Dr. Muslich Taman, Lc., M.Pd.I.
(Penulis Buku 30 Pilar Keluarga Bahagia)
“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang terbaik (sikapnya) terhadap keluarganya (istrinya), dan saya (Rasulullah) adalah orang yang terbaik sikapnya di antara kalian terhadap keluarga.” (HR. At-Tirmidzi)
Sebagai muslim, menjalani kehidupan rumah tangga
adalah ibadah yang memberikan banyak kebaikan dan pahala. Menuntut ketulusan,
kesabaran, dan ilmu pengetahuan. Kesuksesannya membutuhkan perjuangan,
pengorbanan, dan ketangguhan dari berbagai ujian serta rintangan. Keluarga yang
bahagia, bagaikan surga di dunia, yang diharap kelak dapat menghantarkan pada surga
yang hakiki di akhirat nanti.
Setiap pasutri (pasangan suami istri), pasti
mendambakan terwujudnya keluarga yang bahagia. Yaitu, keluarga yang tentram dan
penuh kasih sayang. Memiliki tempat
tinggal yang bukan hanya berdekorasi indah, bangunan menarik, perabot lengkap,
dan lingkungan yang sehat serta nyaman, namun yang lebih penting dari itu
semua, ia dapat berfungsi sebagai tempat menemukan ketenangan dan kesejahteraan
jiwa. Merasakan kedamaian saat berada di dalamnya. Di dalamnya, ada sikap saling
menjaga dan menghargai pasangannya. Seorang suami didampingi isteri yang setia,
dan begitu juga sebaliknya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu
cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa
kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (Ar-Rum: 21)
Begitulah memang idealnya sebuah keluarga. Tempat
menemukan ketentraman, memadu cinta dan kasih saying. Di dalamnya, suami istri
saling menaruh percaya dan dapat dipercaya. Keduanya saling menjaga amanah dan
menunaikannya dengan sebaik-baiknya. Masing-masing rela berkorban untuk selalu
menghargai dan menghormati. Bahkan, saling berusaha mencocokkan dan
menyesuaikan dengan tabiat pasangannya, demi keharmonisan dan kebahagiaan.
Sesulit dan seberat apa pun.
Sebab, tidak semua pasangan dipertemukan Allah, dengan
sifat dan tabiat yang telah cocok sebagaimana yang diidamkan. Karenanya,
masing-masing harus siap menerima kenyataan, atau siap untuk belajar memenuhi
harapan pasangannya. Atau, siap selalu bersabar atas segala kekurangan yang ada
pada pasangan, sembari mensyukuri atas setiap kelebihannya. Memang, tidak ada
manusia yang sempurna, hingga di ujung dunia mana pun kita mencarinya.
Termasuk, diri kita juga jauh dari sempurna.
Seindah dan semewah apa pun sebuah rumah, tidak akan
ada artinya jika ia tidak menjadi tempat menemukan kedamaian dan ketenangan.
Juga tidak bisa membawa diri untuk khusyu saat beribadah kepada Allah. Begitu
juga, pasangan hidup kita. Secantik, atau setampan apa pun.
Rumah, harus dapat menjadi tempat menyemai cinta dan
kasih sayang yang fana menuju cinta dan kasih sayang yang abadi.
Menumbuhsuburkan cinta dan kasih sayang duniawi
menuju cinta dan kasih sayang ukhrawi.
Kalau diklasifikasikan, setidaknya ada empat fungsi
rumah, yaitu:
Pertama, fungsi rumah seperti masjid. Masjid adalah
rumah Allah. Di sanalah umat Islam berusaha menjalin hubungan yang harmonis
(hablum minallah) dengan Allah Ta’ala. Rasulullah menjadikan masjid tidak hanya
sebagai sarana ibadah mahdhah, tetapi juga sebagai tempat untuk membina umat,
memperkuat cinta dan ukhuwah, membangun harapan-harapan, dan merencanakan
agenda dakwah di masa depan. Karenanya, rumah sebaiknya dapat difungsikan
seperti masjid. Kita hidupkan suasana rumah dengan berbagai macam ibadah
mahdhah dan ghiru mahdhah, merawat cinta dan kasih sayang, menyemai mimpi-mimpi
dan berbagai harapan, menebarkan segala macam manfaat dan kebaikan, serta
sebagai markas dakwah dan perjuangan.
Kedua, fungsi rumah seperti sekolah. Sekolah adalah
tempat menuntut ilmu. Begitulah juga rumah. Di sana, suami istri belajar
bersama tentang segala hal, bukan hanya terkait soal berumah tangga, yang
memang hal itu tidak ada sekolahnya. Tetapi juga hingga masalah detil, seperti
bagaimana teori menjaga perasaan pasangan, dan konsep serta rumus
membahagiakannya. Juga, bagi si buah hati, rumah menjadi tempat mendapatkan ilmu,
dan wawasan mengenai hakikat kehidupan. Fungsi rumah seharusnya bisa seperti
itu. Sebagai kampus semesta kehidupan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Tidak selayaknya suami yang beriman mudah
membenci istrinya yang mukminah. Apabila dia tidak menyukai salah satu sifat
dari istrinya, maka dia pasti akan menemukan sifat lain dari istrinya yang dia
sukai.” (HR. Muslim)
Rasulullah juga mengingatkan,
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (fithrah),
maka selanjutnnya tergantung kedua orangtuanya, apakah akan menjadikannya
sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Muslim)
Ketiga, fungsi rumah sebagai tempat istirahat dan
rekreasi yang nyaman. Suami atau istri tentu akan mengalami kelelahan setelah
seharian beraktivitas di luar atau di dalam
rumah. Fisik harus diistirahatkan, agar dapat fit dan fresh kembali pada
keesokan harinya. Rumah adalah tempat yang sangat tepat untuk itu. Rasa lelah
dan lemah akan sirna saat menemukan
cinta dan kasih sayang terhampar di dalam rumah. Bagi yang sudah punya si buah
hati, selelah apa pun orangtua, saat melihat prilaku lucu atau tingkah baik
dari mereka, semua itu dapat menjadi penghibur dan penawar bagi hati yang penat
kerja seharian.
Keempat, fungsi rumah sebagai benteng ruhani. Fungsi
keempat ini hampir sama dengan fungsi rumah seperti masjid. Hanya saja
penekanannya lebih pada aspek pertahanan ruhiyah. Saat pasangan suami atau
istri mengalami penurunan iman, anggota keluarga yang lain harus menasihati dan
memotivasi agar imannya dapat naik kembali. Faktor terbesar keimanan seseorang
sukar pulih kembali akibat dari suasana rumah yang tidak mendukung dan tidak
kondusif untuk itu. Makanya, fungsi keempat ini sesungguhnya sangat penting
bagi segenap anggota keluarga. Suami istri, masing-masing harus bisa menjadi
benteng tangguh bagi spiritualitas pasangannya.
Keluarga bahagia, harus mampu melahirkan generasi
tangguh. Tangguh jiwa dan raganya. Generasi yang kaya karya di tengah-tengah
masyarakatnya. Generasi yang ahli manfaat dan kebaikan.
Lahirnya generasi yang kuat jasmani dan rohaninya,
merupakan salah satu indikator dari adanya keluarga yang sukses dan bahagia.
Anak-anak yang berkualitas, lahir dari keluarga yang berkualitas, langsung atau
tidak langsung.
Di Antara Cara Membentuk Generasi Tangguh:
1. Mulailah segalanya dari diri
kita sendiri! Keshalihan orangtua merupakan investasi terbaik bagi keshalihan
putra-putrinya. Ini, berawal dari kehati-hatian kita mencarikan calon ibu yang
shalehah buat anak-anak.
2. Tanamkanlah kepercayaan diri
yang kuat dan tak kenal menyerah dalam menghadapi tantangan.
3. Jangan terlalu protektif,
apalagi berlebihan memanjakannya.
4. Tumbuhkan dan terus pupuk rasa
tanggung jawabnya.
5. Pahamkanlah, bahwa hidup di
dunia hanyalah sementara. Jangan terlalu sibuk dengan urusan duniawi. Bahwa,
ada tujuan yang lebih penting yang harus diperjuangkan dalam hidup, yaitu
kemuliaan setelah mati.
6. Bimbing anak untuk menjadi
orang yang berani bermimpi tinggi, dan tahu cara meraihnya.
7. Bantulah ia dalam memilih
teman dan kawan yang tepat.
8. Berikan kebebasan memilih.
Tetapi bimbinglah.
Demikianlah di antara beberapa langkah dan kiat yang
dapat dilakukan orangtua dalam usaha
melahirkan generasi tangguh yang menjadi harapan dan dambaan setiap keluarga
bahagia.
Keluarga yang
bahagia, tidak harus menjadi keluarga yang kaya dengan banyak harta, atau
pangkat tinggi dengan kedudukan yang menyilaukan. Keluarga bahagia, dapat
menjadi apa saja, dengan peran apa pun, yang penting menjadi orang-orang yang
paling bermanfaat bagi kehidupan. Keberadaannya sangat dirasakan, dan
kepergiannya meninggalkan duka mendalam. Itulah hakikat hidup dalam
kebahagiaan.
Hal ini sebagaimana dalam salah satu sabda Rasulullah:
خير الناس أنفعهم للناس
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak
memberikan manfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabarani)
Keluarga
bahagia, pada akhirnya harus menjadi keluarga yang mampu berkhidmat kepada
kemaslahatan agama dan umat manusia. Kebahagiaannya ikut dirasakan oleh
orang-orang yang ada di sekitarnya. Apa pun profesi dan status yang
dimilikinya. Keluarga bahagia adalah harapan setiap kita.
Kepada saudara-saudara, selamat berjuang untuk meraihnya. Wallahu a`lam.
