KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 01 Juni 2020

Pancasila dan Spiritualitas Indonesia

Mahmudi, ST.

Blogger & Data Scientist di Komisi Pemberantasan Korupsi

Lulusan S1 Teknik Geodesi UGM, sekarang sedang studi S2 di MTI Binus University


Tepat hari ini, 1 Juni 2020 dikenang sebagai hari lahirnya Pancasila. Pancasila dilahirkan, bukan tanpa sebab. Kala itu, 1 Juni 1945 - di saat Kekaisaran Jepang mengalami kemunduran dan bisa dipastikan nyaris kalah perang dengan Amerika Serikat dalam Perang Pasifik, Ir Soekarno dan 2 kawan lainnya yaitu Mohammad Yamin dan Dr. Soepomo memanfaatkan momentum terbaik itu untuk merumuskan dan mendeklarasikan sebuah pondasi atau dasar sebuah negara baru dengan sebutan Pancasila. Pancasila yang bermakna lima sila atau lima pilar. Kala itu, Soekarno merumuskan susunan Pancasila sebagai berikut; sila pertama: Kebangsaan Indonesia, sila kedua: Internasionalisme atau peri kemanusiaan, sila ketiga: Mufakat atau demokrasi, sila keempat: Kesejahteraan sosial, sila kelima: Ketuhanan Yang Maha Esa. Barulah pada 18 Agustus 1945, dalam naskah UUD 1945 ditetapkan redaksional sila-sila Pancasila seperti yang sekarang ini kita kenal. Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila ketiga: Persatuan Indonesia. Sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kita patut bangga. Pancasila seolah menjadi tanda hadirnya Tuhan dalam membentuk negara ini. Bagaimana tidak. Tiga tokoh perumus Pancasila ini rasa-rasanya bukanlah ulama atau kyai..tetapi bagaimana bisa Pancasila memiliki spiritualitas yang sedemikian tinggi. Pancasila seperti lima rukun Islam. Jika rukun Islam pertama adalah syahadat atau perihal ketuhanan (tauhid), maka Pancasila yang pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. yang artinya Negara ini bersyahadat dengan mendeklarasikan bahwa bangsa Indonesia tegak berdiri karena kehendak Allah SWT. Sebab pertama berdirinya negara Indonesia, adalah karena kun fayakun-Nya Allah SWT. Cahaya yang Allah pancarkan di atas bumi nusantara menjadi sebab tunggal lahirnya sebuah negara baru dengan nama Indonesia yang terhampar dari ujung Sabang hingga Merauke.

Bagaimana dengan sila kedua: Kemanusiaan yang adil yang beradab? Disinilah sebetulnya perlu ada pemahaman yang lebih luas dan mendalam. Merentangkan benang merah, memperluas skala guna menangkap makna tersembunyi dari sebuah tanda dan peristiwa. Soekarno sempat menuliskan sila kedua ini dengan narasi internasionalisme atau peri kemanusiaan, yang sebetulnya memiliki rajutan makna yang sama dengan kemanusiaan yang adil dan beradab. Apa yang mendasari terminologi ini? Boleh jadi, ini merupakan refleksi terdalam seorang Soekarno atas kondisi peradaban dunia yang hancur lebur karena perang dan perebutan tanah jajahan dan kolonialisme yang ujungnya adalah hancurnya kemanusiaan. Berapa juta manusia mati karena perang, berapa juta anak-anak yang kelaparan dan kehilangan orang tuanya - yang mana itu disebabkan tidak adanya kesadaran tentang pentingnya membangun semangat global untuk kemanusiaan. Manusia hanya bisa hidup dengan benar dan sempurna jika dilandaskan pada keadilan dan keadaban. Manusia akan kehilangan sisi kemanusiaannya jika tidak bisa mengenali makna dari adil dan beradab. Sila kedua ini sesungguhnya adalah sebuah teriakan keras atas segala macam bentuk penjajahan di atas muka bumi.

Sila kedua ini menjadi bukti implementasi dari rukun Islam kedua yakni mendirikan sholat. Mari kita kupas QS. 107 Al Ma'uun: 1-7:

1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

2. Maka itulah orang yang menghardik anak yatim

3. Dan tidak memberi makan orang miskin

4. Maka celakalah orang yang sholat

5. (Yakni) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya

6. yang berbuat ria

7. dan enggan (memberikan) bantuan.

Di surat al-Ma'uun ini, sholat dilekatkan dengan kesholehan sosial. Sholat tidak sekedar ibadah rutin 5 kali dalam sehari, tetapi sejatinya sholat adalah sebuah simpul manifestasi antara unsur uluhiyyah (keilahian) dan unsur kemanusiaan. Sholat hanya akan menjadi celaka, jika tidak memiliki tautan atau relasi positif dengan unsur kebaikan sesama. Sholat adalah sebuah eliksir cinta yang mempertemukan cinta kasih Allah SWT dengan kasih sayang sesama manusia. Dengan demikian, sholat merupakan sebuah syariat guna menghadirkan cahaya cinta Allah SWT yang akan menerangi ruang qalbu diri manusia, yang kemudian akan menjalar dan menebarkan kasih sayang sesama manusia dalam bentuk kesolehan sosial seperti istiqomah menyantuni anak yatim, memberi makan orang miskin, tidak ria, dan senantiasa membantu sesama manusia atau semua makhluk tanpa pamrih.

Refleksi Kemanusiaan

Dua tahun lalu, saya menghadiri sebuah sarasehan di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi. Hadir sosok yang paling banyak memberikan pelajaran-pelajaran hidup. Beliau adalah Emha Ainun Najib atau yang biasa akrab dipanggil Cak Nun. Beliau bertutur, "Manusia sejatinya hidup abadi, karena semua manusia adalah warga asli surga, yang kemudian disuruh Tuhan untuk merantau sejenak di bumi."

Cak Nun menyampaikan bahwa hidup di bumi hanyalah berwisata sejenak, atau merantau sejenak, karena kampung halaman kita sesungguhnya adalah surga. Maka hakekat mudik atau pulang kampung seharusnya dipahami sebagai sebuah perjalanan menyenangkan menuju kepada surga, tempat asli kampung halaman kita. Perjalanan hidup di bumi, ibarat pergi ke pasar mencari bahan mentah terbaik untuk dibawa pulang ke rumah yang bernama surga. Atau ibarat sedang merantau menjelajahi sudut-sudut perkotaan di tanah perantauan, yang kemudian jika sampai pada waktunya, kita akan pulang kampung atau mudik dengan wajah berseri-seri.

Cak Nun melanjutkan perbincangannya dengan membalik dimensi waktu dalam setting ribuan atau jutaan tahun silam, di saat Adam berbincang dengan iblis di surga. Ketika itu, iblis yang sudah sangat nyaman menjadi penghuni surga merasa terusik dengan hadirnya manusia bernama Adam. Iblis tahu betul bahwa manusia diciptakan Tuhan untuk menjadi khalifah di bumi, lalu kenapa Adam ditempatkan di surga? Iblis pun mengatur siasat dan muncullah apa yang disebut dengan talbis. Talbis adalah perangkap yang iblis susun sedemikian rupa, membungkus kebatilan dengan rupa kebenaran. Iblis mencitrakan dirinya laksana malaikat yang menghembuskan tutur kebajikan, tapi di dalamnya tersimpan kebusukan. Singkat cerita, Adam terperdaya talbis. Adam, bersama Hawa terbuang dari surga dan hidup menggelandang di muka bumi. Karena itulah, mungkin, manusia hakekatnya adalah gelandangan sejak zaman purba, sebagai warisan kakek Adam akibat terkena tipuan talbis.

Dalam konteks kesejarahan panjang umat manusia, khususnya tatkala fase awal berdirinya negara Indonesia, cara yang paling mudah memahami peta perpolitikan, kekuasaan, dan konstelasi dunia yang sedang berada di titik terendah peradaban karena peperangan dan pembunuhan massal di seluruh senatero muka bumi tak terkecuali di tanah nusantara adalah talbis. Bisa jadi, masa-masa awal berdirinya Indonesia sudah memasuki zaman itu. Dimana banyak manusia membanggakan “tipuan” ini, yang notabene telah merasuk ke dalam alam pikir dan pola laku manusia. Talbis, yang awalnya adalah jubah yang Iblis pakai untuk memperdaya Adam, kini telah dirampas dan dipakai oleh banyak manusia di dunia yang kelihatannya tampak bersih, baik, santun tapi jiwanya telah tergadaikan dan penuh kebusukan. Sekilas seperti malaikat, sangat baik tapi ternyata iblis. Sulit diidentifikasi tipologi manusia seperti ini. Talbis telah dipergunakan secara masal oleh banyak manusia untuk memperdaya sesama manusia.

Cak Nun menambahkan untuk tadabbur QS. Al Fatihah – yang mengajarkan tentang cinta. Rahmaan sebagai cinta yang meluas. Rohiim, cinta yang mendalam. Manusia dihidupkan Tuhan karena cinta Rahmaan Rahiim-Nya. Tuhan menciptakan pasangan kita dengan cinta-Nya. Karena itu kita mencintai pasangan kita, dan mencintai Tuhan. Lalu kita bersyukur dengan berucap alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin. Dan berlanjut beribadah kepada-Nya, dan meminta pertolongan hanya kepada-Nya. Tuhan berujar kepada Muhammad, “Katakan wahai Muhammad, kalau kalian cinta kepada-Ku dan menginginkan perjumpaan dengan-Ku, bertatapan wajah, dan Aku sapa dengan kasih sayang – maka berbuatlah baik.”

Di sinilah mungkin, sila pertama dan kedua Pancasila merupakan sisi terdalam spriritualitas bangsa Indonesia. Jika hari ini adalah hari lahirnya Pancasila, mari kita renungkan hakekat sila pertama dan sila kedua Pancasila, dengan mengajukan satu pertanyaan: adakah makna yang hilang dari Pancasila?

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman