KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 08 Juni 2020

Mengenang Desa Pekalongan Sebelum Tahun 1977


Drs. H. Yusuf Subiyono Dimyathi

(Staf Pengajar di SMP Islam Al-Izhar Pondok Labu Jakarta Selatan Tahun 1990-2015 dan sekarang Ketua Yayasan Pendidikan Maziya)


Desa Pekalongan Kecamatan Winong Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah selalu akan saya kenang seumur hidup. Benar kata orang, bahwa tanah kelahiran itu tidak akan pernah terlupakan. Saya lahir di Desa Pekalongan tahun 1961 (di ijazah tertulis tahun 1960, (dituakan satu tahun), seangkatan dengan Pak Imam Asrori, Pak Madpur, Pak Purnomo, Kang Ibrahim Syahid, Kang Ali Irfan Yasir, Kang Ajib Waryo dan Kang Husni Asbin.

Masih tergambar dalam ingatan saya, bagaimana kondisi Desa Pekalongan pada masa saya kecil, setidaknya sebelum tahun 1977. Belum ada jalan desa yang diaspal. Jalan masih berupa tanah, yang becek saat musim hujan dan berdebu saat kemarau. Belum ada listrik, penerangan masih menggunakan lampu ublik. Ada juga lampu petromak, tetapi tidak semua orang memilikinya. Sehingga bila malam tiba, jalan gelap, hanya sorotan sinar dari rumah-rumah. Kendatipun demikian, malam hari di Desa Pekalongan saat itu bukan berarti tanpa aktivitas.

Saya termasuk beruntung dilahirkan di Desa Pekalongan, sebuah desa yang menjadi kiblat dan pusat pendidikan dan kehidupan relijius. Suasana keberagamaannya sangat kental, terlebih di lingkungan kauman (sekitar Masjid Darussalam).

Sudah menjadi budaya dan kebiasaan anak-anak, bila menjelang Maghrib mereka berkumpul di masjid dengan berbusana santri untuk menunggu kumandangnya adzan Maghrib. Sebelum adzan, biasanya dari pengeras suara masjid terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran atau sholawat.

Usai shalat Maghrib berjamaah, anak-anak langsung menuju ke musholla Kyai Syahri Ismail untuk mengaji. Sistem mengajinya waktu itu model setoran. Masing-masing anak berlatih sendiri-sendiri dulu, mengulang-ulang ayat yang akan dibaca ke guru nanti. Setelah gurunya datang, masing-masing anak duduk secara rapi dan nantinya secara berurutan maju ke guru yang saat itu dibimbing langsung oleh Kyai Syahri Ismail. Biasanya waktu mengaji sampai Isya. Kadang-kadang habis setor ke guru, ada anak yangg langsung ke masjid tapi terkadang ada anak yang tetap menunggu kawan lainnya untuk shalat Isya berjamaah.

Seusai shalat Isya, ada di antara anak yang pulang ke rumah untuk belajar, tetapi ada juga yang belajar bersama. Baru sehabis belajar mereka mulai berdatangan lagi ke masjid untuk ngobrol bareng dan tidur di masjid atau di musholla. Waktu itu hampir semua anak tiap malam tidur di masjid atau musholla. Hanya anak-anak tertentu yang tidak pernah tidur di masjid atau musholla.

Tidur di masjid atau musholla berjajar, seperti ikan pindang. Tanpa ada penerangan sama sekali, lampu sudah pasti dimatikan. Kalau mau buang air kecil ke kulah, gelap gulita. Berjalan meraba-raba. Waktu itu kulahnya masih sederhana. Mengisi kulahnya pun dengan cara menimba atau mengerek. Bila waktu shubuh akan tiba, biasanya Mbah H. Ihsan bin Marzuki yang akan menjadi imam shubuh, datang dengan menenteng lampu ublik kecil. Ketika adzan shubuh dikumandangkan, kebanyakan anak yang tidur di masjid itu susah dibangunkan, tapi sebagian ada yang bangun juga.

Dari masjid, anak-anak pulang ke rumah untuk mempersiapkan diri pergi ke sekolah. Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Tarbiyatul Banin pada waktu itu masih sangat sederhana dan tradisional. Tidak ada toilet, kantin, dan sarana olahraga. Antar kelas hanya disekat gedek (anyaman bambu) setinggi 2,5 meter. Untuk bermain, anak-anak cukup di halaman sekolah. Jika ingin buang air kecil, anak-anak pergi ke kulah masjid.

Anak-anak datang ke sekolah dengan berjalan kaki. Yang jauh naik sepeda onthel. Hanya satu dua anak yang bersekolah pakai sepatu, yang lainnya nyeker (tanpa alas kaki) atau pakai sandal. Pakaian seragam pun belum ada.

Akan Tetapi, di balik keterbatasan fasilitas sekolah itu, kualitas gurunya tidak perlu diragukan lagi. Ada Kyai Syahri, Kyai Lahuri, Kyai Jabir, Kyai Parmin, Bu Maryam dan lain sebagainya.

Saya bahas salah satu guru saja, untuk menggambarkan kualitas guru saat itu, yaitu Bu Maryam. Bu Maryam adalah seorang wanita terhormat, keturunan orang terhormat, dari daerah yang terhormat dan menjadi istri dari orang terhormat serta berperilaku terhormat. Cocok sekali beliau berpasangan dengan Kyai Syahri yang keduanya berperan sebagai seorang Kyai dan Bu Nyai. Bersyukur sekali Desa Pekalongan memiliki kedua tokoh ini. Saat itu beliau berdua seolah menjadi pioner dan tokoh yang dengan tulus mendarmabaktikan ilmunya untuk membina, mengasuh dan mendidik masyarakat di Desa Pekalongan dan sekitarnya, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Beliau berdua mewariskan keteladanan. Selalu istiqomah dalam bertutur kata dan berperilaku, termasuk dalam berbusana. Utamanya Bu Maryam, kalau keluar rumah selalu berbusana rapi dan berkerudung, yang saat itu belum menjadi budaya bagi ibu-ibu di Desa Pekalongan.

Secara formal sebenarnya saya tidak pernah menjadi murid Bu Maryam, karena saat itu Bu Maryam hanya mengajar pelajar putri dan santri putri. Namun, secara diam-diam saya sering “mencuri ilmu” saat beliau sedang mengajar di kelas. Jadi, kalau Bu Maryam ini sedang mengajar saya sering duduk di depan pintu kelas untuk melihat dan mendengarkan beliau mengajar dan beliau membiarkannya, seolah-olah beliau mengizinkan saya ada di situ. Saya sangat kagum dan tertarik kalau beliau menjelaskan pelajaran, apalagi kalau beliau bercerita atau mendongeng. Beliau kaya sekali tentang ilmu agama.

Pulang sekolah, setelah shalat dhuhur dan makan siang, kebanyakan anak bersiap-siap ke sawah membantu orang tua, dan kadang-kadang bekerja di sawah orang untuk mendapatkan upah dengan mocok matun (membuang rumput / gulma yang tumbuh di sekitar padi) atau njabel (mencabut) kedelai. Saat itu, rasanya senang sekali. Kerja ramai-ramai, banyak teman di sawah. Para pemilik sawah lebih memilih mempekerjakan anak-anak daripada orang tua, karena anak-anak lebih gesit dan cepat kerjanya. Memang tidak semua anak mau mocok. Hanya anak-anak yang kehidupan orang tuanya dalam kesusahan seperti saya. Ada juga yang pulang sekolah kemudian pergi ngarit (mencari rumput) atau angon (menggembalakan) sapi atau kambing.

Sehabis Ashar, anak-anak datang ramai-ramai ke lapangan untuk bermain sepak bola. Anak-anak kebagian bermain bola di pinggir lapangan. Sedangkan orang-orang dewasa bermain menggunakan gawang. Pemain sepak bola Desa Pekalongan saat itu, antara lain Kang Halimi, Kang Anas, Dwi, Anshori, Kang Anwar dan Kang Abdullah Hasyim.

Kang Dulah, panggilan akrab Abdullah Hasyim, hanya selisih 2-3 tahun di atas saya. Beliau jago sekali olahraganya, bahkan di semua cabang olahraga. Lompat galah itu hanya dia yang jago, main bolanya juga hebat. Seandainya beliau dulu mendapatkan fasilitas yang lengkap dan pembinaan yang baik bisa jadi atlet nasional.

Menjelang Maghrib, anak-anak berlumpul lagi di masjid. Begitu rutinitas saya dan anak-anak pada masa itu. Saya masih ingat anak-anak yang menjadi teman saya sekolah, mengaji, bekerja di sawah dan bermain. Mereka ada yang seangkatan, adik kelas dan kakak kelas. Mereka antara lain Pak Imam Asrori, Pak Adib, Pak Madpur, Pak Purnomo, Kang Ibrahim Syahid, Kang Abdullah Hasyim, Kang Husni Asbin, Kang Manshur Zamzam, Kang Ali Irfan Yasir, Kang Ajib Waryo, Kang Husni Asbin, Pak Hafidz, Pak Sarwan, Pak Supaat, Kang Syamroni Asyhuri, Pak Fayumi, Sumardi, Kang Senen dan Kang Ahmad Fahroni.

Tahun 1977 saya meninggalkan Desa Pekalongan, untuk melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Jember. Di sana saya tinggal bersama paman saya, KH. Rachmatullah bin Siraj, mantan Hakim / Ketua Pengadilan Agama Bondowoso tahun 1959-1974. Beliau adik kandung bapak saya, Dimyathi bin Siraj. 

Di MAN Jember, saya tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran, dan berani bersaing dengan orang-orang kota yang bukan dari daerah saya sendiri. Pelajaran-pelajaran agama, seperti Al-Quran, bahasa Arab, Tauhid, Fiqih, Balaghah dan Sejarah Kebudayaan Islam, nilai saya cukup membanggakan. Hal itu tidak lepas dari bekal yang saya peroleh sebelumnya saat masih tinggal di Desa Pekalongan. Pada acara perpisahan (kelulusan kelas III), tiba-tiba saya ditunjuk untuk menyampaikan kesan dan pesan mewakili siswa yang lulus. Biarpun mendadak penunjukan itu, tapi saya siap dan dapat melaksanakan tugas dengan baik. Maklum, sejak di bangku MTs Tarbiyatul Banin saya sudah terbiasa mengikuti latihan pidato (muhadharah).

Setelah lulus MAN, saya melanjutkan pendidikan ke Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang, sekarang bernama Universitas Negeri Malang. Di situ saya bertemu kembali dengan Pak Imam Asrori, yang sama-sama kuliah di jurusan yang sama, Pendidikan Bahasa Arab. Dari Malang saya sempat belajar di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, tingkat diploma 1 tahun. Kemudian saya diterima sebagai guru di SMP Islam Al-Izhar Pondok Labu Jakarta Selatan.

Walaupun sudah lama saya tidak tinggal di Desa Pekalongan namun sesekali saya masih datang berkunjung sehingga saya mengetahui perkembangannya. Menurut saya, Desa Pekalongan saat ini sudah mengalami kemajuan yang luar biasa hampir di segala bidang. Kalau saya pulang kampung, mata saya cukup terbelalak melihat perubahan kemajuannya. Jalan-jalan desa sudah beraspal semua, lampu jalannya terang benderang, rumah penduduk bagus-bagus, tidak ada lagi babatan (pohon bambu) yang dulu mengelilingi Desa Pekalongan yang menyeramkan di malam hari karena gelap, tidak ada lagi sapi yang ditaruh di halaman rumah, tidak ada lagi buang air besar di kakus belakang rumah, bangunan sekolahnya juga cukup mewah, dan orang-orangnya juga berpikiran maju.

Saya tulis kenangan ini sebagai upaya untuk mengingatkan kita semua, bahwa kita pernah mengalami kondisi yang sulit dan itu sudah kita lewati. Maka, kepada generasi sekarang, bersyukurlah dengan kondisi Desa Pekalongan sekarang ini, yang sudah maju dengan ketersediaan fasilitas yang memadai. Jika generasi terdahulu menjalani masa kecil dengan fasilitas yang serba terbatas tetapi bisa berhasil dalam hidupnya, maka hal ini harus dijadikan cambuk bagi generasi sekarang untuk maju.

Kepada generasi muda, ayo berpacu untuk memajukan diri dengan belajar sungguh-sungguh. Putra-putri Desa Pekalongan, baik mereka yang menetap di desa maupun yang merantau, telah terbukti hebat-hebat. Contohnya Pak Imam Asrori, kawan baik saya sejak kecil, sekarang bergelar profesor doktor, menjadi guru besar di Universitas Negeri Malang, yang juga almamater saya.

Ke depannya saya yakin anak-anak Desa Pekalongan akan lebih hebat dan mengagumkan lagi. Saya bangga dan bersyukur karena dilahirkan di Desa Pekalongan tercinta. Semoga Allah selalu merahmati dan memberkahi desa yang saya banggakan ini.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman