Oleh Amirul Arifin
Kitab Kuning merupakan karya ilmiah yang diwariskan turun-temurun sebagai referensi standar kalangan pesantren di Indonesia, khususnya bagi Kaum Ahlussunnah Wal Jamaah Bithoriqotin Nahdlatil Ulama. Karena kuatnya tradisi menjaga sanad keilmuan di kalangan pesantren inilah, maka pesantren nampak sangat memegang teguh sumber keilmuannya dari kitab kuning. Demikian juga akhir-akhir ini masyarakat muslim Indonesia mulai menyadari pentingnya sumber tepercaya disiplin ilmu keagamaan sebagai dasar landasan amaliah ubudiahnya, sehingga kalangan masyarakat umumpun mulai tergerak untuk berusaha mendasarkan praktik keagamaannya terhadap kitab kuning. Indikator tersebut dapat dilihat dari berbagai majlis ta’lim yang mengundang beberapa kiai dan ustadz yang disiplin ilmunya bersumber dari kitab kuning.
Kajian
kitab kuning ini bagi sedikit kalangan tertentu memang tidaklah menjadi satu-satunya
syarat untuk mencari dan mengembangkan ilmu, akan tetapi mayoritas jamaah yang
semakin sadar akan pentingnya orisinalitas keilmuan dan tentu sanad ilmu yang
kuat membuat semangat masyarakat terus belajar dan mempelajari kitab kuning.
Keilmuan
yang ditawarkan oleh kitab kuning yang mempunyai kosentrasi fan ilmu mulai dari
tauhid, aqidah, fiqh, tasawuf, qiroah, tarikh dan bahasa arab menjadi solusi
dari masa ke masa terhadap kebutuhan praktik keagamaan masyarakat kita.
Dinamisasi terjadi tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat pedesaan saja
bahkan sekarang sudah mulai merambah kalangan perkotaan. Pesantren sebagai
lembaga yang berpegang teguh dengan kajian kitab kuning yang dulu dikenal hanya
tumbuh subur di masyarakat pedesaan, saat sekarang sudah mulai pula diikuti di
kota-kota besar, bahkan kalangan lembaga pendidikan modern seperti perguruan
tinggi yang berbasis agama Islam juga sudah mengajarkan dan mengembangkan
kajian kitab kuning ini sejak awal berdirinya kampus-kampus agama Islam.
Bahkan
kebutuhan keilmuan keagamaan berbasis kitab kuning yang semula hanya dikenal di
kelompok Nahdlatul Ulama melalui pesantrennya, akhir-akhir ini juga sudah menyadarkan
beberapa kelompok ormas Islam lain di Indonesia. Saya pikir tidak terlalu
berlebihan, karena kesadaran tersebut timbul atas kebutuhan bersama menjawab
tantangan bersama tentang globalisasi, isu radikalisasi membutuhkan solusi dari
aspek ideologi sampai dengan aspek teknis fiqhiyyah. Bahwa di kemudian hari
ditemukan perbedaan pendapat terutama secara fiqh itu tentu sebuah keniscayaan,
namun seiring dengan kesadaran kebutuhan bersama maka perbedaan tersebut
menyadarkan bahwa tidak semua harus disamakan, dan tidak semua harus dibedakan.
Dikutib
dari Republika.co.id, Sabtu (9/5) Sekretaris Umum PP Madani, Syarifuddin
mengatakan, PP Madani merasa resah atas perkembangan kehidupan keagamaan
akhir-akhir ini. Pasalnya, saat ini mulai terjadi pendangkalan agama seperti
yang terlihat dalam perdebatan di media sosial dan berbagai seremonial
keagamaan, yang ujungnya kerap kepada saling mengkafirkan.
"Karena
itu, cara yang paling efektif dan jitu dalam melawan radikalisme dan pemahaman
keagamaan yang dangkal ini adalah membuka kemampuan pemahaman keagamaan umat
dengan melatih kemampuan bahasa Arab," ujar Syarifuddin kepada Republika.co.id,
Sabtu (9/5).
Syarifuddin
menambahkan,
pemahamam keagamaan yang dangkal itu terjadi karena pemahaman keagamaan yang
instan dan salah memilih guru, yaitu guru yang tidak punya silsilah keilmuan
yang bersambung dengan para ulama. "Bahkan yang lebih ngawur lagi
belajarnya hanya ke Kiai Google," ucapnya mengibaratkan.
Namun,
menurut dia, dengan melatih kemampuan bahasa Arab akan menuju pintu kemampuan
membaca kitab-kitab kuning karangan para ulama. Karena itu, PP Madani menyelenggarakan Pelatihan Cara
Cepat Bisa Baca Kitab Kuning dan Bisa Bahasa Arab dengan metode mu'allim
dengan mendatangkan
penemu metode tersebut,
KH.
Dawam Muallim.
Metode
itu
ditemukan sekitar delapan tahun lalu dan disusun sebanyak 48 halaman, yang isinya
lengkap dengan ilmu sharaf dan nahwu. Metode ini pun telah menyebar se-Indonesia, seperti di
Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur, hingga luar negeri, seperti
Taiwan, Singapura, juga Malaysia.
Sementara
itu, Ketua Umum PP Madani, Idy Muzayyad mengatakan bahwa ke depannya PP
Madani berkomitmen untuk terus menjaga khazanah pesantren dengan menggelar
pelatihan Instruktur Nasional Cara Cepat Bisa Baca Kitab Kuning dan Bisa Bahasa
Arab dengan metode mu'allim.
Mempelajari
kitab kuning, di samping akan
memperluas wawasan keagamaan juga pelan tapi pasti akan membentuk karakter
orang yang mempelajarinya. Kitab kuning sebagaimana yang sudah masyhur di
Indonesia tentu memiliki berbagai kelebihan, manfaat dan juga keistimewaan.
Manfaat mempelajari dan memahami kitab kuning sangat banyak. Dengan memahami
kitab kuning atau yang biasa disebut dengan kitab klasik, sedikit banyak akan
tahu apa yang tersirat dan apa yang tersurat dalam Al-Quran dan Al-Hadist. Hal
ini dikarenakan kitab kuning yang ditulis oleh para ulama tersebut berangkat
dari disiplin ilmu yang kuat dan rata-rata para penulis kitab kuning tersebut
merupakan murid dari para ulama pendahulunya yang mempunyai sanad kuat sampai
pada ulama ulama mujtahid terus sampai pada para tabi’in, sahabat dan Rasulullah
SAW.
Bentuk dasar kitab kuning yang bertuliskan Bahasa Arab tanpa syakal ini akan dengan sendirinya menguji kemapuan orang yang mempelajarinya, apakah aspek daya hafal atau daya nalar dalam memahami kalam yang tertulis. Di samping itu juga akan memberikan ruang bagi para pelajar untuk membedah pikiran para pelajar dalam menginterprestasikan tulisan-tulisan tersebut. Itulah beberapa hal yang secara turun-temurun para kalangan santri atau pelajar dapatkan dan kembangkan dengan norma-norma belajar yang kuat dan tegas, meskipun rata-rata bagi mereka yang tuntas dalam membangun karakter keilmuan akan menghasilkan kelenturan bersikap, sebab terbangun dari kemapanan ilmunya yang bersumber dari kajian kitab kuning. Wallahu A’lam.
Penulis adalah staf pengajar di Lembaga Pendidikan Diniyah di Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyiin dan Madrasah Muallimin Muallimat 6 Tahun Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur.
