, dan durhaka kepada-Nya. Pemberian rasa takut (khauf) Allah
iringi dengan raja, pengharapan kepada-Nya. Dengan khauf dan raja kehidupan
berproses dinamis dan berimbang.
Tidak sedikit orang yang membenci rasa ini. Maunya
dibuang jauh dan tak pernah ada sedikitpun, kapanpun, terhadap apapun. Andaikan
ada yang bisa membuang jauh rasa takut, lalu jadilah pemberani tanpa rasa
takut, pada gilirannya keberanian itu akan menjelma jadi ketakutan terhadap
rasa takut itu sendiri. Satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah
ketakutan itu sendiri, kata Franklin Delano Roosevelt, presiden Amerika.
BTW, rasa takut itu insting, fitrah dan sebagian dari karunia-Nya. Menghindari rasa takut seluruhnya, tidak mungkin; menghilangkan sama sekali, apalagi. Persoalannya bukan ‘bagaimana’ menghilangkan, tapi ‘bagaimana’ mengelolanya dengan baik. Rasa takut yang dikelola dengan baik akan berubah jadi energi positif, berbuah hikmah dan berkah bagi diri sendiri dan orang lain. Wallahua’lam.
