Oleh Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Siapa takut?! Demikian frasa iklan shampo pernah tayang di radio dan televisi. Frasa ini menegaskan keberanian melawan ketakutan. Ketakutan “ada kalanya” harus dilawan agar jadi keberanian. Jika tidak, rasa takut akan jadi belenggu.
Dalam banyak kasus, belenggu ketakutan berkamuflase
jadi zona nyaman. Pada titik ini seorang anak maupun dewasa, lebih ‘nyaman’
jadi penakut ketimbang diberi kesempatan jadi pemberani. Berapa orang dalam
suatu majelis yang ketika dipersilakan duduk di saf depan lalu berbegas dari
tepat duduk bagian belakang?
Ketakutan
berlebihan berpotensi menimbulkan kekeliruan dalam berdoa dan bersyukur. Ketika
guru menyuruh anak mengerjakan soal di depan kelas berdasar nomor urut absen, seluruh
anak langsung diterpa rasa takut dan berdoa. Doa anak bernomor urut 1-5, Mudah-mudahan
aku bisa mengerjakan.
Doa anak-anak nomor absen 6 sampai terakhir
berbeda, Semoga waktu mengerjakan soal sudah habis sebelum sampai aku. Ketika
doa mereka terkabul masing-masing pun bersyukur: Alhamdulillaah, aku tidak jadi
mengerjakan soal di depan kelas. Bukankah doa dan syukur semacam ini salah
kaprah dan salah arah?
Seiring perkembangan psikogisnya, anak-anak belum cukup
kemampuan mengenali rasa takutnya. Sekurangnya ada tiga langkah untuk menumbuhkan
keberanian anak: memotivasi, mendampingi, dan memberi kepercayaan.
Menumbuhkan keberanian anak bisa melalui motivasi eksternal
dengan memberikan reward, misalnya. Motivasi internal, melalui anjuran membaca
doa tertentu untuk melawan ketakutan, atau memberi pemahaman terhadap keunggulan
dan keberuntungan jadi anak pemberani.
Melakukan tekanan psiokolis atau ancaman fisik dalam
menumbuhkan keberanian justru memperbesar rasa takut yang akan mengendap di
alam bawah sadar. Anak dengan perlakukan demikian akan tumbuh jadi pribadi
introvet, pemurung, minder, dan pesimis menghadapi persoalan. Atau kebalikannya,
jadi anak yang ‘berani’ melawan pemberi tekanan.
Di awal masa sekolah misalnya, anak yang belum
berani berangkat sekolah sendiri minta diantar dan didampingi. Dalam mendampingi
anaklah yang lebih aktif, bukan sebaliknya. Mengantar anak dengan posisi anak
di “belakang” pendampingnya, memperlambat tumbuhnya keberanian.
Atas nama kasih sayang, orang tua sering
mengkhawatirkan ‘keselamatan’ anak. Bahkan ketika anak menunjukkan keberanian
melakukan sesuatu, orang tua tidak tega dan tidak memberi kepercayaan terhadap
keberanian dan kemampuan sang anak. Anak yang diberi kepercayaan, lebih cepat
pertumbuhan PD-nya.
Keberanian menjadi modal penting untuk meraih
prestasi. Ilustrasi berikut ini menjelaskannya. Kimat dan Kimit sama-sama belum
bisa bersepeda, maka berlatihlah keduanya di lapangan sepak bola. Kimat yang
pemberani mengawali latihan. Sekali kayuh, jatuh; spedanya ringsek. Bangkit
lagi, kayuh lagi, dan seterusnya. Menyaksikan Kimat jatuh berulang dan spedanya
ringsek, membuat Kimit takut dan gagal berlatih di hari pertama.
Ketakutan Kimit makin bertambah ketika latihan
hari kedua lutut Kimat terluka sampai berdarah. Hari kedua Kimit pun gagal
berlatih: takut spedanya ringsek, takut badannya terluka. Alhasil, Kimat sudah
mulai lancar bersepeda, Kimit masih ‘terbelenggu’ rasa takutnya.
Tagar untuk Kimat dan Kimit:
#Siapa berani, dia yang berprestasi.
#Semua penakut, nyalinya ciut.
Wallahu’alam.
