KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Jumat, 12 Juni 2020

Keluarga Bahagia, Harapan Setiap Kita

Dr. Muslich Taman, Lc., M.Pd.I.

(Penulis Buku 30 Pilar Keluarga Bahagia)


“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang terbaik (sikapnya) terhadap keluarganya (istrinya), dan saya (Rasulullah) adalah orang yang terbaik sikapnya di antara kalian terhadap keluarga.” (HR. At-Tirmidzi)

Sebagai muslim, menjalani kehidupan rumah tangga adalah ibadah yang memberikan banyak kebaikan dan pahala. Menuntut ketulusan, kesabaran, dan ilmu pengetahuan. Kesuksesannya membutuhkan perjuangan, pengorbanan, dan ketangguhan dari berbagai ujian serta rintangan. Keluarga yang bahagia, bagaikan surga di dunia, yang diharap kelak dapat menghantarkan pada surga yang hakiki di akhirat nanti.

Setiap pasutri (pasangan suami istri), pasti mendambakan terwujudnya keluarga yang bahagia. Yaitu, keluarga yang tentram dan penuh kasih sayang.  Memiliki tempat tinggal yang bukan hanya berdekorasi indah, bangunan menarik, perabot lengkap, dan lingkungan yang sehat serta nyaman, namun yang lebih penting dari itu semua, ia dapat berfungsi sebagai tempat menemukan ketenangan dan kesejahteraan jiwa. Merasakan kedamaian saat berada di dalamnya. Di dalamnya, ada sikap saling menjaga dan menghargai pasangannya. Seorang suami didampingi isteri yang setia, dan begitu juga sebaliknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (Ar-Rum: 21)

Begitulah memang idealnya sebuah keluarga. Tempat menemukan ketentraman, memadu cinta dan kasih saying. Di dalamnya, suami istri saling menaruh percaya dan dapat dipercaya. Keduanya saling menjaga amanah dan menunaikannya dengan sebaik-baiknya. Masing-masing rela berkorban untuk selalu menghargai dan menghormati. Bahkan, saling berusaha mencocokkan dan menyesuaikan dengan tabiat pasangannya, demi keharmonisan dan kebahagiaan. Sesulit dan seberat apa pun.

Sebab, tidak semua pasangan dipertemukan Allah, dengan sifat dan tabiat yang telah cocok sebagaimana yang diidamkan. Karenanya, masing-masing harus siap menerima kenyataan, atau siap untuk belajar memenuhi harapan pasangannya. Atau, siap selalu bersabar atas segala kekurangan yang ada pada pasangan, sembari mensyukuri atas setiap kelebihannya. Memang, tidak ada manusia yang sempurna, hingga di ujung dunia mana pun kita mencarinya. Termasuk, diri kita juga jauh dari sempurna.

Seindah dan semewah apa pun sebuah rumah, tidak akan ada artinya jika ia tidak menjadi tempat menemukan kedamaian dan ketenangan. Juga tidak bisa membawa diri untuk khusyu saat beribadah kepada Allah. Begitu juga, pasangan hidup kita. Secantik, atau setampan apa pun.

Rumah, harus dapat menjadi tempat menyemai cinta dan kasih sayang yang fana menuju cinta dan kasih sayang yang abadi. Menumbuhsuburkan cinta dan kasih sayang duniawi  menuju cinta dan kasih sayang ukhrawi.

Kalau diklasifikasikan, setidaknya ada empat fungsi rumah, yaitu:

Pertama, fungsi rumah seperti masjid. Masjid adalah rumah Allah. Di sanalah umat Islam berusaha menjalin hubungan yang harmonis (hablum minallah) dengan Allah Ta’ala. Rasulullah menjadikan masjid tidak hanya sebagai sarana ibadah mahdhah, tetapi juga sebagai tempat untuk membina umat, memperkuat cinta dan ukhuwah, membangun harapan-harapan, dan merencanakan agenda dakwah di masa depan. Karenanya, rumah sebaiknya dapat difungsikan seperti masjid. Kita hidupkan suasana rumah dengan berbagai macam ibadah mahdhah dan ghiru mahdhah, merawat cinta dan kasih sayang, menyemai mimpi-mimpi dan berbagai harapan, menebarkan segala macam manfaat dan kebaikan, serta sebagai markas dakwah dan perjuangan.

Kedua, fungsi rumah seperti sekolah. Sekolah adalah tempat menuntut ilmu. Begitulah juga rumah. Di sana, suami istri belajar bersama tentang segala hal, bukan hanya terkait soal berumah tangga, yang memang hal itu tidak ada sekolahnya. Tetapi juga hingga masalah detil, seperti bagaimana teori menjaga perasaan pasangan, dan konsep serta rumus membahagiakannya. Juga, bagi si buah hati, rumah menjadi tempat mendapatkan ilmu, dan wawasan mengenai hakikat kehidupan. Fungsi rumah seharusnya bisa seperti itu. Sebagai kampus semesta kehidupan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Tidak selayaknya suami yang beriman mudah membenci istrinya yang mukminah. Apabila dia tidak menyukai salah satu sifat dari istrinya, maka dia pasti akan menemukan sifat lain dari istrinya yang dia sukai.” (HR. Muslim)

Rasulullah juga mengingatkan,

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (fithrah), maka selanjutnnya tergantung kedua orangtuanya, apakah akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Muslim)

Ketiga, fungsi rumah sebagai tempat istirahat dan rekreasi yang nyaman. Suami atau istri tentu akan mengalami kelelahan setelah seharian beraktivitas di luar atau di dalam  rumah. Fisik harus diistirahatkan, agar dapat fit dan fresh kembali pada keesokan harinya. Rumah adalah tempat yang sangat tepat untuk itu. Rasa lelah dan lemah  akan sirna saat menemukan cinta dan kasih sayang terhampar di dalam rumah. Bagi yang sudah punya si buah hati, selelah apa pun orangtua, saat melihat prilaku lucu atau tingkah baik dari mereka, semua itu dapat menjadi penghibur dan penawar bagi hati yang penat kerja seharian.

Keempat, fungsi rumah sebagai benteng ruhani. Fungsi keempat ini hampir sama dengan fungsi rumah seperti masjid. Hanya saja penekanannya lebih pada aspek pertahanan ruhiyah. Saat pasangan suami atau istri mengalami penurunan iman, anggota keluarga yang lain harus menasihati dan memotivasi agar imannya dapat naik kembali. Faktor terbesar keimanan seseorang sukar pulih kembali akibat dari suasana rumah yang tidak mendukung dan tidak kondusif untuk itu. Makanya, fungsi keempat ini sesungguhnya sangat penting bagi segenap anggota keluarga. Suami istri, masing-masing harus bisa menjadi benteng tangguh bagi spiritualitas pasangannya.

Keluarga bahagia, harus mampu melahirkan generasi tangguh. Tangguh jiwa dan raganya. Generasi yang kaya karya di tengah-tengah masyarakatnya. Generasi yang ahli manfaat dan kebaikan.

Lahirnya generasi yang kuat jasmani dan rohaninya, merupakan salah satu indikator dari adanya keluarga yang sukses dan bahagia. Anak-anak yang berkualitas, lahir dari keluarga yang berkualitas, langsung atau tidak langsung.

Di Antara Cara Membentuk Generasi Tangguh:

1.   Mulailah segalanya dari diri kita sendiri! Keshalihan orangtua merupakan investasi terbaik bagi keshalihan putra-putrinya. Ini, berawal dari kehati-hatian kita mencarikan calon ibu yang shalehah buat anak-anak.

2.   Tanamkanlah kepercayaan diri yang kuat dan tak kenal menyerah dalam menghadapi tantangan.

3.   Jangan terlalu protektif, apalagi berlebihan memanjakannya.

4.   Tumbuhkan dan terus pupuk rasa tanggung jawabnya.

5.   Pahamkanlah, bahwa hidup di dunia hanyalah sementara. Jangan terlalu sibuk dengan urusan duniawi. Bahwa, ada tujuan yang lebih penting yang harus diperjuangkan dalam hidup, yaitu kemuliaan setelah mati.

6.   Bimbing anak untuk menjadi orang yang berani bermimpi tinggi, dan tahu cara meraihnya.

7.   Bantulah ia dalam memilih teman dan kawan yang tepat.

8.   Berikan kebebasan memilih. Tetapi bimbinglah.

Demikianlah di antara beberapa langkah dan kiat yang dapat  dilakukan orangtua dalam usaha melahirkan generasi tangguh yang menjadi harapan dan dambaan setiap keluarga bahagia.

  Keluarga yang bahagia, tidak harus menjadi keluarga yang kaya dengan banyak harta, atau pangkat tinggi dengan kedudukan yang menyilaukan. Keluarga bahagia, dapat menjadi apa saja, dengan peran apa pun, yang penting menjadi orang-orang yang paling bermanfaat bagi kehidupan. Keberadaannya sangat dirasakan, dan kepergiannya meninggalkan duka mendalam. Itulah hakikat hidup dalam kebahagiaan.

Hal ini sebagaimana dalam salah satu sabda Rasulullah:

خير الناس أنفعهم للناس

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabarani)

  Keluarga bahagia, pada akhirnya harus menjadi keluarga yang mampu berkhidmat kepada kemaslahatan agama dan umat manusia. Kebahagiaannya ikut dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Apa pun profesi dan status yang dimilikinya. Keluarga bahagia adalah harapan setiap kita.

Kepada saudara-saudara, selamat berjuang untuk meraihnya. Wallahu a`lam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman