![]() |
| KH. Masyhuri bin Marzuki bersama istri tercinta |
Di Desa Kali Tengah Kecamatan Todanan Kabupaten Blora ada seorang pengelana bernama Mbah KH. Masyhuri. Beliau adalah salah seorang putra dari KH. Marzuki bin Hasan Mujarrod bin Lambu. Beliau memiliki 4 saudara, yaitu KH. Ihsan, Asmini dan KH. Hamim. Beliau menikah dengan Semi, salah seorang putri dari H. Abdul Wahab atau lebih dikenal dengan nama Mbah Sapawi, seorang Kepala Desa Pekalongan.
Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Mbah Huri
(panggilan akrabnya) harus berdagang di pasar. Ternyata hasil perdagangan di
Pasar Winong saja belum mampu mencukupi kebutuhan seorang istri dan 9 anaknya.
Sekitar tahun 1964 Mbah Huri mencoba berkelana
sambil membawa barang dagangannya (pakaian
dan perabot rumah tangga) menyusuri jalan setapak membelah hutan belantara
pegunungan kapur. Sampailah beliau di sebuah perkampungan yang masyarakatnya
masih awam, bahkan banyak yang belum mengamalkan ajaran agama Islam.
Tinggallah beliau di sebuah rumah penduduk yang
sedikit banyak sudah lebih mengenal agama Islam dibanding warga lainnya. Di
rumah itulah pedagang pakaian itu mulai berpikir bagaimana mengubah masyarakat
Kali Tengah Karanganyar Todanan Blora itu menjadi masyarakat agamis. Mulailah
Mbah Huri mengumpulkan anak-anak dan remaja desa itu untuk diajari membaca Al
Quran dan shalat fardlu. Setelah berjalan beberapa bulan dibangunlah langgar (musholla)
dari kayu jati berbentuk panggung. Di tempat itulah Mbah Huri menghabiskan
waktunya (setelah berdagang di pasar) untuk mendidik santri-santrinya dengan
ilmu agama.
Kegiatan dakwah di wilayah Blora itu hanya dilakukan
Mbah Huri setiap hari Wage dan Kliwon. Sebab pada hari Legi, Pahing dan Pon beliau harus
kembali ke kampung halamannya (Pekalongan Winong Pati) untuk menafkahi
keluarganya dan membeli barang dagangan (kulaan) agar bisa dijual kembali ke Pasar Ngumbul dan
Pasar Todanan Blora. Di samping juga, pada Jumat Pon, beliau mendapat jatah
khotbah bergantian dengan menantunya, KH. Jabir Hasan dan imam di Masjid Jami’
Darussalam Pekalongan.
Pada tahun 1989, seorang pemuda bernama Dhofir
Maqoshid, salah seorang cucu Mbah Huri merasa penasaran dengan kegiatan
kakeknya di daerah Blora itu. Maka begitu lulus dari Madrasah Aliyah Tarbiyatul
Banin, ia mengikuti kakeknya berjalan menyusuri jalan setapak sambil memanggul
barang dagangan. Perjalanan dimulai setelah Dhuhur dari Desa Guyangan, sebuah
desa di sebelah selatan tanah kelahiran Mbah Huri. Mereka berjalan kaki
membelah bukit kendeng. Uniknya di sepanjang jalan setiap ketemu orang selalu
ada yang menyapa Mbah Huri “Assalamualaikum Mbah Kaji….” Ternyata hampir
seluruh warga desa yang dilewati Mbah Huri telah mengenal beliau. Dan setiap
memasuki perkampungan beliau mampir menawarkan dagangannya. Ternyata banyak warga
yang mengambil barang dagangan beliau dengan pembayaran diangsur beberapa kali,
dan yang lebih unik lagi beliau tidak pernah mau mencatat barang apa saja yang
dibawa warga kampung tersebut. Sedikitpun tak ada rasa syu’udlon kepada para
pembeli itu. Itulah keluhuran budi beliau.
Perjalanan dilanjutkan, Mbah Huri pun melaju
dengan cepatnya dan tidak menyadari kalau cucunya sudah tertinggal jauh. Dan
itu terulang berkali-kali. “Mungkinkah Mbah huri punya ajian yang bisa jalan
cepat tanpa capek?” gumam sang cucu. Ternyata perjuangan sang kakek sangat
berat. Setelah ditunggu beberapa menit Dhofir pun semakin merapat. Tak terasa
matahari mulai bergeser ke barat. Saat Maghrib tiba sampailah mereka ke Desa
Kali Tengah. Maka merekapun shalat berjamaah di Langgar Panggung yang masih
berdiri kokoh. Kegiatan mengajipun berlangsung seperti sebelumnya. Saat itulah Dhofir
mulai percaya bahwa kakeknya ternyata tidak hanya sekedar seorang pedagang tapi
juga seorang pejuang agama Islam.
Tidak banyak yang tahu perjuangan Mbah Huri
dalam menyebarkan ajaran agama Islam di daerah ini kecuali masyarakat di
wilayah Kecamatan Todanan. Apalagi Mbah Huri orangnya pendiam. Berbicara hanya
bila dipandang itu manfaat bagi orang yang mendengarnya. Terhadap istri, anak,
menantu bahkan cucu-cucunya, beliau hampir tidak pernah mengeluarkan kata-kata
dengan nada tinggi apalagi membentak. Tetapi senyuman sering diperlihatkan
kepada keluarganya. Sebagai bukti sifat kesabaran dan jiwa momong yang dimiliki
beliau.
Melihat usia Mbah Huri semakin senja, suatu
hari Dhofir pernah diminta masyarakat Kali Tengah untuk bisa meneruskan
perjuangan Mbah Huri di daerah sana. Tapi tidak ada keberanian untuk menerima
tawaran itu. Karena dia merasa tidak bakal mampu. Apalagi dia juga harus
melanjutkan studi ke IAIN Walisongo Semarang.
Masyarakat Kali Tengah meyakini bahwa KH. Masyhuri
adalah seorang wali Allah. Karena dari bimbingan beliaulah sekarang masyarakat
di sana semuanya memeluk Islam dan mengamalkan ajaran agama Islam (wallahu
a’lam bish-showab). Bahkan ketika beliau wafat (sekitar tahun 1993) warga Kali
Tengahpun meminta kepada keluarga besar KH. Masyhuri agar beliau dimakamkan di
sana dan akan dibangunkan makam yang bagus layaknya makam seorang waliyullah.
Tapi keluarga tidak mengizinkan sehingga akhirnya beliau dimakamkan di Makam
Toro Desa Pekalongan Winong Pati. Dan setiap Nishfu Sya’ban seluruh warga Kali
Tengah ziarah ke Makam KH. Masyhuri kemudian beramah tamah di rumah kediaman
Mbah Semi dan menyelenggarakan Haul tiap tahun di sekitar Langgar Kali Tengah yang
sekarang sudah diubah menjadi Masjid yang megah dengan sangat meriah. Kegiatan
itu berlangsung sampai sekarang.
Semoga perjuangan beliau diterima di sisi Allah
dan perjuangannya diteruskan
oleh santri-santri beliau sampai akhir zaman. Aamiin yaa mujiibassaaailiin….
Ditulis oleh H. Dhofir Maqoshid, S.Ag., M.Pd.I.
