KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Selasa, 02 Juni 2020

Berkat Pendidikan, Mimpi Anak Petani Jadi Kenyataan

Dr. Muslich Taman, Lc., M.Pd.I.

(Praktisi Pendidikan Karakter)


 Man Jadda Wajada; Barangsiapa bersungguh-sungguh, dia pasti berhasil.” Ungkapan tersebut terasa sangat relevan dangan apa yang saya rasakan dan alami. Sebagai anak petani Desa Pekalongan Kecamatan Winong Kabupaten Pati, saya dapat meraih gelar Doktor di perantauan. Tepatnya, di Bogor Jawa Barat. Dengan perjuangan berat, tanpa kenal lelah, akhirnya saya mampu menebus cita-cita bapak saya. Cita-cita petani yang hidupnya serba pas-pasan, tapi punya impian agar anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya.

Dulu ketika saya masih di kampung, saat belajar di bangku Madrasah Ibtidaiyah (sekolah dasar) Tarbiyatul Banin, punya guru yang sering menyemangati. Beliau namanya Bu Maryam Muzayyin. Suatu ketika, beliau bertanya kepada semua muridnya tentang cita-citanya. Termasuk kepada saya. Saat tiba giliran beliau bertanya kepada saya, “Muslich, apa cita-citamu?” Saya terdiam. Saya tidak berani mengatakan apa pun. Tidak tahu, apa yang harus saya katakan, tentang cita-cita saya. Maka, kembali Bu Maryam menanyakan, “Muslich, apa cita-citamu?” Melihat saya masih terdiam dan tidak mengatakan apa pun, Bu Maryam kemudian mengatakan, “Muslich, saya doakan semoga kamu, suatu saat nanti jadi da`i atau dokter, itulah cita-cita yang menurut saya paling cocok dengan namamu,” tutur beliau. Dan inilah yang kemudian saya yakini sebagai kekuatan doa seorang guru untuk muridnya.

Dari saat itulah, saya mulai merasa punya cita-cita. Lebih-lebih, setiap kali saya menemani kerja orang tua di sawah, bapak selalu berpesan, “Muslich, jadilah kamu orang pintar, belajarlah yang rajin, dan sekolahlah yang sungguh-sungguh. Bapak kasihan ngajak kamu kerja di sawah seperti ini; panas, kotor, berat, sangat melelahkan, dan hasilnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bapak berharap suatu waktu nanti, kamu bisa sekolah setinggi tingginya, biar menjadi orang yang bermanfaat dan hidupmu tidak susah seperti bapak”.

Selain ingin mewujudkan harapan bapak, saya dalam hidup ini punya keyakinan, bahwa ada dua hal penting bagi seseorang untuk bisa merubah masa depan hidupnya. Pertama, karena takdir baik (nasib mujur), dan ini sepenuhnya merupakan hak prerogatif Allah bagi orang yang dikehendaki. Atau yang kedua, adalah dengan pendidikan, dan ini hak setiap orang. Siapa saja yang mau, dia berkesempatan bisa melakukannya.

Berkat keyakinan yang kuat itulah, tentu atas izin Allah, pada hari Jumat 20/10/2017, tiga tahun silam, saya akhirnya benar-benar bisa membuktikan harapan bapak, setelah berhasil mengikuti serangkaian Sidang Terbuka Promosi Doktor di aula Kampus Ibn Khaldun Bogor (UIKA), Jawa Barat, pada pukul 16.30 WIB. sampai selesai.

Saya dinyatakan lulus Cumlaude setelah mempertahankan disertasi yang berjudul "Konsep Pendidikan Karakter Pemuda, Kajian Tafsir atas Surat Al Kahfi" di depan tim penguji yang terdiri dari Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MS., H. Adian Husaini, MSc., Ph.D., dengan tim promotor Prof. Dr. H. Ahmad Tafsir, MA., Dr. H. Endin Bahruddin, M.Ag., serta Dr. H. Akhmad Alim, MA.

Dalam disertasi ini saya membahas tentang konsep pendidikan karakter pemuda. Saya mengemukakan sebuah model pendidikan karakter pemuda, kajian tafsir tarbawi atas Surat Al-Kahfi. Dengan mengacu pada pandangan Robert Glaser, bahwa sebuah konsep paling tidak harus mengandung 4 unsur, yaitu tujuan, program, proses dan evaluasi, maka saya menganalisis secara mendalam setiap ayat dalam Surat Al-Kahfi dan kemudian mengonstruksinya dalam sebuah bangunan teori pendidikan yang kontekstual. Kisah Ashabul Kahfi, Musa Khidir, dan Dzul Qarnain adalah kisah qur'ani yang kaya dengan nilai-nilai pembangun karakter generasi muda. Karakter mandiri, berani, relijius, cinta ilmu, tangguh, tawadhu, peduli dan rela berkorban, adalah di antara contoh penting yang dapat dipetik dari proses pendidikan karakter mereka.

Saya merasa tersanjung ketika salah seorang promotor saya, Prof. Dr. H. Ahmad Tafsir, mengatakan bahwa UIKA kini telah memiliki pakar pendidikan karakter pemuda. Pujian juga datang dari penguji dan sekaligus pimpinan Sidang Promosi, Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin. Menurut beliau, disertasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi atas krisis yang melanda bangsa Indonesia, khususnya krisis akhlak generasi muda akhir-akhir ini, dan sekaligus mengembalikan pemuda pada jati dirinya. Disertasi ini kini pun telah terbit menjadi sebuah karya buku, dengan judul Pendidikan Karakter bagi Generasi Milenial.

Saya bersyukur mendapat bimbingan intensif dari tiga promotor yang tulus dan tak kenal lelah; pertama, seorang Guru Besar, yang memiliki keahlian dan kepakaran dalam ilmu pendidikan Islam, sekaligus praktisi tasawuf Indonesia, yakni Prof. Dr. H. Ahmad Tafsir, MA. pemikirannya yang dikenal out of the box, bisa dibaca pada buku-buku karya beliau yang banyak menghiasi rak-rak toko buku dan perpustakaan. Beliau ini dikenal karena kontribusinya pada dunia pendidikan Islam di Indonesia sejak era 70-an. Pada tahun 1993, beliau mempelopori berdirinya Asosiasi Sarjana Pendidikan Islam (ASPI), dan pada tahun 1997 diangkat sebagai guru besar pada Fakultas Tarbiyah IAIN Bandung. Kedua, Dr. H. Endin Bahruddin, M.Ag., yang tiada lain adalah rektor UIKA sendiri. Beliau dikenal sebagai ahli manajemen dan riset di bidang pendidikan Islam. Ketiga, doktor muda yang hafal Al Qur'an dan sempat belajar dengan banyak Syaikh di Makkah, Dr. Akhmad Alim, Lc, MA. Beliau dikenal sebagai sedikit orang Indonesia yang ahli metodologi pengajaran bahasa Arab dan kajian Tafsir Tematik. Sampai saat ini, Akhmad Alim adalah salah satu intelektual muda Indonesia yang banyak mendapat ijazah sanad berbagai kitab hadits dari para ulama Timur Tengah, dan juga sanad berbagai jenis qira'at Al-Quran.

Demi untuk bisa merubah masa depan hidup menjadi lebih baik, saya tinggalkan kampung halaman untuk mengenyam pendidikan di ibukota. Saya belajar di Universitas Muhammad Imam Ibnu Saud, Arab Saudi Cabang Jakarta. Setelah lulus S-1 saya sempat bekerja sebagai penulis, penerjemah dan editor di lembaga penerbitan. Setelah itu saya mendaftar CPNS untuk formasi guru dan lulus. Saya ditugaskan di SMAN I Rumpin Kabupaten Bogor sebagai guru agama. Saya tidak puas sampai di situ. Saya ingin masa depan lebih baik lagi. Maka, saya melanjutkan pendidikan S-2, dan kemudian S-3.

Karena pendidikan adalah cara untuk merubah nasib, maka saya dirikan Rumah Baca Anak Indonesia. Saya jadikan rumah saya sebagai Rumah Baca dan sanggar pengajian remaja, sebagai dukungan terhadap pendidikan.

Kepada generasi muda, ayo bermimpilah setinggi langit! Ayo bertekad kuat untuk bisa kuliah setinggi-tingginya dan berikan hadiah kepada orang tua dengan gelar Doktor. Jika kita bersungguh-sungguh dalam belajar, gigih, sabar dan terus bersemangat tidak kenal putus asa, pasti kita meraih apa yang kita impikan. Saya telah membuktikan sendiri, bahwa berkat pendidikan, mimpi anak petani menjadi kenyataan, yaitu mimpi untuk kehidupan lebih baik.

Terima kasih kepada bapak ibu guru yang telah membekali saya ilmu pengetahuan. Terima kasih kepada ibu, wanita desa yang kaya doa dan penyabar. Terima kasih kepada bapak, sosok pekerja keras yang tak kenal menyerah. Terima kasih kepada istri dan anak-anak, serdadu penjaga hati. Semoga Allah membalas kebaikan yang telah diberikan dengan balasan yang lebih baik di dunia dan akhirat. Amin.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman