KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 01 Juni 2020

Memberanikan Anak

Oleh Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)


Siapa takut?! Demikian frasa iklan shampo pernah tayang di radio dan televisi. Frasa ini menegaskan keberanian melawan ketakutan. Ketakutan “ada kalanya” harus dilawan agar jadi keberanian. Jika tidak, rasa takut akan jadi belenggu.

Dalam banyak kasus, belenggu ketakutan berkamuflase jadi zona nyaman. Pada titik ini seorang anak maupun dewasa, lebih ‘nyaman’ jadi penakut ketimbang diberi kesempatan jadi pemberani. Berapa orang dalam suatu majelis yang ketika dipersilakan duduk di saf depan lalu berbegas dari tepat duduk bagian belakang?

 Ketakutan berlebihan berpotensi menimbulkan kekeliruan dalam berdoa dan bersyukur. Ketika guru menyuruh anak mengerjakan soal di depan kelas berdasar nomor urut absen, seluruh anak langsung diterpa rasa takut dan berdoa. Doa anak bernomor urut 1-5, Mudah-mudahan aku bisa mengerjakan.

Doa anak-anak nomor absen 6 sampai terakhir berbeda, Semoga waktu mengerjakan soal sudah habis sebelum sampai aku. Ketika doa mereka terkabul masing-masing pun bersyukur: Alhamdulillaah, aku tidak jadi mengerjakan soal di depan kelas. Bukankah doa dan syukur semacam ini salah kaprah dan salah arah?

Seiring perkembangan psikogisnya, anak-anak belum cukup kemampuan mengenali rasa takutnya. Sekurangnya ada tiga langkah untuk menumbuhkan keberanian anak: memotivasi, mendampingi, dan memberi kepercayaan.

Menumbuhkan keberanian anak bisa melalui motivasi eksternal dengan memberikan reward, misalnya. Motivasi internal, melalui anjuran membaca doa tertentu untuk melawan ketakutan, atau memberi pemahaman terhadap keunggulan dan keberuntungan jadi anak pemberani.

Melakukan tekanan psiokolis atau ancaman fisik dalam menumbuhkan keberanian justru memperbesar rasa takut yang akan mengendap di alam bawah sadar. Anak dengan perlakukan demikian akan tumbuh jadi pribadi introvet, pemurung, minder, dan pesimis menghadapi persoalan. Atau kebalikannya, jadi anak yang ‘berani’ melawan pemberi tekanan.

Di awal masa sekolah misalnya, anak yang belum berani berangkat sekolah sendiri minta diantar dan didampingi. Dalam mendampingi anaklah yang lebih aktif, bukan sebaliknya. Mengantar anak dengan posisi anak di “belakang” pendampingnya, memperlambat tumbuhnya keberanian.

Atas nama kasih sayang, orang tua sering mengkhawatirkan ‘keselamatan’ anak. Bahkan ketika anak menunjukkan keberanian melakukan sesuatu, orang tua tidak tega dan tidak memberi kepercayaan terhadap keberanian dan kemampuan sang anak. Anak yang diberi kepercayaan, lebih cepat pertumbuhan PD-nya.

Keberanian menjadi modal penting untuk meraih prestasi. Ilustrasi berikut ini menjelaskannya. Kimat dan Kimit sama-sama belum bisa bersepeda, maka berlatihlah keduanya di lapangan sepak bola. Kimat yang pemberani mengawali latihan. Sekali kayuh, jatuh; spedanya ringsek. Bangkit lagi, kayuh lagi, dan seterusnya. Menyaksikan Kimat jatuh berulang dan spedanya ringsek, membuat Kimit takut dan gagal berlatih di hari pertama.

Ketakutan Kimit makin bertambah ketika latihan hari kedua lutut Kimat terluka sampai berdarah. Hari kedua Kimit pun gagal berlatih: takut spedanya ringsek, takut badannya terluka. Alhasil, Kimat sudah mulai lancar bersepeda, Kimit masih ‘terbelenggu’ rasa takutnya.

Tagar untuk Kimat dan Kimit:

#Siapa berani, dia yang berprestasi.

#Semua penakut, nyalinya ciut.

Wallahu’alam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman