Ah. Adib Al Arif
(Mantan Ketua Ikatan Remaja Masjid Darussalam Desa Pekalongan)
Sudah
menjadi kebiasaan bahwa di akhir Bulan Ramadlan para perantau pulang ke desa
masing-masing. Demikian pula yang dilakukan para mahasiswa yang belajar di luar
kota. Tersebutlah 5 mahasiswa, yaitu Purnomo (APMD Yogyakarta), Fayumi (Syariah
IAIN Yogyakarta), Ah. Adib Al Arif (Tarbiyah IAIN Yogyakarta), Ahmad Thoha
(Tarbiyah IAIN Yogyakarta) dan Zamakhsyari (IKIP Semarang). Bertemunya 5 anak
muda ini melahirkan gagasan untuk membentuk suatu organisasi sebagai wadah yang
dapat menghimpun para remaja di Desa Pekalongan dengan semangat keagamaan.
Gagasan
tersebut telah disepakati untuk diajukan kepada pengurus masjid (Ketua Masjid Jami’
Darussalam, yaitu Bp. K. Syahri Islmail) dan gagasan tersebut mendapat
tanggapan yang baik dari pengurus masjid (disetujui).
Dengan
adanya gagasan tersebut akhirnya timbul permasalahan yang baru, yaitu siapakah
yang akan mengundang seluruh remaja untuk mengadakan rapat tentang pembentukan
organisasi Remaja Masjid tersebut, apakah pengurus masjid ataukah kelompok lima
orang tadi. Akhirnya kelima orang tadi mengusulkan agar pengurus masjidlah yang
mengundang para remaja.
Pengurus
masjid pun mengundang 177 remaja yang ada di Desa Pekalongan pada tanggal 17
Juni 1985 bertepatan dengan malam 27 Romadlon 1405 H., akan tetapi yang hadir
hanya 83 orang.
Pada
tanggal 17 Juni 1985 bertepatan dengan malam 27 Romadlon 1405 H. jam 21.00 WIB
rapat dimulai dengan acara tunggal yaitu pembentukan organisasi remaja masjid.
Acara tersebut menghasilkan keputusan rapat, yaitu didirikan suatu organisasi yang
bernama “Ikatan Remaja Masjid Jami’ Darussalam Pekalongan”, disingkat
IRMADA. Dipilihlah Ir. Setyo Purnomo sebagai Ketua Umum, Drs. Suhairi sebagai
Ketua I dan Ahmad Fayumi BA. sebagai Ketua II.
Keberadaan IRMADA tak pelak membawa dampak yang luar biasa
di tengah masyarakat Desa Pekalongan. Perubahan sangat drastis terjadi di seluruh
warga desa. Antara lain, menyatunya masyarakat Desa Pekalongan dari ujung barat
sampai timur, dari utara sampai selatan. Masyarakat (terutama para remajanya)
semula kental dengan istilah loran, kidulan, kulonan dan etanan menandakan
adanya kelompok-kelompok sesuai teritorialnya. Berkat IRMADA hal itu bisa
dikurangi bahkan bisa dihilangkan. Para remaja menjadi bersatu sebagai warga
Desa Pekalongan. Hal itu sampai merubah tatanan sosial dengan banyak pernikahan
antar wilayah.
Selain itu, berkat
kegiatan IRMADA dalam bidang keagamaan di seluruh wilayah Desa Pekalongan, maka
tingkat ketaatan beragama yang semula terpusat di wilayah tertentu, menjadi
menyebar ke seluruh wilayah Desa Pekalongan. Kita lihat saat ini seakan tak ada
beda syi’ar Islam di seluruh wilayah Pekalongan. Tidak ada lagi istilah daerah kauman
dan daerah abangan.
Berikut ini daftar ketua IRMADA:
|
Tahun |
Ketua
IRMADA |
|
1985
– 1988 |
Ir. Purnomo |
|
1988
– 1990 |
Ahmad
Munji Sahlan |
|
1990
– 1992 |
Drs. Ahmad
Thoha Fadlil |
|
1992
– 1994 |
Drs. Ah.
Adib Al Arif |
|
1994
– 1996 |
Dhofir
Maqoshid, S.Ag. |
|
1996
– 1998 |
Dhofir
Maqoshid, S.Ag. |
|
1998 – 2000 |
Asyhari Amin, S.Pd.I. |
