KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Rabu, 03 Juni 2020

KH. Masyhuri bin Marzuki: Saudagar Yang Berdakwah

KH. Masyhuri bin Marzuki bersama istri tercinta



Di Desa Kali Tengah Kecamatan Todanan Kabupaten Blora ada seorang pengelana bernama Mbah KH. Masyhuri. Beliau adalah salah seorang putra dari KH. Marzuki bin Hasan Mujarrod bin Lambu. Beliau memiliki 4 saudara, yaitu KH. Ihsan, Asmini dan KH. Hamim. Beliau menikah dengan Semi, salah seorang putri dari H. Abdul Wahab atau lebih dikenal dengan nama Mbah Sapawi, seorang Kepala Desa Pekalongan.

Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Mbah Huri (panggilan akrabnya) harus berdagang di pasar. Ternyata hasil perdagangan di Pasar Winong saja belum mampu mencukupi kebutuhan seorang istri dan 9 anaknya.

Sekitar tahun 1964 Mbah Huri mencoba berkelana sambil membawa barang dagangannya (pakaian dan perabot rumah tangga) menyusuri jalan setapak membelah hutan belantara pegunungan kapur. Sampailah beliau di sebuah perkampungan yang masyarakatnya masih awam, bahkan banyak yang belum mengamalkan ajaran agama Islam.

Tinggallah beliau di sebuah rumah penduduk yang sedikit banyak sudah lebih mengenal agama Islam dibanding warga lainnya. Di rumah itulah pedagang pakaian itu mulai berpikir bagaimana mengubah masyarakat Kali Tengah Karanganyar Todanan Blora itu menjadi masyarakat agamis. Mulailah Mbah Huri mengumpulkan anak-anak dan remaja desa itu untuk diajari membaca Al Quran dan shalat fardlu. Setelah berjalan beberapa bulan dibangunlah langgar (musholla) dari kayu jati berbentuk panggung. Di tempat itulah Mbah Huri menghabiskan waktunya (setelah berdagang di pasar) untuk mendidik santri-santrinya dengan ilmu agama.

Kegiatan dakwah di wilayah Blora itu hanya dilakukan Mbah Huri setiap hari Wage dan Kliwon. Sebab pada hari Legi, Pahing dan Pon beliau harus kembali ke kampung halamannya (Pekalongan Winong Pati) untuk menafkahi keluarganya dan membeli barang dagangan (kulaan) agar bisa dijual kembali ke Pasar Ngumbul dan Pasar Todanan Blora. Di samping juga, pada Jumat Pon, beliau mendapat jatah khotbah bergantian dengan menantunya, KH. Jabir Hasan dan imam di Masjid Jami’ Darussalam Pekalongan.

Pada tahun 1989, seorang pemuda bernama Dhofir Maqoshid, salah seorang cucu Mbah Huri merasa penasaran dengan kegiatan kakeknya di daerah Blora itu. Maka begitu lulus dari Madrasah Aliyah Tarbiyatul Banin, ia mengikuti kakeknya berjalan menyusuri jalan setapak sambil memanggul barang dagangan. Perjalanan dimulai setelah Dhuhur dari Desa Guyangan, sebuah desa di sebelah selatan tanah kelahiran Mbah Huri. Mereka berjalan kaki membelah bukit kendeng. Uniknya di sepanjang jalan setiap ketemu orang selalu ada yang menyapa Mbah Huri “Assalamualaikum Mbah Kaji….” Ternyata hampir seluruh warga desa yang dilewati Mbah Huri telah mengenal beliau. Dan setiap memasuki perkampungan beliau mampir menawarkan dagangannya. Ternyata banyak warga yang mengambil barang dagangan beliau dengan pembayaran diangsur beberapa kali, dan yang lebih unik lagi beliau tidak pernah mau mencatat barang apa saja yang dibawa warga kampung tersebut. Sedikitpun tak ada rasa syu’udlon kepada para pembeli itu. Itulah keluhuran budi beliau.

Perjalanan dilanjutkan, Mbah Huri pun melaju dengan cepatnya dan tidak menyadari kalau cucunya sudah tertinggal jauh. Dan itu terulang berkali-kali. “Mungkinkah Mbah huri punya ajian yang bisa jalan cepat tanpa capek?” gumam sang cucu. Ternyata perjuangan sang kakek sangat berat. Setelah ditunggu beberapa menit Dhofir pun semakin merapat. Tak terasa matahari mulai bergeser ke barat. Saat Maghrib tiba sampailah mereka ke Desa Kali Tengah. Maka merekapun shalat berjamaah di Langgar Panggung yang masih berdiri kokoh. Kegiatan mengajipun berlangsung seperti sebelumnya. Saat itulah Dhofir mulai percaya bahwa kakeknya ternyata tidak hanya sekedar seorang pedagang tapi juga seorang pejuang agama Islam.

Tidak banyak yang tahu perjuangan Mbah Huri dalam menyebarkan ajaran agama Islam di daerah ini kecuali masyarakat di wilayah Kecamatan Todanan. Apalagi Mbah Huri orangnya pendiam. Berbicara hanya bila dipandang itu manfaat bagi orang yang mendengarnya. Terhadap istri, anak, menantu bahkan cucu-cucunya, beliau hampir tidak pernah mengeluarkan kata-kata dengan nada tinggi apalagi membentak. Tetapi senyuman sering diperlihatkan kepada keluarganya. Sebagai bukti sifat kesabaran dan jiwa momong yang dimiliki beliau.

Melihat usia Mbah Huri semakin senja, suatu hari Dhofir pernah diminta masyarakat Kali Tengah untuk bisa meneruskan perjuangan Mbah Huri di daerah sana. Tapi tidak ada keberanian untuk menerima tawaran itu. Karena dia merasa tidak bakal mampu. Apalagi dia juga harus melanjutkan studi ke IAIN Walisongo Semarang.

Masyarakat Kali Tengah meyakini bahwa KH. Masyhuri adalah seorang wali Allah. Karena dari bimbingan beliaulah sekarang masyarakat di sana semuanya memeluk Islam dan mengamalkan ajaran agama Islam (wallahu a’lam bish-showab). Bahkan ketika beliau wafat (sekitar tahun 1993) warga Kali Tengahpun meminta kepada keluarga besar KH. Masyhuri agar beliau dimakamkan di sana dan akan dibangunkan makam yang bagus layaknya makam seorang waliyullah. Tapi keluarga tidak mengizinkan sehingga akhirnya beliau dimakamkan di Makam Toro Desa Pekalongan Winong Pati. Dan setiap Nishfu Sya’ban seluruh warga Kali Tengah ziarah ke Makam KH. Masyhuri kemudian beramah tamah di rumah kediaman Mbah Semi dan menyelenggarakan Haul tiap tahun di sekitar Langgar Kali Tengah yang sekarang sudah diubah menjadi Masjid yang megah dengan sangat meriah. Kegiatan itu berlangsung sampai sekarang.

Semoga perjuangan beliau diterima di sisi Allah dan perjuangannya diteruskan oleh santri-santri beliau sampai akhir zaman. Aamiin yaa mujiibassaaailiin….

 

Ditulis oleh H. Dhofir Maqoshid, S.Ag., M.Pd.I.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman